Thursday, 29 July 2010
Abhisam DM
Penyesalan selalu menyusul dari belakang. Dan sayangnya waktu tidak bisa diputar mundur, tidak seperti kita yang bisa sesuka-suka merubah jam tangan atau membolak-balik kalender.
Makassar dan matahari yang semakin uzur. Kira-kira pukul 16.30 waktu setempat. Pesawat sudah mendarat setengah jam lalu di bandara megah ini yang konon pembangunannya menghabiskan 500 milyar rupiah lebih. Mungkin sebanding nilainya. Dulu bandara ini, maaf, lebih mirip terminal bus, padahal ia adalah gerbang udara di Indonesia Timur.
Kota ini, setahuku, satu-satunya kota di Indonesia Timur yang memilliki jalan tol. Relatif mahal memang. Anda harus mengeluarkan delapan ribu rupiah untuk sekitar 13 km. Tapi harus diakui, jalan tol lumayan memangkas jarak dari kota ke bandara jadi lebih pendek. Memangkas waktu pula tentunya. Tanpa tol dari kota Makassar ke bandara bisa memakan waktu sampai satu jam. Dengan tol, cukup setengah jam saja.
Aku bersantai dulu, makan dan minum, sebelum nanti menempuh perjalanan panjang ke Mamuju, ibukota provinsi Sulawesi Barat. Perjalanan darat. Kira-kira 12 jam.
Dari Makassar masuk ke Kabupaten Maros. Pukul 8 malam WITA kurang sedikit. Maros menyajikan cukup keramaian. Banyak tempat-tempat usaha, ruko, warung, pedagang kaki lima, juga hotel-hotel transit. Bandara dekat dari sini. Orang-orang membentuk kerumunan di titik-titik yang terpisah, sebagian hanya lalu lalang saja. Kendaraan menyemuti jalanan.
Ada yang cukup unik. Perhatianku langsung tercuri. Sepanjang melintasi Maros, setidaknya aku melihat tiga resepsi pernikahan. Semuanya diselenggarakan di rumah-rumah penduduk, meluberkan orang dan kendaraan sampai ke bibir jalan. Tidak sampai menyebabkan macet memang, tapi cukup untuk membuat kendaraan melintas pelan. Itu baru acara yang tampak di sepanjang jalan utama, di jalan-jalan lain kota ini mungkin ada juga. Bisa jadi.
Ini bulan Agustus. Dalam hitungan Islam ini bulan Sya’ban. Aku bingung mengapa banyak sekali acara pernikahan. Apa ada hubungannya dengan Agustus atau Sya’ban? Segera aku dapat penjelasan. Orang-orang di sini menggelar acara pernikahan pasca panen padi. Salah satu alasannya, biaya yang dibutuhkan cukup besar. Setahun mereka bisa tiga kali panen, dan tiap pasca panen padi itulah acara pernikahan banyak digelar.
Masuk ke Kabupaten Pangkep. Macet mengurung kendaraan yang melintas di sini. Mobil, truk, bus, tertahan. Sementara motor bisa mencari celah untuk terus merayap. Jalan sedang dibeton.
Malam menggerakkan jarum pendek ke angka sembilan. Jarum panjang sampai di angka satu. Waktu Indonesia Tengah jam sembilan lebih lima menit. Kemacetan terlihat panjang.
Mataku coba memastikan, di seberang jalan ada tulisan agak besar dan terlihat jelas. Dufan dan Waterbom. Tempatnya sepertinya cukup lebar, entah panjangnya. Aku agak bingung, mengapa tempatnya di Pangkep. Mengapa tidak di Maros, atau Makassar sekalian. Entahlah.
Lepas dari jalan yang sedang dibeton kendaraan tidak bisa melintas cepat. Banyak lubang. Lalu episode macet di Pangkep berlanjut. Masih ada beberapa jalan dibeton plus bonus tiga jembatan besar sedang diperbaiki. Butuh waktu cukup lama untuk keluar dari Pangkep. Lagi, ada beberapa resepsi pernikahan di sepanjang jalan utama. Panen padi juga di sini, batinku.
Akhirnya lepas dari Pangkep. Mulai masuk ke Barru. Jarum pendek digiring malam ke angka sebelas, dempet dengan jarum panjang. Barru lebih sepi dari dua kabupaten sebelumnya. Entah memang lebih sepi atau karena malam sudah lebih pekat. Kedua mataku juga mulai dirundung kantuk. Berat sekali rasanya. Aku ingin bertahan, tapi kantuk seolah minta dukungan dari rasa pegal dan gelap. Aku kalah.
Sampai di Kota Parepare aku dibangunkan, diajak menunaikan hak untuk perut. Namun kantuk, pegal, dan gelap membekapku berbarengan. Aku tak berdaya, hanya bangun sebentar lalu kembali tidur. Aku hanya sempat melirik ke lingkaran kecil di pergelangan tangan kiriku yang terus dipacu malam. Jarum pendek diantara angka dua belas dan angka satu, jarum panjang di angka tujuh.
Di Kabupaten Polewali Mandar aku bangun. Kali ini bangun sendiri, bukan dibangunkan. Ada sebuah papan yang tulisannya tertangkap jelas, Polewali Mandar (aku biasa berpatokan pada papan atau tulisan apa saja untuk mengetahui ada di kabupaten/ kota mana). Ah, sudah masuk Sulawesi Barat ternyata. Berarti aku melewatkan satu kabupaten di Sulawesi Selatan, Pinrang. Aku mengutuk koalisi kantuk, pegal dan gelap. Mereka terus saja membekapku. Padahal ada dua kecamatan “unik” di Polewali Mandar yang akan kulewati.
Pertama, kecamatan Wonomulyo. Konon, kecamatan yang dihuni oleh mayoritas orang Jawa ini teramai di Sulawesi Barat. Ia lebih ramai dibanding ibukota kabupatennya, Polewali Mandar, dan bahkan ibukota provinsinya, Mamuju. Pasar di Wonomulyo nyaris tidak pernah sepi selama dua puluh empat jam. Ia adalah jantung perekonomian Sulawesi Barat. Melewati kecamatan tersebut lalu membuktikan sendiri keramaiannya saat tengah malam tentu menjadi pengalaman menarik.
Kedua, kecamatan Campalagian. Dari salah satu desanya, desa Lapeo, tersebut sosok ulama kharismatik bernama KH. Muhammad Taher. Barangkali sosok tersebut seperti Sunan Gunung Jati di Jawa Barat, Syekh Arsyad Al-Banjari di Kalimantan Selatan, Syah Kuala di Aceh, Sayyid al-al laamah Idrus Bin Salim Al Jufri di Sulawesi Tengah atau Sultan Haji di Tanjung Pinang. Barangkali. Tapi yang jelas sosok tersebut melegenda, begitu lekat dengan indentitas masyarakat dan tempatnya. Aku sempat diberi foto legenda Mandar tersebut, orang yang memberi lalu berkata, “Kalau jumpa orang Mandar di Jakarta kasih lihat foto ini, kalau dia tidak kenal berarti bukan orang Mandar!” Di desa Lapeo itulah berdiri masjid peninggalan legenda Mandar, dan itu terletak di pinggir jalan utama.
Sialnya –atau lemahnya- aku. Kantuk, pegal dan gelap berhasil mencapai tujuan koalisi mereka. Aku tertidur.
Baru di Majene aku merasa segar. Jarum pendek berada di posisi tanggung mendekati angka lima, jarum panjang merapat ke angka sembilan. Koalisi kantuk, pegal dan gelap sepertinya runtuh. Biasa, ketika tujuan belum tercapai koalisi cenderung kuat. Namun ketika tujuan telah tercapai koalisi cenderung melemah, bahkan hancur. Ini hukum dasar kepentingan. Dan koalisi terkutuk, kantuk, pegal dan gelap setelah mencapai tujuan –membuatku tidur- sepertinya sibuk dengan konflik kepentingan di antara mereka.
Melintas persis di pesisir selat Makassar, rembulan masih bertahta. Utuh dan melingkar penuh dalam temaram menjelang fajar. Beberapa kapal nelayan masih memeluk sepi. Bebatuan berserak, tanaman berkerumun membentuk rawa. Sungguh indah di Majene.
Padahal perairan ini terkenal ganas. Di sinilah pesawat Adam Air jatuh. Di sini pula KM Teratai Prima yang berpenumpang kurang lebih 300 orang tenggelam. Cerita orang-orang perairan Majene angker. Tapi menjelang fajar ini aku sama sekali tidak menangkap keangkeran itu. Sebaliknya aku malah teringat Kiai mBeling, “Sungguh negeri ini adalah penggalan surga. Surga seakan-akan pernah bocor dan mencipratkan kekayaan serta keindahannya. Cipratan kekayaan serta keindahannya itulah: Indonesia.”
Mulai masuk Mamuju. Jalanan lumayan bagus, tapi kali ini aku harus mengutuk kelokan yang seolah tanpa putus. Belum habis belok kiri sudah belok lagi ke kanan, sebaliknya, belum habis belok kanan sudah belok lagi ke kiri. Kira-kira begitu hiperbolanya. Memang tidak separah kelokan di Flores saat bulan Maret aku kesana. Tapi kelokan seperti ini pun cukup membuatku mual.
Isi perutku seperti ikan, kelokan-kelokan jalan seperti umpan. Dan umpan itu sungguh ingin memancing keluar isi perutku. Aku jadi berharap pada koalisi kantuk, pegal dan gelap untuk menghadapi jalan berkelok-kelok ini. Namun koalisi itu sudah runtuh, apa boleh buat. Aku harus mencari siasat lain. Hidup memang begitu, buntu di satu siasat harus segera mencari siasat yang lain.
Soal ini temanku pernah bertanya, “Apakah hidup harus selalu disiasati?”
“Ya, tentu,” jawabku.
“Lalu apakah Tuhan juga bisa disiasati?”
Aku ragu-ragu, penuh ketidakyakinan.
“Bisa, tapi harus dengan tanda petik,” temanku, salah satu pengasuh di pondok pesantren, menjawab sendiri pertanyaannya.
“Maksudnya?”
“Ah, sudahlah, kau harus lebih banyak belajar pada Abu Nawas.”
Aku bingung, dan temanku sepertinya menangkap dengan baik kebingunganku.
“Contoh begini, waktu itu rumah Abu Nawas kemasukan pencuri. Ia sembunyi. Bukan karena apa-apa. Abu Nawas sembunyi karena malu pada si pencuri…”
“Lho, kenapa?” Aku langsung memotong.
“Sebab tidak ada apa-apa di rumahnya yang bisa dicuri.”
Aku mengerutkan dahi, “Lalu apa hubungannya dengan menyiasati Tuhan?”
“Kau pikirlah sendiri, agar tidak pecah di mulut, tapi pecah di perut.”
Aku semakin bingung. Lagi-lagi temanku menangkap dengan baik kebingunganku, tapi kali ini tanpa penjelaskan lebih lanjut. Ia pamit lalu pergi, “Aku harus ngajar ngaji.”
Cukup lama jalan penuh kelokan di Mamuju memancing keluar isi perutku. Ada satu jam lebih, bahkan mungkin hampir dua jam. Tapi aku sudah menemukan siasat. Sebelum berangkat sengaja kusiapkan permen karet with baking soda di saku jaket. Dan ternyata itu berguna sekali mengurangi mual.
Jelas sekali terlihat di depan, gapura SELAMAT DATANG DI KOTA MAMUJU. Aku sungguh lega. Akhirnya, sampai juga setelah dua belas jam perjalanan darat. Apalagi setelah perutku dikocok habis di dua jam terakhir. Melihat gapura itu seperti pendaki tersesat yang melihat desa.
Setelah melewati gapura, isi kota Mamuju tampak tidak terlalu ramai. Apalagi sebagai ibukota provinsi. Terminal, pasar, pertokoan, perkantoran, warung, relatif sepi. Bagi anda yang belum pernah ke sana, jangan pernah sekalipun menarik perbandingan dengan ibukota provinsi di Jawa. Bahkan dengan kota Magelang di Jawa Tengah saja, Mamuju masih jauh lebih sepi.
Jarum pendek di angka delapan dan jarum panjang di angka sebelas membentuk sudut sembilan puluh derajat. Aku sampai di hotel Srikandi. Setelah menyantap sarapan pagi, mandi, menyeruput secangkir kopi dan menyulut rokok, sejenak kunyalakan laptop. Sekadar memastikan tugas-tugas dari kantor. Setelah itu kantuk dan pegal kembali menyerang. Ah, mereka lagi, seperti politisi bangsa ini saja; urusannya hanya kepentingan-kepentingan jangka pendek belaka. Tapi kali ini aku tidak mengutuk, sebaliknya kumatikan lampu kamar dan kututup tirai jendela. Biar gelap juga datang. Biar koalisi lengkap. Biar gambaran politisi bangsa ini makin jelas.
Dua belas jam perjalanan darat Makassar-Mamuju melahirkan kepuasan tersendiri. Observasi langsung dari Makassar, Maros, Pangkep, Barru, Parepare, Pinrang, Polewali, Majene hingga sampai ke Mamuju, meskipun hanya di sepanjang jalan utama, adalah kesempatan yang patut disyukuri. Aku senang, puas juga.
***
Kira-kira jam sebelas malam Waktu Indonesia Tengah. Telepon selularku bunyi, lagu Another Brick In The Wall Part II dari Pink Floyd, “We don’t need no education. We don’t need no thought control.” Ada panggilan masuk. Dari ibuku. Ah, paling hanya ingin cerita-cerita seperti biasa, pikirku.
Ibuku memang biasa begitu. Ketika aku sedang dimana, beliau menelpon, sekadar bertukar cerita, mengingatkanku tentang satu dua hal, dan memberi beberapa nasehat.
“Pakde Rendra meninggal,” pelan sekali suara ibuku.
Aku ingin tidak percaya.
“Barusan mama dapat sms.”
“Innalillahi wa inna ilaihi roji’un.”
Telepon ditutup.
Langsung kunyalakan televisi. Kucari dari satu channel ke channel lain. Belum ada beritanya. Tapi pasti ada, yakinku, minimal di running text. Sungguh keterlaluan televisi jika gosip-gosip murahan selebritis saja selalu dapat tempat, bagaimana mungkin orang sekelas Rendra ketika meninggal dunia diacuhkan.
Sekitar lima belas atau dua puluh menit –ternyata televisi tidak seburuk itu- berita mulai tayang. Memang benar “Burung Merak” telah pergi. Aku terpaku pada televisi. Selang beberapa saat terasa ada yang basah di mataku, begitu aku sadar beberapa butir sudah mengalir turun melalui lika-liku pipiku. Cepat, dan dingin.
Orang bisa punya bermacam alasan untuk sedih. Semakin banyak alasan bercampur, kesedihan akan semakin terasa sesak. Aku setidaknya punya tiga alasan untuk sedih. Pertama, Rendra, adalah tokoh yang kukagumi. Kontribusinya bagi bangsa ini tidak perlu dipertanyakan lagi. Sederet orang bisa bersaksi, mereka hadir pada saat pemakaman: Putu Wijaya, Sutardji Calzoum Bachri, Sapardi Djoko Damono, Adi Kurdi, Deddy Mizwar, Iwan Fals, Sawung Jabo, Ian Antono, Reni Djayusman, Novia Kolopaking, Oppie Andaresta, Ine Febrianti, Jajang C. Noor, Jaja Miharja, Yessi Gusman, Jose Rizal Manua, Butet Kertarajasa, Slamet Rahardjo, Emha Ainun Najib, Yenny Wahid (mewakili Abdurrahman Wahid yang sedang sakit), Parni Hadi, Rosihan Anwar, Jero Wacik, Djusman Syafii Djamal, Muhammad Nuh, Rachmat Witoelar, Moerdiono, Nurmahmudi Ismail, Ahmad Syafi’I Ma’arif, Rizal Mallarangeng, Sri Bintang Pamungkas, Hariman Siregar, Anies Baswedan, Arif Rahman, Eep Syaefullah Fatah, Yudi Latif, Adnan Buyung Nasution, Todung Mulya Lubis, Rosiana Silalahi, Boediono, Soetrisno Bachir, Eros Jarot, Rizal Ramli, Jimly Asshiddiqie, Bens Leo, dan lainnya.
Kita menyandang tugas, kerna tugas adalah tugas.
Bukannya demi sorga atau neraka.
Tetapi demi kehormatan seorang manusia
(WS RENDRA, SAJAK SEORANG TUA UNTUK ISTERINYA)
“Tidak ada yang bisa menggantikan Rendra,” kata Boediono, “Dia jiwa yang berjuang keras. Dia mampu berdiri di atas kakinya sendiri di saat orang tidak bisa berdiri. Semestinya anak muda sekarang menjadikan dia sosok teladan.”
“Di akhir hayatnya, Rendra tak mau membicarakan kondisi kesehatannya, beliau justru berbicara soal nasib rakyat Indonesia,” kata Deddy Mizwar.
“Rendra sebenarnya pahlawan,” kata Ahmad Syafi’i Ma’arif.
“Rendra adalah penyair besar dengan karya besar. Banyak seniman punya karya besar, tetapi tidak punya kepribadian besar. Rendra mempertautkan orang besar dengan karya besar. Ia seniman yang punya integritas,” kata Sutardji Calzoum Bachri.
“Rendra mengajarkan saya untuk tidak takut susah saat berjuang,” kata Adnan Buyung Nasution.
“Rendra adalah sosok guru yang membiarkan murid-muridnya menjadi pintar,” kata Putu Wijaya.
“Allah sangat menyayangi Rendra sehingga memanggilnya pada hari yang indah, yaitu pada malam Jum’at di saat bulan purnama bersinar terang. Saya tidak pernah melihat seniman yang dipanggil Tuhan pada bulan purnama yang terang,” kata Emha Ainun Najib.
Iwan Fals tidak berkata apa-apa. Bercucuran air mata, ia pergi meninggalkan prosesi pemakaman Rendra yang belum usai, masuk ke dalam pendopo, duduk di ruang utama, dan terus mengucurkan air mata.
Kedua, penyesalan. Dua atau tiga minggu lalu berkali-kali ibuku meminta, sekadar menyempatkan diri menjenguk almarhum waktu masih terbaring di rumah sakit. “Lagipula tidak ada perwakilan keluarga di sana,” begitu kata ibu. Namun karena satu dan dua hal aku selalu berhalangan menjenguk.
Niat adalah kekuatan dahsyat melebihi apapun yang bisa dibayangkan. Abu Hurairah mengajarkan ini. Banyak hal dibukakan dan dimudahkan karena kekuatan niat. Kemustahilan lenyap begitu laut membiarkan dirinya terbelah sebagai jalan lewat niat. Api pun segan, lalu membiarkan dirinya dingin ketika tahu yang akan dihanguskannya itu niat. Segala yang tidak masuk akal terbukti begitu banjir datang dan perahu niat menjadi penyelamat. Niat pula yang menghimpun ijin untuk menghidupkan segala yang sudah mati.
Aku kehilangan kekuatan niat itu. Kesibukan, atau apapun saja, mestinya bukan alasan. Akhirnya Rendra dipanggil tanpa aku sempat membesuknya. Lebih lagi, melayat pun aku tidak bisa.
Ketiga, sejarah. Kehadiranku, menjenguk atau melayat, tentu tidak akan berarti apa-apa. Almarhum adalah tokoh besar dengan reputasi internasional. Tapi itu menjadi penting sebagai penghormatan terhadap sejarah. Sebagai, meminjam istilah Milan Kundera, perjuangan ingatan melawan lupa. Juga, sebagai usaha mengenakan Jas Merah peninggalan Sang Proklamator.
Hampir empat puluh tahun sejarah menyusun hubungan keluargaku dengan Rendra. Sejarah itu bahkan lebih tua dariku. Bermacam kedekatan pasti tumbuh. Berbagai pengaruh pasti saling silang. Semuanya menyusun warna-warna. Dan itulah yang ingin kuberi penghormatan.
***
Dari Mamuju aku kembali ke Makassar melalui jalur semula ketika berangkat. Jalur yang dibalik sekarang: Mamuju – Majene – Polewali – Pinrang – Parepare – Barru – Pangkep – Maros – Makassar. Tapi di Polewali aku harus tinggal dulu beberapa hari karena tugas.
Kusempatkan menyelesaikan tulisan ini dengan dipacu lagu Willy, Iwan Fals, yang berulang-ulang melantun dari laptopku, “Di mana kini kau berada? Tetapkah nyaring suaramu? Di mana runcing kokoh paruhmu? Tetapkah angkuhmu hadang keruh?”
Dari album Ethiopia, tahun 1986, semuanya terasa dekat, bahkan seperti menyatu.
“Tuhan, aku cinta pada-Mu.” Bait terakhir dari puisi terakhir WS Rendra di saat-saat terakhirnya. Semoga Cak Nun benar, tanggal 6 Agustus 2009 –malam Jum’at dan purnama terang- malaikat Izrail datang menjemput, lamaran cinta Rendra diterima Allah. Amin.
Ketika maut mencegatnya di delapan penjuru
Sang ksatria berdiri dengan mata bercahaya
Hatinya damai, di dalam dadanya yang bedah dan berdarah,
karena ia telah lunas menjalani kewajiban dan kewajarannya.
(WS RENDRA, SAJAK PEPERANGAN ABIMANYU)
Polewali Mandar
9 Agustus 2009
Ilustrasi: skyscrapercity.com & melayuonline.com
July 30th, 2010 at 17:16
mas ihba ini “pinter” menjebak…kirain “hanya” laporan perjalanan… ternyata itu hanya hiasan..malah ga bisa “dimakan”….
keren mas…luar biasa!
July 30th, 2010 at 01:49
Alexa: nicotin war he he he…biarlah nanti Abhisam menceritakan tentang pengembaraannya…
July 29th, 2010 at 20:59
Duh, jadi kangen Sulawesi…. Mas, rumah tongkonannya beda sama yang di Toraja ya?
July 29th, 2010 at 20:55
DA…lah kok perang sih…ikutan relawan ke jalur Gaza…wuah ckckck…
July 29th, 2010 at 20:54
Alexa: iya kita tunggu ceritanya aja, sedang perang dia tuh…
July 29th, 2010 at 20:16
Huuum Abisham lagi melanglang buana tho…ditunggu deh oleh2…tulisannya
July 29th, 2010 at 19:39
Setelah aku membaca kembali tulisan Abhisam ini untuk yang ketiga kalinya, uhhh….tak terasa kok berlinang air mata ya…terharu dan juga perasaan-perasaan lain bercampur di hati.
July 29th, 2010 at 18:54
Kapan ya bisa nulis serapih ini?
July 29th, 2010 at 17:24
mas Abhisam wuih….cerita perjalanan yang indah sekali, bisa membawa pembaca serasa ikut dalam setiap langkah dan ikut dalam setiap percakapan. Banyak hal yang ditulis disini, kehidupan sosial, religius, sampai kritik. Di tulis dengan gaya yang sangat apik, enak dibaca, dan mudah dipahami. aku sangat menyukai percakapan dalam tulisan ini.
Semoga cepat ikutan bercanda-bercindi lagi di baltyra ya..!
Jc says: Abhisam..i miss you so much! (he he…ngumpet ahh…takut dibalang sendal).