Iwan Satyanegara Kamah – Jakarta
NANI WARTABONE
Proklamator pertama
KEINGINAN merdeka bangsa Indonesia untuk bebas berdaulat bagaikan hasrat terpendam yang meledak-ledak dengan letupan keras. Keinginan itu terlihat jelas menjiwai setiap upaya baik langsung maupun tidak selama puluhan tahun, hingga keinginan itu benar-benar terwujud pada hari 17 Agustus 1945.
Jauh sebelum Indonesia merdeka, nan jauh di pelosok terpencil di semanjung utara pulau Sulawesi, seorang pria yang memiliki semangat beroktan tinggi untuk membebaskan belenggu penindasan penjajah, melakukan tindakan heroik.
Saat negeri ini masih berada dalam cengkraman kolonial Belanda, Wartabone dan pengikutnya lainnya memiliki kreatifitas perjuangan yang unik dan langka. Pagi hari tepat pukul 10, setelah mengepung kota Gorontalo dan menaklukkannya dengan mudah pada pagi buta di hari Jumat tanggal 23 Januari 1942.
Hari itu di halaman Kantor Pos, Nani Wartabone mengumumkan kemerdekaan Indonesia, dengan menyanyikan lagu ‘Indonesia Raya’ dan mengibarkan bendera Merah Putih, dia dengan lantang mengumandangkan teriakan kebebasan kemerdekaan. Inilah tindakan yang sangat lancang bagaikan masuk ke kamar tidur kolonial. Di mata penguasa kolonial Hindia Belanda, setiap gerak gerik bahkan gagasan sekalipun dari setiap individu tertindas kaum terjajah, diganjar dengan hukuman berat. Tindakan Wartabone adalah ‘heroik di atas heroik’ yang bayarannya sangat mahal.
“Pada hari ini, tanggal 23 Januari 1942, kita bangsa Indonesia yang berada di sini sudah merdeka bebas, lepas dari penjajahan bangsa mana pun juga. Bendera kita yaitu Merah Putih, lagu kebangsaan kita adalah Indonesia Raya”, pekik Wartabone yang kala itu berusia 35 tahun.
Proklamasi kemerdekaan itu seperti ‘prophetic proclamation’ dari sebuah cita-cita luhur bangsa Indonesia yang terwujud tiga setengah tahun kemudian pada 17 Agustus 1945. Bandingkan dengan proklamasi kemerdekaan yang dikumandang oleh Soekarno dan Hatta, terlihat kemiripan persis dengan proklamasi kemerdekaan Nani Wartabone. Kedua proklamasi itu dikumandangkan pada hari Jumat dan pagi hari dengan waktu yang sangat bersamaan! Juga keduanya diucapkan di depan segelintir patriot sejati setelah melakukan upaya perjuangan yang meletakkan nyawa sebagai taruhan.
“Demikianlah saudara-saudara! Kita sekarang telah merdeka! Tidak ada satu ikatan lagi yang mengikat tanah air kita dan bangsa kita!”, kata Soekarno yang ketika mengucapkan proklamasi kemerdekaan di rumahnya berusia 44 tahun. Persis maknanya sama seperti yang diucapkan Wartabone tiga setengah tahun sebelumnya.
Setelah mengumandangkan kemerdekaan Indonesia 23 Januari 1942, Wartabone beberapa tahun kemudian mengakui dan berusaha sekuat nyawanya mempertahankan kemerdekaan yang justru bukan dia lakukan. Bukan berarti tindakannya dilupakan orang, tetapi semangatnya yang diingat, dikenang, dipuji dan diukir dengan indah dalam sejarah negeri ini.
Tindakan Wartabone memproklamasikan kemerdekaan Indonesia tiga setengah tahun sebelum Soekarno dan Hatta melakukannya, dibayar mahal olehnya. Dia di penjara dan disiksa dengan berbagai metode siksaan oleh penguasa kolonial dan juga Jepang.
Pada setelah kemerdekaan dia berdiri di depan melawan setiap bentuk yang mengkhianati cita-cita 17 Agustus 1945. Ketika daerah asalnya ditaklukan oleh sebuah pemberontakan setengah hati yang melecehkan RI, Wartabone berdiri di depan sambil bergerilya 86 hari melawan pemberontak Permesta yang menguasai daerah asalnya di Gorontalo dan sekitarnya di awal tahun 1958. Sangat bertepatan ayah saya, Muhammad Ali Kamah bersama Wartabone berdiri di garis yang sama dan berkenalan baik saat menumpas Permesta. Mereka berdua teman baik sejak lama. Ya, karena kami memang sekampung sama-sama dari Gorontalo.
Keluarga kami memanggil Nani Wartabone dengan sebutan Utu, yaitu orang yang dituakan dan dihormati dalam bahasa Gorontalo. Patungnya dibangun tahun 1987 di pusat kota Gorontalo, hanya beberapa meter di belakang rumah keluarga besar keluarga pihak ibu saya di Jalan Cempaka di kota itu.
“Unsur pokok yang menyebabkan saya dan rakyat mengangkat senjata melakukan perlawanan aktif terhadap kaum petualang pemberontak PRRI/Permesta, ialah karena mereka terang-terangan telah melakukan pengkhianatan dan penyelewengan pada cita-cita proklamasi 17 Agustus 1945″, alasannya mengapa dia sebagai residen waktu itu bergerilya 86 hari di hutan.
Proklamasi kemerdekaan Indonesia pada tanggal 23 Januari 1942 oleh Wartabone memang tidak diakui sebagai hari kemerdekaan Republik Indonesia. Namun setidaknya Wartabone sudah mengawinkan sebuah keinginan dengan sebuah kenyataan menjadi sebuah visi kuat yang di dalamnya dia bela sampai mati.
Presiden Soeharto memandang tindakan patriotik Wartabone dengan menganugerahkan Bintang Maha Putera Utama pada Hari Pahlawan tahun 1991 kepadanya, yang diwakili oleh putranya, Fauzi. Dan 12 tahun kemudian, Presiden Megawati Soekarnoputri menghargai visinya itu dengan memberi gelar pahlawan nasional kepadanya pada Hari Pahlawan 2003. (*)
SUMBER:
1. Kamah, MA, “Operasi Sapta Marga II”, Makassar: (tanpa penerbit), 1959.
2. Wikipedia..
3. Team Dokumentasi Presiden RI, G. Dwipayana dan Nazaruddin Sjamsuddin (ed.), “Jejak Langkah Pak
Harto (21 Maret 1988-11 Maret 1993)”, Jakarta: PT Citra Kharisma Bunda, 2003.













August 12th, 2010 at 10:53
Hidup orang Minahasa. Bohusami!