Search in Archive

Select a date
Select a category
Search with Google

Requiescat In Pace

Friday, 16 July 2010

Viewed 1634 times, 2 times today | 22 Comments |

Linda Cheang – Bandung


Itu adalah istilah dalam Bahasa Latin yang diterjemahkan bebas ke bahasa Indonesia sebagai : beristirahat dalam damai, dan dalam English sebagai Rest In Peace yang dikenal dengan singkatan : R I P. Istilah halus untuk menyatakan seseorang telah berpulang kepada Penciptanya. Seseorang yang rohnya telah meninggalkan jasadnya. Jika tidak ingin dikatakan sebagai kematian datang menjemput.

Namun istilah R I P juga bisa untuk menggambarkan suasana istirahat yang benar-benar bebas dari ganguan, misalnya gangguan dari pekerjaan, kebisingan kota, stress, sampai gangguan dari keributan anak-anak. Tidak mesti harus untuk menyatakan seseorang sudah mati.

Perihal kematian sendiri, itu bisa menjadi akhir dari sebuah perjalanan hidup seorang insan, atau  merpakan akibat dari suatu penyebab yang membuat kematian datang cepat atau lambat, termasuk bagaimana cara kematian datang. Ada yang karena usia sudah tua, ada yang karena penyakit, ada yang karena kecelakaan, ada pula karena dibunuh. Semua akibatnya akan sama : nyawa seseorang insan akan lenyap, tinggal jasad yang akan membusuk.

Benar, tak ada seorang manusiapun mampu mengetahui kapan tepatnya dirinya akan mati. Kematian bisa dengan cara lebih cepat datang atau bisa pula lambat datangnya. Saya beruntung, boleh menyaksikan keduanya.

Kematian yang datang dengan lambat, dari seorang ibu yang setelah duapuluh tahun baru benar-benar berpulang ketika prediksi dokter yang menangani sakitnya mengatakan, usianya tinggal tersisa enam bulan. Ibunda dari seorang hamba Tuhan yang setia melayani, yang tiada kenal meyerah untuk terus hidup melawan gerogotan penyakit yang sedikit-sedikit memakan anggota tubuhnya. Hingga tiba saatnya dirinya tak mampu lagi ada tenaga untuk melawan, maka kematian yang memang sudah diantisipasi, kemudian tiba, dan merenggut nyawa si ibu, namun torehan perjuangannya untuk terus hidup melawan penyakit, perlu dikenang.  Memang, selayaknyalah terus berjuang untuk hidup hingga tiba saatnya untuk pergi.

Kematian yang seolah datang terlalu cepat, karena ditingkahi dengan ketakutan, ketidakberdayaan, sampai ketidakyakinan untuk terus berjuang. Entahlah, apakah di dalamnya pula ada penyesalan? Kematian, bilapun  datang lebih cepat atau malah lambat, tak perlu dihadapi dengan ketakutan. Jiwa yang tenang, mampu meyambut kematian seperti halnya melangkah ke perbatasan ke kehidupan jiwa yang lain, bukan merupakan kebinasaan yang kekal.


Elegi untuk O’oh

Saya tak pernah menyangka bahwa terakhir kalinya saya menggengam tangan O’oh, pada Sabtu siang lalu, itulah genggaman terakhir kalinya.  Itulah perjumpaan terakhir.  O’oh, sedang duduk  di ranjang kelas utama sebuah rumah sakit swasta, kondisi sadar dengan mulut dan hidung terbungkus masker oksigen, berjuang melawan kanker paru-paru. Ketika saya menggenggam tangan kirinya yang bebas jarum infus, memang tangannya telah terasa dingin, namun saya masih optimis, O’oh masih akan bertahan sampai beberapa lama lagi. Bahwa prediksi mengatakan O’oh masih boleh tahan sampai Natal 2010.

Siapa yang sangka, hanya dalam hitungan jam sejak genggaman terakhir itu, O’oh tak lagi berdaya melawan penyakitnya. Ketika pagi yang baru tiba, saya mendapat kabar bahwa pada akhirnya O’oh sudah pergi ketika di Ruang ICU karena pada akhirnya O’oh harus menyerah. Tuhan ternyata memberikan jalan paling baik untuk O’oh dan O’oh telah dibebaskan dari penderitaannya.

Sesal, lelah, menyatu dalam kesedihan, namun keluarga O’oh yang ditinggalkan tidak merasa perlu larut terlalu lama dalam kesedihan. O’oh sudah bersama Sang Khalik, sudah senang di sana. Tak perlu lagi duka lama-lama, boleh  berganti dengan ucapan syukur untuk kebaikan Tuhan. Kamipun ingin beristirahat dalam damai sejenak dari kelelahan selama kami mendukung O’oh  dalam semangat dan doa yang tak henti dipanjatkan.

Beristirahatlah dalam damai, O’oh. Di sana, titipkan permintaan kepada Tuhan kita, Yesus Kristus agar Dia, di takhtaNya yang mulia,  teruslah mendoakan seluruh umat yang percaya kepadaNya.


Salam

Linda Cheang


In memoriam O’oh Tjio Hun Nio (O’oh U’un).

R I P : 11 Juli 2010

Share This Post

Posted by Friday, 16 July 2010 on 09:05.

Categories: Kehidupan. Follow the comments to this article via the RSS 2.0.

You can leave a response or trackback to this entry

22 Responses to “Requiescat In Pace”

Pages: [3] 2 1 »

  1. 22
    wahnam Says:

    Linda: betul Lin, karena karakter “hun” ada sekitar 50 karakter (kalau diketik dgn menggunakan metode Pin Yin input). jadi ngak tahu “hun” nya O’oh mu itu yg mana

  2. 21
    lindacheang Says:

    wahnam : cuma enggak tahu karakter “hun” kayak apa.

Pages: [3] 2 1 »

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Image (JPEG, max 50KB, please)