Monday, 19 July 2010
Sophie Mou
Menyebut nama Kazaks, teringat akan Kazakhstan. Etnis Kazaks ini asal usulnya berasal dari satu nenek moyang dengan Suku Kazakhstan di Asia tengah.
Populasi etnis Kazaks di China sekitar 1,250.458 bertempat tinggal di Xinjiang Uygur. Mempunyai daerah otonomi tersendiri yaitu Prefektur Otonomi ILI Kazak, Mori Kazak Otonom County dan Barkol Kazak Otonomi County. Ada beberapa yang dikarenakan pernikahan dan imigrasi menetap di Haixi Mongolia, Tibet dan Kazak Prefektur Otonomi di Propinsi Qinghai dan Aksay Kazak Otonom Kabupaten di Propinsi Gansu.
Bahasa yang dipergunakan berasal dari cabang keluarga Altai, Turki. Suku Kazaks telah berasimilasi dengan suku Han, Uygur, Mongolia, sehingga sedikit banyak bahasa mereka telah tercampur. Tulisan yang digunakan adalah huruf arab, tulisan latin mulai dikenal setelah berdirinya Republik Rakyat China.
Budaya
Mata pencaharian Suku Kazaks adalah bertani dan berternak, mengembala hidup nomaden. Alam dan lingkungan hidup mereka yang dikellilingi pegunungan, padang rumput memudahkan mereka mengembala ternak. Mereka bermigrasi untuk mencari padang rumput pada perubahan musim. Pada musim semi, panas dan gugur, mereka tinggal di yurts bulat yang dapat dilipat dan di musim dingin membangun pondok-tanah beratap datar di padang rumput. Pintu Yurt biasanya terbuka menghadap timur, dua sudut untuk tidur tempat dan ditengah untuk menyimpan barang dan pelana, di depan tempat bagi tamu. Alat untuk berkuda dan berburu, peralatan memasak, dan hewan disimpan di kedua sisi pintu.
Suku Kazaks hidup dari hewan peliharaan mereka. Hewan peliharaan memproduksi berbagai macam produk susu. Misalnya, Nai Ge Da (adonan susu) Nai Pi Zi ( kulit susu ) dan keju. Mentega terbuat dari susu sapi dan susu domba. Mereka biasanya makan daging domba direbus dalam air tanpa garam.
Mereka menyembelih hewan mereka di akhir musim gugur dan mengasapkan daging untuk musim dingin. Pada musim semi dan musim panas, ketika binatang menghasilkan banyak susu, para gembala Kazaks menaruh susu kuda segar di Shaba dan diaduk secara teratur sampai terfementasi menjadi berubah warna, anggur asam yang terbuat dari susu kuda, minuman favorit musim panas bagi penduduk setempat. Para gembala suka minum teh direbus dengan susu sapi atau susu unta, ditambah garam dan mentega. Dimakan dengan kue yang dibuat dari tepung beras dan gandum yaitu Nang (kue panggang), nasi yang dimasak dengan daging kambing cincang dan dimakan dengan tangan.
Pakaian suku Kazaks ini bervariasi antar daerah dan suku yang berbeda. Di musim dingin, orang-orang biasanya memakai syal bulu domba, dan mengenakan mantel bulu unta, dengan sabuk berhiaskan logam yang ditempa di pinggang dan pedang yang tergantung di sisi kanan. Celana panjang yang terbuat dari kulit domba. Kaum wanita mengenakan gaun merah dan di musim dingin mereka mengenakan mantel dengan kancing di bagian depan. Para gadis menyukai celana dari kain yang dibordir dihiasi dengan koin perak dan perhiasan perak lainnya, yang akan berbunyi gemerincing saat mereka berjalan.
Peternak di wilayah Altay mengenakan topi persegi terbuat dari bulu domba atau kulit rubah ditutupi dengan kain brokat berwarna terang. Para gadis mengunakan bulu burung hantu untuk menghias topi dengan motif bunga. Semua wanita mengenakan kain putih, bersulam dengan benang merah kuning.
Suku Kazaks menganut system patriarki feodal. Kaum pria mempunyai otoritas mutlak di rumah. Kaum wanita tidak memiliki hak waris. Pernikahan dan hak waris telah ditentukan dalam garis keluarga.
Ketika seorang pria telah dewasa dan menikah, ia beberapa menerima harta dari orang tua dan mulai hidup mandiri. Hanya adik bungsu yang diperbolehkan tinggal dengan keluarga.
Gembala yang mempunyai hubungan darah persaudaraan, akan membentuk Awul (sebuah klan nomaden). Pemilik ternak yang kaya atau dihormati sebagai tetua dianggap sebagai “Awulbas” (kepala masyarakat).
Orang-orang Kazaks biasanya menganut monogami, tetapi dalam masyarakat lama, poligami itu sangat umum di antara para penguasa feodal dan kepala suku, sesuai dengan iman Islam mereka.
Suku Kazaks terkenal dengan keramahan, ketulusan hati. Jika mereka mengundang tamu, mereka akan menghidangkan domba yang terbaik. Pada waktu makan malam, tuan rumah menyajikan hidangan dari domba, kepala domba akan diberikan kepada tamu, yang akan memotong daging dari pipi kiri dan kanan, sebagai tanda terima kasih. Kemudian memotong telinga dan menawarkan kepada yang paling muda. Kepala domba akan dikembalikan ke tuan rumah.
Para Kazaks adalah Muslim. Mereka menganut agama Islam. Meskipun tidak ada banyak masjid di padang rumput, pengaruh Islam besar sekali terhadap kehidupan sosial mereka dalam semua aspek. Mereka harus memberikan zakat sesuai ketentuan.
Hari raya dan festival suku Kazaks, berkaitan dengan agama. Suku Kazaks merayakan hari raya Idul Fitri, hari raya kurban. Merayakan hari raya mempunyai arti bertemu dengan sanak saudara, bersalaman, dan memotong domba. Festival Nawuruz dalam bulan pertama penanggalan kalender lunar adalah kesempatan untuk mengucapkan selamat tinggal kepada para tetua dan harapan baru untuk tahun yang lebih baik. Setiap keluarga membuat “kuji,” makanan terbuat dari daging kambing, adonan susu, daun barley, gandum dan makanan lezat lainnya.
Suku Kazaks adalah penunggang kuda yang handal, baik pria dan wanita. Para pria muda menyukai permainan gulat dan berkuda. Pada perayaan festival padang rumput, ketrampilan menunggang kuda di padang rumput selalu diperlombakan.
Etnis minoritas ini memiliki kekayaan warisan kesusasteraan. Penyanyi balada Kazaks dikenal dengan nama Akens. Setelah bersatunya China, penyanyi atau “Akens balada,” melakukan usaha besar untuk mengumpulkan kembali ayat2 tua, dongeng, peribahasa dan belajar menciptakan lagu2 karya kontemporer dan klasik. Banyak karya telah diterbitkan oleh suku Kazak sini.
Musik dan tari dari Suku Kazaks memiliki fitur unik. Suku Kazaks menyukai musim panas karena itulah waktu yang terbaik untuk bernyanyi. Mereka sering bernyanyi dan menari sepanjang malam musim panas di padang rumput. Instrumen dengan dua senar adalah favorit mereka. Salah satu alat musik yang terkenal adalah Dongbula.
Kehidupan
Kehidupan Suku Kazaks sebelum tahun 1949 bersatu dalam marga marga. Suku Kazaks dibagi menjadi 3 hordes (ordas): the Great Horde, Middle Horde dan Little Horde atau dari daerah kanan, kiri dan barat seperti yang tercantum dalam dokumen pemerintahan Qing. Pasukan Tengah yang paling kuat, dengan jumlah penduduk terbesar dan paling lengkap garis keturunan marga. Suku Kazaks di Cina sebagian besar adalah keturunan Yang Agung dari gerombolan Tengah.
Kelompok yang berkuasa terdiri dari kaum bangsawan, kepala suku, pemilik ternak dan “Bis.” Para Bis umumnya datang dari keluarga gembala, berpengalaman dalam undang-undang, adat istiadat dan umumnya dianggap sebagai mediator yang handal, kelompok etnis tidak mempunyai hukum tertulis, tapi setiap marga masing-masing memiliki hukum sendiri, yang melindungi hak milik pribadi, hak-hak istimewa para kepala suku, dan solidaritas suku dan persatuan. Setiap kali ada sengketa tanah, perkawinan atau hal-hal lain, ” Bis ” melakukan mediasi dan menangani mereka sesuai dengan hukum marga, umumnya mempraktekkan” hukuman sembilan, “yaitu, kompensasi dari sembilan kepala binatang dibayarkan oleh pecundang kepada pemenang gugatan.
Organisasi klan Kazaks adalah kombinasi dari sistem feodal patriarki eksploitasi klan dan marga. Para penguasa menindas orang-orang miskin dan menikmati hak politik. Sebagian besar para gembala miskin kehilangan semua haknya.
Kehidupan Ekonomi
Suku Kazaks mempunyai sejarah yang panjang mengenai pengalaman mengembala di padang rumput. Namun, di bawah sistem feodal, tingkat produksi mereka sangat rendah dan sangat sedikit usaha untuk meningkatkan keahlian mereka dan bergantung sepenuhnya pada pertumbuhan alami alam. Karena mereka tidak memiliki cara untuk menolak bencana alam , sejumlah besar binatang mati dalam badai salju di musim dingin dan musim semi. Penyakit juga mengambil korban ternak mereka.
Suku Kazaks tidak mempunyai keahlian sebagai pandai besi atau tukang kayu. Tetapi mereka adalah gembala yang handal. Kaum wanita pintar dalam membuat teh mentega, produk susu dan penyamakan kulit binatang dan menjahit bulu. Meskipun peternakan Kazaks menyediakan wol, kulit dan ternak, ekonomi tidak berkembang. Dalam perdagangan padang rumput yang populer, adalah pertukaran dengan domba sebagai standar harga. Para gembala menukar ternak dan hasil ternak mereka dengan makanan, teh, kain, peralatan harian dan kerajinan. Dalam daerah Altay yang terpencil, mereka menukar kulit domba hanya untuk 100-150 gram teh.
Sekelompok kecil dari Kazaks yang kaya di awal abad ke 20 memiliki ribuan ekor sapi, domba, kuda dan unta, sedangkan mayoritas gembala hanya mempunyai simpanan yang sangat kecil dan itu untuk hidup. Meskipun padang rumput dimiliki oleh seluruh suku, tetapi sebenarnya dimiliki oleh beberapa pemimpin klan .
Suku Kazaks mulai belajar bertani di akhir Dinasti Qing (1644-1911).
Sejarah Kazaks
Ada banyak catatan tentang asal-usul etnis minoritas Kazaks dalam sejarah Cina. Bermula cerita dari 500 tahun lalu, sejak Zhang Qian dari Dinasti Han Barat yang diutus pergi ke Wusun pada 119 SM. Pada saat itu pemerintahan Kaisar Wu Di dari Dinati Barat, Wusun telah menjalin hubungan dengan Pemerintahan Han melalui pernikahan Xijun dan putri Xieyou, dan Raja Wusun Kunmo dengan pejabat wanita Dinasti Han, Feng Liao.
Penduduk lembah sungai ILI dan sekeliling Issyk Kul terutama orang2 Wusun dan sebagian etnis Yueshi adalah nenek moyang dari Kazaks.
Pada pertengahan abad ke-enam, Turkomans mendirikan kerajaan di Pegunungan Altay. Pada saat itu mereka bercampur dengan orang orang Wusun, dan nenek moyang Kazaks, kemudian bercampur lagi dengan pendatang semi nomadens Uighurs, Qidans, Naimans, Gelulous, Mongol .Beberapa suku Kazaks masih mempertahankan nama Wusun, Naiman membuktikan bahwa etnis Kazak adalah kelompok etnis tua di China.
Pada awal abad ke-13, Genghis Khan melakukan intervensi ke barat, suku Wusun, Kelie dan suku Naiman harus pindah. Di 1460, beberapa gembala di bagian hilir dari Syr-Darya, di bawah kepemimpinan Jilai dan Zanibek, kembali ke lembah selatan Sungai Danau Balkhash Chuhe.
Saat mereka pergi ke timur untuk melarikan diri dari kekuasaan Khan Ozbek, mereka bernama “Kazak,” yang berarti “pengungsi” atau “pelarian.” Mereka kemudian bercampur dengan Ozbeks bergerak ke selatan dan menetap di daerah Mongol dari Kekhanan Jagatai. Seiring dengan bertambahnya populasi, mereka mem-perpanjang padang rumput mereka dibarat laut Danau Balkhash, lembah Sungai Chu dan ke Tashkent, Andizan dan Samarkand di Asia Tengah, secara bertahap berkembang menjadi kelompok etnis Kazak.
Pada pertengahan abad ke-18, Tsar Rusia mulai menyerang Asia Tengah dan menghabiskan padang rumput Kazaks dan daerah timur dan selatan Danau Balkhash – bagian dari wilayah Cina. Setelah pertengahan abad ke-19, karena agresi oleh Tsar, mendorong Kazaks ke padang pasir di mana manusia dan binatang hampir tidak bisa bertahan hidup.
Dari 1864 ke 1883, pemerintah Tsar memaksa Pemerintahan Qing menandatangani sejumlah perjanjian yang tidak setara yaitu perjanjian “Tacheng Protokol tentang Penetapan Batas Sino-Rusia “. Banyak orang Mongolia, Kazaks dan Kirgiz bermigrasi ke wilayah yang dikuasai Cina.
Dua belas suku Kazaks Kelie berternak dan memindahkan hewan mereka di dekat Danau Zhaysang di selatan Pegunungan Altay pada tahun 1864. Lebih dari 3.000 keluarga dari marga Heizai Kazak pindah ke ILI dan Börtala pada tahun 1883. Banyak orang lain mengikuti setelah delimitasi perbatasan.
Partai Komunis Cina mulai melakukan kegiatan revolusioner di Kazaks pada tahun 1933. Takut bahwa hak-hak istimewa feodal mereka dihilangkan, para penguasa feodal dalam kelompok etnis memboikot pendirian sekolah dan pengembangan pertanian, dan usaha ekonomi dan budaya lainnya. Di bawah ancaman pangliman perang Sheng Shicai, beberapa Kazaks harus mengungsi, karena ancaman dan kecurangan oleh kepala suku, pindah ke Gansu dan provinsi-provinsi Qinghai antara tahun 1936-1939.
Ma juga menabur perpecahan di antara Kazaks, Mongolia dan Tibet, dan menghasut mereka untuk memerangi satu sama lain. Sebagai hasilnya, Kazaks melakukan pemberontakan di Golmud pada tahun 1939. Mereka di Gansu dan Qinghai harus menjalani hidup gelandangan sampai pembebasan nasional China pada tahun 1949.
Suatu revolusi melawan kekuasaan Kuomintang terjadi di ILI, Tacheng dan Altay pada tahun 1944. Kazaks, yang merupakan mayoritas, dan Uygurs dari Nilka County membentuk tiga unit gerilya bersenjata untuk memulainya. Selama masa Perang Pembebasan di tahun 1940-an, Kuomintang melanggar perjanjian “Sebelas Artikel Perdamaian” yang telah ditandatangani oleh pemerintah revolusioner dengan tiga kabupaten.
Hal ini dipicu oleh Usman, pengkhianat politik Kazak, yang memulai pemberontakan bersenjata untuk menghancurkan revolusi. Dia menyerang Altay 2 kali, pada bulan Oktober 1946 dan pada September 1947, penjarahan dan pembakaran rumah masyarakat setempat. Suku Kazaks dan orang-orang dari kelompok etnis lain mengalahkan dia dari pada akhirnya.
Referensi:
Photo by Chen Hai Wen, Matt, Joshua
Travelguidechina.com
china.org.shaosuminchu
sumber2 lain etnis minority
July 20th, 2010 at 17:36
Wah, beneran Ci Soph, suku2 di China memang keren1. Kapan2, pengen kenalan sama fotografernya. Ohya, kalau di St,. Louis terpaksa naik kuda, ntar aku sekalian langsung ke Napa saja, napak tilas jalannya Kangmas Nunu… hahahahaha
July 20th, 2010 at 07:47
Semangat mbak Soph, tinggal 25an lagi

Seperti biasa, mata dimanjakan oleh keindahan foto2nya
Tengkyu
July 20th, 2010 at 07:08
Sophie, thanks banget untuk berburu perangko di kantor pos. Nanti aku tukar dengan semur jengkol
July 19th, 2010 at 23:53
Hebat China. Memang perlu ditiru. Kalau ada orang-orang yang mengacaukan negara dan masyarakat meman harus dibasmi tanpa perlu memperhatikan hak asasi manusia. Ngapain ngurusin nyawa satu orang? Sementara milyaran nyawa terancam. HIDUP CHINA…HIDUP MAO… 董建华毛泽东万岁
July 19th, 2010 at 23:46
Pemerintah China sini termasuk oklah dalam mengurus suku2 minoritas ini. walau mereka jauh dari Beijing, pembangunan merata juga, tdk seperti IND yang di Irian sana jomplang banget. Jalur kereta saja ada dari beijing sampai Mongolia.
ada temanku yang sudah jalan mengelilingi China, kapan2 aku sharing keadaan kota2 ini.
Bang Iwan, ini China. Berani ngibarin bendera lain? mau dibuldoser apa hehehehe..ingat ya peristiwa Tian An Men. Facebook diblok, ditutup aksesnya karena ada gerakan solidaritas buat Tibet.
July 19th, 2010 at 23:41
Soph, ngomong-ngomong diurusin nggak suku Kazak ini sama pemerintah di Beijing sana? Kalau di Indonesia ‘kan suku-suku terluar nggajk diperhatiin, sampe2 ada yang kibarin bendera negara tetangga, makan dari negara tetangga, sampe nggak kenal sama presidennya.
July 19th, 2010 at 23:39
Bang Iwan, whuahhh pastilah org kazak ada yg nyampe ke Beijing. Mereka kan ada perwakilan di tingkat kabupaten, provinsi, tiap tahun pasti ke Beijing menghadiri kongres partai. Ada satu penyanyi Kazak yang terkenal, aku lupa namanya. Bikin konser malah di Beijing. Kalau ke Jakarta apalagi ke Mampang, nah ini berani deh golagokin, belum pernah, hehehehe
July 19th, 2010 at 23:37
Yuci, itu kostum suku Kazak. Mereka keturunan suku2 turki jaman dulu, jadinya facenya agak2 eksotik.
Terima kasih sudah membaca, masih panjangggg seri ini. Totalnya 56 Suku.
July 19th, 2010 at 23:33
Bang Iwan, sebutannya aja etnis minoritas, dari keturunan Turki, yo pasti ngak ada muka chinanya. Pssst , kalau yg ada china2nya gimana sih facenya, karena china juga terdiri dari berbagai macem suku.
..
Soal toilet nanti dibikin riset dulu ya
DA, masih panjanggggggggggggggggggg, sekitar 25an lagi..yang nulis juga udah semafut
July 19th, 2010 at 23:21
Yakin golagokin…orang-orang Kazak pasti nggak pernah maen ke Beijing…