[Serial Baltyra] Orang-orang Terlupakan Dalam Proklamasi: Ignatius Joseph Kasimo

Iwan Satyanegara Kamah


Ignatius Joseph Kasimo

Memberi makan proklamasi

KETIKA pertama kali negeri ini merencanakan, memiliki, mengerjakan dan menyelesaikan sebuah rencana pembangunan berkala, sebuah nama disebut-sebut untuk dikenang bagaikan semerbak wangi parfum.

Untuk pertama kalinya sejak merdeka tanggal 17 Agustus 1945, Indonesia benar-benar berhasil melakukan sebuah rencana besar program pembangunan berkala pada tahun 1974, yaitu lima tahun setelah pertama kalinya Presiden Soeharto membuat yang namanya REPELITA (Rencana Pembangunan Lima Tahun) pada 1 April 1969.

Sudah berkali-kali negeri ini mencoba dengan niat sungguh-sungguh untuk merencanakan sebuah program pembangunan berkala, namun selalu mengalami gangguan dan hamabatan yang sifatnya eksaternal.

Ada seorang nama yang dikenang oleh Presiden Soeharto, ketika dia bangga mengumumkan keberhasilannya menyelesaikan tahap pertama serbuah rencana pembangunan yang pertama kali sejak kemerdekaan 17 Agustus 1945.

“… kita pernah berusaha melaksanakan pembangunan dalam tahun-tahun pertama Kemerdekaan dahulu, yang dikenal sebagai “Rencana Kasimo”. Akan tetapi perjuangan bersenjata untuk mempertahankan Kemerdekaan dan dalam kepungan musuh yang lebih kuat persenjataannya, terang tidak memungkinkan terlaksananya rencana pembangunan tadi”, kata Presiden Soeharto pada pidato kenegaraan HUT Kemerdekaan RI ke 29 tahun 1974.

Apa itu ‘Rencana Kasimo’ dan siapa pula Kasimo? Sekarang ini mungkin tidak banyak yang tahu lagi sosok Kasimo bahkan seperti kebiasaan kita, mudah melupakan nama dan juga jasa orang ini bagi proklamasi 17 Agustus 1945. Saya kenal nama Kasimo ketika ada seorang teman membaca buku biografinya terbitan sebuah penerbit besar, dengan sampul bergambar beliau memakai blankon Jawa.

“Iwan, kamu baca deh buku ini. Bagus banget orangnya”, kata teman saya sambil meminjamkan buku biografi Kasimo. Saya takjub dengan perjuangannya dan cara pandanganya tentang hidup berkebangsaan yang majemuk ini. Dan ini alasan saya menyebut Kasimo sebagai sosok yang pantas disebut sebagai orang yang berjasa besar dalam mengisi makna proklamasi, dibalik daya lupa ingatan bangsa ini yang kronis pada jasa-jasa pendahulunya.

Kasimo adalah seorang penganut katolik yang saleh, namun justru teman sehidup sematinya adalah para pejuang-pejuang yang berbeda keyakinan dengannya. Tidak heran sosoknya disayangi oleh banyak pihak dan golongan yang berpikiran terbuka.

Ketika Soekarno dan Hata memproklamasikan kemerdekaan ini, ada banyak golongan yang melihat dari sudut pandang yang berbeda-beda tentang peristiwa 17 Agustus 1945. Orang seperti Soekarno memang bergairah sekali mendambakan kemerdekaan. Sementara gokongan lain, terutama seperti Hatta, melihatnya agak berbeda.

Bagi Soekarno kemerdekaan itu nomor satu dan segala-galanya. Yang penting merdeka dulu. Urusan yang lain itu urusan nomor sekian ratus. Yang penting merdeka dan bebas dulu! Sama seperti orang lari dari penjara, yang terpenting adalah lolos, setelah melarikan diri, semua urusan yang lain bisa dipikirkan kemudian. Sedang orang yang berpikiran seperti Hatta, lebih mementingkan kualitas manusia, baru kemudian merdeka.

Nah, yang lebih dihargai adalah cara berpikir Soekarno, yaitu merdeka dulu! Setelah itu mau apa? Makan apa? Mau ke mana? Berbuat apa? Yang nanti-nanti saja… Meskipun seorang seperti Soekarno dan umumnya para patriot lainnya, memiliki visi yang jauh ke depan.

Idealnya setelah kemerdekaan 17 Agustus 1945, negara baru ini bebenah diri mengisi kemerdekaan itu dengan pembangunan mental dan fisik. Tetapi kenyataannya tidak semudah yang direncanakan. Banyak rintangan dan gangguan yang menyebabkan niat itu sulit dan akhirnya tidak terlaksana dengan baik selama berpuluh-puluh tahun.

Seorang menteri bidang perekonomian pada kabinet di awal kemerdekaan yang serba sulit,, mencanangkan sebuah rencana cemerlang bagaimana mengisi kemerdekaan dengan pembangunan fisik. Dia adalah Ignatius Joseph Kasimo Hendrowahjono, menteri kemakmuran pada Kabinet Perdana Menteri Amir Sjafruddin II (Nov 1947-Jan 1948).

Kasimo mempunyai gagasan yang kemudian dikenal sebagai ‘Rencana Kasimo’, sebuah rencana memacu bidang pertanian, perternakan, perkebunan dan kependudukan berupa transmigrasi sebagian penduduk Jawa ke Sumatera. Di tengah kancah gelora revolusi, ide rencana ini mencengangkan sebagai visi yang jauh ke depan.

Bagi Kasimo, proklamasi 17 Agustus `1945, tak cukup dengan gegap gempita keinginan untuk bebas, tetapi harus dikawinkan dengan keinginan untuk bebas mandiri memenuhi kebutuhan ekonomi. Sayang rencana ini tak bisa terwujud sempurna. Semangatnya kemudian dilanjutkan dan dibuktikan lebih 20 tahun kemudian oleh Soeharto dengan baik.

Ketika Presiden Soeharto jatuh dari kekuasaannya tahun 1998, semangat Rencana Kasimo juga terlupakan. Sejak itu negeri ini tak punya rencana serius lagi untuk membangun dengan perencanaan yang matang. (*)

 

SUMBER:

1. Pidato Kenegaraan Presiden RI 17 Agustus 1974

2. Foto IJ Kasimo muda (www.kitlv.nl)

3. Foto Gedung IJ Kasimo (www.atmajaya.co.id)

64 Comments to "[Serial Baltyra] Orang-orang Terlupakan Dalam Proklamasi: Ignatius Joseph Kasimo"

  1. IWAN SATYANEGARA KAMAH  8 November, 2011 at 14:20

    Kamsiah… Baba JC..

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.