In My Mind

Night – Sydney


“Lelah?”

Dia terus berbicara kepadaku…, apa dia memang suka berbicara? Tidak…, itu pengalihan, dia mengalihkan pikiranku…

Perlahan mataku terbuka, ingatanku melayang ke masa tersuramku, masa gelap dalam perjalananku… Kilasan masa lalu itu bergerak cepat di pikiranku – melesat dari berbagai arah memenuhi isi pikiranku. Kutatap sekeliling ruangan yang gelap, segelap isi pikiranku… Terbangun dari mimpi buruk itu, tapi bayangan itu terus mengikutiku…

Apa yang ingin kubuktikan?

Dia sudah bersama yang lain… Bukan dia yang membuatku jatuh, bukan dia yang mengecewakanku, bukan dia yang menyakitiku….

“Saya selalu memaafkanmu…, selalu”. Kata itu, kata terakhir yang kudengar darinya, setelah itu dia tidak pernah lagi ingin kucari, menolak segala kontak dariku. Saya tahu perbedaan membiarkan diriku jatuh atau orang lain yang membuatku jatuh, kuakui diriku kehilangan nilai…., pemberian maafnya tidak membuat saya memaafkan diriku…. Apa dia masih mengingat kata-katanya itu….?

Mimpi itu berlalu bersama datangnya pagi…, kisah empat atau lima tahun lalu mendadak hadir di mimpiku.

Pagi ini terlalu cerah…, tapi perasaanku begitu bimbang…, kisah itu sudah terlalu lama… Ku cek hapeku, saya baru menerima pesan singkat dari seorang teman lamaku…

“Night, kamu sudah punya keponakan cewek nih…”

“Night, gue baru dari rumah sakit…, Agus baru melahirkan, kamu pulang ngga September?”

Mereka temanku, teman baikku yang telah ku kenal lebih dari sepuluh tahun. Satu baru saja menjadi Ibu, satu lagi akan menikah bulan September. Ingatanku melayang ke orang-orang yang kukenal, orang yang kuanggap penting dalam hidupku…

Mereka penting untukku, jangan mendikte hubunganku dengan mereka… Kamu tidak pernah tau apa yang telah mereka lakukan untukku…, ketika saya berdarah, ketika semua orang memandangku sebagai sampah…, ketika saya begitu rendah, bahkan ketika saya kehilangan kata… Pikiranku bergerak begitu cepat, melesat penuh emosi. Entah kenapa saya begitu emosi…

Yang terlintas hanya sebuah pernyataan, “Kenapa kamu lebih pentingin mereka?”. Mereka, dia, siapapun yang pernah mengucapkan kata ini tidak pernah tau alasan emosiku… Saya yang memilih jatuh dalam penerimaan yang mudah daripada mengakui kenyataan yang menyakitkan… Bukan karena saya tau, hanya meyakinkan diriku untuk menerimanya… Karena mereka penting bagiku…

Di balik topeng hitam ini, saya terus berbicara kepada diriku…, satu lagi pergi dan suatu saat saya yang akan menuju ke sana. Lucu…, kenapa saya terus berbicara? Siapa yang mendengar? Bahkan diriku juga tidak peduli dengan celotehan pikiranku…


Note Redaksi:

Night, teman lamaku, kirimanmu sungguh mengagetkanku. Untuk mengenang seorang teman lama, sanggup membuatmu keluar dari pertapaanmu. Selamat datang dan selamat bergabung, semoga kerasan dan tidak bertapa lagi…hahaha…(jadi ingat, mau ketemu di SILOAM, yang dirimu ke Siloam mana, aku ke Siloam mana…)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.