Dewasa Sebelum Waktunya

Sakura – Jepang


Iseng-iseng curhat mengenai keponakan saya, tentang anak ABG yang baru berusia 15 tahun, tapi karena sejak tahun lalu sudah terbiasa di-shoot di depan kamera (meski sampe sekarang baru peran-peran figuran),  entah kenapa saya merasa sang keponakan saya ini kok jadi kelihatan lebih dewasa sebelum waktunya.

Namanya Lina (nama samaran, nama aslinya panjangnya seRT..hehehe..). Ini anak dari baru lahir memang sudah menunjukkan tanda-tanda genetic bakal tumbuh bongsor dan cakep. Setelah lahir, dibandingkan dengan bayi-bayi lainnya, memang Lina yang paling montok, gede, putih dengan rambut mrikel-mrikelnya. Nggak heran sejak TK sudah banyak anak-anak SD tetangga yang masih cabe rawit sering menggodanya ketika dia pulang sekolah TK diantar oleh Mbahnya aka ibu saya. “Cewek….cakep euy”..gubrakk!!

Anak SD kelas 1 dan 2 bisa-bisanya godain anak TK, dasar anak sekarang, taraf gaulnya beda dengan jaman saya. Nah, dari SD dia semakin tumbuh cepat, nggak heran kalau kelas 5 SD sudah dapat menstruasi pertama. Tinggi  badannya? Jelas saya kalah..hahaha…ibunya juga kalah tinggi. Ini anak kalau pake jins potongan bodynya bagus banget, didukung oleh wajahnya yang innocent manis, rambut ikal kruwil-kruwil sebahu, klop deh. Kalau Lina naik motor dengan ayahnya, banyak yang bilang adik-kakak, bukan ayah anak, karena wajah mereka memang mirip dan Lina badannya juga tinggi. Alhasil, sampai rumah pasti cemberut dibilang adik-kakak hahaha..

Mungkin gara-gara sejak bayi banyak yang bilang, “Ini anak kalau gede pantes jadi artis”..lha kok ujug-ujug jalan hidupnya malah ke situ. Saya nggak tahu gimana awalnya dia bisa dikenal sama crew-crew sinetron, tapi sejak tahun lalu dia sudah mulai syuting. Sampai adiknya memanggilnya “si calling” karena sebentar-sebentar ada telpon masuk buat dia. Bagi saya, action di depan kamera adalah suatu yang mustahil, tapi mungkin nggak bagi dia, dia itu “easy going”, dan senang begadang, jadi nggak masalah pulang jam 2 malam, jam 4 pagi..walaahh..Sempat kethar kethir dia bisa mengimbangi sekolahnya atau tidak, tapi alhamdulillah, dia bisa masuk sekolah negeri.

Ada kejadian lucu, ada cowok yang naksir dia, bertanya, “Dik, kuliah di mana?”

“Saya baru lulus kok”

“Oh lulus kuliah ya? Di mana?”

“Nggak, lulus SMP”

Gubrakk..hahaha…rasain deh..belum tahu itu cowok kalau ini anak Bangkokan.

Nah kemaren saya telpon dia, dalam setahun, serasa suaranya jadi seperti cewek dewasa, tenang dan cuek, padahal saya tahu dia baru pulang syuting dan ngantuk. Iseng-iseng nanya ke Lina, punya baju apa aja, dia bilang, “semua jenis baju ada kok, baju pesta, baju kerja, tergantung pas syuting dijadi-in apa, kalau jadi wanita karir, ya pake baju-baju formal”.

Walah, anak umur 15 tahun berperan jadi wanita karir. Dan masih penasaran, saya tanya lagi, mengenai nama-nama make-up, gila, jawabannya 100% benar, dia tahu itu mascara, eye shadow, blush on. Malah saya yang nggak tahu gimana caranya pake bulu mata, pake eye liner..hahaha..sampai Lina yang heran, “Emang Bule kalau kerja nggak dandan?” Saya jawab, “Nggak, cuma foundation dan lipstick”…

Alhasil, karena kasian dengan harga make-up yang harganya selangit di Indonesia, ya akhirnya saya kirimi paket make-up saya dari sini yang tidak pernah saya pake sama sekali. Saya cuma bisa berdoa dari jauh bahwa apa yang dilakukannya jangan sampai melenakannya tapi sebagai suatu pelajaran dalam hidup, di samping pelajaran formal dari sekolah. Sebab kata kakak saya (ibunya), syuting itu nggak mudah, nggak semua orang bisa action menangis, ketawa dengan sekejap”.

Saya bersyukur kakak saya terus memantau pekerjaannya dan sekolahnya. Bagaimana pun, sekolah harus tetap nomor 1. Dan saya bersyukur juga, sejauh ini sang keponakan saya ini selalu diskusi dengan ibunya sebelum mengambil keputusan suatu peran diterima atau tidak. Kakak saya selalu berpesan kepadanya, “Jadikan sekolahmu tetap yang nomor 1, mengenai syuting, anggap saja ini suatu hal yang patut disyukuri, karena nggak semua anak seusia kamu diberi kesempatan bisa mendapatkannya, tapi ini bukan prioritas ya”

Saya jadi ingat masa-masa SMP saya, di mana saat itu saya mempunyai seorang teman, yang kalau pas acara pesta, selalu pakai high heel wanita dewasa, cara berpakaian dan berdandannya juga ala wanita dewasa. Waktu itu, saya dan beberapa teman terbengong-bengong saja.

Dan ternyata periode seperti itu saya temukan kembali dalam diri keponakan saya: dewasa sebelum waktunya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.