Plesiran Tempo Doeloe: Belajar Mencintai Jakarta

Handoko Widagdo – Solo


Tertantang oleh keinginan Mas Edy untuk berwisata di Kota Toea (http://baltyra.com/2010/07/22/batavia-itu-bukan-jakarta/) saya memberanikan diri untuk menayangkan tulisan saya yang sudah cukup usang ini. Semoga menambah keinginan untuk mengembalikan Jakarta menjadi Batavia.

Karena mengemban tugas interim sebagai kepala kantor, saya menjadi sering di Jakarta. Durasinya pun menjadi semakin panjang. Jika dulu bisa hanya di Jakarta di hari kerja, sekarang beberapa kali week end harus aku jalani di Jakarta. Harus ada cara untuk membunuh jemu.

September ini adalah bulan kedua aku mengemban tugas interim. Sebenarnyalah sudah sejak Bulan Juli aku menjadi sering di Jakarta. Sebab pada Bulan Juli banyak kegiatan hand over dari pejabat lama kepadaku. Artinya, sejak Bulan Juli rata-rata aku habiskan waktu tiga mingguan di Jakarta.

Hari-hari week end pada awalnya aku gunakan untuk membaca, menulis, menonton TV, main game dan semua kegiatan yang bisa aku lakukan di kantor yang sekaligus ’rumah saya’. Namun beberapa kali juga aku pakai untuk mengunjungi staf kantor yang tinggal di sekitar Jakarta atau main bola dengan anak-anak jalanan di Puncak. So far so good.

Week end awal bulan ini juga harus aku lalui di Jakarta. Tidak ada rencana khusus. Ideas for Development[1] yang sudah mulai kuterjemahkan sudah pula aku bawa dari Solo. Dia akan menjadi teman Sabtu-Minggu, selain ESPN dan Star Sport, dan sorenya Liga Jarum Indonesia. Rutin saja.

Namun pada week end ini kantor kami mendapat undangan untuk menghadiri launching buku ’Republik Keluh Kesah’ yang ditulis oleh Dr Fuad Bawasier di Gedung Monumen Nasional pada Jumat malam. Jadilah aku mewakili kantor untuk berangkat. Dan temanku yang tinggal di Bogor mengajakku untuk ikut plesiran tempo doeloe di Kota pada Sabtu malam. Jadilah week end-ku lebih bervariasi.


Busway dan Fuad Bawasier

Aku dan satu staf kantor menumpang kijang staf lainnya yang akan pulang ke Tangerang. Kami turun di suatu tempat (aku sendiri tidak tahu namanya) di dekat Jalan Sudirman untuk pindah menggunakan busway menuju ke Jalan Merdeka. Perjalanan terpaksa pakai busway karena sopir kami harus pulang ke Cianjur. (Tidak enak rasanya menahan dia yang sudah meninggalkan keluarga sejak dari Senin.) Jadilah kami naik busway, atau si Bus TransJakarta. Kami berjalan memutar naik tangga metal yang kokoh. Tangga busway ini kelihatan mewah. Namun sayangnya sampah sudah mulai mengganggu pemandangan. Demikian juga dengan pengemis dan gelandangan yang kongkow-kongkow di sudut tangga.

Setelah membeli karcis seharga Rp 3.500 kami masuk ke ruang tunggu. Ruang tunggu ini nyaman. Ber-AC. Tak berapa lama bus datang. Setelah penumpang yang turun keluar dari bus, kami – para penumpang baru, memasuki bus. Meski harus berdiri, namun bus ini nyaman pula. AC dingin, bersih dan cepat. Setiap menjelang pemberhentian ada pengumuman nama stasiun pemberhentiannya dengan Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris. Beruntunglah Jakarta mempunyai TransJakarta sebagai sarana transportasi umum. Murah, nyaman dan cepat. Thanks Bang Yos!

Launching buku dilakukan di baseman Gedung Monumen Nasional. Pertama-tama kami menikmati makan malam yang disediakan panitia. Setelah menyantap ayam barberkiu dan jeruk Medan, saya masuk ke ruangan yang disediakan kursi kira-kira untuk 300-400 orang. Tari Saman membuka acara. Gondang Batak mengiringi sejumlah gadis manis yang menari Tor-tor. Setelah dua acara hiburan, barulah Pak Fuad Bawasier secara simbolis me-launching bukunya dengan memencet tombol.

Berikutnya beliau membagikan buku ke beberapa tamu undangan terhormat; diantaranya Pak Wiranto, Pak Kwik Kian Gie, Pak Rizal Ramli, Pak J Kristadi dan yang lain. Setelah para winasis tersebut istirahat sejenak, mereka diminta untuk memberi sambutan terhadap buku tersebut. Sayangnya, kecuali Pak Rizal Ramli, sambutan tak terlalu berhubungan dengan isi buku.

Pak Wiranto memuji keberanian Pak Fuad tanpa tahu apa isi bukunya. Pak Kwik, karena keterbatasan waktu, hanya menyinggung kehebatan Pak Fuad yang bisa menulis pendek tanpa kehilangan esensi, Pak Din Samsudin hanya menyoroti judul bukunya (tanpa menyinggung isinya). Pak Yahya Muhaimin demikian juga, hanya memuji keberanian si penulis. Kesempatan penerbit pun dipakai untuk ’promosi’, bukan membahas isi buku. Sayang. Acara yang kubayangkan sangat akademis, ternyata tak lebih hanya seperti resepsi makan malam dengan hiburan pidato tak bermutu. Tapi saya harus ucapkan terima kasih kepada Pak Fuad Bawasier yang telah memberi buku gratis. Artinya Hari Minggu aku takkan kesepian.


Plesiran Tempo Doeloe

’Aku jemput jam 5.15’ demikian SMS temanku yang berangkat dari Bogor. Segera aku tinggalkan Ideas for Development yang sedang menemaniku di depan laptop. Aku segera mandi dan bersiap-siap. Sudah setengah enam, tapi belum juga temanku muncul. ’Maaf kami baru sampai 30’ lagi. Macet’ SMS berikutnya muncul di hp-ku. Saya tidak mengerti bagaimana orang Jakarta bisa menjalani hidup seperti ini. Mau plesiran kok harus stres dulu karena macet. Apakah mereka tidak kehilangan mood? Atau jangan-jangan mereka telah mengembangkan sistem hormonal dalam tubuhnya, sehingga makin stres makin bisa menikmati plesiran. Walahualam.

Plesiran Tempo Doeloe diselenggarakan oleh Sahabat Musium. Bangganya, pesertanya 90 persen adalah anak muda. Senangnya melihat minat anak muda di Jakarta dengan kegiatan semacam ini. Bukan hura-hura genjreng-genjreng yang ditemani pil koplo dan alkohol.

Gedung Musium Bank Mandiri terletak di Jalan Pintu Besar Utara, Jakarta Kota. Gedung Musium Bank Mandiri ini dulunya adalah Gedong Nederlandsch Handel Maatschappij milik Belanda. Sedangkan nama jalan pada jaman itu adalah Binnennieuwpoortstraat. Nederlandsch Handle Maatschapij adalah Bank yang beroperasi di Ost Indische untuk mendukung bisnis perkebunan dari VOC. Kantor pusatnya sendiri di Amsterdam.  Sekarang menjadi ABN Amro. Sedangkan yang di Indonesia, pada tahun 1959 dinasionalisasikan menjadi Bank Bumi Daya dan akhirnya pada tahun 1999 menjadi Bank Mandiri.

Gedong ini luasnya 2,1 hektar. Terdiri dari 4 lantai dan ada menara di atapnya. Semuanya dipakai untuk musium. Di dalam musium ini kita bisa melihat berbagai peninggalan sejarah Bank di Indonesia, khususnya yang berhubungan dengan Bank Mandiri. Diantaranya adalah foto-foto gedung bank jaman Belanda di berbagai kota, seperti Semarang, Surabaya, Teluk Betung, Gorontalo, Ampenan, Pasuruan dan sebagainya; brankas jaman Belanda, alat-alat perbankan kuno dan sebagainya.

Acara pertama dari plesiran tempo doeloe adalah naik ojek sepeda menyusuri jalan-jalan mengunjungi beberapa bangunan bersejarah di Kota. Dari  Musium belok ke kiri melewati depan Gedong De Javasche Bank (Museum BI), belok kiri ke Jl. Bank, kemudian belok ke kanan ke Kali Besar Oost Straat (Jl. Kali Besar Timur). Gedung-gedung kuno (gudang VOC) yang sudah tak terawat berada di kanan kami, sementara Kali Besar di sebelah kiri menyuguhi kami dengan bau yang menyesakkan.

Kami masuk ke Amsterdam Straat (Jl. Nelayan Timur), sampai akhirnya berhenti di Menara Syahbandar. Menara Syahbandar didirikan tahun 1839. Menurut penjelasan dari panitia, menara ini dulunya digunakan untuk mengawasi kapal-kapal yang masuk ke Bandar Sunda Kelapa. Maklum Kumpeni mempunyai banyak musuh, sehingga harus ada menara pengawas yang dilengkapi dengan enam meriam yang mengarah ke laut lepas. Menara ini miring, sehingga beberapa orang menyebut sebagai Menara Piza.

Setelah memandangi kota Jakarta diwaktu malam dari puncak menara, kamipun melanjutkan perjalanan ke Jembatan Gantung atau nama lamanya adalah Jembatan Kota Intan (Hoenderpasserbroeg). Jembatan yang konon dulunya bisa diangkat ketika ada kapal lewat. Setelah puas, kami kembali ke Musium untuk makan malam.

Krontjong Toegoe menemani makan malam kami. Lagu-lagu krontjong tempoh doeloe didendangkan. Diantaranya adalah lagu Nina Bobok dalam Bahasa Portugis. Sementara rombongan mengantri Nasi Ulam Pak Misjaya. Berikut saya cuplikkan Kisah Nasi Ulam Misjaya yang dibuat oleh panitia:

Pada tahon 1964 ada pedagang asal Kampoeng Bebek bernama Tjek Lam Seng jang memperkerdjaken tiga orang pemikoel nasi oelam, bernama: Syarif, Aheng dan Misjaya. Marika bertiga mendjadi andalan Empek Lam Seng dalem mendjadjaken itoe dagangan keloear-masoep kampong. Di tahoen 1965, Tjek Lam Seng hibahken semoea oesaha pikoelan ini beserta peralatannja kepada ketiga orang itoe.

Modal boeat beli makanan djoega recept aseli dari Empek Lam Seng dibriken semoea agar marika bisa mandiri meneroesken ini oesaha. Bapak Aheng landjoetken djoealannja di bilangan Pasar Ikan hingga achir hajatnja, sedangken Bapak Syarief mendjadi Kiyai di Java. Sekarang jang djoealan nasi oelam tjoema Bapak Misjaya sadja, dia orang boeka oesaha di depannja Kelenteng Toasebio, jang pernahnja ada di Toasebiostraat (Jl. Kemenangan III). Kaloe kitaorang perhatiken ini nasi oelam, bisa diliet berbagi oensoer boedaja di dalemnya, ada bihoen dari makanan chas Tjina, koeah semoer dari Belanda, dan oensoer locaal dari kroepoek, emping dan daoen kemangi.

Saya menyumbangkan Bengawan Solo, sedangkan teman saya menembangkan lagu krontjong yang lebih sulit, yaitu Bunga Anggrek, di ruang makan dan kemudian Bandar Jakarta di atap Gedung Musium. Berikut adalah penjelasan dari panitia tentang sejarah Krontjong Toegoe:

Muziek krontjong, moela-moela dateng ke Tanah Air pada sekitar tahon 1661, tatkala VOC takloeken Portugis di babagi wilajah djadjahannja, teroetama di Sri Lanka, Malabar, Malaka, Koromandel (India). Laloe kamodian, orang-orang Portugis ditangkep en dibawa ke Batavia. Kerna bui (pendjara) di Batavia (di sekitar Djakarta-Kota) soeda penoeh, marika ditawan di bilangan Kampong Toegoe, jang doeloenja meroepaken hoetan-beloekar.

Lelohoer warga di Kampong Toegoe adalah menganoet igama (agama) Katholiek, namoen marika dipaksaken oentoek memeloek igama Protestan, dibebasken dengen seboetan: Mardijker (orang jang dibebasken). Pembebasan ini dilakoeken pada tahon 1841. mereka poenja status dikassie sama dengen orang boemipoetra. Saat ini kitaorang misih bisa mendjoempai ketoeroenan Portugis di ini kampong. Nama-nama familie jang misih ada di Kampong Toegoe adalah: Quiko, Andries, Michilies, Braume, Cornelis, Ambrahams dan Solomons, adapoen nama familie jang njaris poenah adalah: Parela, Marcos, Mayo, Hendriks dan Seymons.

Keturunan merekalah yang melestarikan Krontjong Toegoe.

Di atap Musium kami disuguhi film dokumenter tentang Batavia tahun 1940. Film dokumenter yang dibuat oleh NV Belanda ini nampaknya dulunya dipakai sebagai iklan untuk menarik orang Belanda berkunjung ke Batavia. Selain menggambarkan fasilitas Batavia (gedung, jalan, kereta api dan suasana kota), film ini juga menyajikan Bandung, Tangkuban Perahu, adu kambing di Garut, Kebun Raya Bogor dan Pabrik Gula (Colomadu?) di Solo. Sambil menonton film tersebut, kami melanjutkan dendang bersama krontjong toegoe. Di atap musium ini beberapa peserta mulai berani ikut menyanyi. Teluk Bayur dan Gambang Semarang dinyanyikan oleh peserta.

Wah jika Jakarta sekarang adalah seperti Batavia di taon 1940, saya pasti sudah mencintainya. Sayangnya, jalan-jalan yang dulu berdampingan dengan trem kota, sekarang dijejali oleh mobil-mobil pribadi. Saya yakin jika pengembangan Jakarta meneruskan apa yang sudah dimulai oleh Belanda, maka Jakarta akan seperti London yang nyaman. London nyaman karena tidak ada kemacetan. Transportasi rakyat nyaman, dan sungai-sungainya bersih jernih. Namun kita patut berterima kasih kepada Bang Yos yang sudah menghidupkan TransJakarta, yang sedikit bisa mengembalikan Jakarta menjadi Batavia. Semoga Bang Fauzi melanjutkannya.

Kami bubar jam 12 tengah malam. Jalanan masih juga macet. Untungnya, Pak Adeng, sopir kami tahu jalan tikus, sehingga bisa berliku, meliuk menghindari kemacetan di tengah malam.

Macet, masih menghalangi cinta saya kepada Jakarta. Sayang…


Thanks to Rela dan Jiway Tung yang sudah menyumbang foto-foto yang menyertai tulisan ini.


[1] Ideas for Development adalah buku karangan Robert Chamber yang dia kirimkan kepadaku untuk diterjemahkan ke Bahasa Indonesia

About Handoko Widagdo

Berasal dari Purwodadi, melanglang buana ke berpuluh negara. Dengan passion di bidang pendidikan, sekarang berkarya di lembaga yang sangat memerhatikan pendidikan Indonesia. Berkeluarga dan tinggal di Solo, kebahagiaannya beserta istri bertambah lengkap dengan 3 anak yang semuanya sudah menjelang dewasa.

My Facebook Arsip Artikel

26 Comments to "Plesiran Tempo Doeloe: Belajar Mencintai Jakarta"

  1. Handoko Widagdo  6 May, 2011 at 17:58

    Dear Andre Michiels, terima kasih untuk koreksinya.

  2. andre michiels  6 May, 2011 at 09:32

    satu hal yang anda tulis mengenai Fam ada yang salah seharusnya MICHIELS, dan yang tampil di panggung dengan latar belakang PLESIRAN TEMPO KRONTJONG TOEGOE dst dst itu bukan Group KRONTJONG TOEGOE tapi Group lain dari kampoeng Tugu yang bernama Keroncong CAFRINHO Tugu,

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.