Search in Archive

Select a date
Select a category
Search with Google

Orangutan Perlu Obat Nyamuk

Friday, 23 July 2010

Viewed 1375 times, 1 times today | 32 Comments |

Handoko Widagdo


Minggu lalu, tepatnya Hari Kamis dan Jumat saya mengikuti International Workshop on Orangutan Conservation (IWOC) di Sanur, Bali. Saya diundang bukan karena saya orangutan (karena bulu saya jelas kalah lebat dari orangutan). Saya diundang juga bukan karena saya adalah orang di hutan (sebab saya tinggal di Solo dan bekerja di Jakarta yang hanya ditumbuhi pohon-pohon semen, bebek-bebek yang minum bensin dan ular-ular yang hanya bisa berjalan di atas rel yang sudah dipasang). Bukan pula sebagai ahli primata, apalagi ahli kera besar. Saya diundang karena saya terlibat dalam pendampingan orang di hutan yang hidup sehari-harinya tinggal di habitat yang sama dengan orangutan.

Saya senang bisa ikut dalam workshop ini, karena saya bisa bertemu dengan para ahli orangutan, seperti Pak Carel van Shaik dan Ibu Anne Russon. Beliau berdua telah mendedikasikan hidupnya untuk meneliti orangutan di Indonesia berpuluh-puluh tahun. Saya juga bertemu dengan para peneliti muda Indonesia, seperti Drh Fransisca Sulistyo. Tentu saja dengan teman-teman praktisi yang sudah bergelut dengan orangutan bertahun-tahun, seperti teman-teman dari FFI, WWF, TNC, YEL dan lainnya.

Melalui paparan para ahli tersebut, pengetahuan saya tentang orangutan bertambah pesat. Tambahan pengetahuan inilah yang membuat kekaguman saya terhadap saudara kita ini menjadi semakin menjadi-jadi. Orangutan saya sebut saudara karena memiliki 96,4% kesamaan genetik dengan manusia. Ternyata orangutan adalah makhluk yang belajar, khususnya saat dia masih belum dewasa. Berikut adalah hal-hal baru yang menarik.


Belajar jenis makanan dan cara makannya dari ibunya

Bayi orangutan menempel pada ibunya setidaknya 3 tahun. Pada saat bersama ibunya itulah bayi orangutan belajar jenis buah, daun, kulit pohon apa saja yang bisa dimakan. Dia juga belajar bagaimana cara memakannya. Misalnya, supaya tidak terkena duri buah durian, orangutan membungkus durinya dengan dedaunan sebelum membukanya.

Banyaknya orangutan yang tidak berhasil diliarkan kembali ke alam adalah karena dia tidak sempat belajar tentang jenis dan cara makannya. Ibu Anne pernah menemukan seekor orangutan betina yang mati kelaparan ketika dilepas di hutan, padahal di hutan tersebut banyak terdapat pakan orangutan. Betapa sulitnya meliarkan kembali orangutan yang ditangkap ketika masih bayi dan sudah terlalu lama tinggal bersama manusia.


Orangutan perlu obat nyamuk

Bukan hanya kita yang perlu berlindung dari nyamuk, orangutanpun perlu menghindar dari nyamuk. Bagaimana caranya? Ternyata orangutan (terumata betina yang punya anak) mengenali ada sejenis pohon yang bisa mengusir nyamuk. Nama pohon tersebut adalah Tarantang (Campnosperum coriaceum). Orangutan akan mengambil ranting-ranting pohon tarantang yang penuh daun untuk membuat sarang di pohon yang lebih kuat dahannya. Daun-daun tarantang ini ternyata bisa mengusir nyamuk (sebagai repellent). Demikian Pak Carel van Shaik menjelaskan.


Kawin muda, anak banyak tapi Angka Kematian Bayi tinggi

Kuze, seorang peneliti dari Universitas Tokyo yang melakukan penelitian di Sumatra (Bukit Lawang) dan Kalimantan (Sepilok), serta memanfaatkan berbagai sumber dari pusat orangutan lainnya menyampaikan bahwa orangutan hasil rehabilitasi, yaitu orangutan yang diliarkan kembali, kawin lebih muda daripada orangutan di alam. Orangutan rehabilitasi kawin rata-rata pada umur 10-11,5 tahun, sementara di alam biasanya orangutan betina baru kawin pada umur 14,5 tahun.

Orangutan hasil rehabilitasi cenderung punya lebih banyak anak karena interval melahirkannya lebih pendek, yakni 6 tahun. Sementara di alam, induk orangutan baru melahirkan kembali setelah 7-9 tahun. Sayangnya, kematian bayi orangutan dari induk hasil rehabilitasi jauh lebih besar, yakni 20-60%, sementara di alam hanya 7-17%.

Mengapa demikian? Ternyata kualitas makanan dan kesempatan untuk berjumpa pejantan dari orangutan hasil rehabilitasi jauh lebih besar disbanding orangutan di alam. Seperti kita ketahui, orangutan rehabilitasi masih sering mendatangi tempat pemberian pakan tambahan. Disinilah biasanya banyak orangutan hasil rehabilitasi (dan kadang-kadang dari alam) berkumpul; jantan-betina. Jadilah kesempatan untuk menjalin cinta menjadi lebih besar. Sedangkan kematian bayi orangutan hasil rehabilitasi lebih besar adalah karena ketrampilan memelihara bayi dari orangutan hasil rehabilitasi jauh lebih rendah dibanding dengan yang liar. Belum lagi penyakit dari manusia yang banyak diidap oleh orangutan hasil rehabilitasi.


Penyakitnya mirip manusia

Drh Fransisca Sulistyo menjelaskan bahwa penyakit utama yang diderita oleh orangutan di pusat rehabilitasi diantaranya adalah: malaria, TBC, cacingan dan hepatitis B. Penyakit-penyakit tersebut sering berakibat pada kematian bagi orangutan, atau membuat orangutan tidak cukup sehat untuk kembali ke alam.

Jadi, cara terbaik untuk konsrvasi orangutan adalah mencegah mereka ditangkap manusia. Artinya, mari kita sediakan hutan yang cukup di alam supaya mereka punya tempat hidup yang nyaman. Semoga.

Share This Post

Posted by Friday, 23 July 2010 on 01:50.

Categories: Nusantara. Follow the comments to this article via the RSS 2.0.

You can leave a response or trackback to this entry

32 Responses to “Orangutan Perlu Obat Nyamuk”

Pages: [4] 3 2 1 »

  1. 32
    Sumonggo Says:

    Lho, Pak Handoko pagi-pagi sudah setia jualan obat nyamuk …

  2. 31
    Handoko Widagdo Says:

    Lani, kok ke laut? Jadi putri duyung lho

Pages: [4] 3 2 1 »

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Image (JPEG, max 50KB, please)