Der Familie Paisan

Iwan Satyanegara Kamah – Jakarta


KALAU ingin tahu siapa Keluarga Paisan, mungkin tidak akan ada dalam tulisan ini. Nama Paisan sangat dikenal oleh kalangan penulis dalam situs jurnalisme warga (citizen journalism) di dunia maya hasil rintisan Zeverina di KoKi dan teman-temannya di Baltyra.

Siapa sebenarnya Keluarga Paisan (Familie Paisan)? Nama ini disandang oleh Djoko Paisan, yang dikenal luas oleh sesama penulis atau pembaca di dunia maya yang biasa menyapanya dengan Mas Djoko, Pakde Djoko, Om Djoko, Pak Djoko atau Dj saja, seperti inisial yang sering dipakai oleh pemilik nama ini.

Kalau kebanyakan para penulis di dunia maya merahasiakan namanya, identitas atau visual wajahnya dalam avatar, maka sangat kebalikannya dengan Djoko Paisan. Om Djoko justru terbuka, terus terang dan transparan. Bahkan benar-benar “telanjang” dalam pergaulan di komunitas dunia maya. Kita sebagai sahabatnya tahu apa hobinya, siapa keluarganya dan apa yang mereka masak serta pikirkan.

Sebagai penulis dan juga pembaca dalam jurnalisme warga, Om Djoko tidak sendiri. Dia selalu mengajak keluarganya ikut serta untuk dibicarakan atau dibahas. Banyak sesama penulis mengenal keluarga Om Djoko. “Salam buat Tante Susi”, adalah kalimat yang sering dilontarkan atau ditulis penulis atau pembaca lainnya. Tante Susi adalah istri dari Om Djoko.

Saya secara pribadi belum genap setahun mengenal sosok Om Djoko Paisan di dunia maya dalam lingkungan jurnalisme warga. Namun dalam kurun waktu sesingkat itu, saya dan juga banyak teman-teman sudah masuk terlalu dalam lingkaran keluarga mereka.

Dimulai dari membaca tulisan-tulisan Om Djoko yang khas, ringan dan tentang hal-hal di sekitar yang sering terlupakan. Tentunya yang dilukiskan dalam rangkaian kata dan gambar yang bernuansa seni. Om Djoko memang seorang seniman tulen dengan talenta yang cukup besar.

Ketika adik saya akan berangkat ke Frankfurt, Jerman Oktober tahun lalu, untuk sebuah keperluan pertemuan profesi, dia bingung betapa susahnya mencari penginapan yang sesuai kantongnya. Nah, saya mencoba menyurati Om Djoko (padahal belum kenal-kenal amat), eh..langsung diterima dan dibukakan pintu agar adik saya bisa datang menginap di rumahnya di Mainz, kota yang dibelah Sungai Rhein, di Jerman bagian tengah. “Mas Iwan kami anggap seperti keluarga sendiri…”, katanya dalam surat elektronik ke saya. Om Djoko terkenal memang mudah sekali bergaul dan sayang dengan siapapun. Mulai dari manusia golongan apapun sampai hewan jenis apapun.

Pengalaman adik saya selama tinggal beberapa hari di rumah Om Djoko, diceritakan dalam sebuah artikel di harian The Jakarta Globe pade edisi 10 November 2009 (http://www.thejakartaglobe.com/home/making-an-indonesian-connection-in-germany/340771). Sebaliknya, kedatangan adik saya, diceritakan dengan gayanya Om Djoko bertutur dalam sebuah tulisan “Tamu Agung Tapi Mungil” di jurnalisme warga di KoKi pada bulan November 2009.

Setelah kunjungan adik saya, ada keinginan untuk bertemu dengannya dan kalau bisa dengan keluarganya, seperti yang diinginkan Om sendiri. Keinginan itu terpenuhi pada 15 Juli 2010 malam di kamar hotelnya di daerah bunderan HI.  Saya dan adik saya serta teman-teman dari Baltyra menemui Om Djoko dan keluarga. Ada Tante Susi dan Dewi serta Daniel, dua dari tiga anak mereka yang diajak mudik ke Indonesia. Saat itu saya mulai tidak percaya lagi pada komunitas dunia maya. (*)

Note tambahan:

Yang hadir malam itu:

  • Iwan Satyanegara Kamah
  • Wahyuni Kamah
  • Nevergiveupyo
  • Esti
  • JC & 2 juniors
  • Aimee & Rein
  • Lida
  • Elnino
  • Paisan Family
  • Mr. & Mrs. Tangkudung



132 Comments to "Der Familie Paisan"

  1. Nana  1 August, 2012 at 13:11

    Thanks pak ISK, mengiatkan saya akan kopdar Gmdj di Juli 2010.

    salam,
    Nana

  2. kita  1 August, 2012 at 12:34

    wah telat ni …. Pak Dj di mana?

  3. Kornelya  1 August, 2012 at 10:23

    Keluarga ini EXTRAORDINARY FAMILY. Kepandaian ibu Suzi dalam menempatkan diri dan berkomunikasi memberi nilai tambah . Benar-benar keluarga sakinah yg patut diteladani.

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *