Wednesday, 14 July 2010
Bamby Cahyadi
Selepas shalat ashar di tempat saya bekerja, barulah saya tahu melalui tayangan berita di televisi, telah terjadi bentrokan antar Satpol PP dengan warga Koja Tanjung Priok, Jakarta Utara. Saya bergidik melihat kekerasaan yang terjadi di sana. Setidaknya saya hanya bisa mengelus dada. Bagaimana perasaan juru kamera televisi yang sedang berjibaku mendapatkan gambar terbaik untuk dijadikan berita paling prestitus di stasiun tivinya? Bagaimana perasaan para petugas Satpol PP itu? Bagaimana perasaan warga Koja yang bertahan di sana? Semuanya berkecamuk di kepala saya. Saya memang perasa. Ya, begitulah kehidupan. Semuanya terus berjalan, walaupun perasaan saya tiba-tiba menjadi tak nyaman. Saya berharap semoga kerusuhan tak merembet ke mana-mana, bisa repot nantinya.
Saya berkemas untuk pulang, sebentar lagi pukul 17.00. Hape saya bergetar, sebuah pesan singkat masuk, dari Krisna Pabichara.
”Mas, saya sedang di Metromini, macet bo!” kata sms Khrisna.
”Hati-hati di Metromini bro, karena hanya supir dan Tuhan saja yang tahu kapan Metromini itu sampai di tujuan,” balas saya, tentu via sms.
”Ha-ha-ha!” sahut sms Khrisna.
Bergegas saya mencari taksi di depan kantor. Tujuan saya Tebet, Jakarta Selatan, saya janji akan bertemu Khrisna Pabichara di sebuah restoran cepat saji yang paling terkenal di dunia, mungkin juga di seluruh planet di sistem Galaksi Bimasakti ini (maaf, saya agak lebay untuk urusan ini restoran itu). Alhamdulillah, saya mendapatkan taksi yang saya kehendaki –taksi tarif bawah–dengan supir yang ramah.
Taksi lalu meluncur membelah jalanan yang padat, lantas melaju melalui jalan tol Taman Mini menuju Tebet. Bekas sisa hujan masih menempel di aspal jalanan. Langit kelabu, awan hitam berarak-arak, sepertinya berat menahan beban, mungkin sebentar lagi hujan akan turun kembali. Mudah-mudahan hujan tidak turun, jalanan Jakarta akan macet apabila hujan turun di sore hari, batin saya sambil memandang kosong ke arah langit. Di langit, saya melihat wajah sahabat saya Prasodjo Chusnato Sukiman berkelebat.
Saya kok melamun? Iya, saya dan Khrisna, sore ini memang akan bertandang lebih tepatnya kami akan menjenguk ke rumah kost sahabat kami itu–pemimpin besar portal sastra koran Indonesia (sriti.com)–yang sedang menderita sakit, entah apa. Rumah kost Prasodjo Chusnato Sukiman (selanjutnya saya sebut Chus) berada di kawasan Kampung Slipi, Petamburan Brimob, Jakarta Barat.
Taksi yang saya tumpangi, tiba-tiba berjalan pelan. Saya terhenyak. Di depan taksi, terlihat antrian panjang mobil-mobil yang hendak keluar pintu tol Pancoran. Mobil merayap pelan-pelan, seperti binatang melata yang malas dan kekenyangan.
Hape saya bergetar lagi.
”Mas, saya sudah sampai di McD Tebet,” sms dari Krisna menginterupsi lamunan kosong saya.
”Saya kena macet di Pancoran, tunggu ya, Mas!” balas saya.
Baru saja hendak menyimpan hape. Benda itu bergetar lagi. Sms dari Chus.
”Pak, maaf hujan lho di Slipi…. Saya jam 21-an harus tidur karena tadi terapi, Pak,” kata Chus via sms tentunya.
Aduh! batin saya. Saya bukan mengaduh karena sms Chus yang mengatakan ia akan tidur jam 21.00, saya risih kalau dipanggil ”Pak” Kesannya saya sudah sangat tua. Tapi, lupakan soal panggilan ”Pak” itu.
”Kita bawa payung kok, kalo Mas Chus ketiduran gak papa hehehe. Oh iya, tadi Bany udah balas smsku. Jadi aku datang dengan Khrisna aja,” balas saya dengan ketikan cukup panjang.
Tiba-tiba rinai gerimis yang tipis-tipis di luar menjadi hujan yang cukup deras. Wiper taksi bergerak-gerak, menyingkap air cucuran yang menerpa kaca depan taksi. Rupanya, hujan deras di daerah Slipi, sudah merambat cepat sampai Pancoran. Hujan merata di Jakarta.
Sebaris sms masuk lagi menggetarkan hape saya. Bukan dari Chus, dari Khrisna.
”Hujan Mas,” kata Khrisna.
”Iya, sebentar lagi saya nyampe. Mas, nanti langsung nyebrang aja. Biar gak ganti taksi. Saya masih di Pancoran, macet. Kalo udah dekat McD, saya telepon.”
”Hujan Mas,” sahut Khrisna lagi.
Saya tersenyum, pasti Khrisna akan kehujanan saat menyeberang jalan untuk mencapai taksi. Bersyukur, saat taksi sampai di Tebet, hujan sudah tak begitu deras. Saya melihat Khrisna menyeberang jalan, berhenti sejenak di atas trotoar pembatas jalan, lalu menyeberang jalan lagi dan sampailah, ia membuka pintu taksi, dan taksi segera meluncur ke Slipi melalui Jalan Casablanca.
Langit telah berwarna gelap, malam menjadi kelam tanpa bintang, ketika taksi mencapai kawasan Petamburan. Untung supir taksi paham betul letak Petamburan Brimob, Kampung Slipi di mana tempat Chus menetap. Beruntung supir taksi membantu kami untuk bertanya sana-sini menanyakan alamat yang tepat. Beruntung memang kami.
Sepertinya bantuan Tuhan datang pada kami, saat taksi berhenti di depan sebuah gang. Ternyata di dalam gang itulah, letak rumah kost Chus. Dan, kami tak kesulitan menemukan rumahnya, tidak seperti yang kami pikirkan di jalan saat menuju ke Slipi tadi.
Hujan benar-benar telah reda dan kumandang adzan Isya menggema, ketika kami mengetuk pintu rumah kost Chus.
***
Adzan Isya masih berkumandang. Saya dan Khrisna mengucapkan salam. Salam dibalas oleh seseorang dari dalam. Ah, Chusnato yang menjawab salam kami. Ia keluar kamar dengan wajah sumringah, namun tersirat rasa lelah di matanya. Mungkin efek terapi tadi siang, pikir saya.
Sebelum bersalaman dengannya, saya melihat Chus dengan saksama. Ia tampak agak kurus, wajahnya juga tirus, tapi wajahnya selalu dihiasi oleh senyum lebar yang terus mengembang. Seolah-olah saya dan Khrisna tak sedang menjenguk orang sakit, tapi kami menjenguk sahabat yang sudah lama tak bertemu.
Tapi ia memang sedang sakit, walaupun ia dan kami tertawa terkikik-kikik sambil bersalaman, tetapi getar tawa yang getir, rasanya begitu hampa yang membahana. Betapa tidak, rambutnya yang pada saat ia sehat saja sudah cukup minimalis, maka ia tampak seperti–benar kata Sjaiful Masri, Arif Maulana, dan Taofik Hidayat (Wim)–seorang rahib.
Ia memakai baju kaus lengan panjang berwarna merah bergaris-garis putih, memakai celana training pack merk Nike berwarna abu-abu, dan ia memakai kaus kaki warna hitam. Kaus kaki ini bisa mengusir dingin, katanya pada kami. Ia sempat memrotes kami, saat kami membuka sepatu kami.
Ia menawarkan, apakah kami mau bercakap-cakap di teras kamar atau di dalam kamarnya. Khrisna memilih untuk bercengkrama di teras kamar saja, saya pun sependapat. Di luar kamar lebih leluasa. Tapi, apakah ia yang sedang sakit tak apa-apa kena angin malam? Ia malah tertawa.
”Nggak masalah! Saya jadi bisa merokok,” katanya sambil ngakak.
Khrisna tampak senang bercampur heran. Baginya, ia punya teman untuk merokok, tapi apakah Chus benar-benar boleh merokok?
”Saya, nggak apa-apa khan merokok di sini?” tanya Khrisna.
”Nggak apa-apa, nanti saya temani. Saya masih punya jatah lima batang rokok sehari kok!” jawab Chus masih sambil tertawa.
Tawanya begitu membahana, tak ada perubahan dari Chusnato yang kami kenal sebelumnya. Kecuali badannya yang lebih ramping dari sebelumnya. Ia begitu sempurna menutup penderitaan sakitnya di hadapan kami.
Agak sedikit terpincang-pincang ia masuk lagi ke dalam kamar, lantas ia terlihat menyeduh dua gelas kopi untuk kami. Saya berteriak mengingatkan, ia tak perlu repot-repot. Khrisna sependapat dengan saya. Tapi toh, dua gelas kopi terlanjur dibuat olehnya. Dan, kini sudah tersaji di meja bundar kecil di pojokan teras. Kedua gelas kopi akhirnya diminum Khrisna, karena saya tak minum kopi, juga tak merokok.
Saya memilih duduk di bale-bale bambu depan pintu, Khrisna duduk berjongkok di sebuah kursi plastik yang kaki-kakinya, mungkin, sengaja dipatahkan, di depanku. Sementara, ia mengambil posisi duduk di tengah, di antara kami, dekat jendela rumah.
Setelah berbasa-basi, menanyakan bagaimana perjalanan kami menuju rumah kostnya. Tibalah kami bertanya soal sakitnya.
Wajah Chus, agak sedikit galau. Mungkin ia ingin menyembunyikan sesuatu dari kami. Tentu saja kami mendesaknya, berita yang kami terima ia menderita sakit yang cukup parah, bahkan mematikan. Kami ingin memastikan kabar itu, walaupun tak membuat hati nyaman, tapi kami ingin tahu dari mulutnya langsung.
Wajah Chus memerah, ia lantas terbata-bata. Suaranya tercekat, ketika ia bercerita perihal sakitnya, yang menurut dokter sakitnya sudah merasuk dan merusak tubuhnya, sehingga ia tak mungkin untuk terselamatkan lagi. Ia divonis mati oleh dokter. Badan saya bergetar, saya merinding.
Mata Prasodjo Chusnato Sukiman, berkaca-kaca, kedua telaga matanya dipenuhi oleh air mata. Ia berkali-kali minta maaf, karena ia menangis saat bercerita tentang sakitnya.
Ya, saya rasa, sebaiknya ia menangis. Menangis sejadi-jadinya, tak apa-apa. Tak ada yang dirugikan apabila ia menangis, mungkin malah meringankan, menentramkan hatinya. Karena, ia telah lelah menyembunyikan ketegaran pada sahabat-sahabat dan orang-orang yang dikenalnya.
Chusnato, seorang lelaki, yang kelihatannya selalu gembira, hidupnya easy going, sangat narsis dengan foto-fotonya di facebook, sekarang sakit.
Tentu banyak yang tak menyangka, karena ia pandai membawa diri, lebih tepat menutup diri. Orang tak boleh tahu apa yang menjadi kesulitannya, orang tak perlu tahu apa yang ia rasakan dan orang tak perlu tahu penyakit apa yang ia derita.
Namun, semuanya sudah jelas. Chusnato menangis. Ia, butuh pertolongan kita, teman-temannya. Mungkin, kemarin, ia adalah tempat orang berkeluh-kesah, tempat orang dan teman-temannya curhat, ia tampil sebagai pahlawan pembela sahabat-sahabat atau saudaranya dari kesusahan. Tapi kini, mau tidak mau, suka tidak suka, ia adalah orang yang perlu energi positif dari teman-temanya, ia perlu semangat, apa pun bentuknya. Apabila hanya itu yang kita miliki sebagai sahabatnya.
Memang, kematian dan umur manusia adalah di tangan Tuhan. Tapi, manusia bolehlah berupaya untuk mendapatkan usia yang lebih panjang, bukan menyerah pada vonis dokter belaka. Dokter juga, manusia bukan?
Saya melihat dan saya rasakan, semangat hidup Chus sangatlah bergelora. Energi positifnya berdentur-dentur, berbahagialah seorang Chus yang tak pantang menyerah dengan sakitnya. Ayo Chus, mari kita hidup lebih lama! Masih banyak hal yang bisa kau lakukan kawan. Jangan sungkan berbagi dengan kami, jangan tahan rasa sakitmu sendirian, bicaralah kalau memang kau ingin bercerita, menangislah kalau kau ingin menangis.
Pembicaraan soal sakitnya Chus, terpotong oleh getaran hapenya. Seseorang meneleponnya. Ia menjawab telepon sambil berdiri, agak sedikit menjauhi kami. Setelah telepon ditutup, maka pembicaraan kami beralih pada masalah-masalah lain yang tatap membuatnya tertawa-tawa dalam kegetiran yang luar biasa. Hebat sekali seorang Chusnato. Saya sangat bangga bisa berteman dengannya.
Tak terasa, pukul setengah sebelas malam. Khrisna sudah berkali-kali menguap. Dan, malam itu, Khrisna memang benar-benar tampil sebagai seorang motivator ulung. Ia berbagi kiat-kiat dalam menghadapi derita menggantinya dengan keriangan. Ia banyak memberikan petuah-petuah kepada Chus. Pada bagian ini, mungkin Khrisna harus membuat catatan (notes) khusus tersendiri.
Seiring dengan malam yang semakin pekat, akhirnya kami pamit. Chus, harus beristirahat. Kami sampai lupa, ia bilang di sms, bahwa ia harus tidur pukul 21.00.
Di luar dugaan saya dan Khrisna, Chus mengantar kami. Saya pikir ia akan mengantar kami sampai di depan pintu rumah, ternyata ia mengantar kami sampai di depan mulut gang, bahkan malam itu, ia berjalan tertatih-tatih mengantar kami sampai ujung jalan raya. Ia ingin memastikan, kami mendapatkan taksi. Oh my God!
Kami berjalan pelan-pelan ke jalan raya, ia berjalan berjejer dengan Khrisna. Saya di belakang mereka, berjalan pelan mengikuti mereka. Saat itulah, saya menangis diam-diam melihat Chus berjalan tertatih-tatih dan agak sedikit limbung. Tapi ia tetap berjalan dengan mantap, sambil berbicara dengan kami, tentang Sriti.com. Ia begitu semangat, ia Si Mister Labu yang ceria. Ia pasti sembuh. Saya sangat yakin itu!
Lalu saya berjalan sedikit cepat menyalip mereka, saya tak mau Chusnato tahu saya menangis. Sudah saya katakan tadi, saya sangat perasa.***
Menteng Dalam, Tebet, Jakarta, 16 April 2010, pukul 00.20 WIB
Note Redaksi:
Selamat datang dan selamat bergabung, mas Bamby Cahyadi. Make yourself at home, semoga kerasan di sini ya berbagi dengan kita semua. Terima kasih Dewi Aichi yang sudah menggeret satu lagi penulis untuk kita semua.
September 10th, 2011 at 09:40
Waktu tayang tulisan Bamby, aku belum mengenal mas Chus, sekarang aku sudah mengenalnya dan sering bertegur sapa…..
Saat ini…………pagi ini….aku mendapatkan kabar…mas Chus kembali sakit…..duka yang belum kering sepeninggal ibunda di bulan puasa kemarin….ahh mas Chus…doaku untukmu selalu, cepat sembuh yaaaa
July 14th, 2010 at 19:58
Mas Bamby,
ikut terhanyut dalam keharuan.
Semoga mas Chus cepat pulih.