Bahasa Indonesia, Foreign Language di Negeri Sendiri

Josh Chen – Global Citizen


qMo m4Nk cLiD w4d cYanK m qH0, tPh3 qMo pLu tHw0 mY LuPi aLw4Ys 4 U…

Blaiiiikkk…mengetiknya sudah bikin kepingin ngamuk! Mengutip dan sedikit memodifikasi dari Koran Tempo sudah bikin stress. Ada yang tahu apa itu di atas?

Ternyata…

Kamu memang sulit buat sayang sama aku, tapi kamu perlu tahu my love always for you…

Begitulah bahasa anak sekarang ber-sms, ber-BlackBerry Messenger, chatting atau media apapun…mumet? Anggap saja generation gap…begitulah aku memaafkan diri sendiri jika tidak mengerti membaca yang begituan…

Alay – satu vocab lagi – adalah sebutan untuk ABG jaman sekarang, singkatan dari “anak lebay” (anak berlebihan); lebay sendiri bahasa gaul untuk “berlebihan”. Bahasa komunikasi alay memang gaul kuadrat, bila perlu pangkat tiga, gaulnya gaul paling gaul…

Bahasa gaul di Indonesia memang lebih mewarnai komunikasi sehari-hari, baik komunikasi lisan atau tulisan. Dengan berkembangnya teknologi, e-mail yang online terus, update terus baik dengan handheld BlackBerry atau perangkat yang lain, menyebabkan komunikasi kita tak pernah terputus barang sekejap. Belum lagi jejaring sosial seperti Facebook. Bahkan pakar IT kita Gandalf sempat berkomentar, “ah memang sekarang banyak sekali yang kena FB-only syndrome”. Maksudnya ada e-mail, ada internet, ada handphone, tapi hanya mau komunikasi via FB, baik BBM, atau e-mail di FB itu…hehehe…yang lain pokoknya tidak, the one and only, pokoknya Facebook…

Kembali ke bahasa gaul. Di Jawa dan sebagian wilayah Indonesia, percakapan lisan dalam bahasa Indonesia sudah “terkontaminasi” dialek Betawi di mana-mana: dong, deh, -in, sih, nggak (ngak, gak) adalah yang paling jamak. Dan diperparah oleh TV dengan semua tayangan sinetronnya.

“Jangan gitu dong, masak gw nga diajak sih, lu gitu deh, dia diajakin, tapi gw dicuekin…”

Diperparah dengan:

“Lu gitu deh, secara kita temen baek gitu lo”

Mumet? Sudah seharusnya…

Akibatnya? Dua tahun berturut-turut bahasa Indonesia justru menjadi batu sandungan terbesar kelulusan anak-anak SMP dan SMA di negeri yang bernama Indonesia ini. Bahasa Indonesia sudah menjadi Foreign Language di negeri sendiri. Di tahun 2010 ini, sebanyak 73% ketidaklulusan Ujian Nasional tingkat SMA/SMK/MA karena jebloknya nilai Bahasa Indonesia. Berikut data dari DikNas mengenai pengulangan Bahasa Indonesia dalam Ujian Nasional 2010 yang baru lewat. (sumber:  Suara Pembaruan)

Bahasa gaul memang sudah berlangsung sejak lama, berubah dari satu bentuk ke bentuk lain, dari bentuk yang sederhana ke bentuk yang sekarang ini. Sekilas bahasa gaul dari waktu ke waktu:

Generasi 70’an

Ali Topan Anak Jalanan merupakan fenomena awal bahasa gaul yang ketika itu disebut bahasa PROKEM. Dengan rumus: buang 2 huruf di belakang dan sisipkan OK di tengah. Prokem berasal dari PREMAN, buang AN, jadi PREM dan sisipkan OK di tengah, jadilah PR-OK-EM.

Dari sinilah timbul sebutan yang bahkan sampai sekarang masih digunakan: BOKAP (BAPAK, BAP, B-OK-AP), nah saya tidak tahu bagaimana asal-usul nyokap..hehehe…terus ada lagi DOKU (DUIT, DU, D-OK-U). Walaupun tidak selalu sesuai pakem atau aturan (seperti “nyokap” tadi).


Generasi 80’an

Generasi para pendengar radio dan radio lah yang menyebarluaskan bahasa prokem lanjutan dari generasi sebelumnya. Ngocol, rumpi, cuek adalah contoh dari era ini.


Generasi 90’an

Stasiun TV swasta mulai menjamur. Tayangan Lenong Rumpi di mana Debby Sahertian banyak menggunakan kosa kata dari bahasa para banci. Ember, akika, endang dan titi dj adalah contoh dari masa ini. Ember = emang, akika = aku, endang = enak, titi dj = hati-hati di jalan.

Plus pencampuran dialek Betawi dan English mulai terdengar: “lo itu cool banget deh”.


Generasi Milenium

Semua pakem dipakai, ditabrak dan dicampur. Contohnya seperti di awal tulisan ini.


Di sela-sela generasi bahasa prokem ada juga prokem lokal. Seperti penyisipan R di sela kata diikuti huruf vokal terdekat yang banyak dipakai di kota-kota dengan penutur bahasa Jawa (Semarang misalnya), kono = koronoro, buku = burukuru, kowe = korowere, dst. Atau yang berdasarkan utak-atik aksara Jawa, yang kemudian jadi bahasa walikan (balikan) seperti di Jogja, yang sampai sekarang masih dipakai. Cerminan Hanacaraka (baca honocoroko):

Ha Na Ca Ra Ka –> pa dha ja ya nya

Da Ta Sa Wa La –> ma ga ba tha nga

Pa Dha Ja Ya Nya –> ha na ca ra ka

Ma Ga Ba Tha Nga –> da ta sa wa la

Seperti merek terkenal kaos di Jogja: DAGADU sebenarnya adalah MATAMU (lihat rumusan aksara hanacaraka dengan cerminan di atas).

Kembali ke bahasa Indonesia yang sekarang menjadi bahasa asing di negeri sendiri. Kesalahan siapakah? Kurikulum? Para pengajar? Para murid? Semuanya! Kurikulum yang ada dari dulu sampai sekarang memang membosankan, menyebabkan kantuk di kelas, hapalan mati tanpa tahu apa yang dipelajari dan dihapalkan.

Pelajaran sastra Indonesia dari masa ke masa yang diajarkan oleh para guru, sementara para guru sendiri tidak tahu makna, keindahan dan maksud memelajari sastra Indonesia tsb. Semua diajarkan, dihantarkan hanya mengikuti kurikulum yang tercantum tanpa mengerti sama sekali makna dan keindahan sastra Indonesia dari masa ke masa.

Minat baca para murid terhadap karya sastra asli Indonesia yang juga semakin tipis. Murid SMP-SMA akan lebih memilih novel setebal bantal Harry Potter dibanding Ca Bau Kan atau Bumi Manusia, mereka akan lebih memilih Twilight dan sekuelnya dibanding Burung-burung Manyar atau Roro Mendut’nya Romo Mangun. Para guru juga belum tentu pernah membaca atau menghargai karya-karya sastra lokal tadi – tidak usah sampai Pujangga Baru atau Balai Pustaka punya periode, jelas jauh dari jangkauan kemampuan para guru dan murid sekarang untuk mengerti dan menghargainya.

Apalagi kreativitas para guru Bahasa Indonesia misalnya mengadakan acara study tour berupa napak tilas tempat-tempat yang disebutkan dalam trilogi novel legendaris Pramudya Ananta Toer. Jauh dari angan-angan…

Latihan penulisan dengan bahasa Indonesia yang baik dan rada mendingan (kata mas Iwan Kamah…haha) juga perlu digalang. Berbagai media online yang informal seperti Baltyra ini bisa menjadi partner Kementerian Pendidikan Nasional untuk menjadi ajang menampung artikel dari para murid SMP dan SMA untuk mengasah kemampuan menulis dan berbahasa Indonesia.

Dan kekacauan berbahasa Indonesia pun diperparah dengan peran media, bahkan yang bergengsi seperti Kompas juga ikut mengamini dengan menggunakan istilah-istilah yang dipaksakan terdengar atau terlihat Indonesia, padahal padanan kata atau kosa kata dalam bahasa Indonesia yang jauh lebih mudah dimengerti sudah tersedia. Beberapa contoh yang banyak sekali didapati di media massa sekarang ini: ekspektasi, akseptansi, selebrasi, vokabulari, koinsidensi, sustainabilitas, suplayer, dst.

HAH? Media massa besar nasional, Kompas salah satunya, banyak sekali menggunakan kata-kata sejenis itu, pemaksaan atau indonesianisasi kosa kata bahasa Inggris. Expectation kenapa tidak yang normal saja menjadi “harapan” atau “pengharapan”? Acceptance menjadi penerimaan, celebration menjadi perayaan, vocabulary menjadi kosa kata (atau biarkan vocab yang sudah menjadi kata umum), coincidence menjadi kebetulan, sustainability menjadi kesinambungan (sustain = berkelanjutan), supplier menjadi pemasok.

Walaupun di saat yang sama juga banyak digunakan kata pengganti yang terkadang membuat bingung pembaca seperti contoh: pemuliabiakan. Nah, apalagi itu? Pemuliabiakan adalah pengganti kata breeding. Bisa menjadi solusi jika kata pemuliabiakan kemudian dituliskan dalam kurung kata asli sehingga memperjelas yang membaca.

Sampai kapan kah Bahasa Indonesia justru menjadi foreign language di negeri sendiri? Entahlah…lebih baik atau lebih parah kah ke depannya?

About J C

I’m just another ordinary writer. Seorang penulis lepas dengan ketertarikan bidang: budaya, diversity, fotografi, ekonomi dan politik.

Arsip Artikel Website

238 Comments to "Bahasa Indonesia, Foreign Language di Negeri Sendiri"

  1. Daisy  26 May, 2011 at 08:51

    walah walah

  2. Lani  25 May, 2011 at 13:30

    AKI BUTO….wes kepalaku mumet baca pembukaan artikelmu…….cm mo mengingat ini artikel yg mana yak?…….tuiiiiing……..puzink kepale

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *