Sebuah catatan harian : “E L E G Y“ II

EA. Inakawa – Kinshasa


Sebuah catatan harian : “E L E G Y“

Berjalan di lorong sempit dan becek ini sungguh menjengkelkan,  sesekali aku berjinjit dan melompat menghindari kubangan air yang lebih dalam. Rintik hujan masih tersisa,  jatuhnya air seperti saling berlomba membasahi tadahan dedaunan  keladi,  suara rintik hujanpun seperti nyanyian kecapi menerpa semua sudut atap rumah berdaun seng yang kulalui…..

Apes benar menuju ketempat ini tak bisa dilalui dengan mobil,  begitupun tempat ini merupakan lokasi favorit buat banyak orang. Samar-samar dari kejauhan sudah terdengar alunan musik yang dilantunkan Anggun C. Sasmi dengan logat kental Perancis nya,  hampir di semua negara Francophone semua album Anggun sangat populer dan diterima oleh komunitas Africa,  sungguh sebuah kebanggan buat Indonesia atas karya anak bangsa ini sebagai biduanita serba bisa.

Dan sesekali aku menepi memberi jalan bagi yang bergegas mendahuluiku,  sembari mengangguk dan melempar senyum pelit & getir.

Seandainya …… aku tak pernah menerima tawaran pimpinan untuk bertugas di bumi Africa ini pada 7 tahun yang lalu,  apa jadinya dengan perjalanan hidupku pada sudut dan sisi kehidupan yang lain,  sulit juga membayangkan atas semua perjalanan waktu yang usai terlampaui…..Tuhan telah mengaturnya dari sebuah bilik di atas langit sana.

Sesungguhnya aku amat bangga ketika terpilih dalam proses panel untuk mengisi kekosongan Jabatan Regional Country Manager Africa. Tapi sungguh tak pernah terlintas berbagai kemungkinan yang akan kulalui seiring dengan pelarian waktu.

Sedikitpun tak pernah terbersit atau bercita cita akan berjodoh berjumpa kenal dengan manusia dari bebagai bangsa di bumi Africa ini…..di sini.

Tak pernah juga membayangkan betapa sulitnya melalui hari-hari dalam kesendirian tanpa sanak di benua ini,  di antara dinamika kehidupan yang berbeda kultur satu sama lainnya.

Berjalan dalam lamunan ………..

Menyadaripun tidak…..aku sudah berdiri persis di depan gapura utama sebuah Restoran yang ditata dengan keasrian khas Africa “Village Origin” aku sampai di sana sesaat matahari baru terbenam sepenggalan cahaya redup.

Hari ini ….. di sini Aku & Patricya berjanji untuk bertemu,  satu setengah tahun setelah pertemuan kami pada pesta perkawinannya di Ethiopia,  kerinduanku dengan warna jiwanya ternyata mempengaruhi detak jantungku yang semakin kencang.

Kembali anganku menari ber-andai andai…..sepertinya TUHAN tak pernah kehabisan Naskah Drama mempermainkan jalan hidupku & Patricya.

Untuk sementara rasa kekhawatiran yang singgah amat sekejap ini harus disimpan dulu,  tak ingin aku berleha dan percuma dengan waktu,  aku tak ingin kehilangan pesona di depan Patricya sang melodi cintaku yang sudah lebih awal duduk di sana,  dalam iringan nyanyian Daniel Sahuleka “Don’t Sleep AwayThe Night”,  aku menyukai lagu ini yang dilantunkan secara akustik dengan gitar,  kucium kedua pipinya….

Di antara celah rambut yang terjuntai manja di dahinya…..Tu sens une tendresse (wangimu enak) kataku,  tak luput kulihat blitz kedua bola matanya dalam birahi kerinduannya atas pertemuan kami,  akupun jadi ter-ingat dengan sms nya “ J’ai voulu te voir,  tu m’as manque” (aku ingin berjumpa,  aku rindu padamu).

Di sebuah sudut dalam terali yang berkisi kisi ….. tangan kami saling berpegang erat,  ada sebuah jambangan bunga lavender di atasnya,  bunga yang aku pesankan untuknya,  selalu ia katakan mencium aroma lavender sama dengan AKU membayangkanmu sebagai ahli teraphyku,  aku ingin selalu nyaman dalam aroma Indonesiamu…..

Achhhhh Patricya sesuatu yang luar biasa bagiku yang selalu segar dengan candanya,  laksana Oase di benua 45 derajat celcius ini,  sebuah moment inspirasi kala bersamamu bisa merajut benang benang kusut dalam damainya hati ini…..hati kita sebagai perekat walau berbeda religius.

Dalam kisahnya…..1,5 tahun usia perkawinannya adalah perjalanan yang semu bersama suaminya Christian Robertus asal Kupang,  hanya 6 bulan pertama Patricia menikmati manisnya bulan madu perkawinan mereka,  selanjutnya Patricya menjadi sapi perah.

Berbagai kelakuan dan sifat buruk suaminya mulai terlihat,  tabungan yang ia kumpulkan dengan bersusah payah & berhemat habis diambil suaminya dengan berbagai alasan yang Patricya tak mampu menolaknya.

Terakhir ia ketahui suaminya membangun rumah di kampung halamannya,  belum lagi sikap emosional yang setiap hari jadi santapannya. Dalam keputus-asaan itu achirnya Patricya memilih berpisah dengan baik baik. Berbagai alasan suaminya memohon maaf ia abaikan,  cukup sudah waktu yang ia berikan.

Ia tak mampu lebih lama menunggu penyesalan suaminya yang tak pernah kunjung.datang. Patricya malu hati untuk berdiskusi kepadaku,  semua ia lakukan dengan caranya sendiri dengan ketegaran hatinya berteman air mata dan penyesalannya.

Patricya sejujurnya mengatakan kalau ia telah kehilangan jati dirinya,  ia kehilangan kepercayaan dirinya & pertemuan kami ini membuat ia ingin bangkit dan merajut kembali benang yang kusut & berserak,  itupun jika aku meng-izinkannya untuk bisa masuk kembali ke dalam benih benih kasih yang tetap terpelihara di hati ini.

Patricya menatap mataku dengan lembut….lama aku mencari ROH kasihnya dalam bening kristal yang tak mampu ia tahan,  jatuh dan berderai di atas pizza yang kami makan,  dengan punggung tangan kuseka setetes air mata di bulu matanya.

Baru kali ini aku melihat Patricya demikian hancur & dihadapanku ia merasa kembali dilahirkan sebagai perempuan dalam atmosfir gemini nya…..

Aku ingin berjalan dicjalan tanpa rintangan yang mungkin TUHAN sudah berikan,  aku ingin ber-eksistensi dalam rasa yang masih kau simpan atau walaupun hanya tersisa sekalipun,  aku ingin bersamamu,  adakah kau mau berbelas kasih & berkenan menerimaku kembali…..

Aku tertegun memandang raut wajah Patricya,  salah satu keturunan Siti Hawa yang terdampar di bumi Perancis ini,  betapa sulit dan butuh keberanian yang luar biasa baginya untuk memohon cintaku kembali,  mengorbankan semua harga dirinya sebagai wanita pintar yang kukenal,  seorang perempuan bergelar Phd.

Lalu ia tunjukan padaku sebuah catatan di buku hariannya yang pernah kutulis…. ”Akal seorang wanita baik Pintar & Bodoh adalah sepanjang rambutnya & Cinta seorang lelaki 5 Agustus adalah seperti air mengalir yang tak putus dicincang terkecuali oleh waktu” …..kami saling tertawa geli mengulas kembali tulisan iseng ini.

Patricya mengakui kalau keputusan perkawinannnya 1,5 tahun yang lalu adalah suatu kebodohan baginya…..Je faisais une erreur ucapnya,   Tos kataku ! Sebagai lelaki aku merasa menang dengan pengakuannya ia memang gegabah dengan keputusannya.

Setelah tertegun beberapa lama sembari menatap bayanganku sendiri ….. di jemariku dengan sepasang sumpit,  kusambit serpihan makanan kami yang berserak di atas meja satu demi satu.

Di depan gubuk kami serumpun lebat daun dan batang pohon bambu saling bergesek,  menimbulkan suara malam yang gemerisik dan sendu,  seperti sebuah rintihan orgasme flora malam,  mungkin dalam pandanganku seperti itulah komunitas bambu itu saling bersenggama setiap saat tanpa lelah di antara tiupan angin yang dengan sengaja Tuhan hembuskan menimbulkan populasi baru,  tunas-tunas baru yang memberi manusia keteduhan & kenyamanan di sekelilingnya.

Begitupun masih saja ada manusia yang jahil & nakal memotong batang bambu muda lalu memasaknya sebagai gulai rebung pohon bambu…..duhhhh.

Aku tercekat memandang wajah manis Patricya…..di balik punggungnya seekor kunang-kunang sedang terbang malam,  desau angin yang berhembus malu membantu aku mengambil sebuah keputusan dalam desah nafas yang berat bahkan detak jantungkupun kudengar sangat,   saling berlomba mencoba mengimbangi detak jam dinding di gubuk restoran ini.

Tak ada sebuah keputusan yang ganjil di hati kami…..tak juga ada sebuah pertanda penyesalan atas keputusan malam ini,  di gubuk restoran “Village Origin” ini Aku & Patricya BERDAULAT  kembali atas Cinta & kasih sayang kami.

Tak ada sebuah masa yang terlambat untuk kami menuai kembali kebersamaan ini,  kami akan berbagi sebagaimana Tuhan ciptakan manusia Lelaki & Perempuan – Betina & Jantan – Baik & Buruk saling bertemu & berjodoh,   ibarat asam di gunung garam di laut bertemu dikuali…..begitulah akan kami lalui hari hari kehidupan kami,  disini….di bumi Africa ini.

Sebuah saran kuberikan ke Patricya untuk mengajukan mutasi ke kubu NGO di mana ia bekerja,  kalau tidak memungkinkan aku siap menerima kedatangannya dengan apa adanya,  sembari jalan bisa saja mencari pekerjaan lain di Kinshasa bergabung dengan misi kemanusiaan lainnya sebagai Peace Keeper atau civilian di UN Monusco.

Patricya tersenyum & pulas dalam dahaga kerinduan dan kebahagiaannya di pertemuan kami malam ini,  ditepuknya pundak ku dengan perlahan…..mari kita pulang….Don’t Sleep AwayThe Night…..honey.

Je veux etre avec toi pour toujours…..Veux-tu me marier ‘Aku mau hidup bersamamu selamanya,  maukah kau mengawiniku evan,  Je l’aime a mort ‘Aku sangat mencintainya…..Me voici ‘Aku pasrah dalam anggukanku.


Kinshasa : 18 Juli 2010.

Salam setepak sirih sejuta pesan : EA.Inakawa


50 Comments to "Sebuah catatan harian : “E L E G Y“ II"

  1. Adhe  11 August, 2011 at 01:20

    Baca seri 3 duluan, lalu 1 dan 2, teteup sama romantissnya…..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.