Pengalaman Terakhir Dengan Zeverina

Iwan Satyanegara Kamah – Jakarta


RABU 7 JULI 2010

17:49:

Telepon seluler Flexi ZTE saya berdering, ketika mata saya asyik melotot di depan layar lebar iMac saya di meja kerja. Saya lirik ke layar ponsel saya.

“Oh, JC. Sudah 2 minggu nggak hai-hai”, pikir saya dalam hati. JC atau Josh Chen adalah sahabat yang saya kenal sejak saya kenal di KoKi hingga sekarang di Baltyra. Koki adalah sebuah jurnalisme warga yang dirintis Zeverina dan Baltyra juga situs sejenis yang dirintis oleh sahabat-sahabat Zeverina saat di KoKi. Zeverina dikenal sebagai penggagas pertama citizen journalisme di Indonesia, yang mengedepankan kebebasan berbicara dan keleluasaan menulis bagi siapapun menggambarkan isi pikirannya.

Akhirnya kami berdua asyik ngobrol banyak hal hampir 10 menit lamanya. Seperti biasa, sebelum setiap menutup pembicaraan dengan JC, saya menanyakan kabar Zev. Itu selalu tanyakan selama puluhan kali setiap JC bertelepon ke saya. Selama itu Zev tak pernah tercium kabarnya sedikitpun. JC adalah sabahat baik Zeverina sejak lama.

“Nggak tahu saya…”, jawab JC datar.

“Kenapa sih semua pada diam?”, tanya saya agak heran.

“Ya, nggak tahuuu…”. jawabnya pasrah.

“Mudah-mudahan Zev baik-baik aja.”, saya menutup pembicaraan dengan JC.


18:36:

Telepon seluler Flexi saya kembali berdering. JC menghubungi lagi. Saya tetap melotot di depan layar Mac saya untuk merampungkan persiapan presentasi besok Kamis siang.

“Ada apa Josh?”, langsung saya bertanya tanpa basa basi, karena barusan ngobrol panjang.

“Aku dapat kabar, Zev meninggal. Tapi ini belum pasti. Kita konfirmasi dulu. Kemungkinan 80% benar”, JC mencoba kalkulasi dan mencari tahu kebenaran kabar itu dan tidak berani menyatakan itu benar sepenuhnya, sebelum mendapat kepastian yang benar-benar pasti dan valid.

“Ha? Zev meninggal? Barusan kita omongin!”, suara saya meninggi namun tidak begitu terkejut, karena selama berbulan-bulan saya merasa Zev telah bersahabat dengan sebuah penyakit kronis. Entah penyakit apa.

“Aku barusan dapat kabar dari Prabu”, jawab JC singkat sambil menjelaskan bahwa Prabu mendapat berita duka itu dari link orang kompas. Prabu adalah sahabat baik Zev semasa aktif di KoKi dulu.

“Oh, kalau itu pasti benar”, pikir saya dalam hati sambil menutup pembicaraan dan menunggu juga mencari kepastian kepergian Zev. JC sempat melontarkan ide melayat bersama saya esok pagi ke rumah Zev. Dan kami sepakat bertemu di rumah Zev. Yang saya tahu dari JC, rumah Zev di Bintaro meski ternyata salah.


18:49:

Saya kirim SMS ke Dewi seorang penghuni rumah KoKi yang tinggal di Kuching, Malaysia. “Siapa tahu dia bisa kasih penjelasan”, pikir saya dalam hati tentang kepastian Zev meninggal. Dewi bagi saya pasti tahu banyak tentang keadaan Zev.


18:56:

“Iya”, jawab Dewi via pesan tertulis singkat. Saya melanjutkan pekerjaan yang terhenti beberapa saat, sambil mencari kabar kepergian Zev di KoKi. Ternyata belum ada yang kabar apapun tentang hal ini, baik di greeting maupun chatting. Saya pun membuka kompas.com mencari tahu, tapi nihil.

Dalam beberapa puluh menit mulailah muncul berita kepergian Zev, meski banyak yang takut salah dan bingung. “Walentina menangis”, begitu pesan pertama yang saya baca di KoKi tentang berita kepergian Zev. Saya akhirnya mendapat link yang secara resmi memberitakan kepergian Zev di kompas.com. Dalam berita itu, tertulis lengkap alamat rumah duka. Resmi sudah berita kepergian Zev.

Ternyata rumah Zev bukan di Bintaro tetapi di Pamulang Permai I. Saya pun mencari Google Maps untuk memastikan lokasi rumah duka, agar besok pagi melayat bersama JC tidak tanya-tanya kesasar. Akhirnya saya mendapat ancer-ancer letak rumah Zev.

“Wah, cukup jauh dan macet dari rumah saya”, dalam hati saya begitu tahu lokasi rumah Zev. Saya harus naik ojek dari rumah saya di Mampang ke Pamulang (sekitar 20 km), yang kalau ditempuh dengan mobil pada jam sibuk pagi hari bisa memakan waktu 2 jam lebih karena macet. Apalag JC bisa lebih lama lagi dari daerah Serpong menuju rumah duka, yang dialiri kemacetan lalu lintas. Sampai detik ini saya dan JC sudah berjanji bertemu di rumah duka pagi hari di bawah pukul 10 pagi, untuk menghindari kemacetan dan mengejar keberangkatan jenazah Zev sebelum dimakamkan di Tanah Kusir.

Untuk sekedar tahu, daerah rumah Zev termasuk daerah rawan macet di sekitar Pamulang. Akses menuju dan dari Pamulang harus melewati daerah Ciputat yang sangat macet dan padat kendaraan bermotor.


22:01:

Tiba-tiba ada SMS masuk ke ponsel GSM Nokia saya berasal dari Sophie (Lizzie) yang baru sampai di Jakarta dan sedang di bandara. Dia menanyakan kepastian kepergian Zev. “Katanya Z berpulang ya?”, tulis pesan singkatnya. Tanggal 4 Juli lalu dia menelepon saya dari Cina dan minta bisa bertemu kalau di Jakarta, sambil menjanjikan sesuatu tentang kabar Zev, yang selalu saya tanyakan kepada setiap orang. “Saya punya link dekat”, kata Sophie dalam percakapan telepon. “Nanti saya akan hubungi dia untuk cari tahu tentang Zev”, kata Sophie menjanjikan.

Bagi saya keadaan Zev yang tidak diketahui terlalu lama, menimbulkan banyak hal reka-reka dan salah duga.


22:14 :

Muncul kembali SMS dari Sophie di ponsel GSM saya. Saya membaca pesannya dan merasakan dia sedang panik dan bingung dengan kepergian Zev. “Sedih aku. Merinding aku”, tulis pesan singkatnya. Sophie menanyakan banyak hal tentang berita kepergian Zev yang saat itu masih simpang siur dan mohon agar dia diajak melayat bersama ke rumah Zev, dengan saya dan JC.


22:53:

Saya mendapat pesan tertulis dari Sophie yang sudah berada di rumah Imeii di bilangan Cempaka Putih langsung dari bandara. Dia minta dihubungi ke nomor landline rumah Imeii, agar lebih jelas dan leluasa mendapat berita kepergian Zev.

“Mau nggak kita melayat malam ini”, kata Sophie memberi usul.

“Oh, boleh. Lebih bagus”, jawab saya singkat.

“Nggak apa-apa ya malam-malam gini ke rumah orang”, tanyanya ragu.

“Nggak. Kita melayat. Bukan ke kawinan atau bertamu”, saya meyakinkan dia.

“Kalau kita disemprot, kamu ya tanggung jawab”, katanya pasrah.

Kami sepakat melayat ke rumah Zev tengah malam menggunakan taksi dari Cempaka Putih menuju Serpong menjemput JC di Serpong dan kita pergi bersama dari Serpong ke rumah Zev di Pamulang. Terbayang saya jarak puluhan kilometer yang saya harus ditempuh tengah malam menggunakan taksi. Dari Semanggi ke Cempaka Putih (13km). Dari Cempaka Putih ke Serpong (50km), Serpong ke Pamulang (13km), lalu pulang mengantar Sophie dan Imeii dari Pamulang ke Cempaka Putih (42km) dan saya harus pulang dari Cempaka Putih ke Mampang (17km). Total jarak yang harus saya tempuh tengah malam itu 140km dengan menggunakan taksi…


23:08:

Saya meninggalkan kantor saya  di daerah Semanggi menuju Cempaka Putih menjemput Sophie dan Imeii melayat Zev. Mereka minta dijemput karena keduanya sedang mudik, jadi tidak tahu daerah Jakarta, apalagi malam-malam sangat bahaya membiarkan mereka yang menjemput saya.


23:15:

Dalam perjalan menjemput Sophie ke Cempaka Putih, tiba-tiba ada pesan darinya. “Aku bawa mobil ke rumah Aji (JC)”, katanya. Wah, lega saya kalau pakai mobil untuk wira-wiri di tengah malam dini hari.


23:32:

Untuk pertama kalinya saya baru bertemu dengan Sophie dan Imeii, yang selama ini saya kenal dari dunia maya saja. Kami bertiga, Sophie, Imeii dan saya berangkat dari Cempaka Putih menuju Serpong (55km) menggunakan mobil Imeii melalui tol dalam kota dan tol ke Merak. Sophie yang pegang kemudi dan mobil dalam keadaan haus (kurang bensin). Dari kami bertiga, hanya saya yang tahu jalan. Jadi bisa dibayangkan selama perjalanan saya banyak mulut menunjukkan arah kepada mereka berdua. Imeii yang duduk di depan terlihat banyak diam, karena mengantuk, sementara Sophie terlihat segar meski lelah.

“Udah 2 hari belum tidur”, katanya. Selama perjalanan kami bertiga banyak bercerita tentang Zev, apalagi Sophie yang mengenal baik Zev sejak dulu.


KAMIS 8 JULI 2010

12:37:

Kami bertiga tiba di McDonald Alam Sutera, tidak terlalu jauh dari RS Omni Internasional (sekarang nggak boleh pakai internasional lagi). Tempat ini adalah lokasi janjian kami bertemu JC, yang rumah tidak terlalu jauh. Kami sempat membeli makanan untuk isi perut. Karena memang tidak sempat makan malam karena huru hara menerima berita kepergian Zev.


12:45:

Kami berangkat dari Serpong menuju rumah duka. Saya bersama JC konvoi di depan dan Sophie bersama Imeii mengekor di belakang.

“Josh, aku nggak tahu lho daerah sini. Aku roaming di sini. Kamu yang tahu”, kata saya ke JC.

“Aku juga nggak tahu, Kita jalan aja”, jawab JC mengikuti keadaan.

“Pokoknya ke arah Pamulang aja. Nanti aku bisa tahu kalau sudah di daerah sana”, jawab saya.

Dari kami berempat, hanya saya yang tahu tepatnya rumah Zev. Setelah saya cari Google Map, saya mengenali rumah Zev dan sering saya lewati kalau saya pergi ke rumah mertua saya di Serpong dari rumah saya di Mampang.

“Tadi Esti kasih tahu, kalau dari Serpong terus aja lewat jalan ini”, kata JC sambil kami berjalan menuju rumah Zev dari Serpong. Cukup lama kami menerobos jalan sepi dan sunyi yang saya sendiri tidak begitu paham di mana sebenarnya kami berada.

Selama menanti kedatangan kami bertiga, ternyata JC banyak bercerita, bahwa dia sudah menghubungi puluhan teman-teman KoKi untuk memberitahu tentang wafatnya Zev. JC memang menyimpan semua data alamat email dan nomor telepon teman-teman di KoKi dulu. Bahkan dia hafal dan masih ingat komentar-komentar yang ditulis di rumah KoKi dulu.

Selama perjalan saya sibuk memperhatikan marka penunjuk arah dan akhirnya saya bisa mengenali daerah yang telah kami lewati.

“Kata si Anoew, Blok A tempat Zev tinggal persis di belakang Superindo”, tambah JC kepada saya.

“Josh, aku tahu sekarang daerah ini”, kata saya agak gembira. Saya melewati sebuah rumah sakit bersalin yang pernah saya datangi setahun lalu, tempat kakak istri saya melahirkan. Rumah sakit itu terletak di Jalan Aria Putra, daerah Sarua, Jombang, Ciputat pendalaman.

“Terus aja Josh, nanti kita keluar di Pasar Ciputat, persis di jembatan layangnya”, kata saya memberi pencerahan. Selama hampir sejam kami melewati jalan-jalan sunyi dan remang tanpa kita ketahui daerahnya. Ternyata kami melintasi jalan Jombang Raya, yang saya tak tahu sama sekali.

Dari Pasar Ciputat, kami menuju ke arah selatan ke rumah Zev. Dari daerah ini saya hafal dan paham. Sedangkan JC, apalagi Sophie dan Imeii, tidak tahu sama sekali.

“Terus Josh. Dari sini udah deket kok ke rumah Zev”, kata saya meyakinkan.


01:30:

Kami tiba di Jalan Pamulang Raya di sekitar Pasar Swalayan Superindo (dulu Gelael), di gerbang kompleks Perumahan Pamulang Permai I, tempat Zev tinggal. Kami mencoba memperhatikan tanda-tanda berupa bendera kuning.

Saya mencoba turun dari mobil untuk menanyakan alamat rumah duka di depan pos jaga di gerbang masuk perumahan. Saya baca nama yang tertulis di bendera kuning yang terpasang di depan pos jaga. Hanya terbaca nama “Ibu Retno”. Kebetulan saya hafal di luar kepala alamat rumah Zev setelah membacanya di kompas.com. Namun saat baca nama “Ibu Retno”, saya tidak memperhatikan alamat yang tertulis di bawah nama itu.

Ternyata saya menemukan ada dua pria penjaga tertidur pulas dalam pos, sambil sebuah pesawat TV dalam keadaan menyala menyiarkan pertandingan semi final antara Spanyol dan Jerman. Saya sempat melihat skor pertandingan beberapa detik yang masih 0-0. Pertandingan menarik ini seharusnya saya tonton dan sudah tunggu-tunggu. Namun tidak terlaksana karena ada berita kepergian Zev.

Saya tak bisa menanyakan letak rumah Zev, karena dua penjaga tertidur pulas. Saya pun masuk kembali ke dalam mobil.

“Josh, yang meninggal Ibu Retno, bukan Zeverina. Kita cari-cari aja ke dalam kompleks, pasti gampang nyari rumah yang ada kedukaan”, kata saya kepada JC yang menunggu di dalam mobil. Sementara Sophie dan Imeii tetap mengekor.

Kami pun perlahan-lahan mencari lokasi rumah Zev, sambil mencoba memperhatikan bendera kuning yang terpasang. Tapi tiba-tiba saya teringat.

“Josh, Zeverina itu namanya Retno. Jadi bener, Ibu Retno yang meninggal itu ya Zeverina,” kata saya ke JC.Di dalam kepanikan dan kelelahan, saya sampai lupa bahwa nama lengkap Zeverina adalah Retno Pudjisriastuti.

Akhirnya saya yakin tak sulit menemukan rumah Zev. Tak lebih satu menit dari pos jaga, kami sudah menemukan lokasi rumah Zev. Kami pun parkir di tepi sebuah lapangan di sisi timur rumah Zev, dekat sebuah mesjid besar.


01:40:

Kami tiba di rumah Zev yang terlihat sepi karena memang saat itu dini hari. Mungkin sore dan malam tadi pasti sudah datang orang datang melayat. Terlihat masih ada sekitar 5 orang duduk-duduk di bawah tenda besar yang di pasang di depan rumah, serta sekitar 4 karangan bunga besar dari berbagai instansi, teman dan sahabat keluarga Zev.

Beberapa kerabat dekat sekitar 6-7 orang asyik mengobrol di teras sambil menunggu jenazah. Yang saya tahu dalam adat Jawa, karena Zev orang Jawa, bila ada kematian maka rumah duka tidak boleh sepi dan harus ditunggui oleh kerabat atau tetangga sambil lek-lekan (melek mata dan tidak tidak tidur). Makanya saya meyakinkan JC, Sophie dan Imeii, untuk tidak usah khawatir melayat seseorang kapanpun, karena pasti ada yang menunggunya. Nggak tahu kalau adat di daerah lain dan di negeri lain.

Kami langsung disambut di depan pintu oleh seorang pria berkumis berbaju T-shirt coklat dan bercelana jins. Saya yakin, ini pasti suami Zev. Wajahnya yang ganteng dan tenang terlihat lelah dan penat. Saya tahu nama suaminya dari berita di kompas.com beberapa jam lalu.

Saya pertama langsung menyalami Mas Dadi, nama suami Zev, lalu disusul JC, Sophie dan Imeii, sambil kami memperkenalkan diri.

“Kami sahabat Zev di KoKi”, kata saya kepada suami Zev, yang langsung mengangguk berubah tersenyum. Dia langsung mengerti dan paham siapa kami yang datang dini hari setelah saya memperkenalkan diri.

Mas Dadi langsung mempersilahkan kami untuk masuk ke ruangan tempat Zev di baringkan. Zev di baringkan di sebuah kamar, yang dugaan saya menjadi kamar tidurnya yang letaknya di sebelah kiri rumah. Saya terlebih dulu masuk dan kaki saya seperti kaku untuk melangkah setelah melihat sosok tubuh terbujur diam diselimuti kain batik dan kelambu di bagian wajah.

Tubuh Zev dibaringkan di tengah kamar membujur menghadap ke kiblat, seperti tradisi yang harus dilakukan oleh pemeluk Islam, bila ada jenazah dibaringkan dan juga saat dimakamkan. Mas Dadi berdiri di sebelah kiri Zev berdiri, sedangkan kami berempat berdiri di sebelah kanan. Kami semua merunduk mendoakan Zev beberapa menit.

Di dalam kamar itu hanya ada kami berempat, suami Zev, seorang ibu berkacamata yang duduk di atas kursi dengan wajah layu dan lelah dengan mata agak sembab karena menangis. Beliau adalah ibunda Zev yang duduk di samping kaki kiri Zev. Di sudut kamar bagian kepala Zev, ada seorang pria kekar duduk di kursi sambil membaca ayat-ayat suci al Quran. Orang itu ternyata kakak kelas saat saya waktu masih kuliah di UI dan kini menjadi rekan kerja suami Zev di sebuah stasiun TV ternama.

Setelah berdoa beberapa menit. saya lihat Sophie dan Imeii langsung keluar setelah menyalami ibunda Zev. Mungkin Sophie tak tahan dan juga shock melihat sahabat lamanya terbaring diam tak bisa menyambut dan berkata apapun. “Saya kenal Zeverina sejak 2005”, kata Sophie kepada saya dalam pembicaraan telepon beberapa waktu lalu.

Hanya saya dan JC yang masih di dalam kamar. Lalu saya menyalami ibunda Zev yang duduk di sebelah kiri saya. Saya perhatikan JC tidak bisa banyak berbuat apa-apa karena seperti shock melihat keadaan saat itu. Saya tahu JC dan Zeverina adalah sahabat sejak lama dan mereka bertemu kembali dalam keadaan yang tak diharapkan.

JC berdiri di samping kiri saya, sementara saya mencoba bersimpuh sambil duduk seperti sungkem sewaktu menyalami ibunda Zev. Tangannya saya pegang dan cium. Saya atas nama sahabat-sahabat yang tak bisa datang memperkenal diri kepada ibunda Zev, sekaligus mengucapkan belasungkawa, sambil terus memegang tangannya.

“Ibu, tabah ya… yang tabah. Kami sahabat Zeverina dari KoKi dulu. Ibu tidak sendiri. Kami selalu sayang sama Zeverina. Sampai kapanpun”, kata saya sambil terus memegang tangannya. Ibunda Zev mencoba tersenyum sambil kedua belah bibirnya mengucapkan banyak terima kasih kepada kami atas kedatangannya, dengan suara pelan.

Sebelum kami pamit ingin meninggalkan kamar tempat Zeverina dibaringkan, saya memandang kembali tubuh Zev yang membujur kaku, seolah ingin mengatakan sesuatu atau sepatah kata untuk Zev. Saya perhatikan JC tak bisa berbuat apa-apa kecuali terdiam dan lemas melihat keadaan yang dia saksikan sendiri. Saya tak punya keinginan sama sekali membuka kain penutup wajah Zev yang ditutupi kain tembus pandang kelambu.

Inilah pertemuan saya pertama dan juga terakhir dengan sosok misterius yang bernama Zeverina. Saya tidak pernah bertemu sama sekali dengannya, meski keinginan itu ada, tapi tidak ada kemampuan untuk melakukannya. Dan pagi dini hari itu niat saya terlaksana bertemu dengan Zev, untuk pertama kali dan juga yang terakrhir. Saya beranikan diri berkata sepatah kata sebelum pamit keluar kamar, sambil tangan kanan saya mencoba memegang tubuhnya.

Saya pegang kaki kiri Zev untuk mengucapkan pamit, namun saat itu perasaan saya seperti lemah begitu menyentuh tubuhnya yang tak berdaya. Selintas teringat di kepala saya banyak kenangan indah sewaktu Zev masih sehat dan sering mengunjungi sahabat-sahabatnya secara maya.

Akhirnya kami berempat duduk di atas tikar di ruang tamu yang memang dipersiapkan untuk para pelayat. Sophie dan Imeii terlebih dahulu duduk, menyusul beberapa menit kemudian saya dan JC, disertai suami Zev. Sementara ibunda Zev masih di dalam kamar menunggu putri kesayangannya. “Dapur hijau, sama seperti waktu Zev masak bebek”, kata Sophie yang menengok sekilas ke dapur Zev. Memang dapurnya berwarna hijau tosca agak tua. Dalam sebuah artikel Zev memang pernah menulis tentang cara masak bebek.

Ada beberapa gelas plastik minuman air mineral dan beberapa buah roti dalam plastik tersaji sebelum kami datang. Kami duduk diatas karpet dan Sophie mulai banyak bertanya kepada Mas Dadi, suami Zev. Saya lihat Imeii banyak terdiam dan menjadi pendengar yang baik, sementara JC selalu merunduk dengan wajah hampa. Selama di sela-sela pembicaraan yang agak serius dan “banyak kejutan jawaban” dari tuan rumah, mata saya mengamati sekeliling isi rumah Zev.

Tampak dua buah besar hiasan kaligrafi bertulisan Arab dari lukisan berhuruf timbul tergantung di dinding ruang tamu. Buku-buku tersusun rapi di sebuah rak buku kecil dan ada sebuah piano besar yang digeser letaknya ke pintu kamar di sebelah kamar Zev. Keluarga Zev rupanya menyukai musik dan bisa memainkan alat musik. Saya tak bertanya lebih jauh tentang ini.

“Dia itu pasien paling disayang para suster”, kata Mas Dadi mengenang saat Zev pernah dirawat di sebuah rumah sakit besar di Jakarta Selatan. Zev memang sangat ramah kepada suster yang merawatnya dan dia hafal obat-obatan apa yang harus dikonsumsi untuk dia. Mas Dadi banyak sekali bercerita tentang awal Zev mulai merasakan ada gangguan kesehatan hingga saat-saat terakhirnya. Namun saya tidak bisa menceritakannya secara gamblang di sini.

“Buang-buang enerji”, kata suami Zev ketika ditanya tentang pertemanan, perseturan dan perselisihan yang dialami Zev selama mengelola sebuah jurnalis publik. “Dia tak punya musuh sama sekali”, tambah Mas Dadi. Sementara Sophie dan JC memang banyak bercerita kepada suami Zev, tentang persahabatan maya dan nyata mereka yang begitu dekat yang dirintis sejak lama dengan Zev. Banyak cerita-cerita pendek yang dilontarkan JC dan juga Sophie tentang kenangan bersama Zev. Saya hanya terdiam dan mendengar.

Zev memang sosok yang tak ingin diketahui banyak oleh orang, seperti yang saya alami selama mengenalnya. Dan ini dibenarkan oleh suaminya. “Orang tak perlu tahu dia siapa, yang penting apa yang sudah dikerjakan”, tambah Mas Dadi.

Banyak hal-hal panjang lebar yang diungkapkan oleh Mas Dadi tentang Zev, perjuangannya, kegigihannya dan rasa sayang terhadap apa yang dia sudah lakukan. Dan kami sering tertegun mendengar jawab-jawaban yang mengejutkan dari tuan rumah tentang Zev.

“Nanti saya akan menulis siapa itu Zev dan apa yang telah diperbuatnya”, kata suami Zev menjanjikannya. Cukup lama kami mengobrol serius di ruang tamu itu. Selama itu, beberapa tamu datang menghampiri kami untuk pamit kepada tuan rumah yang sedang kami ajak ngobrol. Di tengah pembicaraan, keluarlah ibunda Zav dari kamar yang ditutun oleh seorang pria berkacamata, yang menurut saya adalah kakak kandung Zev, karena mata dan raut wajahnya sama dengan Zev. Dia menuntun keluar ibundanya untuk diajak beristirahat. Beliau sempat berpamitan kepada kami dan mengucapkan terima kasih atas kedatangan kami.

Sophie juga mengatakan kepada Mas Dadi, bahwa mereka dulu sahabat Zev di KoKi hingga sekarang dan kini mendirikan Baltyra, sama seperti yang dilakukan Zev waktu dulu. Mas Dadi mendengar dan memahami semua cerita Sophie, sambil ditambah beberap keterangan dari JC. Saya tetap terdiam dan hanya menjadi pendengar bersama Imeii yang duduk diam tak banyak suara.

Beberapa menit setelah kami selesai berbincang serius, kami mulai berdiri dan melihat-lihat serta memperhatikan pernik-pernik dalam rumah Zev, yang tampak tertata rapih dengan banyak nuansa hijau. Kayu pintu dan jendela rumahnya memang didominasi warna hijau, juga dapurnya. Ada foto ukuran menengah tergantung di dinding menghadap kamar Zev terbaring. Foto itu adalah foto keluarga Zev bersama dua anaknya yang beranjak dewasa dan suaminya. Terlihat wajah Zev begitu manis serta cantik dan agak berisi. Berbeda sekali dengan sosok wajah yang saya kenal melalui dunia maya.

Kamipun berpamitan untuk segera pulang. Saya sempat menuju di depan pintu kamar tempat Zev dibaringkan, untuk sejenak berpamitan terakhir kalinya dengan Zeverina, sahabat baik yang tak pernah saya temui sebelumnya. Inilah pertama kali saya melayat seseorang teman, yang tidak pernah saya bertemu sebelumnya. Saya masih bingung mengapa saya begitu merasakan kepergiannya, meski saya hanya mengenalnya secara maya.


02:18:

Kami meninggalkan rumah Zev. Saya ikut menumpang mobil Imeii seperti semula, karena mereka berdua tidak tahu jalan sama sekali dari Pamulang menuju daerah Cempaka Putih, kediaman Imeii. Sementara JC pulang sendiri dan minta petunjuk arah jalan menuju Serpong. “Lurus saja Josh, nanti ada daerah perempatan yang namanya Munjul, kamu cari jalan aja ke arah Serpong. Gampang kok.”, kata saya singkat.

Selama perjalanan dari Pamulang ke Ciputat lalu melalui tol dalam kota hingga masuk tol Jagorawi dan menuju tol dalam kota ke arah Tanjung Priok, saya harus menjadi co-pilot, karena Sophie tak tahu arah jalan. Apalagi ditambah lagi dia mengemudi sambil bertelepon sejak dari Pamulang menggunakan handset Nokia 5700 saya dengan La Rose Djayasupena, seorang penulis dunia maya di Belanda sana. Akhirnya, handsetnya diserahkan ke saya dan saya punya tugas baru menjadi penunjuk jalan juga melayani “call center” Zeverina terhadap La Rose.

Hampir sekitar 30 menit saya ngobrol banyak dengan La Rose untuk pertama kalinya. Terlihat suaranya agak parau dirundung kesedihan dengan kepergian Zev. Banyak hal yang ditanyakan dan banyak hal juga saya jawab dan saya tak bisa jawab. Kadang dalam percakapan itu, sering terdengar teriakan dari saya untuk mengatur arah jalan, sambil suara saya masuk ke dalam pembicaraan dengan La Rose. Bahkan sering dia ikut campur menunjukkan arah jalan, tetapi selalu salah.


03:20:

Kami bertiga tiba di Cempaka Putih mengantarkan Sophie dan Imeii pulang. Saya pun pamit dan segera mencari taksi untuk pulang. Sepanjang perjalanan pulang dari Cempaka Putih ke arah arah rumah saya di Mampang lelalui Jalan Pramuka, Manggarai dan daerah Kuningan, saya menyaksikan pemandangan sangat langka. Tiba-tiba kota Jakarta di pagi buta dini hari, begitu meriah dan hiruk pikuk dengan kendaraan mobil. Rupanya waktu itu adalah saat selesainya pertandingan semi final antara Jerman melawan Spanyol untuk merebut tiket final Piala Dunia 2010.

Termyata mereka yang meramaikan jalan raya adalah orang-orang yang menuju rumah masing-masing setelah menyaksikan nonton bareng. Sambil duduk kelelahan dalam taksi, saya menyadari bahwa siapapun pasti akan pulang ke rumahnya, sejauh dan selama dia pergi. Termasuk sahabat saya, Zeverina Retno Pudjisriastuti. (*)

190 Comments to "Pengalaman Terakhir Dengan Zeverina"

  1. Swan Liong Be  8 July, 2015 at 17:45

    Bung ISK, ini kan forum terbuka dan semua yang memberi komentar dan memasukan artikel dalam Baltyra harus sadar bahwa tidak selalu akan mendapat pujian, sanjungan melainkan juga harus menerima kritik; maka apa salahnya kalo anda gak sepaham dengan jalan pikiran atau statement orang lain, menyampaikannya dalam komentar? Dulu saya pernah baca kita semua sebagai keluarga besar disini. Nah, justru sesama keluarga harus bisa trima kritik yang wajar, tanpa “ad hominem”. Tapi saya juga berkesimpulan bahwa banyak yang Sungkan untuk menyatakan pendapatnya yang mungkin berlawanan , lebih baik diam, menjaga kerukunan atau bersikap netral!

  2. IWAN SATYANEGARA KAMAH  7 July, 2015 at 16:20

    Pak SLB, makanya cukup lama saya tidak mau aktif di baltyra, karena banyak orang sok pintar dan ingin dipuji kualitas ilmunya oleh orang lain melalui komentar2 dan apresiasi di kolom artikel.

  3. Swan Liong Be  7 July, 2015 at 16:09

    @ISK: Apa yang dimaksud, saya gak nyambung,lho!

  4. IWAN SATYANEGARA KAMAH  7 July, 2015 at 14:18

    Maaf, Zeverina. Banyak orang bodoh di sini.

  5. IWAN SATYANEGARA KAMAH  7 July, 2015 at 14:11

    Sudah 5 tahun hari ini…. Tak terasa.

  6. IWAN SATYANEGARA KAMAH  7 July, 2011 at 21:54

    Selamat malam Zeverina… malam ini. Harus malam ini…

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.