Search in Archive

Select a date
Select a category
Search with Google

A Confession: Ten Things About Me

Monday, 19 July 2010

Viewed 1411 times, 3 times today | 17 Comments |

Andi Gunawan


1. Saya dan Pencarian Makna Sebuah Nama

Nama saya Andi Gunawan. Kalian bisa panggil saya Andi. Beberapa dari kerabat dekat ada yang memanggil Andu, Nyet, Ndigun, Bagol, Boti, dan yang paling menggelikan Anggun (akronim memaksa dari Andi Nggunawan). Shakespeare pernah berujar “Apalah arti sebuah nama.” Saya sepakat dengannya, bukan perkara siapa namamu tapi bagaimana kau menjaga namamu dengan baik yang jadi soal.

Saya, hingga usia belasan, tak pernah tahu arti nama ssendiri. “Kenapa Andi Gunawan?” Ibu saya jawab “Bagus aja. Ibu suka Andi Lau. Kalau Gunawan itu nama dokter yang bantu ibu ngelahirin kamu dulu.” Maklumi saja  Bu Sum, beliau buta aksara. Beliau menamai anak-anaknya dengan nama yang menurutnya baik. Yang pasti, saya selalu berusaha menjaga nama saya dengan baik demi si pemberi nama. Yang lebih pasti lagi, tak ada ‘y’ dalam nama saya. Yang paling pasti, saya tak punya hubungan darah dengan para pesohor bernama belakang Gunawan.


2. Saya dan Seisi Rumah

Saya anak keempat dari lima bersaudara. Bapak saya itu suami ketiga ibu. Dua kakak pertama saya tiri, selebihnya kandung. Begini urutannya: Supri – Tuti – Iin – Andi – Ani. Mas Supri menetap di Jambi setelah menikah, kampung halaman istrinya. Dia pindah waktu saya masih merah. Sekarang, saya lupa rupa bentuknya. Mba Tuti dan Mba Iin pun sudah menikah.

Keduanya mengucap ijab kabul dengan janin di perutnya. Keduanya masih terlalu muda saat pertama dipanggil ibu oleh anaknya. Bedanya, Mba Tuti terpaksa dinikahkan karena salah bergaul, sedang Mba Iin terpaksa dinikahkan karena korban asusila. Anak Mba Tuti sudah lima di usia keenam pernikahannya, sepasang kembar: Ryan – Uwi – Aziz – Hafiz – Resky. Satu dari si kembar diasuh seorang paman yang dicurigai impoten. Empat lainnya sekarang diasuh saya dan ibu. Mba Tuti sedang mengumpulkan dollar menambah devisa Negara di Singapura sejak dua bulan lalu, jangan tanya soal suaminya.

Mba Iin dan anaknya, Erin, tinggal sama suaminya yang sakit jiwa. Terakhir berkunjung ke rumah, bibirnya membiru. Ani si bungsu adalah perempuan muda paling labil yang saya tahu. Jadi, ada delapan kepala di rumah sekarang: Ibu – Bapak – Andi – Ani – Ryan – Uwi – Aziz – Resky. Saya sedang menjadi satu-satunya penghasil rupiah di rumah ini. Saya tak merasa terbebani. Saya merasa punya tanggung jawab sebagai anak, sebagai lelaki. Hanya saja kadang saya merasa begitu tumpul.


3. Saya, Puisi, dan Metromini

Saya menulis puisi sejak berseragam putih-biru. Awalnya saya suka bercerita di halaman terakhir buku pelajaran sekolah. Sejak mengenal puisi, saya bercerita dengan puisi. Bermain dengan rima dan kata itu menantang. Sampai sekarang ada tiga buku yang berisi aneka rupa puisi sejak masa itu. Buku-buku yang selalu sukses membuat saya berhua-hua-ha-ha-ha setiap membacanya.

Pertama kali puisi tercetak dalam media waktu saya kelas II SMP. Seingat saya nama majalahnya EXTREME, majalah yang isinya lirik-lirik lagu terkini lengkap dengan kunci gitarnya. Waktu itu EXTREME mengadakan lomba puisi cinta dengan hadiah kaset pilihan kita. Puisi saya menang, judulnya “Cinta yang Tabu” (jangan tanya ini soal apa, haha!), dan saya dengan suksesnya dapat kaset ADA Band yang waktu itu hits banget dengan Manusia Bodoh-nya. Setelahnya, puisi saya hanya edar dari teman ke teman atau mentok di mading dan majalah sekolah.

Sekarang puisi saya bisa dibaca di Opera Aksara. Oya, saya pernah nembak seorang gadis dengan puisi di metromini waktu berseragam putih-abu dulu (hahaha). Setelah dia membaca puisinya dan saya mengucap mantra “Mau ngga lo jadi bla bla bla …”, saya menunggu reaksinya. Dia cuma tanya “Jam berapa sekarang?” Saya yang saat itu tak punya jam tangan kontan merogoh dalam tas mengambil telepon genggam. “Jam tujuh” saya jawab singkat lalu dia bilang “Oke! Jam tujuh tanggal 17 April 2004 kita resmi pacaran.” Ini hal paling romantis, titik! Haha! Bait terakhir puisinya, kalau tak salah ingat, begini:

“aku adalah matahari

aku adalah bulan

aku adalah bintang

tapi aku bukan apa-apa tanpamu

karena kau adalah langitku”


4. Saya, Ibu, dan Sarjana

Coba tanya ke ibuku apa yang beliau mau sekarang. Beliau pasti menjawab “Ibu mau Andi jadi sarjana.” Dan coba tolong tanyakan pada Ia yang namanya ditulis kapital oleh hampir semua orang kenapa saya belum juga jadi sarjana di usia sarjana. Prestasi akademik saya cukup baik dan saya kira mau ibu yang satu ini tak muluk. Sederhana. Seorang ibu buta aksara yang tak pernah sekolah karena harus membantu ibunya mencari rupiah untuk sekolah adik-adiknya ingin salah satu anaknya jadi sarjana, sederhana bukan? Sayangnya, hidup tak pernah sesederhana yang terlihat.


5. Saya dan Kelamin yang Kerap Dipersoalkan

Saya main kasti, saya lelaki. Saya suka lompat tali, saya lelaki. Saya menari, saya lelaki. Saya pernah punya eyeliner sendiri, saya lelaki. Saya berpenampilan androgini, saya lelaki. Saya tak suka dikasihani, saya lelaki. Saya menulis puisi, saya lelaki. Saya berkemah, saya tak lemah. Saya mendaki gunung bukan untuk pembuktian saya lelaki agung. Saya menangis pertanda saya bukan lelaki bengis. Saya luluran bukan karena saya perempuan –bukankah setiap orang punya hak membersihkan tubuhnya denga cara masing-masing? Saya punya penis dan berejakulasi tak dini. Saya punya hidung, kalian bisa berhenti bicara di balik punggung?


6. Saya, Film, dan Tangisan

Pernah menangis menonton sebuah film? Saya pernah, sering tepatnya. Ini daftarnya: Kuch Kuch Hota Hai, Biola Tak Berdawai, Ratapan Anak Tiri, Armagedon, dan banyak lagi yang lainnya, haha.


7. Saya dan Seorang Diva

Saya amat sangat mengagumi Titi DJ!!!


8. Saya dan Mantan Pacar

Sampai tulisan ini diketik, saya baru berkesempatan delapan kali pacaran –melirik Zeina yang baru tiga kali dengan angkuh, haha! Lima dari delapan adalah perempuan, sisanya lelaki. Heran? Bingung? Terserah kalian saja lah. Yang saya tahu, Tuhan tak berjenis kelamin. We’re made by God to complete one another so I do admire every single thing in both man and woman. We are special creatures. Singkatnya, saya tak pernah mempermasalahkan jenis kelamin dalam hal apapun.


9. Saya dan Ekspektasi Sekitar yang Berlebihan

Banyak orang menganggap saya bisa diandalkan karena terbilang pintar. Kalau pintar diukur dari nilai mata pelajaran, saya memang pernah dapat ponten 10 di raport SD sekali, tapi itu seharusnya bukan jaminan kesempurnaan. Toh, katanya, semesta dan isinya tak sesempurna penciptanya. Saya jengah sendiri saat orang-orang mengira saya ini nyaris sempurna. Semester pertama kuliah, saya mendapat IP tertinggi seangkatan.

Teman-teman di kampus menjuluki saya ‘ngga pernah salah’ karena menurut mereka saya selalu bisa menjawab pertanyaan dosen dengan tepat. Ini adalah hal yang paling tidak berperikemanusiaan yang pernah saya alami. Sekali waktu saya jawab pertanyaan dosen dan dosen itu bilang kalau jawaban saya salah. Saat itu ada nyeletuk “Andi bisa salah juga”. See? I’m just human being! Sejak itu saya merasa jadi manusia lagi.


10. Saya dan Sesuatu yang Ada dalam Cabai

Dear Zeina, bukan cuma tauge yang bisa memproduksi ulat. Cabaipun sama produktifnya. Percaya deh! Saya lihat ada ulat di anatara cabai-cabai di dapur rumah tante saya. Kita tak pernah tahu sambal yang kita makan itu terbuat dari cabai segar atau cabai berulat. Ini bukan berarti saya tak suka pedas. Saya hanya tak bisa memakan makanan apapun yang memperlihatkan kulit atau biji cabai, yaiks!

A Note: Zeina adalah teman Andi yang sudah membuat confession terlebih dahulu


Note Redaksi:

Selamat datang dan selamat bergabung, Andi Gunawan! Make yourself at home. Semoga terus berbagi di sini. Terima kasih Alexa yang sudah memperkenalkan Andi Gunawan kepada Baltyra.

Share This Post

Posted by Monday, 19 July 2010 on 01:54.

Categories: Kehidupan. Follow the comments to this article via the RSS 2.0.

You can leave a response or trackback to this entry

17 Responses to “A Confession: Ten Things About Me”

Pages: [2] 1 »

  1. 17
    ndigun Says:

    Kembali kasih Alexa
    Saya hanya mencoba jujur pada diri sendiri demi berdamai dengan diri sendiri.

    Terima kasih H N …
    Mari berteman .

  2. 16
    HN Says:

    Mas, thanks ya.. Artikelnya bagus dan jujur… Dari kemarin saya coba untuk komen, tapi gagal melulu, hehehe. Selamat datang di baltyra, Mas…

  3. 15
    Alexa Says:

    thanks to ndigun dah boleh sharing confession terjujur yang pernah aku baca…

  4. 14
    ndigun Says:

    Saya lupa berterima kasih sama admin yang sudah menayangkan tulisan ini.
    TERIMA KASIH

    Saya suka sekali gambar ilustrasinya, supercool!!!

  5. 13
    ndigun Says:

    :wew, sudah banyak yang baca ternyata .
    untuk semua yang sudah baca dan berkomentar, terima kasih sekali

    @Lani: ini bukan fiksi atau reka-reka, saya menulis dan mengalaminya .

    Jadi begini, tulisan aslinya ada di akun kompasiana saya .
    Saya dan teman-teman di kompasiana menulis persepuluhan estafet,
    silakan dicek

    Bagaimana persepuluhan saya bisa nyangkut ke baltyra?
    Ada teman di kompasiana minta ijin sama saya buat sharing tulisan ini ke baltyra. Dengan senang hati, saya setujui.

    Begitu

    Salam kenal semuanya …

  6. 12
    saras jelita Says:

    Bagian dari kehidupan pribadi……jujur, sumpe nich

  7. 11
    nevergiveupyo Says:

    wah…pengakuan yang luar biasa. saya berani enggak ya?? hum…pikir2 lagi deh….
    makasih digun….

Pages: [2] 1 »

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Image (JPEG, max 50KB, please)