Friday, 30 July 2010
Adhe Mirza Hakim – Bandar Lampung
It’s not the destination, but the journey, pepatah ini aku kutip dari buku “The Naked Traveler” nya-Trinity, yang sangat aku gandrungi, bahwa traveling itu bukan semata-mata melihat keindahan alam yang kita datangi, tetapi nikmat dan susahnya kita selama dalam perjalanan itu sendiri, itu adalah seninya traveling, kita akan kaya dengan pengalaman yang tidak semua orang bisa sama memperolehnya. Catatanku kali ini, kurang lebih akan menunjukkan makna yang sama dengan pepatah itu.
Beberapa hari yang lalu mataku menangkap banyak spanduk yang mempromosikan wisata Anak Krakatau melalui Festival Krakatau yang ke XX, pada tanggal 25 Juli 2010. Ingatanku langsung tertuju pada salah satu teman kuliahku, sebut saja namanya Pak Kuncen, seorang bapak paruh baya, salah satu pejabat di Departemen Kehutanan, Propinsi Lampung.
Teringat akan janjinya untuk mengajakku melihat Anak Krakatau pada tahun 2009 lalu, karena aku pernah protes saat tahu beliau salah satu koordinator acara Festival Krakatau tapi tidak memberi tahuku soal Tour ke Anak Krakatau, jadi aku hanya mendengar ceritanya saja, tanpa sempat melihat dari dekat kecantikan si Hitam Manis ‘Anak Krakatau’. Akhirnya beliau berjanji untuk mengajakku di tahun berikutnya, berarti tahun 2010 ini dong, hehehe….aku siap menagih janjimu Pak Kuncen.
Lalu kupencet nomor selular beliau, “Pak Kuncen, masih inget aku kan? Adhe”, “Duuh sampeyan ini pake nomor yang mana lagi ni? Ganti-ganti nomer hape trus” jawab pak Kuncen dengan logat Jawa yang kental, “Wah…aku blum kasih nomer yang ini ke bapak ya? Hehe…okay tolong di save aja pak, ini nomerku,” “Baik”, “Pak Kuncen, aku mau tanya tanggal 25 Juli besok ada acara tour ke Anak Krakatau?”
“Oya…bener, kenapa? mau ikut ya?” tanya beliau seolah ingat akan janjinya dulu, “Iya pak” jawabku singkat dengan perasaan senang banget karena beliau ingat dengan janjinya. “Tapi yang ikut hanya sampeyan sendiri kan?”
“Iya pak, hanya saya sendiri”, “Bukannya saya nggak mau kamu bawa teman, tapi saya hanya bisa kasih ijin satu tambahan” jelas pak Kuncen, “Alhamdulillah,” Jelas senang dunk dikasih tebengan gratisan, dapat ijin nebeng diri sendiri aja sudah syukur. “Sampeyan siap-siap pukul 6 Pagi ya…nanti saya tunggu sampai pukul 9 pagi di Bakauheni”, “Siap boss, makasih ya sudah dikasih kesempatan ikut tour ini”, “Sama-sama, lagian kan saya juga sudah janji” sahut pak Kuncen, menutup percakapan kami.
“Yess”, aku berteriak dalam hati, akhirnya datang juga kesempatan ini setelah mengidamkannya sejak dari 3 tahun yang lampau. Kini aku harus dapat ijin dari hubby dulu agar mimpiku ini benar-benar bisa terwujud. “Pak, boleh minta ijin ke Anak Krakatau?” tanyaku agak ragu-ragu, 2 hari sebelum jadwal Tour. “Sama siapa?” tanya hubby singkat,
“Sendiri aja, aku dapat kesempatan ini melalui pak Kuncen, temen kuliah di Kampus” jelasku, “Wah enak ya bisa jjs ke sana,” kata hubby ku sambil senyum simpul, “Aduh pak kalo boleh bawa satu teman maunya sih ajak bapak”, “Nggak usah bu, bapak juga banyak kerjaan di kebun” jawab hubby sambil ketawa, baginya traveling yang mengasyikkan itu, bekerja di kebun, “Ya sudah besok boleh pergi”, “Makasih ya pak,” sahutku happy….siip exit permit sudah keluar, berarti perjalananku nanti akan aman, kan sudah dapat ijin hubby.
Sekilas aku terangkan sedikit informasi di seputar acara Festival Krakatau, yang telah diadakan sejak 20 tahun yang lalu, tujuannya untuk mengangkat dan memperkenalkan budaya, adat istiadat dan objek pariwisata di Propinsi Lampung.
Tema tahun ini bertajuk “Kemilau Sai Bumi Ruwa Jurai” yang rangkaian acaranya sudah dimulai sejak 9 Juni yang lalu, dengan berbagai perlombaan, seperti festival band, festival lagu daerah dan pemilihan Muli – Mekhanai (Abang – None). Kunjungan wisata ke Gunung Anak Krakatau dihadiri 16 duta besar atau perwakilannya, antara lain Yunani, Brunai Darussalam, Filipina, Somalia, Belgia, Portugal, Rumania, Singapura, Peru, Seychelles, Polandia, Yaman, Libia, Arab Saudi, Argentina dan Cuba.
Tujuan dari acara ini sebenarnya sangat bagus dan ideal untuk mengangkat potensi pariwisata Lampung, hanya saja promosi besar-besaran ini tidak diikuti oleh kesiapan infra struktur baik sarana maupun prasarana yang disiapkan oleh Pemda Lampung untuk menarik para wisatawan lokal maupun manca negara datang berkunjung ke Lampung.
Contoh yang jelas-jelas ada di depan mata, banyak jalan-jalan yang menuju ke daerah pariwisata dalam kondisi rusak parah bahkan ada yang masih belum memiliki jalan yang representatif untuk dilalui secara nyaman, contohnya jika kita ingin menuju ke lokasi wisata Teluk Kiluan, yang indah dan ada lumba-lumbanya, sampai hari ini aku sendiri belum sampai ke sana, terakhir mau ke sana terkendala cuaca hujan dan medan jalan yang berbukit, kabarnya roda kendaraan yang kita pakai harus di ikat pakai rantai agar tidak slip di jalan.
Sebenarnya ada 2 jalan yang bisa mencapai ke Teluk Kiluan, lewat desa Bawang di Kabupaten Pesawaran atau melalui Kota Agung di Kabupaten Tanggamus. Semoga pihak Pemda bisa memikirkan sarana transportasi ke seluruh daerah wisata di Propinsi Lampung, sayang kalau hanya promosi tapi tidak diikuti oleh keseriusan dalam mengelola potensi wisata yang ada. Daerah wisata yang cantik tapi masih belum maksimal diolah adalah Gunung Anak Krakatau, Tugu Siger, Pantai Marina, Merak Belantung di Kalianda
Walau di sini sudah ada Resort milik Bakrie Group yaitu Krakatoa-Kalianda, lalu ada Pantai Pasir Putih dan Batu Granit di Tanjung Bintang, Lampung Selatan, lalu Pantai Mutun, Klapa Rapat dan Pulau Tangkil di Pesawaran, Air Terjun Way Lala’an, Waduk Batu Tegi, Teluk Kiluan dan dataran tinggi Gisting di Tanggamus, Danau Ranau, Pantai Tanjung Setia (Ombaknya ideal untuk Surfing) dan Sungai Wai Besai (yang berpotensi untuk Rafting) di Suoh, Lampung Barat, Taman Wisata Way Kambas (atraksi Gajah Lampung) di Lampung Timur dan masih banyak lagi daerah-daerah wisata lainnya yang belum aku sebut. Maaf yaa…kalau ada yang kelewat.
Minggu, 25 Juli 2010
Jam menunjukkan pukul 5.30 Wib, aku langsung lompat dari tempat tidur ngebayangin waktu hanya 30 menit menuju pukul 6 pagi, sedang jarak antara rumahku dan Bakauheni makan waktu 2 jam, cam mana pula ini? kalau sampai ketinggalan kapal lagi?
Hihihi…. ingat kejadian di Tanjung Pinang. Pak Kuncen sudah mewanti-wanti akan menunggu sampai pukul 9 pagi. Kadang kalau dipikir agak menggelikan jika mau traveling, aku sibuk ngurus piranti pernak-pernik gadget buat dokumentasi, yang pasti Digi-cam, Handy-cam, BB dan HP semua harus dipastikan full-Charge battery, bisa mati gaya deh aku kalo nggak bawa tu pernak-pernik, benar-benar bikin hidup jadi tergantung aneka kabel USB, hehe…,
Semua itu sudah aku susun rapih dalam tas ranselku, bersama 1 novel ‘Padang Bulan’ dan ‘Cinta di Dalam Gelas’ nya Andrea Hirata, buat bacaanku selama dalam perjalanan, yang nggak ke ingat justru sunglasses dan gadget pemutar musik MP-4, tapi nggak masalah, toh sudah ada buku bacaan ini. Lalu aku bawa sedikit bekal makanan buat jaga-jaga kalau nanti gak dapat jatah konsumsi, maklum kan cuma nebeng.com, hihihi…. lalu obat-obatan ringan, buat persiapan kalau nanti tiba-tiba masuk angin di jalan.
Jangan lupa KTP dan Kartu ATM, serta uang secukupnya aja. “Bu jangan lupa bawa jacket ya..” pesan hubby, baiklah….aku masukkan jacket dan mukena parasut ke dalam ranselku, yang membuat penampilan ranselku menjadi agak gembul.
Aku melihat jam sudah menunjukkan pukul 6 pagi, langsung aku telpon pak Kuncen, untuk memastikan beliau ingat sama aku yang mau nebeng, beliau hanya berpesan, aku harus menelponnya jika sudah sampai Bakauheni nanti. Karena supirku telat datang ke rumah, akhirnya hubby yang mengantarku ke tempat mobil travel yang biasa membawa kami ke Bakauheni, saat di jalan hubby menawarkan apakah aku mau diantar langsung ke Bakauheni, aku bilang nggak usah, kasihan hubby banyak urusan di kebun, biar aku naik mobil travel, tiba-tiba hubby menunjuk mobil-mobil dinas pariwisata Lampung, melewati kami “Gimana bu, mau di cegat nggak itu mobil?” tanya hubby, “Wah…jangan pak, aku nggak masuk rombongan mereka,” iyalah….nggak enak, berasa jadi penumpang gelap.
Tiba di tempat mobil travel, aku harus menunggu beberapa menit, agar penumpang mobil itu agak penuh, aku terus berdo’a agar mobil itu cepat dapat penumpang tambahan. Aku mendekati pak supir mobil travel, sambil ngomong “Pak, nanti bisa nyalip mobil-mobil bus pariwisata yang barusan lewat?” tanyaku, “Bisa bu, tenang aja” kata pak supir kalem.
Mobil travel yang aku tumpangi berjalan 30 menit setelah bus pariwisata rombongan peserta tour Festival Krakatau lewat, aku sudah nggak berharap banyak mobil travel ini bisa menyalip rombongan bus itu. Kondisi jalan yang banyak rusak dan berlobang menjadi pembicaraan serius pak supir dan penumpangnya, “Pemda mau buat Jembatan Selat Sunda, ngurus jalan lintas kota ini saja nggak becus,” sungut pak sopir, wajar dia kesal setengah mati lha dia tiap hari mondar mandir di jalan yang sama. Aku jadi geli mendengarnya, senada dengan keprihatinannya aku menimpali, “Iya pak, sampai saya mati juga belum tentu JSS selesai dibangun,” si pak supir hanya tersenyum sinis, sambil melanjutkan keluhan khas wong cilik “Urusan lumpur Lapindo aja nggak selesai sampai kini ! , sedang kebocoran pipa minyak di tengah laut di teluk Mexico aja bisa di sumbat, kenapa ini lumpur Lapindo yang di darat nggak bisa dilakukan hal yang sama,” lanjut pak supir mengeluarkan semua unek-uneknya, aku jadi mikir boleh juga nie pak supir hobby mengikuti berita dunia juga rupanya.
Sejurus kemudian, tampak iring-iringan mobil bus pariwisata yang mengangkut rombongan peserta Festival Krakatau, “Ini bus-bus yang ibu maksud kan?”tanya pak supir, “Iya…” jawabku, “Nah benerkan bisa saya susul rombongan ini,” kata si pak supir agak jumawa, dengan cepat dan melesat dia menyalip rombongan bus-bus itu, yess pikirku, jadi aku nggak kuatir bakal ketinggalan kapal.
Aku tiba di Bakauheni pukul 8.45, langsung kutelpon pak Kuncen “Halo….pak, aku sudah di pelabuhan nie, pak Kuncen di mana posisinya?”, “Tunggu aja di sana, saya masih makan dulu, ngomong-ngomong kamu sudah dapat ijin dari suami ikut acara ini?” tanya pak Kuncen,”Jelas sudah dapat pak, tadi aku diantar sama suamiku ke mobil travel,” sahutku,
“Kita naik kapal apa dan dari dermaga mana?” tanyaku lagi, “Waduh saya juga kurang jelas, tanya aja sama petugas ASDP di sana,” jawab pak Kuncen, “Okay…saya tunggu di pelabuhan,” kataku menutup pembicaraan. Kulihat ada seorang bapak berseragam petugas pelabuhan, “Pak, kapal yang akan membawa rombongan peserta Festival Krakatau ada di dermaga mana?”, “Dermaga 4, bu”, “Makasih ya pak,”.
Saat itu aku berada di posisi dermaga 1 untuk menuju ke dermaga 4 cukup jauh kalau mau jalan kaki, aku panggil pak Ojek untuk minta diantar ke sana, dengan ongkos 5000 rupiah aku sampai ke dermaga 4, wah….aku nggak menyangka mau naik kapal feri ke anak Krakatau, kupikir kapal yang akan membawaku ke sana hanya kapal semacam jetfoil. Tapi ini kapal feri besar yang biasa melayani rute penyebrangan Selat Sunda. Aku lihat rombongan bus-bus sudah memasuki dermaga 4, hmm….di mana ya Pak Kuncen? aku berdiri di sekitar dermaga 4, sambil mengawasi para peserta tour yang semuanya memakai free pass untuk masuk berupa kartu peserta yang digantungkan di leher masing-masing, alamat deh… pikirku, gimana mau masuk lha aku nggak punya free pass, mana lagi pak Kuncen belum muncul juga, kesannya seperti orang ilang nggak ada teman.
Aku kembali menelpon Pak Kuncen, “Pak, kapal yang akan membawa rombongan tour ke Anak Krakatau ada di dermaga 4, bapak di mana posisinya sekarang?”, “Tunggu aja, sebentar lagi saya sampai”. Aku masih berdiri memandang para peserta tour yang masuk satu persatu dengan menunjukkan Pass masuk, tiba-tiba ada seorang ibu yang mendekatiku, asli aku nggak kenal dengan ibu ini, lalu ibu itu bertanya kepadaku “de’ nggak punya Kartu Peserta ya?”, “Iya bu, saya masih nungguin teman saya,” tanpa banyak omong, ibu itu langsung membuka tasnya lalu mengambil satu lembar Kartu Peserta dan memberikannya padaku, “Ambillah…biar adek bisa masuk”,
“Alhamdulillah….makasih ya Bu,” kataku bener-bener surprised, minimal kalau aku nggak ketemu Pak Kuncen, aku masih bisa tetep ikutan tour ini, karena dapat free Pass dari ibu yang baik hati ini, aku belum sempat ngomong banyak dan bertanya ibu itu dari mana, beliau sudah buru-buru pergi mengurus para peserta tour lainnya, sepertinya beliau salah satu koordinator acara tour juga. Aku hanya berpikir, mungkin tampangku yang agak memelas dan seperti anak ilang yang membuat hati si ibu tergerak memberi free pass, hihihi….
Nggak lama setelah aku dapat free pass, aku melihat pak Kuncen dan rombongannya muncul, aku diminta beliau untuk masuk ke kapal berbarengan, pak Kuncen memperkenalkan aku kepada teman-teman satu rombongannya, yang kebanyakan ibu-ibu juga, lumayan dapat tambahan teman. Akhirnya kami masuk ke kapal, banyak ruang-ruang di atas kapal yang diisi oleh para peserta, ada yang di kabin ber AC, ada yang di ruang Karaoke, ruangan VIP, ruang Theatre, ruang tunggu kelas 2 maupun ruang tunggu kelas 3, yang semuanya telah diatur sedemikian rupa, bahkan lengkap dengan live music dari penyanyi kapal.
Aku dan rombongan pak Kuncen, milih duduk di ruang terbuka, sedang pak Kuncen harus bertugas keliling kapal menemani para tamu-tamu penting. Aku melihat suasana di sekitar dermaga, ada beberapa bocah-bocah yang suka menunjukkan atraksi terjun ke laut dan berebut uang yang dilemparkan oleh penumpang dari atas kapal, termasuk aku yang iseng melempar uang kertas, abis gak ada uang logam, hehehe…..seneng aja lihat mereka pada berebutan mengambil uang.
Lalu kupandangi Tugu Siger yang berdiri megah di Puncak Bukit tidak jauh dari Bakauheni, semoga bangunan yang telah menelan banyak rupiah itu tidak sia-sia berdiri kokoh di sana, yang kabarnya kurang terawat kebersihannya. Di dalam kapal aku melihat ada seorang kamerawan TV Lokal yang menshoot keadaan di sekitar kami. Lagu-lagu yang dibawakan oleh para biduanita organ tunggal cukup menghibur kami para penumpang. Awalnya aku duduk bersama dengan ibu-ibu temannya pak Kuncen, tapi karena mereka ini hobby berpindah-pindah tempat duduk, bikin aku males mengikutinya, akhirnya aku memilih berpisah duduk. Sambil melihat jam di tanganku, sudah menunjukkan pukul 10 lewat 30 menit, koq ini kapal belum juga lepas sauh…. nungguin apa lagi ya?
Helicopter dan Kapal-kapal Patroli TNI AL, muter-muter di sekitar kapal feri, maksudnya ikut mengamankan rombongan tamu-tamu penting di kapal yang aku tumpangi ini, maklum ada 16 duta besar dan perwakilannya yang ikut tour ke Anak Krakatau. Selain itu ada banyak rombongan tamu dari berbagai ragam profesi ikut bergabung, yang paling keren menurutku rombongan para kru wartawan/jurnalis yang mau meliput acara ini, mereka membawa aneka camera lengkap dengan tripodnya dan gayanya khas wartawan lengkap dengan Pers ID nya, selain wartawan lokal ada juga wartawan dari luar negeri. Aku ngebayangin kalo aku ditanya “Asal rombongan mana?” mau deh aku jawab “Wartawan Baltyra Citizen Journalism” hehehe….tapi sayang nggak punya ID Card nya.
Melihat masing-masing gaya para rombongan ini mau bikin aku ketawa dalam hati, maklum aku memang hobby mengamati ketimbang ngobrol sana sini. “Darimana bu, pak? rombongan pariwisata atau dari…?” pertanyaan yang selalu berulang aku dengar ditanyakan oleh Pramugari Kapal feri kesetiap rombongan yang naik ke atas kapal. Kalau aku perhatikan satu-satu maka aku menilai mereka bisa digolongkan dalam rombongan ASITA dan PHRI (ada atribut pengenalnya), Pejabat dan Dubes sudah jelas didampingi para ajudannya, dinas Pariwisata dan dinas Kehutanan, Jurnalis, bahkan ada rombongan dari sekolah pramugari yang gayanya model para pramugari pesawat udara, oh…plizz deh pake sepatu hight heel naik ke kapal feri, apa nggak takut kepletot, hihi….
Sedang aku memandang sepatu sandal gunungku dengan senyum puas, yah…alas kaki yang bisa diandalkan untuk segala medan, kecuali untuk kondangan kali yaa?, ada lagi dari rombongan LSM “Front Pemuda Pembela Merah Putih”, hmmm….. mau ikut mengamankan peserta tour ya bung? tapi koq ada beberapa dari mereka sengaja berdiri dekat-dekat rombongan siswi sekolah pramugari, mau kenalan kali. Lalu ada rombongan Muli dan Mekhanai Lampung, kalo di Jakarta disebut Abang dan None Jakarta, yang lemah gemulai, termasuk para Putri Pariwisata yang ayu-ayu, lengkap sudah pemandangan di hadapanku, hehehe….. wajar sekali kalo ini kapal telat berangkat, lha banyak nungguin wong ayu nan gemulai menaiki tangga kapal, kan harus alon-alon asal kelakon, ntar bisa kepletot itu kaki yang pakai hight heels.
Tiba-tiba ada cewe cakep duduk di sampingku, “Mba…numpang duduk ya?” katanya, “Silahkan” sahutku, lha emang tempat duduk umum koq…, aku melirik sekilas ke cewe cakep ini, lalu aku bertanya “dari rombongan mana mba ?”, “Dari PHRI”. “datangnya koq siang banget” kataku, “Sebenarnya kami sudah siap dari pukul 6 pagi (sama aja pikirku), lalu kami pergi dulu ke kantor Gubernuran untuk bersilaturahmi ke Gubernur, lalu berangkat dari sana pukul 8 pagi, tiba pukul 9.30, kami mampir dulu ke monumen Tugu Siger beramah tamah dengan rombongan para Dubes dan perwakilannya, ada tari-tarian juga di acara itu,” jelas si cewe cakep. “Pantas yaa….ini kapal jadi telat berangkat, rupanya banyak acara seremonial sebelumnya,” sahutku.
Capeee deeh dengernya, akhirnya kapal feri berlayar juga pukul 11 siang, mungkin ini jadwal aslinya, para peserta tour sudah duduk manis di kapal, baru para pejabat dan tamu penting masuk kapal dan langsung berlayar, waktu tempuh ke Anak Krakatau kurang lebih 3 jam perjalanan. Lumayan deh… berarti tiba di sana pukul 14 siang, alamat deh… nggak ada kemungkinan untuk turun ke darat, lagian kalau pakai kapal feri turun ke laut yang gak ada dermaganya, paling diturunkan via sekoci. Kelihatannya nggak mungkin turun, aku yang awalnya ngebayangin mau trekking di Anak Krakatau, jadi pasrah terima keadaan, bahwa niat trekking itu harus dikubur lagi. Untuk sementara sudah cukup melintasi dan memandang si Hitam Manis dari kejauhan.
Nggak lama si Cewe cakep berpindah tempat, kulihat rombongan siswi Pramugari berdiri di depanku “Mba….duduk aja di sini, lama-lama berdiri ntar capek lho,” kataku sambil sedikit menggoda, mereka akhirnya mau duduk di sampingku, mereka ini pada nggak dapat free pass, sepertinya sengaja dibawa oleh pihak sekolah untuk berpartisipasi di Festival Krakatau. Mereka pada sibuk foto-foto dan sms, lalu aku iseng keluarin cameraku, sambil meminta satu di antara mereka memotretku dan siswi pramugari yang lain. Bisa dilihat nie tampang mereka yang manis-manis serta tampang cuekku, hihihi…
Suasana di atas kapal yang awalnya agak tenang, mulai terlihat gaduh, aku perhatikan setiap penumpang hilir mudik mondar mandir mencari konsumsi makan siang, para petugas sie konsumsi dari satu rombongan tampak kerepotan membagikan jatah konsumsi jangan sampai salah beri di luar rombongan mereka. Aku yang juga mendapat kartu konsumsi, awalnya tenang-tenang aja, lha aku kan bawa bekal nasi juga, jadi nggak pusing-pusing amat untuk urusan makan. Tapi saat melihat ada seorang ibu membawa beberapa kartu konsumsi yang warnanya sama dengan kartuku, melintas di depanku lalu turun ke arah lambung kapal, berarti tempat parkiran mobil, menimbulkan rasa penasaranku, jadi pengen ikut antri juga, apalagi aku dengar jatah konsumsinya dari “Puti Minang” satu resto Padang yang cukup terkenal di kotaku, hmmm….makanan enak nie pikirku, hihihi….
Aku langsung ikutan turun ke arah tempat parkir mobil dan aku langsung melihat begitu banyak orang berjubel untuk mengambil jatah nasi kotak, kulihat ibu yang tadi melintas di depanku kudekati beliau, “Bu, saya boleh titip kartu?” pintaku sambil menyodorkan kartu konsumsiku, si ibu tersenyum menerimanya, walau dia agak sangsi apa bisa segera menerobos antrian nasi kotak yang berjejal di depan pintu mobil. Aku yang tadinya menitipkan kartu ke si ibu, malah mengambil alih semua kartu itu “Biar saya yang ambil bu,” kataku, jadi inget urusan ambil jatah makan selama antri konsumsi saat pergi haji dulu, hihihi…. untuk urusan antri makan sepertinya aku lebih punya naluri cepat, setelah semua kartu kupegang, mulai aku mencoba mencari celah agar lebih dekat ke pintu mobil, maklum orang yang tubuhnya kecil lebih mudah menyusup.
Aku terhalang oleh tubuh seorang bapak di depanku, lalu bapak itu menoleh ke arahku sambil bertanya “Perlu berapa kotak?” “Tujuh” jawabku singkat sambil memberi kartu konsumsinya, lalu bapak itu mengambil 7 nasi kotak dan memberikannya padaku, “Makasih ya pak,” selalu ada orang baik untukku, pikirku dalam hati, aku ambil 1 jatahku, lalu 6 kotaknya kuberikan ke si ibu yang malah balik berterimakasih padaku, hihihi…alih-alih mau nitip malah aku terima titipan.
Aku langsung naik kembali ke deck kapal, menempati posisi duduk di tempat semula. Kulihat ada 2 orang cewe berjilbab yang juga memegang nasi konsumsi, tapi beda kotak. Aku perhatikan menunya agak berbeda, sepertinya menu dari Puti Minang emang lebih mantabs…duuh jadi keinget lagi sama ibu yang baik hati itu yang sudah kasih free pass termasuk jatah konsumsi ini, siapa ya namanya?.
Aku mulai menyantap nasi ayam pop dan sambel ijo yang yummie banget, 2 cewe jilbab di sampingku juga sama-sama menyantap menu makan siangnya. Aku melihat ke rombongan siswi Pramugari yang tampaknya belum dapat jatah konsumsi makan siang, aduh kasihan deh…. kalo aku dapat jatah 6 kotak pasti aku bagiin satu-satu, lha ini aku hanya dapat 1 kotak, kalau mau kukasih ke mereka juga gak mungkin satu kotak untuk 5 orang siswi. Jadi aku nggak perlu basa basi menawari mereka. aku menikmati makan siangku dengan tenang.
Rombongan siswi pramugari itu pergi tidak lama kemudian, mungkin mau makan siang juga. Pasti makan lah…. keterlaluan bawa para awewe manis kek gitu kalo nggak dikasih makan. Aku sempat bertanya sama cewe berjilbab yang duduk disampingku, “De’ ikut tour ini bayar berapa ?”, “120.000 rupiah, bu”, jawabnya, hmmm…lumayan deh buat harga anak kuliahan, soalnya mereka berdua ini bilang masih kuliah di Unila. Harga itu meliputi tiket PP Bus dari Bandar Lampung – Bakauheni, tiket Kapal Feri, makan siang dan snacks sore, tanpa tambahan T-Shirt, karena ada juga rombongan peserta tour yang memakai T-Shirt seragam, mungkin beda harga…aku nggak sempat bertanya ke rombongan yang berseragam ini.
Setelah makan siang, aku mencari ruang musholla, niat mau menjama’ sholat Dzuhur dan Asyar, maklum musafir judulnya. Ruang Mushollanya lumayan apik dan bersih. Setelah sholat aku naik kembali ke deck di mana aku semula duduk. Eh… malah ketemu sama ibu yang memberi aku free pass, “Nah ini dia si mbak yang tadi saya beri kartu masuk,” katanya sambil tersenyum ke arahku, “Iya, makasih ya bu sudah kasih saya kartu peserta”, si Ibu yang tampak sibuk hanya tersenyum lalu buru-buru berlalu, aku yang berniat mencari tahu nama ibu itu, berusaha bertanya kepada rekan si ibu yang masih ada di dekatku, “Mas, mau tanya nama ibu yang barusan itu siapa ya?” “itu ibu Erna dari dinas Pariwisata”, yess….dapat juga namanya, okay bu Erna tunggu kedatanganku ya…. pantun harus berbalas nie judulnya.
Ada satu kejadian yang sempat bikin aku qeqie banget….gara-gara kecerobohanku sendiri, saat ke toilet, digicam yang ada di pinggangku sempat kecemplung di air, walau pakai sarung camera, tetap aja itu air tembus, dan membuatnya mogok gak bisa dipakai, hiks…hiks…..sediih banget!!!
Padahal si Hitam Manis sudah di depan mata. Pukul 14 siang kapal feri sampai di perairan di mana si Anak Krakatau yang manis tapi misterius berdiri dengan megahnya, dengan ketinggian kurang lebih 400 meter dpl (dari permukaan laut), dia terkesan gagah, dengan warna abu-abu tuanya, aku lebih suka menyebutnya dengan si Hitam Manis, walau ada yang bilang “Koq nie gunung kelihatan makin botak ya?” hiiii sebel banget deh…. nggak sopan wong manis-manis gitu dibilang botak, gundulmu kali!
Yasuuud…. aku setengah mati berusaha mencari cara mengabadikannya, my handicam bisa juga dipakai buat motret tapi hasilnya nggak begitu bagus karena lensanya hanya VGA, bukan optic digital, tapi dari pada nggak dapat sama sekali, aku nekat pakai camera handycam plus camera bb ku yang warnanya sudah gak karu-karuan kadang biru kadang hijau, hihihi…..pokoke ngiri abizzz sama para jurnalis yang pada pake camera DSLR baik yang Canon maupun Nikon, aku masih bisa menghibur diri, toh masih bagus bisa melihat secara langsung.
Aku masih berusaha menghidupkan my Digicam, aku paksain untuk mengambil beberapa foto, karena camera ku ini kadang hidup kadang mati, pas hidup aku cepat-cepat jepret, jadi atau nggak gak peduli yang penting usaha dulu. Makanya hasil foto-foto ku di Anak Krakatau beraneka jenis ada yg digicam. handycam maupun BB, namanya juga amatiran asal ada hasil sudah senanglah hati. Cuma aku nggak bisa bernarsis ria dengan camera yang rusak hiks…hiks….. walau belakangan ternyata camera ku normal kembali, tapi itu juga sudah malam hari, dan kapal sudah bergerak menuju pelabuhan Merak, untuk mengantar para Dutabesar dan perwakilannya pulang kembali ke Jakarta.
Selama di dekat Anak Krakatau, kapal feri disambut meriah oleh kapal-kapal kecil milik penduduk setempat, mereka membawa tetabuhan sambil berteriak-teriak gembira, para penumpang kapal feri berteriak menyambutnya. Lalu ada atraksi gantole bermesin yang mondar mandir di atas kapal, semua penumpang riuh rendah sibuk berfoto, jangan tanya deh itu para wartawan asyik jeprat jepret dengan camera canggih mereka duuh asli sirik abizz deh gue.
Pergi sendirian ada resiko nggak bisa motret untuk diri sendiri, mau minta tolong ke orang lain juga sangat terbatas, apalagi yang diminta tolong nggak bisa mengoptimalkan pengambilan gambar yang kita inginkan. Akhirnya foto-fotoku dengan si Hitam Manis Anak Krakatau hanya bersifat seadanya, hiks…hiks… kasihan deh. Secara pribadi aku melihat gunung Anak Krakatau sangat indah walau agak sedikit terkesan mistis, karena gunung ini masih aktif dengan ciri mengeluarkan debu, asap, batu maupun lava dari kawahnya, tidak mengurangi rasa penasaran orang-orang untuk mengamatinya dan mendekatinya.
Kata Pak Kuncen, kalau mau wisata ke Anak Krakatau, sebaiknya menginap semalam, walau kita harus tidur di alam terbuka, kita akan melihat pemandangan yang menakjubkan di malam hari di saat debu dan lava vulkanik tersembur keluar dengan cahaya api yang berkilau terang di malam gelap gulita. Ada sedikit kisah memilukan di tahun 2007 lalu (sumbernya dari awak kapal), ada seorang dokter yang sedang berlibur di Anak Krakatau tidak sengaja tertimpa batu yang keluar dari kawah Anak Krakatau, ukuran batu yang cukup besar dan kecepatan lempar yang kuat sangat telak menimpa sang dokter yang membuatnya meninggal di tempat. Ini salah satu alasan kenapa para penumpang kapal feri dilarang turun, terlalu beresiko jika tiba-tiba saja si Manis batuk-batuk, saat kami melintas di sana kondisi si Manis cukup aman terkendali, walau asap mengepul dari puncak kawahnya.
Sangking hebohnya para penumpang melihat Anak Krakatau, mereka tidak sadar kalau bobot kapal cenderung miring ke arah kanan kapal…jadi doyong ke kanan, padahal Kapten kapal mau membelokkan arah kapal, karena waktu sudah bergerak sore, cukup 1 jam saja di dekat si Hitam Manis, karena kapal feri harus segera bertolak ke Merak untuk mengantar rombongan para tamu penting pulang ke Jakarta, termasuk rombongan para jurnalis dan putri-putri ayu itu. Aku hanya memandang sedih ke Cameraku, mungkin akan ada waktu lain di mana aku akan kembali ke sini, pikirku, amien…dan bisa menjejakkan kaki ke sana suatu saat.
Kapal feri berlayar menuju Merak, makan waktu sekitar 4 jam perjalanan, aku yang duduk sendirian, menghabiskan waktu dengan membaca novel “Padang Bulan”nya Andrea Hirata, yang sukses menemaniku sampai terkantuk-kantuk. Sempat melihat atraksi tak terduga dari sekawanan lumba-lumba, yang malu-malu menampilkan dirinya, kereeen banget dah ini terjadi sekitar pukul 17 sore. Akhirnya malam menjelang semburat gemerlap lampu dari pelabuhan Merak terlihat, kapal merapat dengan sukses pada pukul 19.15 malam hanya sekitar 30 menit, kapal berlabuh menurunkan para penumpang, lalu bertolak kembali ke pelabuhan Bakauheni di Lampung.
Saat pulang ini, aku sempat berbincang-bincang kembali dengan pak Kuncen, karena tugas beliau menemani para tamu penting sudah selesai, jadi ada waktu buat ngobrol-ngobrol dengan teman-temannya. Pak Kuncen menanyakanku apa dapat jatah makan siang, aku bilang sudah, kini tinggal makan malam, aku mengeluarkan bekal yang kubawa dari rumah, yang masih utuh, kutawari pak Kuncen untuk mencicipi, tapi beliau menolak, masih kenyang katanya, mungkin beliau hanya basa basi, karena tahu bekal yang kubawa juga nggak banyak, hehe….
Aku menikmati makan malamku dengan nikmat di atas kapal dengan ditemani semilir angin malam. Dari Pak Kuncen, aku dengar beberapa kisah ‘aneh tapi nyata’ di seputar Anak Krakatau, dalam artian kita nggak boleh takabur/sombong jika ingin menjelajah di seputarnya, karena ada seorang teman Pak Kuncen, yang merasa dia sudah ahli soal pergunungan, dengan menganggap remeh Anak Krakatau, ternyata selama berada di lokasi Anak Krakatau, teman Pak Kuncen yang jumawa ini, hanya bisa berjalan berputar-putar di sekitar tempat dia berada, dia tidak bisa menjelajah jauh ke puncak Anak Krakatau.
Akhirnya dia sadar bahwa rasa sombong itu nggak ada artinya dengan kekuasaan alam. Bahkan ada teman pak Kuncen yang lainnya, yang juga menganggap remeh si Hitam Manis ini, harus berputar-putar di sekitar perairan Selat Sunda, dihantam ombak yang besar saat mau mendekat ke Anak Krakatau, si bapak satu ini malah sudah siap bawa dirigen kosong, jika kemungkinan perahu terbalik dia sudah siap dengan dirigen sebagai pelampungnya. Awalnya simple aja, si bapak ini sempat berseloroh kepada pak Kuncen, “Pergi ke Anak Krakatau itu urusan mudah, paling juga cepat dan tidak susah untuk sampai di sana!” kenyataannya, itu bapak akhirnya tidak sampai ke Anak Krakatau, kapalnya harus kembali ke Canti, pelabuhan terdekat dari perairan Anak Krakatau. Kata pak Kuncen, setiap menjelang acara Festival Krakatau, diadakan upacara labuh Kepala Kerbau di perairan Anak Krakatau, tujuannya memohon keselamatan selama acara itu berlangsung, sepertinya hal-hal mistis masih sangat kental dalam budaya kita, ini yang harus kita fahami, bahwa alam dan manusia mempunyai keterikatan secara fisik dan emosional.
Perjalanan pulang kembali ke Bakauheni cukup menyenangkan, karena aku mendapat teman ngobrol yang ramai, adik-adik yang bekerja di Dinas Pariwisata, mereka adalah, Tosa, Cici dan Nandi. Bahasan yang kami obrolkan berkisar seputar sejarah adat istiadat di daerah kami. Tak terasa perjalanan selama 2,5 jam berjalan lancar, kapal feri merapat pada pukul 22.00 malam, aku ikut satu mobil dengan rombongan Pak Kuncen, dan tiba di rumahku pukul 24.00 malam…….sungguh pelayaran mengitari Selat Sunda yang cukup melelahkan dan makan angin tentunya, hehehe…… tapi setiap perjalanan tentu ada kesan tersendiri, It’s a journey….right!
AMH, 28072010
October 26th, 2010 at 02:11
Krakatau memang spektakuler. Namun kita juga harus ingat, Krakatau menyimpan ancaman bahaya yang sangat besar. Melihat sejarah letusan Krakatau yang menyebabkan tsunami yang pernah melanda Lampung dan Banten (1883), kemungkinan bencana yang sama terjadi lagi di masa depan sangatlah besar. Waspadalah..waspadalah
August 1st, 2010 at 22:28
NUCHAN : jam 10? pagi? malam? skrg ini jam 5:25 pagi, hr minggu wkt Hawaii……baru aja rampung lariiiiiiiii…segerrrrr…….adus kringet……
August 1st, 2010 at 22:11
Cik Dhe, tulisannya semakin menarik. Indonesia punya banyak tempat pariwisata yang bagus2, cuma kalah promosi saja.
malah delay kapalnya .
Kali ini tidak ketinggalan kapal kan karena otak2
August 1st, 2010 at 16:39
@Dear Altaira, makasih ya (hmmm…sorry ya ini Rizka bukan sih? kalo lihat gambar handbag nya sepertinya iya, hehe), Alhamdulillah….selalu ada kemudahan selama dalam perjalanan.
@HN, thanks ya Emon, iyaaa aku juga sangat menikmati tulisanmu about Toraja, dulu juga tentang Wakatobi, kapan jjs lagi? ditunggu ya trip journalnya yg lain.
August 1st, 2010 at 16:00
Coolllll….
Mbak Adhe, sepakat sama Trinity, bukan tujuannya, tapi perjalanannya….

August 1st, 2010 at 11:22
Cikdhe, maaf baru sempet komen.. cerita nya runut sekali, khas seorang cikdhe.. aku menikmati baca reportase cikdhe ini, serasa ikut dalam rombongan fest krakatau hehehe.. anyway, karena cikdhe murah hati, jadi cikdhe sering mendapat berbagai kemudahan.. what goes around comes around.. saluut!
July 31st, 2010 at 19:18
@Dear mba Imeii….., makasih ya sudah mampir ke artikel ini, khusus untuk tour Privat ke Krakatau bisa click situs ini http://www.travellers-knr.com atau email ke: travellers_resort kalianda@yahoo.co.id , mereka mengadakat paket wisata ke Krakatau, aku barusan mampir ke stand mereka di Lampung Fair 2010. Mudah2an bisa membantu para wisatawan yang ingin berkunjung ke Krakatau.
@Ayu, trimakasih sista, seneng bisa berbagi informasi seputar wisata denganmu dan para Baltyrans.
July 31st, 2010 at 17:44
Dear Adhe, oke banget tulisanmu… Dua jempol. Bagus dan lengkap. Tks ya, udah mau berbagi dengan kami.. Bravo!!!,
July 31st, 2010 at 11:35
Adhe..baca ceritamu jadi pengen kesana deh.. apalagi suamiku, pasti mau banget diajak ketempat bersejarah ini, kalo ada tour lagi dan pas kita lagi disana, bisa masuk dalam list wisata kita nih, sayang ya, promosinya kurang heboh..