Kematian Yang Dihargai Murah

Cenil & Lik Gembus

Lembayung – SOLO the spirit of java


Berjalan dengan langkah berat karena kaki agak memar terbentur pojok meja kecil tempat saya menyelesaikan laporan praktikum semalam, saya melangkahkannya ke arah angkringan Lik Gembus yang saya harap sore ini dia membuka warungnya. Sedikit bete, karena ketidak-jualan angkringan Lik Gembus kemarin malam mengakibatkan saya kedinginan karena tidak bisa menyeruput wedang jahe gepuk panas favorit saya, yang selanjutnya berdampak pada saya mengerjakan laporan praktikum di dalam kerubut selimut tebal sehingga agak kesusahan mengetik. Semalam menggigil, efek kurang enak badan.

Dari kejauhan sudah terlihat tenda warnya oranye terang yang menandakan beliau yang terhormat tuan Lik Gembus telah menunaikan kewajibannya sebagai tukang angkringan yang baik dan benar. Ya, sore ini tampaknya dia sudah berjualan. Sambil tetap mengarahkan kaki menuju ke sana, saya lihat Lik Gembus sudah melihat kepada saya, menatap saya sambil mengernyitkan kening, mungkin melihat cara berjalan saya yang agak berat dan lambat. Tak seperti biasa yang ringan seperti setengah berlari atau melompat kecil.

Belum sampai duduk saja, saya sudah mulai mengomel kecil, “Kemarin kemana sih Lik? Kok ngga jualan lho. Memangnya sampeyan sudah kaya ya? Mulai melalaikan kebutuhan customer?” Lik Gembus yang melihat saya cemberut dan mengomel itu terkekeh geli sambil menyeduhkan jahe gepuk dengan campuran gula batu dan gula kelapa. “Lho, saya kan belum pesan minum Lik?!” tanya saya keheranan lagi. Lik Gembus menyajikan gelas berkuping itu tepat di depan saya. Uap panas dan harum menguar menggelitik indera penciuman saya. Hmmmm…… aromanya nikmat sekali.

”Pertama-tama, perkenankan saya, Lik Gembus, mengucapkan permintaan maaf yang sebesar-besarnya karena kemarin sore terpaksa tidak dapat membuka warung angkringan. Hal ini dikarenakan tiba-tiba ada tetangga yang meninggal. Maaf, saya tidak bisa memberikan pengumuman sebelumnya sehingga banyak pelanggan yang kecele datang. Hal ini dikarenakan tetangga saya yang meninggal juga tanpa memberikan pengumuman terlebih dahulu. Demikian permohonan maaf saya kepada Mbak Cenil, Mas Karjo, dan Mas Bejan.” Cerocos Lik Gembus kepada kami, yang memang sore itu baru kami bertiga yang sedang nongkrong di sana.

Disambut dengan terkekehnya kami bertiga demi mendengar ceramah singkat Lik Gembus. Orang meninggal kok suruh woro-woro dulu. Opo yo tumon to, Lik? Hehehe….

Hm, membicarakan tentang orang meninggal yang meninggal, tiba-tiba saya jadi ingat dengan acara peringatan orang meninggal, atau lelayu , demikian kalau istilah orang Jawa. Segala macam kepercayaan beserta pernak-perniknya, mulai dari rumah duka yang harus selalu dijaga sanak keluarga semenjak bagian dari anggota keluarganya berpulang, tidak boleh ada kegiatan masak-memasak, hingga menyediakan saputangan yang di dalamnya dimasuki uang recehan yang dibagikan kepada pelayat. Tak lupa pula, seperti halnya acara resepsi pernikahan, di sudut muka tempat penerima tamu, disiapkan pula kotak tempat sumbangan. Hal yang wajar. Berdasarkan budaya sekitar.

Sambil menyeruput minuman saya, iseng saya bertanya pada Lik Gembus, ”Lik, menurut sampeyan, harusnya lebih besar nyumbang orang kawinan apa orang kematian?” Sambil mengeringkan gelas dan sendok dengan serbet yang sudah tidak tepat bila dikatakan putih lagi, dia menjawab, ”Lha yo, biasanya lebih besar kalau menyumbang kawinan, Mbak Cenil.

Saya kalau menyumbang kawinan biasanya rata-rata dua puluh ribu sampai dua puluh lima ribu. Tapi kalau kematian biasanya hanya lima ribu saja. Lha ada apa to, kok tanya-tanya sumbangan?” Tanpa memperhatikan pertanyaan Lik Gembus, saya balik bertanya lagi, ”Lha menurut sampeyan alasannya kenapa kok begitu?” Lik Gembus tanpa pikir panjang langsung menyahut, ”Lho, ya jelas karena orang punya kerja mantenan itu biayanya lebih banyak Mbak Cenil, bisa berjut-jut, kita datang njagong juga disuguhi makanan, wareg-reg-reg, jadi ya wajarlah kalau menyumbangnya juga lebih banyak. Sudah memper itu. Lagipula memang sudah kebiasaannya seperti itu. Lebih besar uang sumbangan untuk acara kawinan.” Saya lihat Lik Karjo dan Lik Bejan juga manggut-manggut, artinya menyetujui penjelasan dari Lik Gembus.

Sambil menyendokkan nasi teri ke dalam mulut saya, saya memikirkan Jawaban Lik Gembus itu. Tidak ada yang salah dengan jawaban darinya. Memang wajar pertukaran antara amplop sumbangan dengan piring-piring kenikmatan. Demikian pula antara amplop duka cita dengan air mineral kemasan gelas. Ah… apakah saya yang aneh? Yang mengurusi tetek bengek nominal sumbangan yang sebenarnya masih tabu untuk dibicarakan di sebagian daerah?

Yang bagi saya peristiwa kematian adalah sebuah awal dari hidup baru yang seharusnya dirayakan oleh sanak keluarga yang ditinggalkan? Babak kehidupan baru? Sanak keluarga yang harus terus melanjutkan hidup. Sukur-sukur dengan membuka kotak sumbangan duka cita yang bisa dijadikan modal untuk langkah mereka nantinya. Ah…. jika yang meninggal adalah sang ayah dengan usia produktif, meninggalkan istri yang tak punya mata pencaharian dan anak-anak yang masih sangat kecil-kecil? Ah…. tapi pasti mereka pun tak pernah berharap akan bergantung pada kotak duka cita itu…. Hanya saja, ya…., hanya saja…. ahh… saya pun tak sanggup meneruskan pengelanaan pikiran saya ini. Cukup. Kembali kepada kebiasaan. Budaya. Tradisi. Baiklah kalau begitu.

”Lha maunya Mbak Cenil bagaimana to? Apa mau saya sumbang sedikit pas Mbak Cenil mantenan? Trus sisanya saya tambahkan ke amplop sumbangan duka cita kalau Mbak Cenil besok meninggal? Hahahaha…. ada-ada saja panjengengan itu!” canda Lik Gembus pada saya yang saya tanggapi dengan merengut, “Hush, apa sampeyan yakin bakalan urip lebih lama daripada saya Lik? Sampeyan itu lebih tua dari saya lho…” samar pikiran saya melayang lagi, merekam gambar-gambar acara peringatan kematian yang pernah saya datangi, dari satu acara, ke acara yang lain, semuanya sama, hitam, pilu, berduka, dan pojokan tempat kotak duka cita yang rendah diri….

Sayup suara tembang macapat Lik Gembus yang lirih sedikit demi sedikit menguat, seiring dengan kembalinya saya dari pengembaraan imaji. Tembang Durma, tembang yang wingit.

”Kae manungsa golek upa angkara
Sesingidan mawuni
nggawa bandha donya
mbuwang rasa agama
Nyingkiri sesanti ati
Tan wedi dosa
Tan eling bakal mati…”

Salam,

Lby (16-07-10;15:55)


Disclaimer:

Tokoh-tokoh yang ada dalam tulisan ini hanyalah fiktif belaka. Ide tulisan diambil dari kejadian yang ada di lingkungan sekitar maupun yang ada dalam imajinasi penulis yang diangkat dalam bentuk cerpen sebagai bentuk refleksi sehingga penulis berharap pembaca bisa saling menyentuh hati satu dan yang lain.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.