Search in Archive

Select a date
Select a category
Search with Google

Kelamin Bukan Penghalang

Tuesday, 27 July 2010

Viewed 2039 times, 2 times today | 26 Comments |

Andi Gunawan


Pernah dianggap remeh hanya karena apa jenis kelaminmu? Aku punya cerita soal itu. Ada teman lelaki yang suka menari. Ia berlatih berhari-hari. Menari ke sana kemari. Lenggok sana lengggok sini. Putar kanan putar kiri. Hentakkan tangan dan kaki. Semakin sering ia menari semakin banyak yang memaki.

“Ngapain sih lo nari? Lo kan laki!”

“Eh, tahu ngga lo? Dia kan suka nari. Kaya banci aja deh!”

“Sekarang nari, nanti lama-lama mulai pakai bikini.”

Ada satu lagi teman. Perempuan. Ia gemar menentang. Terlebih soal kesetaraan gender yang timpang. Ia aktif menyuarakan pendapat. Soal pro bla bla bla atau kontra na na na. Ikut organisasi ini itu anu macam-macam lah pokoknya. Suatu waktu ia maju mencalonkan diri jadi ketua organisasi entah apa namanya. Rivalnya lelaki-lelaki muda yang merasa lebih pantas dipilih melancarkan serangan belakang lewat gosip murahan.

“Jangan pilih dia! Emang lo mau diperintah-perintah sama cewek?”

“Cewek bisa apa sih? Paling awalnya doang semangat!”

“Gue ngga mau punya ketua cewek! Pasti sensitif, secara lebih suka pakai perasaan. Apalagi kalau datang bulan.”

Sejak kapan kelamin mempengaruhi kemampuan seseorang? Toh, tarian tak mengenal jenis kelamin. Toh, banyak pemimpin dunia yang perempuan. Apa lelaki menari itu dosa? Apa perempuan jadi pemimpin itu dosa? Naif sekali mereka yang menganggap remeh kemampuan orang lain hanya karena jenis kelaminnya apa. Hei, ini era demokrasi! Katanya anak gaul harus beradaptasi dengan peradaban. Menyesuaikan diri dengan perkembangan. Percuma jika tampilan kalian amat sangat kekinian tapi pola pikir malah mundur jauh ke belakang.

Coba lihat Jacko, dia raja pop dunia yang hampir semua dari kalian menggemarinya. Dia lelaki dan dia menari. Apa kalian pernah mempermasalahkan gerakan moonwalk-nya hanya karena dia lelaki? Aku rasa justru banyak dari kalian yang juga lelaki menirukan gerakannya. Akuilah! Dan apakah Jacko terlihat seperti banci? Apa kalian yang tidak menari merasa lebih jantan ketimbang lelaki yang menari? Ini bukan soal tarian sebagai barometer kelaki-lakian seseorang. Ini soal keberanian menentukan pilihan. Keberanian mengikuti hasrat yang sejalan dengan kebisaan. Justru kalian yang gemar bergunjing di balik punggung orang lain lah yang banci. Maaf, kali ini aku benar memaki.

Kalian lupa pernah punya presiden perempuan? Aku ingatkan, Megawati namanya. Tentu ia jadi presiden bukan karena embel-embel nama bapaknya yang dulu juga presiden. Aku yakin banyak proses yang ditempanya sebelum akhirnya jadi presiden. Selama kepemimpinannya ia mampu jadi pepimpin yang baik dan ini bukan karena jenis kelaminnya. Ayolah, ini soal kemampuan dan kredibilitas. Bukan soal kelamin apa yang ada di antara selangkangan.

Bagian yang memuakkan adalah saat teman-temanku yang dianggap remeh itu berhasil dengan cara mereka sendiri. Mereka yang sebelumnya mencaci maki tralala trilili berebut simpati.

“Lo tahu ngga yang menang festival dansa kemarin? Keren banget yaa dia! Dia temen gue lho.”

“Ketua senat gue baru pulang dari Aussy lho. Dia ikut study banding di sana. Hebat yaa! Gue deket banget lho sama dia.”


Hahaha! Lucunya mereka. Kau tahu? Banyak hal yang lebih penting ketimbang menjadikan kelamin sebagai tolok ukur kemampuan seseorang. Jika nanti aku kaya raya banyak harta di mana-mana dan perusahaan rupa-rupa, aku tak akan pernah mencantumkan “diutamakan lelaki” atau “diutamakan perempuan” dalam syarat menjadi karyawan. Sungguh ini bukan bualan. Anggap saja harapan atau angan-angan atau apalah yang bisa kuamini.


Ilustrasi: politicsunlocked

Share This Post

Posted by Tuesday, 27 July 2010 on 00:29.

Categories: Kehidupan. Follow the comments to this article via the RSS 2.0.

You can leave a response or trackback to this entry

26 Responses to “Kelamin Bukan Penghalang”

Pages: « 3 [2] 1 »

  1. 20
    J C Says:

    NdiGun, huehehe…ya memang gak ada notifikasi kalo tulisan seseorang tayang…ya bener si Alexa, sering-sering tengok ya…

    Gender bias memang masih terjadi di mana-mana, hanya tingkat bias’nya yang berbeda…mantap NdiGun…

  2. 19
    Alexa Says:

    ndigun…disini mah gak pake konfirmasi ke penTulis, jadi kita emang kudu rajin mampir ke sini…hehehe

  3. 18
    Andi Gunawan Says:

    Wah, udah rame. Saya ndak tahu tulisan yang ini udah tayang. Apa emang admin ngga kasih konfirmasi yaa kalo ada tulisan yang tayang ke si penulisnya? Hehe, maklum pendatang baru

    Satu hal yang saya yakini adalah setiap orang -apapun jenis kelaminnya- terlahir dengan kapasitas otak yang. Soal perbedaan pola pikir dan kemampuan itu terbentuk dari proses tumbuh kembang yang berbeda-beda.

    Seharusnya yang jadi barometer adalah sejauh apa seseorang menjalankan kepercayaan yang diberikan dengan baik. Saya senang sekali banyak yang menanggapi positif atas isu yang kemukakan di tulisan ini. Terima kasih sudah mau berbagi

  4. 17
    Lani Says:

    nambahin, perkara pegang stir dan baca peta…..mmg ada pendpt begitu, wanita kurang dibanding dgn laki2…..tp kebenarannya wallahualam……yg jelas utk stir dimana saja di Indonesia q gak berani blassssss……wedi nabrakkkkk ato sebaliknya ditabrakkkkkk…..memedenikan…..ini khusus buat diriku lo ya……

  5. 16
    Silvia Says:

    Banyak hal yang lebih penting ketimbang menjadikan kelamin sebagai tolok ukur kemampuan seseorang= Emang jaman sekarang kudunya sih ga ada pendapat kaya gitu.

  6. 15
    lindacheang Says:

    Alexa dan bernadette : bukti yang aku dapatkan sendiri, aku terpaksa (dan dipaksa) setuju dengan anggapan
    “dasar perempuan, nyetir aja enggak becus” , sebab benar – benar aku temukan sendiri. yang nyetirnya pada enggak becus sebagian besar memang perempuan.

    juga termasuk membaca peta. perempuan termasuk yang payah membaca peta. lagi-lagi ini aku berhasiul buktikan sendiri.

    tapi tentu saja anggapan-anggapan negatif tersebut TIDAK BERLAKU untukku, yah. hahahahaha. beneran mode : on

    harap maklum, sebab aku semestinya lahir jadi lelaki, tetapi rupanya pas kedua ortuku membuat aku, ada bahan baku yang kurang disediakan. hahahahaha

  7. 14
    kembangnanas Says:

    wah, emang kadang gender jd masalah, bos-bos di kantor juga pernah bilang, susah klo nerima karyawan cewek, banyak maunya, gk bisa fleksibel pindah sana-sini bla… bla… bla… Temen2ku cewek langsung komplain, ya jangan salahin cewek dunk pak, kalo ternyata hasil seleksinya lebih bagus cewek nilainya… trus lain kali buat lowongan “hanya khhusus cowok”

  8. 13
    bernadette Says:

    @Alexa san –> Masalah nyetir.. Pas mendesign kualitas mobil… Pendapat para perempuan sangat dihargai loh .. hehehe.. Biar mendesign kualitas nya bukan hanya dengan masukan dari cowok.. ^^ Tapi pendapat perempuan sangat diinginkan malah disini.. hohoho.. ^^

  9. 12
    elnino Says:

    Tulisan yang apik, Andi..

  10. 11
    Alexa Says:

    Biarpun dalam dunia kerja sekarang ini kelihatannya sudah ada kesetaraan jender tapi dalam hal2 lain masih ada stereotip macam…”wah dasar perempuan, nyetir aja gak becus.”
    Dalam berhadapan dg boss…sama boss lelaki pernah sampe banting2an pintu, tapi besoknya urusan dah clear n business as usual…sama boss cewek…gile dalam penilaian taonan….”dosa” kecil digedein trus bisa mempengaruhi performance kwalitatif yang moncer….
    makanya pas dapet kedudukan, saya berusaha fair dan thank god diterima anak buah (berdasarkan penilaian feedback yang diselenggarakan oleh manajemen)

Pages: « 3 [2] 1 »

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Image (JPEG, max 50KB, please)