Sang Duta Besar

Selamat atas “Berkah Usia Baltyra” 2 Agustus 2010 (yang juga merupakan hari International Friendship day)semoga Sukses & Berjaya selalu dalam keberadaannya.

Kita semua berbahagia & bangga di usia yang belia ini kita sudah memperoleh Penghargaan GOLD, semoga & seterusnya Rumah Kita ini akan mampu memberikan sebuah makna bagi kebaikan dan kemaslahatan buat semua orang yang Cerdas karena MEMBACA……salam bahagia”

ea.inakawa


“ SANG DUTA BESAR ”

Senang sekali setiap berkesempatan bertemu pria tua handsome ini dengan sudut rahang yang kokoh, mata yang teduh & rambut mulai memutih selalu tampil trendy/modis dengan  jas & dasi kuning gading bergaris coklat halus berlambang burung Garuda dan pin sang saka Merah Putih yang tak pernah absen terselip disebelah dada kanannya.

Di saat senggang bermain tenis lain lagi gayanya…..beliau selalu mengenakan T’shirt Polo berwarna pink dengan lengan tangan yang digulung seperempat bagian.

Beliau sang Duta Besar, menilik usianya berkisar jelang 60 tahunan memiliki 3 orang putera, di komunitas Deplu beliau dikenal sebagai diplomat senior & kawakan dengan pengalaman dan kemapanannya sebagai duta bangsa/mediator yang sudah malang melintang dalam penempatan di luar negeri & menjelang masa pensiun nya beliau ditunjuk sebagai Dutabesar u/ Afrika.

Mungkin karena pengalaman beliau cukup lama saya melihat karakter beliau lumayan berbeda dengan diplomat Indonesia umumnya termasuk gaya kepemimpinan beliau yang kharismatik,  dan saya menyukainya beliau cukup rendah hati & memasyarakat dalam kesahajaannya tanpa kehilangan wibawanya.

Beliau sangat berwawasan & tidak sungkan dalam memberi masukan … bukan dalam bahasa DIPLOMAT, tetapi dengan penyampaian yang umum sehingga menimbulkan suasana keakraban & itu bukan hanya khusus dengan saya tetapi dengan komunitas Indonesia lainnya pun demikian.

Jauh sebelum bergabung di Deplu beliau adalah seorang dosen muda di Univ.Jaya Baya Jakarta, hobynya ber-karaoke & menulis di beberapa Harian terkemuka Indonesia, lelaki 30 Juni ini sangat handal bermain Tenis dengan tangan kidalnya dan sesekali bermain Golf.

Berjabat tangan dengan beliau satu hal yang saya sukai, di jari tangannya terselip cincin yang dikomposisikan dalam satu Mahkota dengan hiasan batu mulya Tanzanite – Ruby & Emerald yang diapit dua buah Diamond pada sisi kiri dan kanan pondasinya…..anggun dan indah sekali dalam binar matahari & cahaya lampu.

“AWAL nya ada perasaan sungkan jika berhadapan dengan beliau, pada biasanya kami masyarakat Indonesia yang ada di Afrika hanya berjumpa jika ada sesuatu keperluan saja (apakah menyangkut Visa/Pasport atau event Dirgahayu RI) tetapi sejak beliau membuka diri boleh dibilang hampir setiap minggu kami bertemu di Wisma KBRI bermain tennis atau billiard bersama di samping acara rutin bulanan yaitu ” ARISAN ” yang selalu dimeriahkan dengan acara Bingo.

Sebuah kegiatan menikmati kemerdekaan & kemewahan  hati yang penat dengan kesibukan dan rutinitas pekerjaan.

Dan yang selalu memancing keinginan untuk selalu hadir adalah berbagai sajian makanan khas Indonesia yang sulit kami dapatkan diluar sana, setiap peserta arisan ini dikenakan kutipan sebesar usd 25/orang, tapi lebih daripada itu pertemuan ini bagi saya sebuah jejaringan untuk memper-erat silatuhrahmi sesama WNI, melepas rindu padamu Indonesiaku.

Pernah di suatu hari … di suatu minggu pagi yang sama dengan pertemuan minggu sebelumnya, saya & Patricya sang kekasih ditelepon oleh Pak Dubes untuk tidak absen berkunjung ke KBRI.

Pagi sekali di suasana yang tidak ber mendung saya & Patricya sudah lebih awal di sana lengkap dengan busana tenis dan penggantinya.

Seusai bermain….entah oleh karena apa kami bertiga hanyut dalam sebuah cerita panjang perihal pengalaman beliau dalam mendidik anak-anaknya selama bertugas di luar negeri.

Sejak berjumpa kenal dengan Patricya cewek Perancis penyandang gelar Phd yang bekerja disebuah NGO ini saya selalu membawanya ke KBRI, kami menghabiskan waktu bermain tenis bersama diplomat lainnya, dengan keluwesannya Patricya selalu disambut hangat oleh para ibu ibu kedutaan, kalau ia tak hadir selalu menjadi kerinduan bagi mereka, ia ter-amat pintar hanyut dalam diskusi mereka, di suasana formal & kocak.

Awalnya saya bertanya kepada Pak Dubes mengapa setelah berkeliling dunia achirnya memilih Afrika sebagai terminal ter-achir penempatan.

Dengan kesahajaannya beliau menjelaskan dengan seksama pengalaman demi pengalaman beliau selama belasan tahun dimulai dari  ASEAN – Japan – Amerika & Europe … beliau mengatakan ada hal yang sangat mendasar & sangat prinsip bagi saya kenapa saya memilih Afrika sebagai penempatan ter-achir  padahal saya tau banyak rekan Diplomatik yang enggan ditempatkan di negeri yang dikenal sebagai negeri kelaparan ini ,  karena Afrika yang satu ini dihuni seimbang antara Muslim & Kristen ortodok selain negeri ini belum begitu maju seperti Negara lainnya dan ini terkait erat dengan anak saya, begitulah awal pembuka cerita beliau kepada saya.

Saya terbentur dengan pendidikan Agama anak anak saya … seminim minimnya iman seorang anak tetapi menyangkut AKIDAH & ke ISLAMAN adalah hal yang sangat penting dan mendasar bagi seseorang. Saya melihat anak anak saya tumbuh dalam warna & nuansa kemewahan dan kebebasan Negara maju yang sangat sulit bagi saya untuk membendungnya & itu secara perlahan mempengaruhi pertumbuhan religiusnya yang selalu ia lupakan, frekwensi bertemu dengannya-pun menjadi jauh dari sering.

Saya melihat bahwa waktu sholat baginya merupakan sebuah hambatan & kebebasan sex ia lakukan sebagai sebuah hiburan bukannya ia tidak mematuhi saya tetapi iklim sebuah Negara maju tsb  telah merasuki & memberi motivasi bagi anak saya u/ berbaur dengan pola & gaya kehidupan anak muda Amerika – Japan & Europe.

Awalnya saya punya impian dengan membawanya serta ke Luar Negeri saya akan menjadikan masa depannya jauh lebih baik sebagai pria yang terpelajar.

Selama ini jauh dari pemikiran saya akan berdampak sedemikian parah … saya merasa Selama ini sudah memberikan bekal agama yang baik dengan pemahaman yang benar tentang agama islam . Tapi ternyata saya keliru ! Saya salah … (kata beliau) dalam pasrah.

Mendengarkan cerita beliau saya tercekat pada ironi tak henti atas sebuah dinamika hidup seorang turunan Bani Adam antara kesuksesan & kegagalan, nurani dan adrenalin saya mencari sebuah asal dengan liar antara sebuah kebenaran atas NIAT dan perilaku hidup yang mungkin SALAH, sehingga sang Dutabesar harus menuai SALAH,  apakah semua ini memang terjadi atas se IZIN Tuhan juga diluar doa doa yang ia panjatkan tapi tersirat yang kemudian didengar & di AMIN kan para Malaikat.

Sepertinya dalam ketertegunannya sang Dutabesar mencoba sejenak mengintip akar rumput permasalahannya, meraba & berkilas balik diperjalanan hidupnya, menelusuri asal usul semua sebab & akibat yang sudah terbuat.

Saya percaya berjalan di atas jembatan hidup selalu terkait dengan masa lalu-masa kini & masa depan seseorang dan saya juga percaya dengan hukum sebab & akibat, alam selalu ber-saksi DAN waktu meng-eksekusi, rasa sesal dengan kepatuhannya selalu menyusul di belakang, kala kita terjaga & sadar ada yang masih bisa terselamatkan dan tak sedikit pula yang terlambat…..apa daya nasi sudah menjelma menjadi bubur.

Sembari bermain bilyard saya melihat sang DUTABESAR berkali kali menahan haru gemuruhnya hati bak laksana pualam yang tersontak dan retak,  mungkin berbagai kenangan melintas dalam benaknya dan mungkin berbagai peristiwa yang ia lihat masih menyisahkan luka hati & sesal yang saya tidak tau pasti apakah akan mampu ia pupuskan atau hanyut terbawa mendung ber-arak arak di atas sana.

Sesaat beliau memilih untuk menyepi ketika selintas kenang yang nyeri menyeruak di dadanya.

Tidak ada satu pertanyaan pun yang saya & Patricya ajukan ke beliau, saya juga tidak bertanya apa yang beliau pikirkan saat itu … saya & Patricya hanya mencoba menjadi pendengar yang baik karena usia dan kapasitas kami adalah tamu & tidak layak untuk menasehati beliau, saya tak akan tau persis jika ada trauma lain yang menyelinap di lorong hati beliau, berbilang menit sebelumnya saya sudah memberikan isyarat kepada Patricya agar menjadi pendengar yang baik dan dia memahaminya untuk tetap dalam koridor santun.

Dengan sabar saya menunggu beliau melanjutkan ceritanya sembari sepasang bola mata ini saya izinkan dengan asyik memperhatikan bergelindingnya sang BOLA bilyard yang terpilih dan masuk, di akhir permainan bilyard ini selalu saja saya yang tampil sebagai pemenangnya, Patricya penuh kesal tak pernah mampu mengalahkan saya….lain hal kalau ia mengajak saya lomba berhitung CALCULUS selalu saya yang terkalahkan, makanya saya tak memberi ruang & kesempatan ia jadi pemenang kala bermain bilyard.

Begitupun saya selalu takluk ketika Patricya mencari suaka melalui sibiran bibirnya, saya tau makna yang tersembunyi disana, dibibir mungil nan pintar berdebat yang pernah saya ukur tak lebih dari 6 cm lebarnya…..duh ! Gusti.

Tak ada sebuah isyarat & tidak juga sebuah perintah…..

“AKHIR nya cerita sang Dubes berlanjut … saya mencoba mendiskusikan hal ini dengan istri saya & seorang ulama Mesir yang saya kenal … saya mendiskusikan dengan anak saya berbagai pemahaman tentang AGAMA … Islam – Kristian – Katholik – Hindu & Budha yang pada hakekatnya ber-asal dari sebuah sumber & tujuan yang sama.

Proses memberi penyuluhan ini ternyata bukan hal mudah ,  saya membutuhkan waktu yang panjang dan penuh kesabaran untuk kembali menata pondasi akidah anak saya yang berserak – luluh lantak tak berpegang tanpa kemudi tanpa arah.

Saya & istri tak ingin tereliminasi & kandas di ambang batas di senja usia kami

DAN achirnya doa doa yang penuh sesal atas berbagai kelalaian kami dikabulkan oleh Allah SWT ,  kami bersyukur atas perubahan pemahaman anak kami yang secara perlahan mulai bertaubat dan kami sadar betul bahwa TIDAK ADA SATU pun yang terjadi tanpa se IZIN TUHAN sang Khaliq Maha Pemilik. Penjelasan panjang ini achirnya menutup semua kisah & jalan hidup beliau ditabir senja pada hari tersebut dan pertemuan ini kami lanjutkan dengan dinner bersama.

Sungguh ! hati saya tergigit mendengarkan kisah nyata ini … pertanyaan bathin saya selalu akankah atau mampukah saya kelak mencetak anak anak saya menjadi anak yang sholeh yang berbakti kepada kedua ibu bapanya, Negara dan masyarakat di mana kelak ia bermukim.

Betapa saya sadar setiap hari hidup ini masih saja ada lalai & khilaf yang terbuat, masih juga bibir dan lidah yang tak bertulang ini berkata dusta, padahal bisa saja kalau esok tak pernah datang dan diri tak sempat berkata AMPUN kepada Tuhan.

SUNGGUH celaka & nistalah diri kita sebagai orang tua yang gagal menuntun anak menuju SURGA.

Saya trenyuh membayangkan kondisi duka hati beliau, dari penuturan berbagi kisah duka ini achirnya saya belajar memetik berbagai hikmah & pengalaman hidup sebagai bekal dalam mendidik anak anak saya kelak.

Sebuah pengalaman yang sangat berharga … DAN itulah sebuah bentuk kasih sayang yang tercurah dari seorang ayah ” sang Dutabesar “ penuh kasih dalam batas dan kadar yang tiada bertepi ,  tak lekang & luntur walau terbang jauh melintas berbagai benua & samudera.

Semoga kisah hidup dari orang orang yang hidup dalam ke alpaan ini akan menjadi cermin bagi kita semua … itupun jika kita mau & berkeinginan BERCERMIN apakah dengan cermin datar – bulat – cembung atau persegi empat,  terpulanglah kepada masing masing individu. Hidup adalah sebuah rangkaian pilihan, pintar & bodoh serta kaya dan miskin atau menjadi ber-iman dan jahat … bukanlah takdir TUHAN sungguh & nyata.

Saya & Patricya tersentak sadar tak ada lagi orang lain di ruangan ini selain kami bertiga, jam gadang Seiko kuno yang sudah ber-usia 25 thn tetapi masih terawat dengan baik berdentang 10 kali, di malam yang sepi ini suara dentingnya bergema nyaring sekali,  di saat yang sama Pak Dubes menerima sms, dari ibu katanya…..selarik pesan hinggap di sana untuk segera ber istirahat, kami memahaminya sebagai sebuah isyarat, sebuah kesimpulan yang tak baru dalam laku budaya timur, tak lama sejak isyarat itu kamipun berpamit mohon diri.

Berjalan menuju lapangan parkir kami melewati suasana taman malam KBRI, saya jatuh hati dengan suasana malam disini, saya & Patricya saling tersenyum, kubalut tubuhnya dengan jaket kulit kado ulang tahun yang amat kusuka darinya, sesaat membuat kami hangat, disuasana halaman KBRI ini kalau berjalan malam sendirian membuat bergidik, ada kolam & hutan kecil berbukit disekelilingnya, sepi yang menakutkan & sunyinya selalu mendebarkan….tapi hening dan dinginnya malam ini membuat kami semakin erat bergenit & bergandengan….Patricya : Tu as de beaux yeux kau punya mata yang bagus…..Puis-je te baiser izinkan aku menciummu…..Baise-moi ivan.

Salam setepak sirih sejuta pesan, dari balik sebuah bilik : EA.Inakawa – Kinshasa


24 Comments to "Sang Duta Besar"

  1. ilham  11 October, 2011 at 05:03

    Tulisannya bagus dan mengingatkan kita juga punya masalah yang sama.

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.