Apakah Anda Pernah Merasakan Susah?

[email protected]


Hi Selamat Malam Para Baltryawan & Baltryawati semua, sudah lama gak sempat untuk merusuh di artikel yang ada. Hiks, kesibukan kantor menyebabkan waktu berkurang untuk baltrya.

Seperti judul di atas, Minggu lalu ku bertemu dengan seorang kawan baikku dari Indonesia yang kebetulan (katanya) mampir di Singapura (padahal lagi liburan)… ngopi2 dan bercerita mulai dari hal yang gak penting hingga yang bener-bener gak penting, hingga dia mempertanyaan sesuatu hal yang membuat saya cukup terkejut. Dia sempat bercerita sebelumnya, bahwa hubungan dia dengan pacarnya sedang dalam masa-masa kritis (berantem), entah mengapa dia berkata “enak ya loe, hidup gak pernah susah, tinggal di Singapura gaji dollar dan sudah berkeluarga“. Terkejut dengan pernyataan tersebut… saya langsung berpikir, benarkah saya tidak pernah merasakan susah?

Pikiran langsung melayang

Waktu kecil, memang benar saya dilahirkan dikeluarga yang mampu, dulu saya waktu kecil sempat merasakan kondisi keluarga yang berlebih… hingga suatu saat saya berumur 8 tahun, usaha yang dirintis ayah gagal hingga kita semua harus mulai dari 0 besar, tak punya apapun, rumah pun harus tinggal di rumah saudara, dari rumah besar ke rumah yang kecil, makanan pun dijatah 1 piring nasi dan 1 sayur. jika ada rejeki 1 buah apel dibagi untuk ber 4. sekolah pun harus pindah, sepatu, baju, buku dan peralatan lainnya merupakan sumbangan (diturunkan dari saudara yang 1 tingkat diatas), tidak mempunyai uang jajan dan harus membawa makanan dan minuman dari rumah.

Apakah ini dapat dinamakan kehidupan yang susah?…

Memasuki Remaja saya selalu tergolong orang yang beruntung, dapat rangking 10 besar (mentok di 3 besar), walau serba seadanya tapi tetap dapat belajar dengan rajin. hingga akhirnya SMP memasuki masa remaja. dari anak yang rajin belajar hingga anak yang rajin bermain. tetapi saya berhasil masuk rangking 3 besar juga (tapi dari bawah)… yak rangking bontot, dan nyaris gak naik kelas…. dan di hajar habis-habisan oleh orang tua karena terlalu banyak bermain dan malas belajar.

Apakah ini dapat dinamakan kehidupan yang susah?…

Memasuki masa kuliah, keberuntungan tak jauh-jauh dari saya dalam soal wanita ;D (bangga dikit boleh dong) dapet cewe yang menjadi favorit di kampus, walau harus berakhir setelah 5 tahun. Sewaktu di universitas saya dapat belajar dengan baik, uang kuliah tak pernah terlambat. tapi saya pun masih berusaha sendiri di kampus, mencoba untuk berjualan, dari makanan, kertas gambar hingga lem (ambil arsitektur)… untuk mendapatkan tambahan uang jajan sekaligus uang untuk membiayai pendidikan arsitek. (arsitek, belajar lama, biaya mahal, kalo udah kerja gaji kecil dan cuma menang prestige).

Apakah ini dapat dinamakan kehidupan yang susah?…

Setelah lulus kuliah, bekerja di daerah Jawa Timur, saya hanya mendapatkan gaji 1 juta, dan di mana kawan-kawan lain sudah mendapatkan gaji minimum 2 juta. Ahhh… pengalaman yang diincar uang pun menjadi no 2. hingga akhirnya saya ikut-ikutan untuk menjadi agen rumah. lumayan…. penghasilan rata-rata perbulan menjadi 2.5x dari gaji yang didapat :D

Apakah ini dapat dinamakan kehidupan yang susah?…

Bekerja di Singapura tahun 2004, memulai dengan usaha untuk mendapatkan pekerjaan. setelah 3 bulan menganggur disini, mencari-cari pekerjaan dan akhirnya mendapatkan 1 pekerjaan dengan upah UMR :D. lumayan daripada gak ada kerjaan, biaya gaji untuk makanan sehari2 biaya rental dsb, hingga kakekku meninggal, kutak mampu untuk balik pulang.

Apakah ini dapat dinamakan kehidupan yang susah?…

Tak terasa, bahwa apa yang kupikirkan ini juga terucap kepada kawanku ini, dia terlihat terkejut dan tidak menyangka bahwa situasi dan kondisi kehidupanku ini juga seperti situasi dia sekarang. Ku menjelaskan kepadanya, ku hanya bisa bercerita tentang masa lalu yang penuh dengan warna warni kehidupan.

Wahai kawan, kepingan uang logam mempunyai 2 sisi yang berbeda, begitupula dengan kehidupan kita, bagaimana cara kita memandang kehidupan ini, apakah kita harus menyesali terus dan melihat dari sisi pandang yang jelek, ataukah kita mamu mensyukuri apa yang telah kita lalui, dan kita dapatkan dan melihat dari sisi pandang yang baik (positif).

Perbincangan kita berakhir di sini… hingga satu minggu berikutnya ku mendapatkan sebuah sms yang mengejutkan dari kawan ku ini… SMS berupa undangan pernikahan akhir tahun ini. (emang kurang ajar kawanku ini, mengundang hanya menggunakan sms, hemat katanya)… rupanya sudah balik lagi dia dan apapun masalahnya sudah dapat diatasi dengan baik… (sukur…) dan juga sebuah kalimat yang tak kusangka “…. ternyata kata2 loe bener jg, kalo gue liat hidup gue dari sisi satunya, gue malah bersyukur kalo idup gue gak sejelek elo….”. Kurang ajar kawanku ini mengatakan kehidupanku lebih jelek… tapi tak apa ku berbahagia untuk dia bahwa dia sudah dapat mensyukuri kehidupanya sekarang…

Sedikit tentang kawanku ini : dia sohibku dari SMA hingga sekarang (dulu sering nebeng mobil dia ke kampus, jadi angkutan umum gratiz… udah gitu minta jemput lagi :D) . sohib terdekatku (sempet gebukin 1 senior di kampus bareng-bareng gara-gara godain cewenya dia), di manapun dan apapun (sering nyelonong masuk rumah dia, selalu tak pernah dikunci… :D), tak ada rahasia-rahasiaan… Mau ngomong bagus hingga jelek…

Sebuah kenyataan hidup akan terus membayangiku….Ku teringat percakapan ini dengan kawanku karena tadi ketika berjalan pulang dari kantor, ku lihat segerombolan buruh bangunan di Singapura menenteng plastik berisikan kebutuhan hidup untuk seminggu, mulai dari sayur, minyak goreng, 4 buah apel (ku hitung benar-benar), dan juga beberapa makanan kaleng… ahh… ku tahu kira-kira perasaan itu… hidup dengan biaya minim, dinegeri tetangga, merantau demi mendapatkan kehidupan yang lebih layak.

Pertanyaan bodoh dari kawanku yang akan ku pertanyakan kepada kalian semua “Apakah kalian pernah merasakan susah?”…


Salam,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.