Ketika Bokong dan Payudara Mulai Kendor – Cinta Yang Dipertanyakan

Dinar Manaf


Untuk pangeran tampanku yang kesepian di sana

Abah, akhir – akhir ini aku selalu gelisah. Kau memang tetangga yang baik bagiku. Tetangga yang begitu dekat. Tetangga selimutku di atas ranjang ini dan di antara guling kamar kita. Bah, terimakasih atas semua kasih sayangmu selama ini. Selama 32 tahun kita menikah, abah selalu mengasihiku dan membimbingku dengan penuh cinta. Ketika aku tidur tanpa bantal, abah selalu menaruh bantal untuk aku dan abah meninggalkanku dengan kecupan manis di keningku. Ketika aku tidur tanpa selimut, abah selalu menyelimutiku dengan perasaan penuh cinta. Semua itu sungguh membuatku merasa bahagia.

Bah, maukah kita pacaran lagi ? Seperti saat kita jatuh cinta dulu. Kita akan memancing di rawa – rawa. Kita akan menunggu maghrib di bukit bono. Kita akan berkeliling kota dengan bersepeda. Kita akan menonton basket bareng. Kita akan menimba air, memetik buah jeruk di kebun shatire. Kita akan mengikuti lomba makan kerupuk. Kita akan membelah kayu bakar seperti saat abah umi ajari dan tangan abah sampai lecet. Masih ingatkah abah tentang masa – masa kita pacaran dulu ?

Abah, aku hanya ingin membuang rasa khawatir sekarang ini jauh – jauh dari kehidupanku.  Pikiranku kotor bah, sekarang aku mulai ragu akan kesetianmu. Walau kita tidur bersebelahan, tapi sekarang kita jarang berbicara. Abah pulang kerja saat umi dan anak – anak sudah tidur. Abah memang sangat perhatian kepada umi dan anak – anak. Sampai-sampai menunggu abah pulang malam saja abah khawatir kalau kami kecapean. Bah, taukah pikiran kotor umi sekarang ini? Aku takut abah terlalu sibuk bekerja dan mengabaikanku karna umi sudah tua. Bokong dan tetek umi saja, sudah kendor. Umi takut kalau abah bosan sama umi.

Abah aku menulis surat ini dengan penuh perasaan dan keberanian diri yang sangat kuat. Sulit rasanya jika umi selalu menuntut hak seorang perempuan sebagai seorang istri dalam keadaan umi masih meragukan kewajiban – kewajiban umi sebagai istri dan seorang ibu dari anak – anak kita. Maafkan umi abah. Maukah abah saat pulang kantor nanti, memeluk perempuan keriput ini. Perempuan tua yang akan menunggu abah pulang sampai jam berapapun nanti malam. Aku ingin memeluk abah dan menangis seperti saat kita sedang bertengkar seperti dulu di saat kita masih abg.

Salam peluk cium dari seseorang yang sangat mencintaimu.

” Hawasyein “

Jam 3 sore Adam pulang ke rumah. Selama di perjalanan dia merasakan kesedihan dan perasaan menyesal yang amat mendalam. Dia tak kuasa menahan isak tangis yang terlihat di wajahnya. Sedikit demi sedikit air matanyapun mulai menggenang di pelupuk mata. Pikirannya semakin tidak karuan.

Ingat masa – masa yang indah dulu bersama istrinya ketika masih pacaran. Betapa dia sangat memperhatikan sang dambaan hati. Bahkan kasih sayang itu masih menjadi prioritas utamanya setelah pernikahan. Kini memang Adam terlalu sibuk dengan pekerjaan yang dijadikannya sebagai istri keduanya. Sesampainya di rumah, Adam tetap berusaha kuat akan semua kelemahannya itu. Di sana, di depan pintu rumah. Hawa nampak setia menunggu pangeran muda memeluknya. Adam lari dengan penuh genangan air mata. Walau tubuhnya memang terlihat begitu lapuk. Diapun tak kuasa menahan air mata yang terus menetes di bibirnya yang sudah terlalu kaku itu. Seakan isakan tangisnya itupun melumpuhkan kewibawaannya sebagai seorang lelaki yang tegar dan bijaksana

” maafkan abah, umi ” sambil memeluk dan menciumi wajah permaisuri yang terlihat seperti gadis 17 tahun itu. Hawapun menangis dengan penuh kebahagiaan  dan speechless

” apakah kelak jika abah sudah pikun dan adik abah tidak kuat lagi berdiri, masihkah umi mencintai abah” hawa menganggukkan kepala sambil menangis dan merasa malu.

” berarti kita telah saling mengerti bahwa saat ini yang kita butuhkan adalah kebahagian rohani kita sendiri, mungkin juga ini sudah saatnya abah berhenti bekerja yang seperti pemuda 30 tahun lalu. Bagaimana jika kita pergi ke kampung halaman dan membuat gubuk disana. Di pinggir sawah kita dulu juga boleh ? ” Dengan sesenggukan Adam mengatakan itu dan tetap berusaha wibawa

” maukah putri cantik yang mulia ini menikah dengan pemuda desa untuk kedua kalinya ” Hawapun menangis menahan malu dan berbahagialah kedua pasangan 57 tahun itu

” family is perfect beauty in the world “


Ilustrasi: layoutsparks.com


Note Redaksi:

Selamat datang dan selamat bergabung Dinar Manaf, semoga kerasan ya. Ditunggu lagi cerpen-cerpen apiknya. Terima kasih Alexa yang sudah memperkenalkannya di Baltyra…

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.