56 Etnis Suku di China : The Kirgiz

Sophie Mou


Suku Etnis Kirgiz adalah etnis ke 31 yang diakui oleh Pemerintah China sebagai salah satu etnis minoritas di China. Etnis minoritas Kirgiz, dengan populasi 160.823, hampir 80 persen dari penduduknya tinggal di Prefektur Otonomi Kizilsu Kirgiz di bagian barat daya Xinjiang Uygur Autonomous Region. Sisanya tersebar tinggal di ILI, Dacheng, Kashgar, Aksu. Ada beberapa ratus klan Kirgiz yang berimigrasi sejak ratusan tahun lalu ke bagian timur laut Cina, sekarang tingga di Desa Wujiazi Fuyu County, Propinsi Heilongjiang.

Asal-usul dan Sejarah

Bahasa Kirgiz termasuk dalam bahasa Turki dari keluarga bahasa Altai. Pada tahun 1950, mereka menciptakan bahasa bahasa Kirgiz modern yang digunakan saat ini, banyak mengadopsi kata2 dari bahasa China, mengantikan huruf arab kuno, mengunakan alfabet romawi.

Sejarah suku Kirgiz dapat ditelusuri kembali pada nenek moyang mereka yang tinggal di hulu sungai Yenisey. Pada pertengahan abad keenam-AD, suku Kirgiz berada di bawah kekuasaan Sultan Turki. Setelah Dinasti Tang (618-907) mengalahkan Kesultanan Turki Timur, suku Kirgiz masuk ke dalam wilayah dan mengadakan kontak dengan dinasti Tang dan pada abad ke-7 suku Kirgiz resmi masuk ke dalam wilayah Cina.

Pada masa dinasti Liao dan dinasti Song (916-1279), suku Kirgiz dicatat sebagai “Xiajias” atau “Xiajiaz”. Pada akhir abad ke-12, masa kebesaran Genghis Khan, Xiajias tercatat dalam buku-buku sejarah Han sebagai “Qirjis” atau “Jilijis,” yang tinggal di lembah Sungai Yenisey. Dari Dinasti Yuan (1206-1368) ke Dinasti Ming (1368-1644), kaum Jilijis, telah beremigrasi dari Yenisey atas ke Pegunungan Tianshan dan menjadi salah satu yang paling padat penduduknya. Setelah abad ke-15, meskipun masih ada perbedaan suku, suku-suku Jijilis di Pegunungan Tianshan telah menjadi sebuah entitas yang bersatu.

Pada awal Dinasti Qing (1644-1911), suku Kirgiz, yang tinggal di atas Sungai Yenisey beremigrasi ke Pegunungan Tianshan untuk hidup bersama dengan kerabat mereka. Banyak kemudian pindah ke Hindukush dan pegunungan karakorum. Pada saat itu, beberapa Kirgiz meninggalkan tanah air mereka dan beremigrasi ke timur laut China.

Suku Kirgiz memainkan peranan yang penting dengan keberanian mereka, dalam membela China modern melawan agresi asing. Suku Kirgiz dan Kazaks membantu pemerintah Qing dalam upayanya untuk menghancurkan pemberontakan oleh Dzungaria dan Khawaja. Mereka menumpas serangan oleh Beg Yukub yang memberontak pada tahun 1864, dan ketika pasukan Qing datang ke Xinjiang selatan untuk melawan tentara Beg Yukub, mereka memberikan bantuan.

Namun, dengan dalih “keamanan perbatasan,” Pemerintah Kuomintang dalam rezim 1944 memerintahkan penutupan padang rumput, para gembala Kirgiz banyak yang terampas mata pencahariannya. Akibatnya, pecahlah revolusi Puli di tempat yang sekarang bernama Taxkorgan Tajik Otonomi County dan bagian daerah Akto, dan membentuk pemerintahan revolusioner. Revolusi ini, bersama dengan pemberontakan di ILI, Tacheng dan Altay, mengguncang pemerintahan Kuomintang di Xinjiang. Lebih dari 7.000 orang ambil bagian dalam Revolusi Puli, mayoritas adalah suku Kirgiz, Tajik dan Uygurs.

Sosial Ekonomi

Sebelum berdirinya Republik Rakyat Cina pada 1949, mata pencarian suku Kirgiz yang utama adalah beternak, yang sepenuhnya bergantung pada alam. Sekitar 15 persen dari penduduk bertani dengan cara primitif yaitu membuka lahan dengan cara membakar tanpa membajak dan memberi pupuk. Industri kerajinan berkembang dan tetap dalam kapasitas usaha rumah tangga. Usaha lain membuat tapal besi untuk kuda, karpet, topi bulu dan merajut wol. Peralatan memasak, pisau, teh, tembakau dan jarum harus dibeli dengan pertukaran hewan atau produk lain. Berburu adalah pekerjaan sampingan.

Seperti suku lainnya, suku Kirgiz juga mengalami sistim perbudakan di tanah pertanian, dan padang rumput. Sebelum tahun 1949, hanya 10% dari populasi penduduk yang memiliki ternak. Gembala masih sangat sedikit, dan biasanya bekerja untuk pemilik ternak dan tuan tanah. Ketika salah satu anggota rumah dipekerjakan, seluruh keluarga harus membantu merumput untuk hewan peliharaan, memerah susu, mencukur bulu domba, menenun, dan memasak untuk pemilik ternak, dengan imbalan satu atau dua ekor domba setiap tahunnya, ditambah pakaian dan makanan.

Di lahan pertanian, para petani miskin dijajah tuan tanah melalui riba, dan sewa tanah. Eksploitasi oleh para pemimpin agama juga parah. Tanah yang dimiliki oleh para ulama Islam harus digarap oleh petani dan masih diharuskan membayar pajak mencakup 20 persen dari pendapatan petani tahunan rata-rata.

Budaya kehidupan

Suku Kirgiz terdiri dari klan suku yang menyerupai organisai. Setiap suku klan memiliki sejumlah sub suku, tidak diharuskan tinggal di daerah yang sama. Setiap sub suku terdiri dari sejumlah “Ayinle” atau clan.

Pada pertengahan abad ke-18, sebagian besar Kirgiz di Xinjiang percaya dalam agama Islam. Saat ini sebagian suku Kirgiz masih banyak yang menganut agama Islam. Suku Kirgiz yang tinggal di Emin (Dorbiljin) County di Xinjiang dan Fuyu County di Heilongjiang, dipengaruhi oleh suku Mongol, menganut agama Lamaism. Ulama Suku Kirgiz disebut akhunds.

Karena budaya hidup sebagai pengembala dan peternak, suku Kirgiz hidup di tenda tenda Yurt. Kaum pria mengenakan kemeja putih berkerah bulat dihiasi renda dan ditutupi oleh jaket kulit domba atau kerah biru, kain panjang. Biasanya, sebuah ikat pinggang kulit dikenakan di pinggang, yang melekat sebuah pisau dan batu api untuk membuat api. Mereka mengenakan celana panjang longgar dan sepatu bot tinggi. Ciri khas lainnya adalah sepatu yang terbuat dari kulit. Sepanjang tahun, semua orang, tua atau muda, memakai topi bulat warna biru, putih atau hitam persegi berlapis kulit binatang. Bagian dalam topi kulit binatang dilapis dengan beludru hitam.

Kaum wanita mengenakan kerah jaket longgar dengan kancing perak di bagian depan. Rok panjang berlipit dengan lapisan dalam bulu. Beberapa mengenakan gaun dengan rok lipit di bagian bawah, dan ditutup dengan rompi hitam. Kaum muda menyukai gaun merah dan rok, topi bundar beludru merah atau topi merah dihiasi dengan mutiara, jumbai dan bulu. Wanita muda lebih menyukai syal merah atau hijau, yang tua memakan apron putih. Para gadis memakai banyak hiasan perak kecil2 sebagai hiasan rambut, biasanya setelah menikah dikurangin menjadi dua.Gelang, anting-anting, kalung dan cincin terbuat dari perak. Para gadis di beberapa daerah memakai hiasan putaran keping perak yang diukir dengan pola di dada.

Makanan utama suku Kirgiz adalah produk yang dihasilkan hewan. Mereka minum susu kambing, yoghurt, teh susu. Hasil pertanian biasanya adalah kentang, kubis, beras dan gandum. Mereka makan 3 kali sehari. Selain makanan diatas, nang semacam kue adalah makanan utama suku Kirgiz. Suku Kirgiz menganut agama Islam menghindari makanan mengandung babi.

Karena kebanyakan suku Kirgiz adalah nomaden, mereka hidup di tenda. Tenda yang disebut yurt biasanya berupa tenda portable yang bisa dilipat. Umumnya berbentuk persegi. Frame dari tenda ditutupi dengan tikar dari rumput, dibangun diatas kayu yang terpancang dengan kuat dan kokoh, terikat dengan tali tebal, dilapisi dengan kain terpal yang tetap kuat dalam angin kencang dan badai salju.

Banyak kaum muda Kirgiz yang telah pindah ke kota dan melupakan hidup nomaden di jaman sekarang ini. Mereka hidup dalam bangunan rumah rendah beratap datar.

Keluarga Kirgiz umumnya terdiri dari tiga generasi, dengan anak menikah yang tinggal bersama orang tua mereka. Pernikahan biasanya diatur oleh orang tua, kadang-kadang bahkan sebelum kelahiran telah dijodohkan.

Pernikahan dipimpin oleh seorang imam yang memotong kue panggang menjadi dua, dicelupkan potongan kue di dalam air garam dan disuapkan ke dalam mulut pengantin baru sebagai simbol dari keinginan pasangan berbagi suka dan duka dan bersama-sama selama-lamanya. Pengantin laki-laki kemudian mengambil mempelai wanita dan hadiah pernikahan kembali ke rumahnya.

Ada pembagian kerja di rumah. Kaum laki laki mengembala kuda dan sapi, memotong rumput dan kayu dan melakukan pekerjaan rumah tangga lain yang berat, sementara perempuan merumput, memerah susu, mengembala domba, dan melakukan pekerjaan rumah tangga. Sebelum masa pembebasan, laki-laki lebih dominan dan memutuskan segala hal masalah rumah tangga dan mendapatkan warisan. Ketika anak menikah, ia berhak mendapatkan sebagian harta keluarga yang biasanya diwarisi oleh putra bungsu. Perempuan tidak memiliki hak untuk mewarisi.

Suku Kirgiz adalah suku yang terkenal keramahannya. Setiap pengunjung, apakah itu teman atau orang asing, yang selalu dihibur dengan sajian yang terbaik, biasanya adalah daging kambing, nasi manis dan mie dengan irisan daging kambing. Penawaran potongan daging dari bagian kepala domba menunjukkan rasa hormat tertinggi untuk tamu.

Dalam kalender tahunan suku Kirgiz, mirip dengan orang-orang Han, tahun-tahun ini ditetapkan sebagai tahun tikus, sapi, harimau, kelinci, ikan, ular, kuda, domba, rubah, ayam, anjing dan babi. Munculnya tanda bulan baru awal bulan, 12 bulan membentuk satu tahun dan 12 tahun adalah siklus.

Pada awal bulan pertama tahun, suku Kirgiz merayakan sebuah festival mirip dengan Festival Musim Semi. Ada juga festival Islam. Pada festival besar dan malam musim panas, tua dan muda, laki-laki dan perempuan, berkumpul di padang untuk perayaan, menyanyi, menari, bercerita dan permainan yang dilakukan diatas kuda, menangkap domba, balap kuda, menembak dari atas pelana, berperang dan memanah.

Suku Kirgiz adalah penyanyi terkenal dan penari handal. Lagu-lagu dengan konten yang kaya termasuk lirik, epik dan lagu-lagu rakyat. Ada banyak jenis alat musik. Alat musik bersenar 3 yang terkenal adalah bandore, yang terbuat dari kayu pinus.

Banyak puisi, legenda, peribahasa, dan fabel telah diturunkan oleh suku Kirgiz selama berabad-abad. Salah satu epic terkenal, adalah “Manas” epic yang hampir menyerupai ensiklopedi dari Kirgiz kuno. Terdapat hampir 200,000 ayat yang menceritakan mengenai keberanian, dan kisah kepahlawanan beberapa generasi keluarga Manas, keberanian para Kirgiz dalam menolak penjarahan oleh para bangsawan Dzungaria dan aspirasi mereka untuk kebebasan. Ini juga merupakan cermin dari kebiasaan dari suku Kirgiz pada jaman dahulu.

Suku Kirgiz membuat lukisan dan ukiran fitur pola tanduk hewan untuk hiasan yurts, perlengkapan kuda, batu nisan dan bangunan. Suku Kirgiz menyukai warna cerah seperti merah, putih dan biru Seni dekoratif mereka selalu berwarna cerah penuh kesegaran dan vitalitas.

 

Referensi:

Photo by Chen Hai Wen.

Travelguidechina.com

china.org.shaosuminchu

sumber2 lain etnis minority

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.