Membentuk Sebuah Komunitas Yang Bertanggung Jawab, Yang Akan Menyiapkan Anak-Anak Harapan Bangsa

Dewi Aichi – Brazil


Dalam rangka memperingati Hari Anak Nasional, tanggal 23 Juli 2010, Presiden SBY  mencanangkan semboyan”Indonesia Cinta Anak”. Dan tahun ini, tema yang diambil adalah “Anak Indonesia Belajar Untuk Masa Depan”. Hanya saja slogan ini sedikit ternoda dengan berita bunuh diri seorang bocah berumur 11 tahun karena malu tidak bisa meneruskan sekolah. Sedangkan berbarengan dengan itu, SBY justru berkirim surat dan lebih memperhatikan nasib seorang aktivis yang katanya dianiaya.

Betapa banyak anak-anak yang berjuang untuk bertahan hidup. Jangankan bermimpi untuk sebuah masa depan yang gemilang, setiap hari mereka bergelut dengan kesulitan hidup yang menuntut mereka dewasa sebelum waktunya, begitu dini mengecap getirnya kehidupan. Keterbatasan yang membuat rona keceriaan hilang begitu saja, apa yang bisa mereka lakukan selain bertahan?

Kini himpitan ekonomi yang semakin berat dirasakan oleh anak-anak yang mempunyai orang tua tidak mampu, sedangkan semangat mereka untuk terus belajar, terhambat dengan mahalnya biaya sekolah.   Masa anak-anak adalah masa keemasan, yang tidak akan bisa terulang kembali. Jangan sampai terombang- ambing oleh paradigma yang kaku.

Ya. . tanggal 23 Juli adalah hari yang dipersembahkan untuk anak-anak Indonesia, sebagai penerus bangsa. Anak-anak yang akan dan sedang membawa bangsa ini menjadi bangsa yang beradab. Dan sebagai orang tua, hanya berusaha untuk membekali anak dengan ilmu, dan pikiran yang kuat. Sehingga kelak bisa menjadi pengemban amanat bangsa, menjadikan bangsa Indonesia menjadi bangsa yang rakyatnya sejahtera.

Ketika melihat  negara-negara maju, sepertinya ingin  melihat negaraku juga bisa seperti itu. Rakyat hidup nyaman dalam arti secara ekonomi. Tidak lagi terombang-ambing oleh kebijakan pemerintah yang kian tak pasti dan jauh dari harapan rakyat. Ketika pilihan pemerintah dengan kebijakannya mensejahterakan rakyat, justru melukai rakyat.

Di sana-sini disuguhi berita tentang rusaknya moral anak negeri, carut marutnya rakyat dalam menggapai keinginannya untuk hidup layak, pongahnya segelintir orang dengan bergelimangan uang, hilangnya kepribadian bangsa sejati, terkoyak menorehkan kesan seperti bangsa yang tidak terdidik. Begitu signifikan  dan merata merasuk ke segenap lapisan masyarakat dari pejabat kelas atas, sampai rakyat jelata. Sikap hidup boros dari sebagian masyarakat Indonesia juga telah menjadi penyakit di negeri ini. Berperilaku sebagai konsumerisme ini nampak sekali berlebihan di berbagai bidang kehidupan, sampai pada bidang pendidikan.

Bagaimana menciptakan sebuah komunitas yang  terdidik, berakhlak baik, dengan menerapkan cara-cara sederhana. Tidak perlu banyak teori ini itu yang justru melenceng dari tujuan utama. Bangsa Indonesia membutuhkan generasi yang cerdas dan berakhlak baik.

Saya akan sedikit membandingkan dengan masyarakat dan budaya Jepang, yang ketika  pertama kali saya mengamati, bisa kita ambil sebagai contoh yang baik. Budaya “malu” seperti sudah menyatu dalam jiwa setiap masyarakat Jepang. Malu ini mempunyai dampak yang sangat luas dan berarti dalan sendi-sendi kehidupan berbangsa dan bernegara. Masalah kebersihan, saling menghormati maupaun moral aparat pemerintah.

Di kantor pelayanan publik, pada jam kerja tidak ada pegawai yang diam, mengobrol dengan  sesama pegawai, minum kopi, ataupun baca koran. Semua pegawai akan sibuk melayani dengan penuh perhatian. Dengan tata ruang kantor yang terbuka dan  tidak disekat, sekat, antara staf kantor dan atasanpun bisa saling melihat. Setiap pegawai akan melayani dengan serius, penuh perhatian, dan ramah.

Teman saya pernah ketika akan mengajukan keringanan biaya melahirkan, maka segala urusan dokumen harus ke city hall (shiyakushoo). Dengan keterbatasan bahasa Jepangnya, temanku itu tak mempunyai kesulitan apapun, dengan kata lain, ketika berurusan dengan apapun, masuk ke kantor pemerintahan Jepang, pasti ada solusi.

Di Indonesia, dengan masalah pendidikan yang sampai sekarang masih saja menjadi polemik. Dan masih saja fokus untuk mencetak anak-anak pintar . Masih mengutamakan pencapaian target program-program yang telah ditentukan pemerintah, mengejar prestasi akademik untuk menjadi sang juara pada mata pelajaran tertentu, mengejar ranking tertinggi.

Kalau diamati, cara yang diterapkan di Jepang sangatlah sederhana. Anak-anak sedari kecil telah dibiasakan disiplin tinggi, tertib dan bertanggung jawab kepada diri sendiri. Cepat mandiri. Hal inilah yang menciptakan masyarakat Jepang lebih mapan, tertib dan bermoral, serta mempunyai rasa malu terhadap hal-hal yang menyimpang. Meskipun tidak dibekali pendidikan agama, nyatanya masyarakat Jepang lebih bermoral dan mencerminkan bangsa yang hidupnya lebih religius. (baca kembali: http://baltyra. com/2010/06/05/arab-islam-dan-habitus-jepang/).

Anak-anak tk maupun sd yang mulai masuk sekolah, dari rumah berjalan kaki bareng-bareng temannya. Melalui jalur aman yang memang sudah ditentukan dan diatur oleh pemerintah Jepang. Jam lewat mobilpun ditentukan pada jam anak-anak berangkat sekolah dan pulang sekolah, mobil dilarang melewati jalur tersebut, atau ada beberapa tempat yang memperbolehkan mobil lewat dengan kecepatan maksimal 30 km/jam. Ini mudah diterapkan di Jepang karena adanya system rayonisasi. Tidak ada orang tua yang memasukkan ke sekolah yang jauh dari tempat berdomisili. Biasanya, untuk menentukan sekolah, akan di tentukan oleh tata letak antara sekolah dan rumah tinggal.

Begitu memasuki sekolah, anak-anak dengan tertib mengganti sepatunya dengan sepatu yang dipakai khusus didalam ruang belajar. Menaruh kembali sepatunya ditempat masing-masing. Begitu juga ketika akan ke toilet, ganti lagi menggunakan sandal(suripa khusus toilet), dan anak-anak diwajibkan mengembalikannya seperti semula dengan rapi. Ini kelihatan sederhana, tapi dengan membiasakan sejak dini, akan menciptakan generasi yang bertanggung jawab, disiplin tinggi dan berakhlak baik.

Tidak bisa dipungkiri, Indonesia telah terbukti melahirkan anak-anak yang pintar, yang bias menjuarai olimpiade internasional, tetapi dengan adanya anak-anak pintar, belum menjamin bangsa kita akan maju, masih dibutuhkan banyak hal.

Berkali-kali ulasan tentang pendidikan di Indonesia ditayangkan di rumah kita baltyra. com, dan begitu banyak pula pertanyaan, “apa yang salah dengan pendidikan di Indonesia? Bukankah sejak dini anak-anak Indonesia juga diajarkan tentang pendidikan moral, kewarganegaraan, maupun agama. Bahkan suasana religius terdapat dimana-mana. Tetapi kenapa didalam mengaplikasikan kedalam kehidupan social sepertinya masih maya. Kita melihat yang justru kurang mencerminkan adanya kehidupan sosial yang harmonis.

Untuk itulah, sebagai orang tua, yang bertanggung jawab terhadap bangsa dan negara , menciptakan sebuah komunitas yang sehat, yang mengerti dan mengedepankan anak-anak sebagai penerus bangsa. Yang menyadari bahwa kepandaian otak saja tidaklah cukup untuk mempersiapkan anak-anak menjadi generasi penerus yang bisa menyelamatkan bangsa Indonesia.

Ingat bahwa tidak mustahil satu orang bisa mengubah dunia, apalagi untuk sebuah negara, sangat mungkin bukan? Dengan rasa optimis, kita sebagai komunitas yang baik, yang bisa mengubah bangsa Indonesia menjadi bangsa yang  adil dan makmur, dengan mempersiapkan anak-anak kita sebagai generasi harapan bangsa. Apalagi dengan sebuah komunitas yang sudah kita miliki, kita bisa mulai. Gandhi , bisa menjatuhkan kekaisaran Inggris di India,   Nelson Mandela bisa mengalahkan sistem apartheid di Afrika Selatan, begitu juga dengan Martin Luther , dan bunda Theresia.

Dengan falsafah , anak-anak kita adalah harta yang tidak tergantikan, dipundaknyalah nasib bangsa Indonesia ini akan dipikulnya. Dipundak anak-anak kita, nantinya akan menciptakan bangsa yang besar dan beradab. Semoga tulisan ini berkenan di hati . Selamat Hari anak Nasional. . !

Semoga anak-anak Indonesia bisa bersekolah dengan baik, semoga bisa merubah ibu pertiwi menjadi bumi yang makmur, semoga anak-anak Indonesia tidak menderita lagi di negeri sendiri, semoga terlepas dari perdagangan anak, semoga terlepas dari tangan-tangan kejam majikan di negeri orang, semoga anak Indonesia bahagia selalu dan tidak menderita oleh ulah orang tua sendiri, tidak teraniaya baik fisik maupun psikis.

Harapan yang cerah pada anak-anak Indonesia jika mereka di masa kecilnya dapat hidup tanpa trauma. Semoga dengan hari Anak Nasional ini , anak-anak lebih mendapat perhatian lebih dari para orang tua, guru, maupun pemerintah. Berubah untuk maju…!

About Dewi Aichi

Berasal dari Sleman Jogjakarta, saya blasteran (antar kelurahan maksudnya), happily married to a Brazilian guy. Dari Jogja merambah dunia. Pernikahan lintas benua adalah pilihannya. Setelah beberapa tahun di Distrik Aichi, Jepang, sekarang tinggal di Brazil bersama keluarga tercintanya. Tingkat sudrunnya setara dengan saudara-saudara sepersudrunannya seperti Nur Mberok, Elnino, Fire dan jelas Lani van Kona. Di sini saya bukan siapa-siapa dan bukan apa-apa, saya hanya sekedar menulis apa yang saya rasakan, apa yang saya alami, dan apa yang menarik buat saya untuk ditulis. Jika ini bermanfaat untuk diri saya sendiri dan juga untuk teman-teman, saya sangat bersyukur

My Facebook Arsip Artikel Website

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *