Sabtu Pagi Itu Di Mandarin Oriental & Blok S

Anoew – SumSel

 

Mandarin Oriental Jakarta, 17 Juli 2010

Setelah mendapatkan nomor telepon dari Dinas Penerangan Telkom 108, segera saya menghubungi Mandarin Oriental dan meminta reception hotel supaya disambungkan ke kamar di mana keluarga Pak Dj menginap hari sabtu itu. Menunggu beberapa menit, segera terdengar sapaan ramah dari ujung sana, “Mas Anoew?” Suara bariton berwibawa itu terdengar dari seberang sana.

Saya mengiyakan dan ngobrol cukup lama lantas membuat janji, dan memutuskan untuk segera berangkat sebelum beliau pergi ke Ciloto pada jam 09.30 wib. Beruntung saat itu adalah hari sabtu sehingga kondisi jalan Jakarta tidak terlalu macet dan untunglah, tepat pukul 08.30 wib saya sampai di lobby hotel Mandarin Oriental Jakarta (di tengah perjalanan pak Dj sempat menelepon saya untuk kepastiannya, mengingat betapa sempitnya waktu beliau berada di Jakarta). Segera saya menghubungi beliau dan dijawab bahwa nanti akan dijemput oleh Daniel Paisan di lobby saja, sehingga saya tak perlu repot-repot meminta pass card untuk bisa naik ke atas.

Tak lama kemudian seorang laki-laki muda berwajah tampan dengan senyum ramahnya yang sudah tampak dari kejauhan menyapa saya, “Pak Anoew?” sambil mengangsurkan tangannya yang, ya ampun.., lembut! Itu baru tangannya lho…, pantas saja Linda pada kesempatan berikutnya di Bandung berkomentar:

lindacheang Says:
July 24th, 2010 at 11:15

Pak ISK : hahaha beruntungnya aku ketemu Kel Oom DJ di Bdg beberapa hari lalu. tinggal tunggu Oom Dj yang cerita ajah.

aku sempet cipika-cipiki sama Daniel loh, hehehehe. kulitnya halus bener...

Saya mengangguk mengiyakan dan balas bertanya, “Daniel?” yang segera dijawab (lagi-lagi) dengan senyum ramah. Maka saya segera mengikuti langkahnya sambil berbisik ke mak’e Ucrit, “ganteng ya?!” yang lalu dibalas dengan cubitan di pinggang saya.

Do you speak Jowo?”, iseng saya bertanya sambil tersenyum ketika kami saling berdiam diri di dalam lift.

errr.. errr… just a little bit..” jawabnya gugup, mungkin nggak menyangka bakal saya tanya do you speak JOWO hahah..

Baiklah kalau begitu. Akhirnya kami sampai di kamar di mana mereka menginap dan..

Halloooo… “, sambut pak Dj ramah sambil merangkul hangat.

Pakdhe Dj,” sahut saya sambil balas merangkul dan membatalkan niat yang awalnya mau mencium tangan beliau.

Ayo.. masuk.. ayo masuk..” sambutnya dengan senyum dan tangan terbuka lebar. “Nah, ini pasti mak’e si Ucrit?!” sambungnya dan juga tak lupa, juga merangkul hangat istri saya yang tersenyum malu.

Puas cipika-cipiki, gantian saya menjabat erat tangan bu Susi yang juga hangat menyambut meskipun terlihat dari raut wajahnya yang masih pucat karena sakit. Hebatnya meskipun beliau agak kurang sehat tapi tetap menemani kami dengan ramah meskipun lebih banyak bersandar di ranjang.

Ini Eva Saridewi Paisan, bisa dipanggil Eva atau Dewi..”, beliau memperkenalkan salah satu putrinya. “Dan ini Daniel Paisan, si bungsu yang baru lulus SMA dan lagi seneng-senengnya main gitar..” lanjutnya.

Dear Baltyrans,

Sambutan yang hangat dari pak Dj, bu Susi, Dewi dan Daniel begitu menghidupkan suasana kamar hotel pagi itu. Daniel yang duduk manis di bawah menyimak serius obrolan kami, Bu Susi yang sesekali menimpali obrolan dengan bahasa Indonesia dan Dewi yang banyak senyum itu malah sempat membuatkan kopi untuk saya. Begitu banyak yang kami obrolkan, dari masalah kuku neyeng, sandal Jerman,  Aimee dengan bayinya Rhien yang menggemaskan, JC yang tinggi menjulang  plus dua yuniornya yang ngacak-ngacak kasur, Iwan Satyanegara Kamah yang tajam dan lugas dalam tulisan, sampai kepada kesalahpahaman pak Dj bahwa Nepie adalah suami dari salah satu Baltyrans yang hadir di sana pada hari sebelumnya.

Saya sempat bertanya juga kenapa beliau jarang sekali online sewaktu berada di sini, dijawab bahwa selain kesibukan yang menumpuk, ternyata hotel sekelas Mandarin Oriental tidak menyediakan akses free hot- spot untuk tamunya di kamar. Entah kalau di loby atau di restorannya, kurang tau juga. Kalaupun mau menggunakan fasiltas internet, masih harus mengeluarkan biaya yang nggak sedikit, bahkan bisa-bisa lebih mahal daripada sewa internet di warnet. Wah.. wah…, saya sampai geleng-geleng.

Tentang oleh-oleh sandal, saya ceritakan kepada beliau bahwa titipan sudah saya ambil dari rumah JC pada hari sebelumnya setelah saya mendapat SMS yang isinya bernada “ancaman” dari Buto bahwa jika sandal tersebut nggak buru-buru diambil, maka hak kepemilikan akan segera berpindah tangan (tepatnya sih, berpindah kaki). Wah, saya jelas nggak rela! Apalagi dengan ukuran kakinya yang jumbo, bisa dipastikan sandal historis itu bakal tercabik-cabik.

Maka mau tak mau, sempat tak sempat, harus segera saya ambil daripada kehilangan oleh-oleh dari Jerman itu (gambar 1a). Dari sini saya juga baru tau bahwa, ternyata  sandal tersebut bukanlah sandal sembarangan melainkan sandal kesehatan yang katanya sangat-sangat berguna bagi saya yang jarang berolah-raga ini (di chatting via FB sebelumnya memang saya pernah bercerita kalau mulai jarang berolah raga, karena toh kerjaan saya juga menuntut banyak jalan di lapangan).  Ah.. pak Dj…, saya jadi nggak enak nih..eh salah, jadi enak ding.. Lha dulu maksud saya cuma bercanda saja pas di sini tapi kok malah jadi serius.. heheheh…

Tak terasa waktu begitu cepat berjalan dan pak Dj harus segera berangkat ke Ciloto, ketika telephone selulernya berbunyi bahwa penjemput akan segera sampai di hotel. Maka kamipun berkemas dan tiba-tiba.. –  ini dia yang lagi-lagi membuat saya harus semakin belajar dari beliau tentang artinya sebuah perhatian – “Oiya…, ini buat si Ucrit dan si Cuplis, kasihan ditinggal di rumah hahaha“, ujar pak Dj sambil mengangsurkan dua kantong coklat, salah satunya Toblerone. Lagi-lagi saya harus sungkan mengingat betapa besar perhatian beliau. Setelah semua barang bawaan rapi dikemas, segera kami  meninggalkan kamar hotel dan turun setelah sebelumnya berfoto sebentar (gambar 1).

Sesampai di lobby, istri saya menyeletuk begitu melihat ada PC di meja reception, “tuh.. ada komputer di sana.. pasti ada wifi-nya deh. Coba aja tanya ke mbak-nya yang bertugas di sana, bisa dipakai apa nggak..?

Lantas saya bilang ke pak Dj, “kemarin sudah nyoba yang itu belum?” tangan saya mengarah ke meja reception.

Nyobain yang mana?” pak Dj mengikuti arah tangan saya yang mengarah ke PC di dekat si mbak receptionist yang segar dan manis itu.

Itu”, jawab saya

Hah?” yang itu?? Maksudnya, nyobain mbak yang itu???” beliau membelalak pura-pura kaget.

Hahaha….!! Kami tertawa berderai begitu mendapati muka si mbak itu memerah karena merasa lagi diomongin. Ah, si mbak… maafkan kami yang suka iseng ini ya?! Akhirnya mobil jemputan datang dan kami berpisah di loby setelah sebelumnya berjanji akan saling berkirim kabar selama beliau berada di Indonesia.

Ini juga untuk menjawab pertanyaan Lani di artikel ISK dua hari sebelumnya yang menanyakan,

Lani Says:
July 24th, 2010 at 08:46

ISK : akhirnya laporan yg kutunggu-tunggu mencungul juga……..tp dimana foto si anu-anu kok gak ada?

Nah, sekarang udah kejawab kan? Waktu acara menjemput pak Dj malam itu kebetulan saya belum sampai di Jakarta.

 

 

Lapangan Blok S – Kebayoran Baru

Sarapan yuk?!”, ujar istri saya begitu sampai di mobil. Saya mengiyakan dan mengarahkan mobil ke Menteng untuk bernostalgia makan Mie ayam di jalan Besuki, sambil menghubungi bro ISK.

Ah..,halo bro.. kesampaian juga kau datang padaku”, sahutnya di seberang sana begitu dia tau saya ada di Jakarta. “Lagi di mana sekarang?”, sambungnya.

Ayo ikut sarapan..!” saya nggak menggubris pertanyaannya.

Memang ini lagi dimana?

Baru saja keluar dari Hotel Mandarin ketemu pak Dj, sekarang mau sarapan. Kalau ada waktu, ayo kita sarapan bareng”, jawab saya sambil siap-siap putar arah.

Wah nggak bisa sekarang bro, soalnya aku ada urusan sebentar. Mungkin nanti jam sebelas siang?

Saya setuju dan akhirnya memastikan arah ke jalan Besuki untuk menikmati Mie Ayam di sebuah SD yang konon Obama pernah bersekolah disini ( gambar 2). Tapi, konsen saya terusik ketika melihat mak’e Ucrit membongkar bungkus coklat Toblerone dan memakannya. “Lho? Itu kan buat si Ucrit dan si Cuplis?! Lagian wanita dilarang makan coklat..! Yang boleh makan itu cuma pria, soalnya bagus buat kesehatan dan keperkasaan!”, protes saya. Dia cuma mencibir lucu lantas menyisihkan tiga biji, ya.., TIGA BIJI saja buat saya! Huh..!

Jam setengah sebelas saya sudah sampai di Blok S (daerah kebayoran Baru), dimana tempat ini memang terkenal sebagai pusat jajan dan dipilih karena lokasinya yang dekat dengan rumah ISK. Setelah menunggu sekitar setengah jam dan menghabiskan semangkok Bakso Kumis dan Es Puding, barulah beliau datang dan menyapa hangat, tak lupa saling merangkul, cuma kali ini nggak pake cipika cipiki.. Bukan apa-apa, melainkan karena usia kami sebaya nanti malah disangka orang “ada apa-apanya” hahaha! (gambar 3).

Obrolan hangat dan seru berlangsung seputar latar belakang keluarga dan pekerjaan masing-masing, apalagi ditambah bro Iwan sangat mengenal Almarhum papa mertua saya, membuat obrolan semakin panjang dan nyambung. Mulai dari waktu ISK kecil hingga beranjak dewasa (halah bahasanya..), kenangannya bersama bu SKT (ibu angkat papa mertua), sampai kepada cerita keluarga yang di Kayu Manis dengan NGO-nya.  Sayang sekali beliau datang tidak dengan mbak Naniek istrinya, sehingga terpaksa obrolan kami borong saja dengan sesekali saya libatkan istri, supaya dia nggak melulu berasik-masyuk dengan BBM-nya saja.

Ah, tak terasa sudah siang dan kami menyadari bahwa terlalu lama meninggalkan si bungsu Cuplis di rumah, terpaksa obrolan seru itu musti diakhiri dengan perjanjian nanti akan bertemu lagi. Seperti layaknya hukum kopdar, maka kami pun berjepret-jepret dulu.

Waktu itu sempat terpikir,  ini yang foto sama saya siapa sih.., kok mirip-mirip Fariz RM dan kadang-kadang dari depan malah mirip Ariel?! Tenyata pendapat saya ini juga diamini oleh teman-teman di FB:

Sophie Mou mirip Iwan Satyanegara kamah..hehehe..

July 17 at 9:45pm

Anoew yang ini kok malah mirip Ariel yo?!

July 20 at 8:16pm

HN Lhah, memang iya…. Beda hanya usia saja ya…hehehe

July 20 at 8:41pm

Ilham Perdana Thamrin hihihi… foto sama artisnya baltyra ya? Dapat tandatangannya juga gak?

July 21 at 4:08pm

Meluncur pulang dan sesampai di rumah, seperti dugaan si Cuplis sudah menunggu sambil mewek karena kelamaan ditinggal dan langsung minta gendong begitu melihat kami, sedangkan kakaknya cuek saja ngemil sambil nonton di kamarnya.  Maka untuk menebus kesalahan dan membuatnya senang, kami pun mengajaknya pergi keluar sekedar berputar-putar.

Di tengah jalan terbersit niat untuk menghubungi pak Dj dan saya serahkan handpone ke si Cuplis untuk meneleponnya.. (gambar 6) Aaah, sungguh sayang sambungan gagal karena ternyata, tombol dial memang sengaja nggak saya pencet.. dan gagallah niat si Cuplis untuk berhaloh-haloh ke pak Dj. Karena toh seandainya tersambung pun paling juga kata-kata yang keluar cuma, “heeeeh… heeeeeh… heeeeeeeeh..”

Terima kasih pak Dj.. terima kasih bro ISK…, pertemuan ini meski singkat tapi sungguh hangat dan meriah. Semoga lain waktu kita bisa bertemu lagi.

Salam hangat.

 

About Anoew

Sedari kemunculannya pertama kali beberapa tahun yang lalu, terlihat spesialisasinya memang yang "nganoew" dan "saroe". Namun tidak semata yang "nganoew-nganoew" saja, artikel-artikelnya mewarnai perjalanan BALTYRA selama 6 tahun ini dengan beragam corak. Mulai dari pekerjaanya yang blusukan ke hutan (menurutnya mencari beras) hingga tentang cerita kehidupan sehari-hari. Postingannya di Group Baltyra dan komentar-komentarnya baik di Group ataupun di Baltyra, punya ciri khas yang menggelitik, terkadang keras jika sudah menyenggol kebhinekaan dan ke-Indonesia-annya.

My Facebook Arsip Artikel Website

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.