Dia Tak Perlu Negeri Dongeng

Andi Gunawan


Hujan. Awan hitam timbul tenggelam di gugusan cakrawala. Bulir-bulir airnya sesekali menyibak bau tanah, mengisyaratkan bumi masih ada. Sesekali kesejukan menyelinap pada celah ruang persegi yang mulai retak. Bukan dingin yang menggigil, hanya sejuk yang semilir melewati jendela-jendela berkarat.

Di ruang persegi yang lain anak-anak tertidur dalam peluk hangat ibunya, bapaknya, beberapa keduanya. Anak-anak itu bermimpi tentang negeri dongeng lengkap dengan ibu peri lalu angsanya pada halaman istana kerajaan awang-awang. Sebagian terjaga memburu bulir-bulir hujan. Berlari-lari mendendangkan keriangan khas mereka.

Seorang gadis kecil hanya terpaku pada bibir pintu. Menikmati hujan tanpa memburunya di bawah sore. Ia tak berani lebih jauh dari pintu. Pun tak ada yang menina-bobokannya dengan peluk hangat. Pun ia tak tahu cara berdendang riang walau sesaat. Itu bukan khasnya. Dan jangan pernah menyoal negeri dongeng padanya, bahkan angsapun ia tak tahui bentuknya.

Ia pernah sekali membangun kerajaannya sendiri dalam sore yang sunyi. Kerajaan kecil dalam ruang persegi miliknya. Kerajaan tanpa angsa hanya kamboja. Istana yang ia sedang bangun itu runtuh sebelum sempat menjadikan ibunya Maharani. Ia ingin sekali menjadikan ibunya satu-satunya Maharani dalam kerajaannya. Menempatkan ibunya pada ranjang ratu tanpa harus berbagi dengan gadis belia kampung sebelah. Selir bapaknya yang Maharaja. Setelahnya ia tak pernah mengharap apa-apa pada dongeng anak-anak tetangga sebaya.

Ibunya tetap menjadi satu-satunya wanita yang ia panggil Ibu. Meski tak jadi Maharani, ibunya tetap satu-satunya pemilik ranjang ratu. Benar-benar satu-satunya. Yang ia panggil Bapak telah beranjak dari ranjang. Memburu keduniawian. Mengikuti hasratnya. Meninggalkan kenangan.

Kenangan yang ia tak mau lagi ingat barang sejenak. Kenangan yang membuatnya pernah tak menelan apa-apa dari pagi hingga petang. Kenangan yang membuat adiknya buang air besar sembarang. Kenangan yang membuat ibunya terbang. Terbang ke negeri tetangga tempat patung singa mengucurkan air dari mulutnya. Mengumpulkan dolar karena rupiah tak lagi ramah. Kenangan yang kerap membuatnya bertanya padaku “Om, Bu Tuti kapan pulang? Uwi kan mau sekolah.”

Andi Gunawan, 21 Mei 2010

—————————

*Alfi Dwi Febrianty -anak kedua kakak perempuan pertamaku


Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.