[Serial Baltyra] Orang-orang Terlupakan Dalam Proklamasi: Abdulrachim

Iwan Satyanegara Kamah – Jakarta


Abdulrachim

Menjaga Proklamasi Secara Spiritual

ADA dua tokoh nyaris terlupakan yang memilik andil penting memperkuat semangat untuk mempertahankan cita-cita 17 Agustus 1945. Tokoh pertama Raden Mas Pandji Sastrokartono dan satunya lagi adalah Abdulrachim.

Kedua tokoh itu tidak punya tempat yang luas di dalam memori generasi masa lalu, apalagi generasi kini dan juga mendatang. Namun Sastrokartono sedikitnya punya nama dan punya kelebihan untuk dikenang oleh banyak orang. Dia adalah tokoh kebatinan dan kakak kandung R.A. Kartini yang sangat dihormati Soekarno, namun terlalu cepat pergi meninggalkan negeri ini untuk selamanya di tahun 1952. Jadi dia tidak terlalu banyak melihat perjalanan panjang sebuah negeri yang banyak didukungnya secara spiritual.

Lalu siapa Abdulrachim? Nama ini juga tidak membuat orang tertarik untuk mengenangnya, karena sulit untuk mencari tahu siapa dia sebenarnya dan apa jasanya. Tidak banyak juga tulisan untuk melukiskan peranannya dalam rangkaian kata-kata indah dan penuh pujian. Hanya dokter pribadi Presiden Soekarno yang mengulas secara singkat peranannya di awal proklamasi dan Chairul Basri, seorang purnawirawan militer, yang menuturkan pengalaman Abdulrachim di saat-saat negeri yang dilahirkan pada 17 Agustus 1945 ini dalam masa kritis.

Abdulrachim atau Kakak Abdulrachim adalan panggilan akrab dr. Soeharto, dokter pribadi dan kesayangan Presiden Soekarno. Beliau adalah ayah kandung Rachmi Hatta, istri Wakil Presiden Mohammad Hatta dan juga kakek koreografer Jay Soebijakto. Hanya itu deskripsi dirinya yang paling tepat untuk melukiskan sosoknya.

Saya beruntung bisa berkenalan dengan cucunya yang menjadi kakak kelas saya waktu kuliah di FISIP UI dan kenal dekat dengan cicitnya yang cantik jelita, yang juga teman kerja baik saya di kantor. Namun bukan kedekatan ini yang memaksa saya menyebut Abdulrachim sebagai sosok terlupakan dalam proklamasi. Memang beliau pantas disebut dalam kesunyian melupakan orang-orang berjasa akan kelahiran negeri ini.

Dari perantaraan dokter kesayangannya itu, Soekarno berkenalan dan menjalin persahabatan dengan baik, bahkan kelak menjadi seperti “guru spiritualnya”. Sedangkan Hatta yang rasionalis juga sebagai mantunya, tidak banyak diketahui umum secara tertulis intensitas hubungannya dengan mertuanya itu.  Abdulrachim memang dikenal banyak kalangan sebagai “orang pintar” yang memiliki kemampuan spiritual cukup tinggi untuk menyembuhkan sebuah penyakit, termasuk juga membersihkan hal-hal negatif yang secara spiritual yang bisa melunturkan semangat dan nilai perjuangan 17 Agustus 1945.

Ketika negeri ini penuh hingar bingar di pertengahan tahun 1960an, dengan perselisihan dan benturan kepentingan politis yang mempunyai pilihan semangat untuk mengubah atau mempertahankan nilai-nilai 17 Agustus 1945, Abdulrachim tampil kembali secara diam-diam dalam kondisi kesehatan yang memburuk. Seolah ‘sang penyembuh’ datang kembali menemui pasiennya yang sudah lama lupa berobat dan menjaga kesehatan. Siapa pasiennya? Yaitu semangat 17 Agustus 1945 yang dilontarkan oleh sahabat dekatnya (Soekarno) dan mantunya (Hatta).

Abdulrachim selalu mengamati perkembangan negeri ini secara batiniah, sejak 17 Agustus 1945 hingga akhir hayatnya. “Meskipun jarang bertemu, tapi saya merasa kami berdua seolah-olah  saudara kembar. Saya senang jika dia senang, saya sedih jika dia sedih”, katanya mengambarkan persahabatannya dengan Soekarno yang hari lahirnya sama dengan dia namun Soekarno lebih muda beberapa tahun.

Tidak banyak yang menyadari bahwa Abdulrachim-lah yang “memaksa” Presiden Soekarno untuk pasti turun tahta dari kekuasaannya yang sudah digenggamnya selama lebih 20 tahun. “Bung Karno itu sedang dalam ujian. Dia dililit oleh hawa nafsunya”, komentarnya kepada dr. Soeharto setelah bertemu Soekarno terakhir kalinya di Istana Merdeka akhir Februari 1967. Sebulan kemudian setelah pertemuan mereka berdua, Abdulrachim wafat ketika Soekarno tak lagi di mahligai kekuasaan.

Beberapa hari setelah pertemuan rahasia itulah, Soekarno tanpa ada angin dan badai tiba-tiba rela menyerahkan kekuasaannya begitu saja tanpa perlawanan politik atau syarat apapun kepada penggantinya. Peristiwa itu terjadi di Istana Merdeka hari Rabu malam tanggal 22 Februari 1967 pukul 19.30 WIB, ketika Jenderal Soeharto mengumumkan penyerahkan kekuasaan kepadanya dari Presiden Soekarno. Terhitung hari itu, Soekarno menjadi rakyat biasa.

Peranan Abdulrachim dalam ikut melahirkan dan mempertahankan semangat 17 Agustus 1945, memang tidak bisa dilihat nyata oleh banyak orang. Dia bermain bukan dalam tatanan umum atau awam yang bisa langsung dinilai. Dia berkarya secara spiritual menjaga negara 17 Agustus 1945 dengan banyak memberi nasihat spiritual kepada Soekarno bila diminta, selama sang presiden berada di atas segala-galanya.

Ketika sudah sakit-sakitan tak berdaya, Soekarno sempat menitipkan salam kepada dokter Suharto, dokter pribadinya . “Sampaikan salamku kepada teman-teman, terutama Kakak Abdulrachim”, kata Soekarno yang terbaring lemah. Padahal ‘Sang Kakak’ sudah lama wafat. (*)

SUMBER:

1. Soeharto, DR. R, “Saksi Sejarah”. Jakarta: PT Gunung Agung, 1982.

2. Kompas, “Mulai dan Berakhirnya Pemerintahan Bung Karno”, 2001

3. Team Dokumentasi Presiden RI, G. Dwipayana dan Nazaruddin Sjamsuddin (ed.), “Jejak Langkah Pak

Harto (1 Oktober 1965-27 Maret 1968)”, Jakarta: PT Citra Kharisma Bunda, 2003.

53 Comments to "[Serial Baltyra] Orang-orang Terlupakan Dalam Proklamasi: Abdulrachim"

  1. ridone  10 May, 2011 at 07:56

    Infonya menarik dan sarat akan nuansa mistik…
    Minta izin copy fotonya yach… thaaank’s

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.