Gapura Pengantin

Jumari HS


Dari zaman ke zaman, cinta senantiasa mewarnai dalam hidup dan eksistensinya adalah sebuah ” ruh ”yang  menggeliat dan menggeliat bahkan mencipta segala hal yang berkaitan dengan hati dan jiwa siapapun, cinta itu telah melekat di Gapura yang menjulang ke langit di sebuah desa yang religius dan menebarkan sebuah tradisi yang unik yang menyakinkan lingkungan di sekitarnya bahwa Gapura itu sangat sakral.

Gapura itu, benar-benar setiap hari menampakkan wajahnya yang begitu mempesona, tapi menyimpan uara wingit yang membuat rasa takut siapapun yang menyakini kekuatannya. Apalagi kegigihan bangunan itu sepertinya mampu menahan segala cuaca, segala silang pendapat, dan segala keraguan. Gapura itu memang berdiri kukuh, sekukuh eksistensi sejarahnya yang menjulaikan keperkasaan dan kekaguman. Cinta telah menyemayamkan diri dalam tubuhnya dengan penuh ketulusan, bahkan kemujaraban dalam merenda cinta menjadi sebuah nyanyian zaman. Masyarakat di sekitar desa itu sepertinya pada bersujud mengendus makna sejarahnya yang begitu unik dan aneh!

Gapura yang telah berabad berdiri kukuh, sangat menebar keajaiban dan kewingitan yang luar biasa, setiap orang, terutama masyarakat desa setempat memandangnya penuh rasa hormat bercampur takut, hal itu dialami oleh kaum yang masih lajang baik pria maupun wanita di desa tersebut secara turun temurun. Karena siapapun yang meminang atau dipinang warga setempat, pada saat prosesi pernikahannnya wajib mengelilingi Gapura. Semua warga di sekitar tak berani menolak tradisi itu , sampai akhirnya tradisi itu menjadikan sebuah budaya yang diyakini warga setempat mempunyai balak, yaitu apabila tidak dipenuhi pernikahannya akan putus di tengah jalan.

Tradisi pengantin mengelilingi Gapura, ternyata membuat warga lain di luar desa itu bernama Halim merasa sangat gelisah, maklum Dia bukan warga desa tersebut dan tak tahu menahu dengan tradisi pengantin mengelilingi Gapura yang dianggapnya sangat aneh dan tidak masuk akal, yang menjadikan gelisah kerena dirinya saat ini telah melamar gadis di desa itu, dan Dia sangat mencintainya.

” aku benar-benar bingung, dan sepertinya aku dipojokkan oleh sebuah permasalahan untuk memilih antara cinta atau mengikuti tradisi yang kolot itu ” gerutu Halim.

” tidak bisa, tidak bisa! dan harus aku tolak jika dalam prosesi pernikahanku nanti diarak mengelilingi Gapura, sebab aku belum gila dan tidak boleh mengikuti cara-cara yang nyleneh dan tidak masuk akal bahkan tak ada manfaatnya, maka secepatnya calon istriku harus kuberitahu, bahwa aku akan menolak bila berlangsungnya pernikahan kami harus mengelilingi gapura!” gerutu Halim yang tambah geram memikirkan pernikahannya..

Abad demi abad, sebuah keyakinan selalu berperan dalam menentukan hidup, di mana pun ia berada keyakinan merupakan pilihan yang mewarnai dan mewarnai dalam bermasyarakat. Dan keyakinan itu sendiri sebuah ketetapan atau pilihan hidup manusia. Tanpa keyakinan mungkin manusia tak akan terombing-abing dalam permasalahan yang dihadapinya. Itulah keyakinan sebuah kolaborasi antara pikiran dan perasaan yang menyatu yang menitiskan sesuatu, yaitu ketentraman!.Sebagaimana Gapuran itu yang masih berdiri itu begitu tentram dan menentramkan.

” apa yang sedangkan kau pikir Nak, bukankah segala persiapan pernikahan sudah beres? ” tanya ibunya yang melihatnya seperti ada sesuatu yang dipikirkan.

” aku sedang bingung, bu ” jawab Halim.

” bingung tentang apa?  ”

” tentang pernikahanku, bahwa dalam prosesinya diharuskan mengelilingi Gapura sebagai syarat ”

” bilangnya siapa? ”

” kata temanku, kalau menikahi gadis atau desa itu harus mengelilingi gapura dulu, agar pernikahannya bisa langgeng ”

” kok aneh, apa kamu sudah menanyakan calon istrimu?”

” belum! ”

” tanyakan dulu kebenarannya ”

Angin nampak resah dan daun-daun pun lemas tak mampu menarikan tubuhnya, sebagaimana puisi diiris sunyi atau ibarat sakit tanpa kata, dan rintihan-rintihannya menggema, menebar bahkan membumbung ke angkasa menciptakan bayang-bayang yang melintas-lintas di mata. Lalu menyusup dalam relung yang paling perih, seperih hati Halim yang sedang gundah gulana dan jiwanya seperti diselimuti kabut tebal yang ditebarkan Gapura itu.

***

Beribu bata yang tertata indah dalam Gapura itu terus menancapkan sejarah dan wajahnya yang begitu kukuh dan tegar menampakkan nilai idialisme yang begitu kuat, bahkan keberadaannya menciptakan tradisi unik sulit untuk dihilangkan atau digusur oleh zaman!

” aku tidak bisa, aku tidak bisa! ” gertak Halim pada calon istrinya yang baru saja mempesilahkan duduk di ruang tamu.

” tidak bisa gimana, mas? ”

” prosesi pernikahan kita, aku tak mau mengeliling Gapura ”

” prosesi itu sudah menjadi tradisi dan budaya di desa ini, kenapa harus ditolak ”

” aku bukan orang gila! ”

” apa hubungan orang gila dengan mengelilingi Gapura, mas ? ”

” aku ingin menikah secara wajar saja ”

” maksudnya, menolak tradisi itu ”

” ya! ”

” bukankah cinta butuh kepahaman, dan mas perlu memahami bahwa tradisi pengantin mengililingi Gapura di warga kami diyakini memiliki balak, apa mas tak takut kalau suatu saat nanti kita kena balaknya dan pisah? ”

” pisah? Omong kosong dan kita harus menentangnya, kalau suatu trdisi yang tidak masuk akal, aku tidak setuju dengan cara seperti itu” tandas Halim pada istri yang telah berusaha memberi kepahaman.

” baiklah kalau gitu, biar nanti aku bicarakan sama kedua orangku ”

Kedua calon pengantin itu saling berpandangan dengan penuh tanda tanya, dan saling diselimuti kegelisahan, mereka benar-benar khuwatir dan sedih jika pernikahannya putus di tengah jalan. Dan sepertinya keduanya juga saling bersikukuh dalam mempertahankan prinsipnya masing-masing.

Gapura pengantin begitu panggilan masyarakat di sekitarnya yang masih kelihatan sangat elok dalam pandangan mata siapapun dan masih berdiri kokoh di desa sampai ini dan kini menjadi cagar budaya. Menurut sejarah, benda itu adalah peninggalan wali dengar arsitek pola Hindu dan sehari-harinya seperti menebar orama pengantin yang begitu harum dan menjadi tontonan menarik di masyarakat sekitarnya, karena pengantin yang mengelilingi Gapura dan itu hampir setiap minggu pasti ada, mengingat banyak warga menyakini prosesi itu bahkan sampai di luar desa setempat.

***

Menjelang satu bulan pernikahan Fitri, dia sangat kebingungan dengan pernyataan calon suaminya Halim yang menolak prosesi pengantinnya mengelilingi Gapura, dan  pernyataan itu apakah kedua orang tuanya bisa menerima ataukah tidak?. Sedangkan dia sangat mencintainya, tentu saja dalam dalam pikirannya berkecamuk memilih dua opsi antara  mengikuti tradisi atau harus berpisah?. Wajah fitri begitu linglung dan resah, sampai dia tak mampu menahan airmatanya menetes membasahi tubuhnya sendiri.

” calon pengantin kok cengeng banget ” gelitik ibunya yang mengetahui anaknya sedang mengalami permasalahan yang tersembunyi.

” aku bingung, bu ”

” bingung tentang apa, nduk ?”

” tentang mas Halim ”

” Halim? ”

”  ya! Dia menolak kalau prosesi pernikahannya nanti mengelilingi Gapura ”

” apa dia nggak tahu, kalau meminang gadis desa sini harus siap berprosesi seperti itu? ”

” Dia baru saja mengetahui ”

” haahh ”

” enaknya gimana bu, aku bingung ”

” kalau begitu, masalahnya besuk kita bicarakan saja dengan kedua orang tuanya. Mungkin karena dia masih muda dan mungkin belum tahu menahu tentang tradisi, di desa kita nduk ”.

Mendengar masukkan ibunya, Fitri masih bingung bercampur cemas yang berkecamuk dalam pikirannya, ” apakah keluarga mas Halim bisa menerima atau tidak dengan yang disampaikan orang tuaku nanti? ”. Fitri benar-benar dibuat resah dan penuh kecemasan dalam ketakpastian tentang pernikahannya nanti.

Di teras rumah Fitri menampakkan wajah muram dan Gapura yang berdiri kukuh itu terasa menebar aura wingit di pikirannya, dan seakan bata-bata yang tertata rapi dan menjulang ke langit begitu menusuk jantungnya, dan rasa sakitnya berdenyar-denyar di matanya. Cinta dan tradisi terus bergulat di dadanya dan memojokkan untuk dirinya memilih satu di antara dua pilihan. ” cinta … begitu kuatnya mengilhami hidup ini, aku tak kuasa ya aku tak kuasa dengan kekuatan eksistensinya ” keluh Fitri yang masih merenung dan merenung.

***

Malam itu, bulan purnama sangat indah dan cahayanya memberi suasana malam begitu mengasyikkan, daun-daun sampai berwarna keemasan yang membuat setiap hati  siapapun terasa sejuk menetramkan, apalagi dingin dalam sunyi terasa mengalir mencipta sungia-sungai yang di dalamnya penuh kebeningan untuk bercermin diri bahkan menyucikan jiwa yang sedang didera gelisah. Lain dengan keluarga Halim yang sedang dirundung gelisah mereka tidak merasakan keindahan malam itu yang sebenarnya menyimpan makna.

” kami tidak setuju! pernikahan dengan prosesi mengelilingi Gapura seperti itu,  Lim, gimana dengan pendapatmu bu ”  tegas bapaknya.

” kalau hal itu bagi bapak yang terbaik aku setuju saja ” jelas ibunya

” bagimana dengan kamu Lim ”

” sudah aku jelaskan pada fitri, pak ”

” lantas? ”

” Fitri mau membicarakan dengan kedua orang tuanya ”

” kalau begitu kita tanggu saja hasilnya ”

Gapura pengantin itu, terasa meneteskan airmata dan suara tangisnya seakan merayap di dinding-dinding waktu, sebab selama ini cinta telah menyakini sepenuhnya dalam bentuk eksistensi yang begitu kuat menyatukan dua hati insan dalam menjalani hubungan hidup berkeluarga. Ternyata saat ini mengalami penentangan atau penolakan dari salah satu yang mau menjadi warga di desa itu. Apakah semuanya karena perubahan zaman ataukah  pola pikir generasi sekarang yang sudah tidak peduli atau tidak menghargai dengan tradisi atau budayanya ?. mungkin saja!.

Malam itu kedua orang tua Fitri datang mengunjung ke calon besan dengan perasaan gelisah yang penuh tanda tanya, harapan mereka permasalahan terjadi ada solusinya. Sehingga pernikahan anaknya tidak ada hambatan atau terjadi batal, gara-gara Gapura itu, tentu saja kalau hal itu yang terjadi sungguh sangat memalukan bagi kedua keluaraga yang mau mengawinkan anak-anaknya.

” gimana tentang persiapan pernikahan anak kita yang akan datang ” bapak fitri membuka pembicaraan.

” keputusan keluarga kami sangat tidak setuju jika dalam prosesi pernikahan anak kami diharuskan mengelilingi Gapura ”  tegas bapaknya Halim pada calon besannya.

” tradisi itu sudah menjadi budaya bahkan diyakini warga desa kami sebagai syarat ritual dalam pernikahan ”

” kami tidak bisa menerima dan melaksanakan ”

” lantas? ”

” kalau pihak bapak sekeluarga , masih memberlakukannya dengan terpaksa pernikahan nanti kami batalkan, sebab dalam pernikahan anak kami nantinay ada orang yang mengatakan  pernikahan sinting

kedua telinga orang tua Fitri seperti tersambar petir, darahnya menggelegak dan seakan dunia terasa berputar-putar, begitu mendengar pernyataan dan sikap kedua orang tua Halim yang begitu tak bisa menerima adat dan tradisi prosesi pengantin yang sudah berabad-abad seperti itu . Matanya pun memerah tak sanggup menahan resahnya yang terasa mengalir dalam darahnya.

Bayangan Gapura pengantin pun tiba-tiba muncul dalam lintasan benak pikirannya ” siapa yang harus kami persalahkan , apakah calon besanku ataukah Gapura pengantin itu? Tidak! Tidak!. Gapura pengantin itu tidak salah ya tidak salah. Kalau memang calon besanku menolaknya berarti pernikahan harus batal ” tegas bapak Fitri yang bersikukuh mempertahankan tradisi prosesi pengantin mengelilingi Gapura. Dengan langkah gontai kedua orang tua Fitri meninggalkan rumah calon besannya. Tanpa ada sepatah kata yang terucap, wajahnya pun menapakkan resah yang sangat dalam.

Pagi, tak secerah seperti pagi biasanya. Burung-burung yang biasa berkicau di sekitar rumahnya tak lagi terdengar, bahkan suasana pun begitu nglangut dan penuh penyesalan. Fitri masih mengurung diri di dalam kamar dengan pintu terkunci, suasana itu menambah beban kedua orang tuanya. Cinta ternyata benar-benar menyiksa dirinya  dan dibalik semuanya Gapura pengantin telah menggagalkan pernikahannya. Karena berhari-hari dalam penantiannya tak kabar, dan harapannya pun mengabur begitu saja.

Dalam suasana hati fitri yang duka itu, dari luar terdengar suara yang riuh dan gembira ” hore, hore ada pengantin nglilingi Gapura ” suara itu datang silih berganti dari warga sekitar Gapura yang selama ini ikut menyambut dan melihatnya setiap ada pengantin. Fitri pun keluar dari kamarnya dan ikut melihat prosesi pengantin mengelilingi Gapura yang sedang berlangsung itu, hatinya merasa remuk rendam, matanya yang bening terbayang dirinya menjadi pengantin dan benar menjadi pengantin. Dia tak sangup menahan gelisah paling dalam di dadanya. ” cinta ataukah Gapura itu yang menyiksaku? ” bisik Fitri dalam tanda tanya dan tak sanggup menahan airmata!


Kudus, 2010.

Catatan : Gapura adalah bangunan bersejarah dan Gapura dibangun sejak zaman wali dan sampai sekarang masih berdiri di desa loram kulon Jati-Kudus. Siapapun yang meminang dan dipinang warga desa tersebut wajib mengelilingi Gapura tersebut. Tradisi itu sudah melekat berabad-abad.

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.