Indonesia-Kuba seiring, bagai gitar Gordon Tobing

Iwan Satyanegara Kamah – Jakarta


50 TAHUN INDONESIA – KUBA

Indonesia-Kuba seiring, bagai gitar Gordon Tobing


UNIK dan aneh menyaksikan setengah abad hubungan Indonesia dan Kuba. Ya, memang aneh dan unik. Saya heran mengapa tiba-tiba Indonesia mengeluarkan perangko peringatan hubungan 50 tahun Indonesia dan Kuba. Padahal semasa seperempat abad lebih hubungan itu tertutup permukaan es semasa pemerintahan Presiden Soeharto.

Ya…memang tidak pernah putus sih hubungan Indonesia dan Kuba. Tidak seperti Indonesia dengan Cina, dengan Belanda atau dengan Portugal, yang dulunya akrab rapat tiba-tiba putus, tus… karena masalah-masalah genting yang tak bisa ditawar-tawar. Indonesia pernah marahan dengan Belanda karena Irian Barat. Indonesia juga menjauhi Cina komunis gara-gara peristiwa 1965 dan Indonesia diputuskan tali persahabatannya oleh Portugal, ketiga jajahannya Timor Portugis dirampas kembali oleh Indonesia tahun 1976.

Nah, hubungan Jakarta dan Havana memang seperti danau yang membeku dengan lapisan tebal es di atas permukaan, tetapi mencair di bawah permukaan dengan keadaaan serba dingin sekali…dingiiiin… Beda ketika awal 1960an, saat Presiden Soekarno menyulut semangat revolusioner menentang bentuk-bentuk penindasan bangsa Eropa kepada dunia ketiga, bangsa-bangsa miskin terjajah.

Kebetulan di ujung dunia nan jauuuh dari Indonesia, ada sebuah negeri sedang bergejolak menentang penindasan. Mata dan telinga Soekarno selalu “on” mengamati siapa-siapa saja yang berani menentang kekuasaan barat imperialis, termasuk si Fidel Castro yang gigih bergerilya bersama konco-konconya ingin menggulingkan pemerintahan pro Amerika di Havana dan berhasil.

Bayangkan, seorang pria brewokan lulusan sekolah Jesuit, berani menumbangkan kekuasaan diktator Presiden Fulgencio Batista yang dipangku Amerika Serikat. Jaman diktator Batista, pantai Havana yang indah dengan gedung-gedung mewah, hanya dimiliki oleh cukong-cukong gendut kapitalis. Sementara banyak rakyat miskin cuma melongo dan menelan ludah.

Nah, keberhasilan si Fidel Castro menjadi bos baru di negara pulau bernama Kuba, menarik perhatian Soekarno. Tahu sendiri ‘kan, seorang Soekarno demennya sama yang revolusioner seperti yang dilakukan oleh anak-anak muda seperti Castro di Kuba itu.

“Beri saya sepuluh pemuda, saya akan mengubah dunia! “, Soekarno pernah sesumbar secara visioner.

Begitu kesemsemnya sama seorang Fidel Castro, Soekarno rela terbang mencarter pesawat kelilingi separuh bumi untuk datang ke Havana, menemui si Fidel si brewok dan partisannnya. Soekarno lebih tua 25 tahun daripada Fidel. Pada bulan Mei 1960 atau 5 bulan setelah kemenangan revolusi Kuba pada Tahun Baru 1959, Soekarno tiba di Havana dan menjadi kepala negara asing pertama yang datang ke Kuba sejak Fidel Castro berkuasa. Justru bukan datang dari Guatemala, Argentina atau Venezuela, tetangga Kuba.  Tapi dari tanah Jawa nan jauuuuuh di negeri belahan timur di balik bumi Kuba. Aneh ‘kan?

Begitu kagumnya dengan Castro (saya tidak tahu apakah Fidel Castro kagum juga dengan Soekarno?), Soekarno menyebut nama Fidel Castro pada pidato kenegaraan HUT RI 1964, yang saat itu yang menjadi paskibrakanya adalah Megawati Soekarnoputri, kelak menggantikannya dan bertemu Castro 40 tahun kemudian di KTT Non Blok di Kuala Lumpur tahun 2003.

“Demikianlah maka Arbenz Guzman bergandengan tangan dengan Cheddy Jagan, dengan Fidel Castro, Bolivarnya abad 20 ini!”

(Presiden Soekarno pada Pidato Kenegaraan HUT RI 1964).

Lebih 45 tahun setelah pidato itu, orang-orang yang disebut-sebut sebagai teladan revolusi sudah pada mati semua, kecuali Fidel Castro dari Kuba sampai detik ini (dia akan berulang tahun ke 84 tanggal 13 Agustus nanti), meski sudah sakit-sakitan dan jarang muncul di depan rakyatnya. Bagi Soekarno, Fidel Castro adalah Simon Bolivar abad 20.

Siapa sih Arbenz Guzman dan Cheddy Jagan? Kalau Fidel Castro sih kita kenal dan sering diejek wajahnya yang brewok dengan bentuk rambut kemaluan wanita pada gambar-gambar pornografi. Guzman adalah pemimpin dari Guatemala asal imigran Swiss, sebuah negeri “Republik Pisang” di Amerika Tengah, yang anti Amerika saat itu. Juga si Cheddy Jagan, anak mandor perkebunan tebu di Guyana jajahan Inggris di Amerika Latin, tetanggaan sama Guyana Prancis tempat peluncuran roket-roket luar angkasa Prancis dan Guyana Belanda (Suriname), tempat imigran Jawa banyak hidup di sana. Si Jagan juga anti Amerika dan menjadi perdana menteri Guyana awal 1950an dan menjadi presiden di awal 1990an. Kalau Anda mendarat di Georgetown, ibukota Guyana, nama bandar udaranya adalah The Cheddi Jagan International Airport.

Hubungan Indonesia dan Kuba banyak vakumnya dibanding isinya. Baru tahun 1960 dibuka, Indonesia sedang sibuk-sibuknya dengan urusan domeatik yang padat pikir, keringat dan darah, hingga meletus kudeta komunis yang gagal tahun 1965. Setelah itu blank….. kosong…hampa…dan dingin…. sampai tumbangnya Orde Baru tahun 1998.

Pada saat Presiden Soekarno berkuasa, jangan ditanya akrabnya. Saya terkejut bahwa Fidel Castro ternyata pernah mengutus sahabatnya Che Guevara datang ke Indonesia dan Che sempat jalan-jalan ke Candi Borobudur, lebih dulu dibanding Bob Kennedy atau pelawak Charlie Chaplin yang juga mengunjungi bangunan yang tidak anggap Tujuh Keajaiban Dunia itu. Wajah brewok Che yang fenomenal dengan guratan warna hitam putih, sering diplesetkan dengan gambar wajah Xanana Gusmao atau Benyamin Sueib.

Selama 30 lebih berkuasa, Presiden Soeharto berprinsip bersahabat dengan semua negara, namun prakteknya tidak semua negara diperlakukan sama, seperti Cina, Vietnam, Korea Utara dan Kuba. Negeri-negeri itu ditakuti menjangkiti aroma komunis ke Indonesia. Padahal pendahulunya sangat akrab dan dipuja mati di negeri-negeri tersebut. Ya..jangan berharap melihat Presiden Soeharto berkunjung ke Kuba. Selain tidak begitu penting dan jaraknya sangat jauh dengan Indonesia untuk melakukan intensitas hubungan yang menguntungkan. Berat di ongkos mungkin.

Jadi selama Soeharto berkuasa, dia enggan ke sana meski ada kesempatan untuk datang bertemu Castro. Dia tak melakukannya. Waktu Fidel Castro menjadi tuan rumah KTT Non Blok IV tahun 1979 di Havana, dia mengundang Presiden Soeharto untuk datang, tapi dia mengutus wakilnya, Adam Malik, pejabat tertinggi semasa Orde Baru yang satu-satunya pernah berkunjung dan serta dijenguk Fidel Castro, di tengah malam di kamar hotel Adam Malik pada awal September 1979.

Nah, giliran Soeharto menjadi tuan rumah KTT Non Blok tahun 1992 di Jakarta, dia mengundang Fidel Castro melalui utusannya, Laksamana Soedomo yang mengantar sendiri undangan itu kepada Castro di Havana, Kuba. Dia pun tak datang ke Jakarta. Padahal kehadiran Castro, juga Muammar Khaddafi serta Saddam Hussein sangat diharapkan, namun batal, kecuali Yasser Arafat yang datang mendadak tanpa pemberitahuan (kebiasaaan dilakukan demi menjaga keamanannya).

Setelah reformasi, Presiden Abdurrahman Wahid datang ke Havana tahun 2000 untuk menghadiri sebuah KTT ekonomi. Wahid atau Gus Dur ditemui secara mendadak di kamar hotelnya di tengah malam oleh Fidel Castro di saat Gus Dur mau bobo sambil dengar wayang kulit. Mereka berdua ngobrol akrab berdua sambil lucu-lucuan.

Ketika itu kesehatan Castro sedang ambruk, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono juga datang ke Kuba tahun 2006 untuk menghadiri KTT Non Blok, tetapi hanya bertemu Raul Castro, adiknya Fidel. Saya rasa kalau minta bertemu pasti Castro merestui kalau itu seorang presiden Indonesia. Karena punya hubungan khusus dan historis.

Selama 50 tahun hubungan Indonesia-Kuba, hanya orang setingkat Che Guevara yang pernah berkunjung ke Indonesia. Saat itu jabatan Che cukup tinggi, yaitu pada pos kementerian perindustrian. Belum ada pejabat tinggi Kuba yang datang dengan intensitas tinggi ke Indonesia setelah kedatangan Che itu. Jadi bisa dilihat bagaimana pasang surut hubungan Indonesia-Korea. Berat sebelah ke Indonesia.

Nama Republik Indonesia juga diabadikan untuk menjadi nama tiga sekolah dasar di daerah Havana, menyusul kedatangan Soekarno ke sana Mei 1960. Bahkan pada masa Duta Besar Indonesia di Kuba di akhir 1960an, AM Hanafi, intensitas hubungan kedua negara lebih hangat. Bahkan sempat Hanafi mengajak penyanyi Batak Gordon Tobing (jago nyanyiin lagu ‘Cuando Sali de Cuba’) untuk mentas di Havana.

Nah, waktu pertunjukkan Tobing di Havana, Fidel Castro tertarik pada nyanyian dan suaranya, sampai dia rela memberi Tobing sebuah gitar. Namun sayang, setelah dibawah pulang ke Indonesia dan disimpan semasa jaman Orde Baru, gitar pemberian Castro itu pecah.

“Saya sedih gitar dari Fidel Castro pecah, mungkin karena perubahan temperatur, padahal suaranya bukan main,” kata Gordon menyesal.

Daripada menyesali, lebih baik mendengarkan lagu terkenal yang menceritakan bagaimana pilunya seseorang meninggalkan Kuba, yaitu “Cuando Sali de Cuba”, sebuah lagu yang sering dinyanyikan oleh pengamen semi profesional di kereta api dan bis umum, serta pengamen malam di Jalan Marlioboro. Dan juga sering dinyanyikan Gordon Tobing bersama istri dan putranya.

Lagu ini sama ceritanya seperti Indonesia yang tega meninggalkan Kuba dalam persahabatan yang hangat selama lebih 30 tahun.

“Cuando salí de Cuba,

dejé mi vida dejé mi amor.”

Hayoo..nyanyikan… “Ketika aku meninggalkan Kuba, ku tinggalkan kenangan dan cintaku”.

Mudah-mudahan kita ramai-ramai bisa melancong kembali ke Kuba, sebuah negeri nan jauuuh, tempat bangsa Indonesia punya hak sejarah di sana. (*)


SUMBER FOTO:

1. Fidel Castro berpeci (Koleksi Abdul Rahman Gafur)

2. Che Guevara di Candi Barobudur (Kompas)

3. Fidel Castro dan Megawati (Associated Press/Andy Wong/Kompas)

42 Comments to "Indonesia-Kuba seiring, bagai gitar Gordon Tobing"

  1. naroem  5 March, 2014 at 15:21

    justru kuba,lah negara yang benar benar melaksanakan konsepsiTRISAKTI ala bung karno ,, jadi saya kira fidel castro pun mengagumi bung karno ,

  2. Alvina VB  4 June, 2012 at 06:28

    Bung Iwan said:
    “Ya sudahlah memang dunia seperti itu. Selama ada duren, donat dan pete serta es krim Baskin Robbins, tak masalah”

    Saya lagi ngebayangin kl duren, donat, pete dan es krim Baskin Robbins dicampur aduk kaya milk shake…jadi apa tuch rasanya? he..he….

  3. IWAN SATYANEGARA KAMAH  31 May, 2012 at 13:37

    Hai mBak Alvina,

    Oooh..memang benar dugaan itu. Presiden Soekarno adalah tokoh dunia dan sebenarnya tidak anti AS atau anti lawan-AS. Hanya saja mereka orang Amerika tidak bisa membaca perilaku Soekarno, yang senang berteman dengan siapapun.

    Soekarno adalah kepala negara pertama di dunia yang datang ke Kuba setelah kemenangan revolusi Fidel Castro. Jadi walau bagaimana pun, nama Soekarno atau Indonesia sangat mendapat tempat dalam sejarah dan sanubari orang Kuba. Mereka diajarkan tentang ini turun menurun.

    Semua sudah tahu bahwa Soeharto adalah “boneka” AS dan siapapun tidak bisa membantahnya. Masalah ketika dia kesusahan dibenci rakyatnya dan AS tidak mau membantu, itu sudah menjadi karakter AS. Mereka hanya memanfaatkan ketika sedang berkuasa. Setelah itu dibuang jauh-jauh.

    Banyaklah contoh negara yang ingin dijatuhkan dan dihancurkan oleh AS dan sekutunya. Contoh nyata adalah Gaddafi, Saddam dan lain-lain. Mereka sedang mencari akal bagaimana meruntuhkan rejim Korea Utara dan Kuba. Bahkan Cina dihancurkan diam-diam dengan isu demokrasi. Sekarang ini Siria sedang dihancurkan melalui adu domba dengan memberikan dukungan pada pemberontak untuk melawan. Yang korban tetap rakyat kecil.

    Ya sudahlah memang dunia seperti itu. Selama ada duren, donat dan pete serta es krim Baskin Robbins, tak masalah.

  4. Alvina VB  31 May, 2012 at 12:52

    Bung Iwan,
    Persahabatan Fidel Castro dan Soekarno adl awalnya US mulai ketar-ketir krn gak kepengen lihat satu negara Asia yg besar dan punya potential yg besar spt Ind jadi negara komunis kaya Cuba. Mungkin dah banyak yg tahu kl pada dasarnya US supporter utama (atau malah dalangnya? conspiracy theory kale, he..he….) yg menjatuhkan Soekarno dan mengangkat Soeharto ke permukaan, jadi org numero uno di tanah air. G30S/PKI = kudeta terselubung? Jadi mana mungkin Soeharto ke Cuba? Gak mungkinlah yau…apa katanya US nanti? Sayangnya….. US tidak bisa (/tidak mau???) membelanya saat dia disuruh turun dari tampuk pimpinan. Kata selentingan nada sumbang yg saya denger….sudah berkali-kali Soeharto minta bantuan US saat dia didemo mhw dan masa thn 1998, ttp US sptnya cuci tangan dan membelakangi Soeharto, pasti dia yg ketirrrrr banget yo… gimana tuch rasanya ditinggalkan supporter utamanya sekarang??? habis manis sepah dibuang…gak bisa survive lah…..

  5. IWAN SATYANEGARA KAMAH  31 May, 2012 at 10:52

    Hallo Pak Maro,

    Terima kasih banyak Pak Maro. Kami senang dan bangga mendapat kehormatan dengan adanya komentar dari famili kerabat dekat Bapak Gordon Tobing.

    Saya sengaja memakai judul dengan kata Gordon Tobing, agar dalam dunia maya, bila ada yang mencoba-coba mencari nama “Gordon Tobing”, akan keluar jawabannya dan jawaban itu satu diantaranya adalah tulisan di Baltyra ini.

    Saya tahu sosok Gordon Tobing sejak kecil karena membaca dari media cetak juga dari TVRI sewaktu masih kecil. Kalau tak salah Pak Gordon masih menghibur dengan gitarnya bersama istri tercinta.

    Bahkan pernah saya lihat ada iklan cetak dengan memakai Pak Gordon, istri anak putranya. Saya lupa iklan apa.

    Sekali lagi terima kasih.

  6. maro pakpahan  23 May, 2012 at 15:45

    Ompung Gordon Tobing, memang paling mantab, Seorang Legenda dan Perinits “folk song”indonesia untuk dunia…
    ga salah kalau Jukukan : “Mario Lanza Indonesia” selalu menempel di dalam dirinya >>

    Cuando Sali de Cuba”,…….

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.