Search in Archive

Select a date
Select a category
Search with Google

Indonesia-Kuba seiring, bagai gitar Gordon Tobing

Tuesday, 27 July 2010

Viewed 2554 times, 4 times today | 36 Comments |

Iwan Satyanegara Kamah – Jakarta


50 TAHUN INDONESIA – KUBA

Indonesia-Kuba seiring, bagai gitar Gordon Tobing


UNIK dan aneh menyaksikan setengah abad hubungan Indonesia dan Kuba. Ya, memang aneh dan unik. Saya heran mengapa tiba-tiba Indonesia mengeluarkan perangko peringatan hubungan 50 tahun Indonesia dan Kuba. Padahal semasa seperempat abad lebih hubungan itu tertutup permukaan es semasa pemerintahan Presiden Soeharto.

Ya…memang tidak pernah putus sih hubungan Indonesia dan Kuba. Tidak seperti Indonesia dengan Cina, dengan Belanda atau dengan Portugal, yang dulunya akrab rapat tiba-tiba putus, tus… karena masalah-masalah genting yang tak bisa ditawar-tawar. Indonesia pernah marahan dengan Belanda karena Irian Barat. Indonesia juga menjauhi Cina komunis gara-gara peristiwa 1965 dan Indonesia diputuskan tali persahabatannya oleh Portugal, ketiga jajahannya Timor Portugis dirampas kembali oleh Indonesia tahun 1976.

Nah, hubungan Jakarta dan Havana memang seperti danau yang membeku dengan lapisan tebal es di atas permukaan, tetapi mencair di bawah permukaan dengan keadaaan serba dingin sekali…dingiiiin… Beda ketika awal 1960an, saat Presiden Soekarno menyulut semangat revolusioner menentang bentuk-bentuk penindasan bangsa Eropa kepada dunia ketiga, bangsa-bangsa miskin terjajah.

Kebetulan di ujung dunia nan jauuuh dari Indonesia, ada sebuah negeri sedang bergejolak menentang penindasan. Mata dan telinga Soekarno selalu “on” mengamati siapa-siapa saja yang berani menentang kekuasaan barat imperialis, termasuk si Fidel Castro yang gigih bergerilya bersama konco-konconya ingin menggulingkan pemerintahan pro Amerika di Havana dan berhasil.

Bayangkan, seorang pria brewokan lulusan sekolah Jesuit, berani menumbangkan kekuasaan diktator Presiden Fulgencio Batista yang dipangku Amerika Serikat. Jaman diktator Batista, pantai Havana yang indah dengan gedung-gedung mewah, hanya dimiliki oleh cukong-cukong gendut kapitalis. Sementara banyak rakyat miskin cuma melongo dan menelan ludah.

Nah, keberhasilan si Fidel Castro menjadi bos baru di negara pulau bernama Kuba, menarik perhatian Soekarno. Tahu sendiri ‘kan, seorang Soekarno demennya sama yang revolusioner seperti yang dilakukan oleh anak-anak muda seperti Castro di Kuba itu.

“Beri saya sepuluh pemuda, saya akan mengubah dunia! “, Soekarno pernah sesumbar secara visioner.

Begitu kesemsemnya sama seorang Fidel Castro, Soekarno rela terbang mencarter pesawat kelilingi separuh bumi untuk datang ke Havana, menemui si Fidel si brewok dan partisannnya. Soekarno lebih tua 25 tahun daripada Fidel. Pada bulan Mei 1960 atau 5 bulan setelah kemenangan revolusi Kuba pada Tahun Baru 1959, Soekarno tiba di Havana dan menjadi kepala negara asing pertama yang datang ke Kuba sejak Fidel Castro berkuasa. Justru bukan datang dari Guatemala, Argentina atau Venezuela, tetangga Kuba.  Tapi dari tanah Jawa nan jauuuuuh di negeri belahan timur di balik bumi Kuba. Aneh ‘kan?

Begitu kagumnya dengan Castro (saya tidak tahu apakah Fidel Castro kagum juga dengan Soekarno?), Soekarno menyebut nama Fidel Castro pada pidato kenegaraan HUT RI 1964, yang saat itu yang menjadi paskibrakanya adalah Megawati Soekarnoputri, kelak menggantikannya dan bertemu Castro 40 tahun kemudian di KTT Non Blok di Kuala Lumpur tahun 2003.

“Demikianlah maka Arbenz Guzman bergandengan tangan dengan Cheddy Jagan, dengan Fidel Castro, Bolivarnya abad 20 ini!”

(Presiden Soekarno pada Pidato Kenegaraan HUT RI 1964).

Lebih 45 tahun setelah pidato itu, orang-orang yang disebut-sebut sebagai teladan revolusi sudah pada mati semua, kecuali Fidel Castro dari Kuba sampai detik ini (dia akan berulang tahun ke 84 tanggal 13 Agustus nanti), meski sudah sakit-sakitan dan jarang muncul di depan rakyatnya. Bagi Soekarno, Fidel Castro adalah Simon Bolivar abad 20.

Siapa sih Arbenz Guzman dan Cheddy Jagan? Kalau Fidel Castro sih kita kenal dan sering diejek wajahnya yang brewok dengan bentuk rambut kemaluan wanita pada gambar-gambar pornografi. Guzman adalah pemimpin dari Guatemala asal imigran Swiss, sebuah negeri “Republik Pisang” di Amerika Tengah, yang anti Amerika saat itu. Juga si Cheddy Jagan, anak mandor perkebunan tebu di Guyana jajahan Inggris di Amerika Latin, tetanggaan sama Guyana Prancis tempat peluncuran roket-roket luar angkasa Prancis dan Guyana Belanda (Suriname), tempat imigran Jawa banyak hidup di sana. Si Jagan juga anti Amerika dan menjadi perdana menteri Guyana awal 1950an dan menjadi presiden di awal 1990an. Kalau Anda mendarat di Georgetown, ibukota Guyana, nama bandar udaranya adalah The Cheddi Jagan International Airport.

Hubungan Indonesia dan Kuba banyak vakumnya dibanding isinya. Baru tahun 1960 dibuka, Indonesia sedang sibuk-sibuknya dengan urusan domeatik yang padat pikir, keringat dan darah, hingga meletus kudeta komunis yang gagal tahun 1965. Setelah itu blank….. kosong…hampa…dan dingin…. sampai tumbangnya Orde Baru tahun 1998.

Pada saat Presiden Soekarno berkuasa, jangan ditanya akrabnya. Saya terkejut bahwa Fidel Castro ternyata pernah mengutus sahabatnya Che Guevara datang ke Indonesia dan Che sempat jalan-jalan ke Candi Borobudur, lebih dulu dibanding Bob Kennedy atau pelawak Charlie Chaplin yang juga mengunjungi bangunan yang tidak anggap Tujuh Keajaiban Dunia itu. Wajah brewok Che yang fenomenal dengan guratan warna hitam putih, sering diplesetkan dengan gambar wajah Xanana Gusmao atau Benyamin Sueib.

Selama 30 lebih berkuasa, Presiden Soeharto berprinsip bersahabat dengan semua negara, namun prakteknya tidak semua negara diperlakukan sama, seperti Cina, Vietnam, Korea Utara dan Kuba. Negeri-negeri itu ditakuti menjangkiti aroma komunis ke Indonesia. Padahal pendahulunya sangat akrab dan dipuja mati di negeri-negeri tersebut. Ya..jangan berharap melihat Presiden Soeharto berkunjung ke Kuba. Selain tidak begitu penting dan jaraknya sangat jauh dengan Indonesia untuk melakukan intensitas hubungan yang menguntungkan. Berat di ongkos mungkin.

Jadi selama Soeharto berkuasa, dia enggan ke sana meski ada kesempatan untuk datang bertemu Castro. Dia tak melakukannya. Waktu Fidel Castro menjadi tuan rumah KTT Non Blok IV tahun 1979 di Havana, dia mengundang Presiden Soeharto untuk datang, tapi dia mengutus wakilnya, Adam Malik, pejabat tertinggi semasa Orde Baru yang satu-satunya pernah berkunjung dan serta dijenguk Fidel Castro, di tengah malam di kamar hotel Adam Malik pada awal September 1979.

Nah, giliran Soeharto menjadi tuan rumah KTT Non Blok tahun 1992 di Jakarta, dia mengundang Fidel Castro melalui utusannya, Laksamana Soedomo yang mengantar sendiri undangan itu kepada Castro di Havana, Kuba. Dia pun tak datang ke Jakarta. Padahal kehadiran Castro, juga Muammar Khaddafi serta Saddam Hussein sangat diharapkan, namun batal, kecuali Yasser Arafat yang datang mendadak tanpa pemberitahuan (kebiasaaan dilakukan demi menjaga keamanannya).

Setelah reformasi, Presiden Abdurrahman Wahid datang ke Havana tahun 2000 untuk menghadiri sebuah KTT ekonomi. Wahid atau Gus Dur ditemui secara mendadak di kamar hotelnya di tengah malam oleh Fidel Castro di saat Gus Dur mau bobo sambil dengar wayang kulit. Mereka berdua ngobrol akrab berdua sambil lucu-lucuan.

Ketika itu kesehatan Castro sedang ambruk, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono juga datang ke Kuba tahun 2006 untuk menghadiri KTT Non Blok, tetapi hanya bertemu Raul Castro, adiknya Fidel. Saya rasa kalau minta bertemu pasti Castro merestui kalau itu seorang presiden Indonesia. Karena punya hubungan khusus dan historis.

Selama 50 tahun hubungan Indonesia-Kuba, hanya orang setingkat Che Guevara yang pernah berkunjung ke Indonesia. Saat itu jabatan Che cukup tinggi, yaitu pada pos kementerian perindustrian. Belum ada pejabat tinggi Kuba yang datang dengan intensitas tinggi ke Indonesia setelah kedatangan Che itu. Jadi bisa dilihat bagaimana pasang surut hubungan Indonesia-Korea. Berat sebelah ke Indonesia.

Nama Republik Indonesia juga diabadikan untuk menjadi nama tiga sekolah dasar di daerah Havana, menyusul kedatangan Soekarno ke sana Mei 1960. Bahkan pada masa Duta Besar Indonesia di Kuba di akhir 1960an, AM Hanafi, intensitas hubungan kedua negara lebih hangat. Bahkan sempat Hanafi mengajak penyanyi Batak Gordon Tobing (jago nyanyiin lagu ‘Cuando Sali de Cuba’) untuk mentas di Havana.

Nah, waktu pertunjukkan Tobing di Havana, Fidel Castro tertarik pada nyanyian dan suaranya, sampai dia rela memberi Tobing sebuah gitar. Namun sayang, setelah dibawah pulang ke Indonesia dan disimpan semasa jaman Orde Baru, gitar pemberian Castro itu pecah.

“Saya sedih gitar dari Fidel Castro pecah, mungkin karena perubahan temperatur, padahal suaranya bukan main,” kata Gordon menyesal.

Daripada menyesali, lebih baik mendengarkan lagu terkenal yang menceritakan bagaimana pilunya seseorang meninggalkan Kuba, yaitu “Cuando Sali de Cuba”, sebuah lagu yang sering dinyanyikan oleh pengamen semi profesional di kereta api dan bis umum, serta pengamen malam di Jalan Marlioboro. Dan juga sering dinyanyikan Gordon Tobing bersama istri dan putranya.

Lagu ini sama ceritanya seperti Indonesia yang tega meninggalkan Kuba dalam persahabatan yang hangat selama lebih 30 tahun.

“Cuando salí de Cuba,

dejé mi vida dejé mi amor.”

Hayoo..nyanyikan… “Ketika aku meninggalkan Kuba, ku tinggalkan kenangan dan cintaku”.

Mudah-mudahan kita ramai-ramai bisa melancong kembali ke Kuba, sebuah negeri nan jauuuh, tempat bangsa Indonesia punya hak sejarah di sana. (*)


SUMBER FOTO:

1. Fidel Castro berpeci (Koleksi Abdul Rahman Gafur)

2. Che Guevara di Candi Barobudur (Kompas)

3. Fidel Castro dan Megawati (Associated Press/Andy Wong/Kompas)

Share This Post

Posted by Tuesday, 27 July 2010 on 00:29.

Categories: Nusantara. Follow the comments to this article via the RSS 2.0.

You can leave a response or trackback to this entry

36 Responses to “Indonesia-Kuba seiring, bagai gitar Gordon Tobing”

Pages: [4] 3 2 1 »

  1. 36
    HN Says:

    ISK, aku hanya ingat Che Guevara.. hahahha

  2. 35
    Osa Kurniawan Ilham Says:

    Mas ISK,
    Kuba sering dijelek-jelekkan sama AS, biasalah seperti yang dilakukannya pada negara2 lain yang nggak disukainya.
    bebarap tahun lalu ada seorang teman pendeta muda yang kebetulan menjadi presiden youth organization se asia pasifik pernah berkunjung ke Kuba. Katanya, di sana memang tidak terlalu terlihat mana yang kaya dan mana yang miskin. Tapi yang menjadi perhatian adalah kualitas hidup manusianya yang sangat tinggi, mungkin bisa mengalahkan AS.
    Ironisnya AS sekarang mengakui Kuba lebih unggul dalam beberapa hal. Obama sering merujuk Kuba saat berusaha menggolkan RUU jaminan kesehatan dulu. Benar saja, dalam urusan prestasi olahraga, kualitas pendidikan, rendahnya biaya kesehatan dan obat-obatan, tingginya kualitas dokter dan petugas medis Kuba tidak bisa dibandingkan dengan Indonesia.

    Salam,
    Osa KI

  3. 34
    Nuchan Says:

    IWAN SATYANEGARA KAMAH Says:
    Tumpal Donorius Pardede. Tahi Bonar Simatupang. David Washington Napitupulu. Malam Pagi Ginting

    hahhahaha maaf buat nama orang Batak Karo, namanya lebih unik lagi…kepala sekolah SMA saya namanya sebenarnya LEMBU SITEPU…gila kepsek namanya LEMBU…khan kasihan tuch dipanggil P Lembu…demi kehormatan dan kesusilaan akhirnya stempel nama Pak LEMBU SITEPU diganti jadi LEM-SITEPU hahhahaahah rada mendingan sich…maaf ya bukam maksud melecehkan nama kepsek saya tapi itu fakta koq…

    Memang betul apalah arti sebuah nama hahahhaha…tapi mbok yah orang tua juga jangan TERLALU donk kasih nama LEMBU hehehehhe maaf ya pak…kekekkekke…..tapi memang nama orang KARO lebih seru-seru dech…maaaf yah yg orang KARO

  4. 33
    IWAN SATYANEGARA KAMAH Says:

    Tumpal Donorius Pardede. Tahi Bonar Simatupang. David Washington Napitupulu. Malam Pagi Ginting.

  5. 32
    Nuchan Says:

    Unik2 ya nama orang Batak itu..Yah Gordon yah Jelly hehehhe Ayak-ayak wae…

  6. 31
    IWAN SATYANEGARA KAMAH Says:

    Secara tak sengaja artikel ini tayang berteoatan dengan HARI REVOLUSI di Kuba.
    Cuba is Gloria Estefan.

Pages: [4] 3 2 1 »

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Image (JPEG, max 50KB, please)