Monday, 26 July 2010
Iwan Satyanegara Kamah – Jakarta
Note:
SARA THURMON
Proklamator ‘Republik Amnesia’
KETIKA banyak dari kita mulai mempertanyakan sebuah kesadaran baru yang memang sudah lama menjadi karakter kita sebagai bangsa. Negara yang diproklamasikan tanggal 17 Agustus 1945 ini, ternyata disadari atau tanpa disadari oleh kita sendiri perlahan-lahan menjadi bangsa pelupa. Kita begitu mudah melupakan banyak hal kejadian penting yang terjadi pada bangsa ini di masa silam.
Kita lupa kekejaman masa lalu yang menyakitkan kita, kita lupa kesalahan masa silam yang melukai kita. Kita lupa dan mudah lupa dan gampang melupakan apapun dan mudah melupakan siapapun yang melakukan kesalahan pada kita.
Berbagai peristiwa pemberontakan dengan korban ratusan ribu anak bangsa, yang ingin menghancurkan negara yang dilahirkan 17 Agustus 1945, kita lupakan… Peristiwa tragis berdarah-darah yang ingin mengganti ideologi negara dengan jutaan nyawa melayang, kita lupakan… Peristiwa dengan rangkaian kerusuhan yang pilu dan memakan korban saudara sendiri, kita lupakan… Korupsi, kejahatan, pelanggaran hukum berat yang sudah terbukti secara hukum kita biarkan tak terselesaikan dan kita lupakan…
Melupakan masa lalu yang kelam dengan menguburkan ingatan negatif untuk menatap masa depan merupakan sikap positif. Menjadikan kesalahan dan kepiluan masa lalu sebagai pelajaran untuk masa depan, juga merupakan sifat yang bijak. Namun melupakan masa silam seolah-olah tidak pernah terjadi dan tidak perlu diungkit sebagai pelajaran berharga, sudah menjadi sikap kita sebagai bangsa.
Apakah Soekarno dan Hatta ketika memproklamasikan negeri ini bercita-cita menjadikan Republik Indonesia sebagai bangsa pelupa? Saya berani katakan tidak! Dengan ingatan saya yang tidak mudah lupa. Lalu kapan kita telah menjadi bangsa pelupa?
Tak ada catatan resmi siapa bangsa Indonesia yang pertama kali memproklamasikan negeri ini sebagai bangsa pelupa, karena kita memang bangsa pelupa. Apalagi mengingat tanggal berapa tepatnya negara ini diproklamasikan sebagai bangsa pelupa. Kita memang benar-benar pelupa!
Karena kita kini perlahan-lahan menjadi sebagai bangsa pelupa, kita bisa ingat-ingat sedikit saja, ternyata ada orang yang secara tidak sengaja berjasa mengingatkan dan memproklamasikan negeri yang dilahirkan 17 Agustus 1945 ini adalah bangsa pelupa. Namanya jelas sudah dilupakan dan tidak diingat lagi sama sekali oleh kita semua. Dialah orang yang mempunyai andil yang menghiasi negeri kelahiran 17 Agustus 1945 ini menjadi negara dengan bangsa yang senang melupakan masa silam sebagai pelajaran berharga.
Ketika Presiden Soekarno melakukan lawatan kenegaraan keliling bumi Amerika Serikat tahun 1956, dia sempat mampir ke kota suci pengikut gereja Mormon. Salt Lake City Soekarno tidak hanya mampir ke ibukota negara bagian ke 45 AS itu, yaitu Utah, tetapi hadir dan diterima dengan penuh suka cita oleh paduan taberkanel bersuara malaikat.
Tidak banyak yang tahu siapa Soekarno dan dari negara mana dia berasal. Entah benak apa yang tersimpan dalam pikiran seorang gadis kecil asal kota Salt Lake City, ketika dia menyambut kedatangan seorang presiden Indonesia yang pertama kalinya ke kotanya (Presiden Abdurrahman Wahid sering bolak balik ke kota ini karena bersahabat baik dengan pemimpin gereja Mormon). Secara spontan dan tak diduga, si gadis berusia 8 tahun itu menyapa Soekarno sebagai ‘presiden Amnesia’. Mungkin saja anak itu dan juga banyak orang Amerika tak tahu dan agak sulit mengingat kata ‘Indonesia’. Apa tuh Indonesia?
Komentar gadis kecil memang tidak punya makna sama sekali saat itu, hanya sekedar keseleo lidah dan ketidaktahuan. Namun lama kelamaan apa yang diucapkan gadis itu seperti sebuah ungkapan dan pernyataan yang kemudian menjadi kenyataan. Saya pernah diberitahu oleh dosen saya, bahwa bangsa ini benar-benar bangsa pelupa, ketika masih kuliah di FISIP UI. Dari perkataan itu saya ingin mencari tahu, siapa yang sebenarnya mencetuskan kita sebagai bangsa pelupa. Ternyata ada orangnya!
Pada tanggal 3 Juni 1956, ketika Presiden Soekarno selesai menghadiri acara keagamaan di Gereja Mormon, gadis kecil seperti memproklamasikan Indonesia sebagai bangsa pelupa. “Are you really the president of Amnesia?”, kata Sara Thurmon dengan lugunya kepada Soekarno. (*)
SUMBER:
1. Daily News, New York, 3 Juni 1956.
2. Foto-foto dan reportase tentang perdjalanan presiden Soekarno di Amerika Serikat (Penerbit United States Information Service, Djakarta, Indonesia).
July 29th, 2010 at 19:38
Mea, lega? Belum! Selama kamiu jadi orang Indonesia akan banyak yang beginian kamu pikirkan…
July 28th, 2010 at 14:15
Za : ojo kesusu, jangan minum susu hihi… artinya jangan buru2.
Seru juga baca diskusinya, antara amnesia sama munafik.
July 28th, 2010 at 13:25
ISK: Yes, boss… cuma sedikit emosional karena tidak ada pengakuan, itu saja, haha… Biasalah, anak muda, rada temperamental, haha… Pengen sih diskusi, cuma yg aku tahu juga secuil, tdk expert di bidang beginian, cuma ngerasa hal2 seperti ini menarik, dan satu lagi aku tdk ingat entah dari mana saja artikel2 itu aku baca. Jadi daripada ngambang sana-sini, mending diakhiri saja, yg penting uneg2nya sudah keluar, legaaaaaaaaa….
July 28th, 2010 at 13:14
Mea tidak bisa terlalu jauh menyimpulkan seperti itu. Saya sangat sepaham dan setuju dengan pendapat Mea. Namun dalam hal ini banyak faktor yang harus dilihat. Bila kita melihat setengah-tengah, akan masuk ke dalam sebuah kesimpulan semu. Misalnya, orang Islam Indonesia biadab. Memang betul, tetapi tidak bisa gegabah seperti itu.
Memang untuk melihat kasus-kasus yang kamu tulis, perlu kajian banyak bidang ilmu dan tidak bisa hanya satu sudut pandang. Nanti seperti yang kamu simpulkan. Saya bukan membela hal-hal seperti yang kamu cela, saya hanya khawatir bila kesimpulannya terlalu sederhana.
Jadi, lebih baik kita melihat sebuah masalah secara integral dan menyeluruh. Kalau tidak akan seperti kesimpulan Mea dan juga kesimpulan saya.