Bisakah kamu tidur nyenyak malam ini?

Lala Purwono – Surabaya


Halo pembaca Baltyra di seluruh dunia, kali ini aku kenalkan lagi seorang penulis, yang tulisannya bisa dinikmati di rumah kita ini.

Lala Purwono-Surabaya, sosok wanita muda cantik, ceria, berpotongan rambut pendek. Lala juga sudah menerbitkan buku karyanya yang berjudul” The Blings Of My Life”. Cerpen-cerpennya sangat bagus, makanya kita bisa menikmati bersama-sama di rumah kita. Selanjutnya Lala akan mengunjungi rumah kita ini. Kita nantikan kehadirannya, sementara tulisannya bisa kita nikmati terlebih dahulu.

Note Redaksi: terima kasih Dewi Aichi untuk ucapan selamat datang kepada Lala dan sekaligus untuk memperkenalkannya kepada kita semua. Make yourself at home, Lala…

———————————————————————————————————————————

Seorang lelaki.

Koruptor.

Mengais uang, mengisi tabungan, berfoya-foya, bersenang-senang, dengan uang yang didapatnya melalui cara-cara yang tak halal. Uang rakyat disulapnya menjadi mobil-mobil mewah, yang disimpan dalam garasi rumah-rumah yang sangat mewah, dan disimpan selagi lelaki itu berkelana keliling dunia, dari benua satu ke benua yang lainnya, menginap di hotel mahal satu ke hotel mahal lainnya.

Uang rakyat disulapnya menjadi berlian untuk istri, tabungan untuk anak-anaknya, sekaligus menyekolahkan mereka setinggi langit.

Permisi, Pak. Boleh aku tanya sedikit saja.

“Bisakah kamu tidur nyenyak karena telah merampas uang yang bukan menjadi hakmu?”

**

Seorang perempuan.

Konspirator ulung sebuah kasus yang melibatkan banyak rahasia. Membunuh nama baik seseorang, meludahinya dengan konspirasi-konspirasi tingkat tinggi yang tak terjangkau daya pikir manusia biasa.

Bayar sana sini untuk mendapatkan alibi.

Sekalipun berhasil masuk dalam jeruji, tapi kemudian dilepas kembali.

Sementara ada orang lain yang terpuruk dalam penjara dan terancam hukuman mati, padahal ia tak bersalah. Tidak ada yang salah atau benar, bagi perempuan itu. Yang ada hanyalah, adakah uang untuk menutup mulut atau tidak.

Permisi, Bu. Maaf, aku mau tanya sedikit saja.

“Bisakah kamu tidur nyenyak malam ini, sementara ada orang lain sedang meringkuk di dalam jeruji besi dan menanti hukuman mati padahal kamu yang bersalah?”

**

Dan seorang lelaki.

Lelaki yang kukenal.

Lelaki yang mungkin dibenci semua orang, kecuali aku. Bukan karena aku memiliki hati seperti Malaikat,  tapi aku hanya berusaha untuk tidak menghakimi orang lain. Itu saja.

Lelaki itu adalah seorang kawan yang tak pernah kusentuh kulitnya, tak pernah kuraba kehidupannya, tak pernah kuusik hatinya, sekalipun setiap hari kami berbagi tawa dan cerita, serta beberapa kali berdiskusi panjang tentang hal-hal yang sedang menjadi topik pembicaraan di media massa.

Kupikir dia tak seperti yang disangka orang.

Kupikir dia lelaki yang memang tidak beruntung karena tak berhasil memukau publik dengan pesona kepribadiannya, tak seperti seorang kawanku yang lain, yang memukau semua mata karena ketampanannya, atau seseorang lagi yang memukau karena kepandaiannya.

Kupikir dia hanya menjadi salah satu korban penghakiman yang tak perlu, sampai akhirnya hari ini, sore ini, dia telah membuktikan padaku, bahwa dia bukanlah lelaki yang baik.

Fitnah dihembusnya kencang-kencang.

Tak hanya namaku yang menjadi taruhan, tapi juga masa depanku.

Tak hanya marah yang kurasakan, tapi kecewa yang tak berkesudahan.

Tak hanya sedih yang kurasakan, karena aku pun menangis hebat karenanya!

Fitnah itu berhembus, bergulung-gulung bak sebuah badai hebat yang meluluhlantakkan ketegaranku. Mengusik kedamaian hatiku. Mengoyak perasaanku. Mengusir pergi rasa simpatiku padanya.

Dia, lelaki yang kusangka baik itu, ternyata membuktikan siapa dirinya, bagaimana dirinya, seburuk apa kepribadiannya.

Fitnah keji itu dikunyahnya perlahan, seperti mengunyah permen karet manis yang betah berada di dalam rongga mulutnya.

Sementara fitnah itu terkunyah, aku musti berjuang agar tetap berdiri tegak, melawan gelombang badai yang siap menjatuhkanku, bahkan mungkin menggulungku utuh-utuh, lalu mencabik-cabik tubuhku setelahnya.

Aku dibuatnya menangis karena kecewa.

Aku dibuatnya menangis karena tak menyangka.

Lelaki itu, kawanku itu, ternyata memfitnahku dengan kejamnya.

Sekarang, permisi sebentar, Pak.

Aku mau tanya sedikit saja.

“Bisakah kamu tidur nyenyak malam ini, setelah apa yang sudah kamu lakukan pada seorang perempuan yang tak pernah salah apapun padamu, tak pernah berburuk sangka padamu, tak pernah berencana jahat apapun padamu, sehingga membuatnya harus siap-siap kehilangan segalanya?”

Bisakah?

**

Tapi, sudahlah.

Aku tak akan mengurusi tidur si Koruptor tadi.

Aku tak akan mengurusi tidur si Konspirator tadi.

Aku juga tak akan mengurusi tidur si Kawan yang ternyata memfitnah itu tadi.

Yang ingin aku urusi saat ini adalah satu hal saja:

Bagaimana caranya supaya aku bisa tidur dengan nyenyak malam ini, dengan himpitan masalah yang diciptakan oleh seorang lelaki.. Lelaki yang kuharap tidurnya bisa nyenyak di samping seorang istri, usai mencium kening dua putera-puterinya…

***

Kamar, Rabu, 21 April 2010, 9.38 Malam
Kepada Kawanku yang semoga, semua yang dia lakukan padaku, akan bermanfaat untuk kehidupannya…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.