Perpeloncoan, Yang Saya Ingat

Osa Kurniawan Ilham


Ah….apa artinya sebuah nama ? Perpeloncoan, itu kata yang saya tahu dan orang-orang menggantinya dengan nama-nama yang lebih halus seperti MOS (Masa Orientasi Siswa), Bakti Kampus, Orientasi Studi maupun Pengenalan Kampus. Jadi tolong maafkan saya kalau saya memilih istilah perpeloncoan untuk menyebut acara-acara seperti itu kalau isinya sekali tiga uang saja.

Tahun 1986, sebagai seorang anak desa yang baru lulus dari sebuah SD akhirnya saya bisa juga melewati sungai yang membelah kota untuk bersekolah di sebuah SMP favorit di kota. Itulah pertama kali saya punya teman-teman sekolah yang adalah anak-anak kota. Beruntungnya, saya bisa bersekolah di SMP tersebut karena nilai Danem (Daftar Nilai Ebtanas Murni) saya saat itu di peringkat 11 di seluruh kota. Karena itulah teman-teman baru SMP saya tersebut kebanyakan pintar, sebagian besar di antaranya anak orang kaya dilihat dari cara bicara dan penampilannya.

Dan, inilah perpeloncoan pertama yang saya ingat pernah mengalaminya. Kalau tidak salah, ada 3 hari yang digunakan sebagai acara pengenalan sekolah sebelum masuk dalam acara Penataran P4 yang akan berlangsung seminggu lamanya sesudahnya. Dan inilah acara selama 3 hari pertama mengenakan celana pendek berwarna biru tua itu: datang ke sekolah jam 6.30 pagi, harus menaiki sepeda pancal, senam pagi di setiap permulaan hari, terkadang diwajibkan membawa ember untuk menyiram taman sekolah, berlari mengitari lapangan sekolah, kerja bakti membersihkan lantai kelas, perpustakaan dan laboratorium.

Siang sampai sore hari diisi oleh PBB (Pelajaran Baris Berbaris) dengan mentor dari kakak-kakak kelas 2 menggunakan acara bentak-bentakan segala. Hukuman kesalahan dalam baris-berbaris adalah berlari keliling lapangan lalu melapor ke sini ke situ pada kakak kelas bak kerbau dicokok hidungnya.

Saya bersyukur karena ini SMP terbaik di kota kami sehingga pihak guru sangat menjaga betul dan menjadi aktor utama dalam proses perpeloncoan selama 3 hari itu. Di hari terakhir panitia sengaja membuat acara sampai malam bahkan ada makan malam bersama segala lalu diakhiri dengan sharing dari alumni-alumni yang sudah sukses lalu diakhiri dengan pemilihan peserta terbaik dan kakak panitia yang terbaik, terjahat, tercerewet. Kalau tidak salah setahun, kemudian saat saya kelas 2 dan menjadi panitia acara, adik-adik kelas memilih saya menjadi kakak terbaik. Bukan karena benar-benar baik sama adik-adik kelas, karena dianggap sebagai kakak yang selalu ragu-ragu saat harus memberi hukuman he…he…..

Tahun 1989, saya lulus dari SMP tersebut dengan mengantongi nilai Danem yang menduduki peringkat 7 sekota sehingga bisa memasuki SMA terbaik di kota saya. Ah…lagi-lagi saya harus menghadapi mantan kakak-kakak kelas di SMP dulu kala mereka melakukan perpeloncoan di 3 hari pertama saya memakai celana panjang abu-abu saat bersekolah. Wajar saja karena biasanya hampir separuh dari lulusan SMP saya akhirnya masuk di SMA favorit tersebut.

Seingat saya tidak ada yang aneh-aneh selama acara 3 hari itu, paling banter dibentak-bentak saja walau sering saya berpikir maksudnya apa ya bentakan-bentakan tersebut he..he…Lalu ada acara baris berbaris lagi kayak SMP dulu kemudian diakhiri dengan acara talent show di mana masing-masing kelas diwajibkan menampilkan pertunjukan. Persis sama kayak SMP dulu karena panitianya juga sama sehingga isi otaknya juga sama pula.

Beda dengan perpeloncoan SMA jaman sekarang, tidak ada uang ekstra yang saya keluarkan saat acara perpeloncoan tersebut. Tidak ada tugas aneh-aneh, atau rambut cewek yang harus dikepang sekian puluh kepangan, tidak ada pula harus membawa barang aneh-aneh. Jadi acara tersebut tidak membebani orang tua sama sekali, kecuali waktu ada acara perkemahan yang diakhiri dengan long march antara sekolah dengan sebuah gunung di kota kami yang dipisahkan jarak antara 10 – 15 km. Agak aneh juga kalau sekarang acara perpeloncoan serupa sampai harus mengeluarkan uang ekstra untuk tugas yang aneh-aneh. Kasihan anak-anak yang orang tuanya tidak mampu.

Tahun 1992 saya lulus dari SMA dan diterima di jurusan Teknik Fisika di sebuah kampus di Surabaya. Di sinilah saya benar-benar merasakan suasana perpeloncoan yang lumayan melelahkan. Berangkat ke acara jam 5 pagi, rambut harus dipotong sampai gundul, sarapan push-up 20 kali di awal acara, dibentak-bentak, dipermainkan senior, disuruh guling-guling di lapangan, diinterogasi di ruang kelas sampai pintu kelas hancur karena dipukul senior dan wajah kena muncrat air ludah senior kala membentak dengan jarak dekat sekali ke wajah he..he..

Ditambah lagi tugas-tugas yang aneh-aneh seperti diwajibkan mencatat siaran berita RRI jam 10 malam yang ternyata adalah siaran berita harga-harga komoditi seperti cabe, bawang dan sebagainya he..he…Lalu diwajibkan mendengarkan siaran radio eksperimen himpunan mahasiswa semalam penuh yang ternyata isinya hujatan, ejekan dan tugas-tugas dari senior kepada kami. Padahal pagi harinya kami tetap harus menjalani kuliah sesuai jadwal sehingga banyak dari kami yang tertidur saat sang dosen ngoceh memberi kuliah he..he…

Saya pikir inilah masa yang paling menyebalkan dalam hidup saya. Baru pertama kali meninggalkan orang tua dan kampung halaman, lalu dengan uang di dompet yang sangat-sangat sedikit tapi terpaksa ikut acara beginian di sebuah kota yang masih terasa asing bagi saya. Terus terang saya tidak mendapati manfaat sedikit pun dari acara semacam itu kecuali sakit hati merasa dipermainkan oleh skenario role play para senior yang sebagian berlagak jahat dan sebagian berlagak baik. Eh….ada 1 yang berkesan dari acara tersebut. Itulah kali pertama saya pernah menggendong cewek yang kakinya keseleo karena tertabrak becak padahal kami seangkatan harus berjalan kaki menuju acara he..he…

Saat tahun ketiga saya sempat ikut menjadi panitia perpeloncoan karena kebetulan menjadi aktivis senat kampus dan himpunan. Di hari-hari pertama sempat idealis dan ikut-ikutan membentak dan menghukum. Bahkan ada teman-teman panitia yang menyiapkan tiang gantungan di lapangan tempat acara diadakan, yang sempat membuat nyali yunior ciut kala melawan kami he..he…

Di hari ketiga dan berikutnya saya baru sadar untuk apa saya terlibat dalam acara-acara beginian. Dan saya mulai menjadi panitia pasif saja yang tidak ikut-ikutan membentak dan menghukum yunior. Sempat kecut juga melihat ada teman-teman panitia yang tidak konsisten, sementara yang lain membentak-bentak dia malah mendekati yunior cewek. Memang benar kelak cewek tersebut menjadi pacarnya he..he…

Terus terang, memang banyak hal lucu dan memalukan yang akan menjadi obrolan panjang dan heboh saat reunian dengan teman seangkatan nanti. Tapi manfaatnya ? Dahi saya harus berkerut untuk memikirkannya.

Dulu saat perpeloncoan melalui tugas yang banyak dan berat itu katanya kami dilatih untuk mengikuti irama kerja saat menjadi insinyur nanti. Tapi setelah menjadi insinyur, ternyata mau nggak mau kitapun tetap aja akan dipaksa mengikuti irama kerja siang malam kalau ingin dapat gaji di akhir bulan. Jadi ikut perpeloncoan atau enggak, nggak ada bedanya saat kerja nanti. Itu kata saya lho he..he…

Perpeloncoan juga katanya untuk mempererat hubungan antar angkatan. Tapi saya malah merasakan sakit hati dan dendam yang enggak perlu kepada senior. Karena itulah kami sempat berramai-ramai menceburkan para panitia ke rawa-rawa saat acara berakhir untuk melampiaskan sakit hati kami he..he.. Saya juga sangat senang sekali saat senior yang paling kejam itu ternyata pernah sekelas dengan saya dalam beberapa mata kuliah, bahkan saya bisa lulus lebih cepat dibandingkan dia. Jahat sekali ya ? he..he…

Menurut saya, perpeloncoan dengan gaya seperti yang saya alami saat kuliah tidak ada gunanya sama sekali selain mewariskan bahan guyonan untuk acara reuni tahunan. Tidak ada karakter yang dibentuk, tidak ada prinsip hidup yang ditanamkan selain melanggengkan budaya feodal yang membedakan senior dengan yuniornya. Dalam pekerjaan saya sekarang malah ada mantan senior yang sekarang menjadi anak buah saya. Hidup memang seperti roda nasib rupanya.

Untuk melatih kedisiplinan dan membentuk karakter, lebih baik acara perpeloncoan diganti dengan acara-acara latihan dasar kepemimpinan atau sekalian dengan latihan dasar kemiliteran daripada nanggung. Itu yang dialami oleh istri saya saat menjadi mahasiswa baru sebuah Politeknik terkenal di Surabaya dulu. Dia dan angkatannya harus mengikuti acara seperti itu di bawah pembinaan Korps Marinir yang memang sudah berpengalaman mengadakan acara serupa.

Jadi perlukah acara perpeloncoan seperti ini diteruskan ? Atau lebih baik diganti saja sekalian dengan acara wajib militer ? Atau acara perpeloncoan di awal kuliah digantikan saja dengan acara sejenis KKN (Kuliah Kerja Nyata) di pulau-pulau terdepan atau daerah perbatasan sebelum diwisuda menjadi sarjana ? Ini opini pribadi saya saja lho, bagaimana menurut Anda ?

Bagaimana dengan pengalaman Anda yang kuliah di luar negeri ? Apakah acara perpeloncoan seperti yang saya alami juga ada di sana ?

(Osa Kurniawan Ilham, Balikpapan, 17 Juli 2010)

Photo : sejenakbijak, vavai.com

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.