Endah Sulwesi
Langit pagi baru saja merekah, menorehkan seberkas warna wortel di timur. Udara pagi bulan Juni tak lagi membawa kabut gunung, meskipun tetap saja dingin. Kokok ayam jantan telah lama berlalu, serupa alarm weker yang membangunkan Lilis dari tidurnya yang gelisah resah. Ia baru bisa jatuh terlelap saat jam dinding merah jambu di kamarnya menunjuk pukul dua dini hari dan terbangun kembali 3 jam berikutnya. Emak dan bapaknya sudah sejak satu jam lewat berangkat ke tempat kerja. Sementara, adik-adiknya yang 3 orang itu, masih nyenyak dalam gelungan selimut hangat.
Kini di muka cermin kecil di kamarnya, Lilis mematut diri dengan jantung yang berdebar. Benarkah ia sudah mantap dengan keputusannya? Bagaimana jika emak bapaknya mengetahui dan lalu mengutuk serta tidak mengakuinya lagi sebagai putri mereka?
Ah, persetan dengan emak bapak. Mereka juga tidak sayang padaku, Lilis membatin. Emak bapak lebih sayang pada Damar, adik lelakinya. Masih jelas terbayang di benak Lilis ketika tiga tahun silam ia harus mengalah pada Damar untuk melanjutkan sekolah. Ia dan Damar yang terpaut usia tiga tahun dan baru saja menamatkan SMP-nya, mesti mengubur impiannya untuk terus sekolah ke jenjang menengah atas lantaran tak cukup biaya. Uang yang ada hanya cukup untuk mengongkosi satu orang anak. Kebetulan tahun itu Damar juga pas masuk SMP dan orang tuanya lebih memilih Damar. “Awewe mah teu kudu sakola luhur,” kata bapaknya waktu itu. Lilis akhirnya hanya bisa melelehkan air mata tanpa suara dengan perasaan yang hancur.
Dan hari ini, gadis 18 tahun itu tengah dilanda bimbang. Hari ini ia harus membuat keputusan penting yang akan mengubah nasibnya. Ia sudah bosan diam terus di rumah. Tetapi ia juga enggan mengikuti jejak emaknya bekerja sebagai buruh petik teh. Di samping upahnya yang kelewat sedikit, juga pekerjaan tersebut sama sekali tidak bergengsi. Masih lebih baik kalau bisa memburuh di pabrik tehnya. Tapi jadi tukang petik? Oh, tidak. Cukuplah nenek dan emaknya saja.
Tadinya, andai orang tuanya mampu, Lilis berencana melanjutkan pendidikan di sekolah menengah pariwisata. Ia berkeinginan bekerja di salah satu hotel yang banyak bertebaran di sekitar tempat tinggalnya, Puncak. Minimal sebagai resepsionis dan bukan tukang sapu seperti bapaknya.
Lilis sering memandang kagum para perempuan muda yang dijumpainya di angkot semasa ia masih sekolah dulu. Mereka cantik-cantik dan harum. Busana kerja yang mereka kenakan, setelan rok mini dan blazer, tampak sangat modern di matanya. Tentu membanggakan jika ia kelak bisa bekerja seperti mereka. “Mak, Lis mau kerja di hotel kalau lulus nanti,” begitu ia pernah menyampaikan niatnya kepada ibunya. Namun, apa mau dikata, nasib baik tak berpihak kepada dara bertubuh montok ini.
Serupa ibunya, Lilis dikaruniai tubuh sintal dengan kulit sewarna madu. Hawa dingin pegunungan, terkadang meninggalkan semburat merah muda alami di pipinya. Dia memang bukan gadis jelita. Parasnya biasa-biasa saja, khas perempuan Sunda pegunungan. Yang membuatnya menarik adalah sepasang lesung pipi yang diwarisi dari bapaknya. Selain itu, Lilis mestinya sadar warna kulitnya itu indah. Namun, serbuan iklan kosmetik pemutih kulit di teve telah meracuni otak remajanya, menerbitkan impian tentang kulit yang putih berseri. Setidaknya pada kulit wajah.
Dengan jemari gemetar Lilis membubuhkan pupur putih di pipinya. Jika biasanya cukup berupa sapuan tipis saja, pagi ini ia merasa perlu melipatkan ketebalannya hingga tiga kali. Lantas diambilnya gincu yang dipinjamkan Ecih, temannya. Semalam, Ecih sudah mengajarkan cara memakai pemulas bibir yang membuat warna bibir Lilis jadi semerah cabai. Untungnya ia tak butuh melukis alis palsu karena miliknya telah cukup indah, tidak terlalu tebal tetapi juga tidak tipis. Ujung-ujungnya yang dekat pangkal hidung, menukik seolah barisan semut hitam yang hendak terjun. Berikutnya, giliran rambut hitamnya yang mendapat sentuhan. Setelah disisirnya, dibiarkannya tergerai di bahu.
Masih dengan setengah hati, Lilis lalu mengenakan gaun yang baru dibelinya kemarin. Uangnya ia pinjam dari Ecih. “Gantinya gampanglah,” kata Ecih, “nanti kalau kamu sudah dapat bayaran.”
Ecih pula yang selama seminggu ini telah membujuk dan merayu Lilis untuk mengikuti jejaknya: melakukan kawin kontrak pada musim kunjungan wisatawan Arab tahun ini ke Puncak dan sekitarnya. Ecih yang sedikit saja lebih tua dari Lilis, sudah melakoni hal tersebut sejak dua tahun lalu dengan dukungan penuh dari keluarganya. Malah bapaknya sendiri yang ‘menikahkan’ putrinya itu dengan seorang pria asal Saudi. Usia perkawinan itu biasanya hanya 3 bulan, dari Juni hingga September, saat para pelancong itu kembali ke negeri meraka. Untuk itu Ecih menerima bayaran sebesar 20 juta rupiah. Sungguh sebuah angka yang besar bagi Ecih dan membuat Lilis meneteskan air liur.
Dua puluh juta. Dengan rupiah sebanyak itu Lilis bisa membeli apa saja. Baju-baju cantik seperti yang dipakai Ecih, handphone, selop tinggi, celana jins, atau bahkan satu unit sepeda motor. Kapan dan dengan cara bagaimana lagi ia bisa memperoleh uang sebesar itu? Menjadi kuli pabrik seumur hidup pun belum tentu sanggup mengumpulkan harta sebanyak itu. Apalagi omongan Ecih sangat meyakinkan, bahwa kawin kontrak itu sah secara Islam. “Eta mah sanes jinah, Lis. Halal ceuk agama urang,” begitu Ecih pernah berujar dan sempat menggoyahkan iman Lilis.
Lilis paham betul, emak bapaknya menentang keras kawin kontrak seperti yang dijalani Ecih. Menurut mereka apa yang Ecih kerjakan sama saja dengan melacur. Bapaknya Ecih telah menjual anaknya, demikian pandapat Mak Nunung, emak Lilis. Dari situ Lilis tahu bahwa sampai mati pun orang tuanya tidak akan pernah menyetujui kawin kontrak, meski dibayar berapa pun.
Lantaran itulah, hingga pagi ini Lilis masih saja bimbang, antara menerima ajakan Ecih yang berarti ia akan menerima 20 juta rupiah atau menolaknya dan nasibnya tak akan pernah beranjak.
“Sudah, nggak perlu bilang bapakmu,” Ecih mengomporinya lagi kemarin saat mereka belanja baju untuk Lilis. “Nanti juga kalau sudah kejadian, emak bapakmu akan ridho. Apalagi kalau sudah lihat uangnya. Lagian nggak lama, Lis, cuma 3 bulan.”
Ya, kenapa tidak? Hanya tiga bulan paling lama. Dan ia bisa pegang uang sebanyak 20 juta. Uang itu bisa ia pakai untuk modal membuka warung kelontong di depan rumahnya. Atau buat biaya sekolah Damar. Ah, tidak! Mengapa harus Damar lagi? Damar yang telah memupus masa depannya. Tidak! Kalau dia mau melanjutkan sekolah, ia mesti usaha sendiri. Dia kan anak lelaki yang dibangga-banggakan bapak emaknya.
Tetapi sanggupkah ia kelak menanggung risiko dicap sebagai “bekas Arab” sebagaimana menimpa perempuan-perempuan yang melakukan kawin kontrak? Stempel bermakna negatif itu berakibat buruk bagi wanita-wanita yang menyandangnya. Konon, mereka jadi sulit mendapatkan jodoh. Nyaris tak ada pria pribumi yang bersedia mengawini mereka. “Tos logor,” begitu anggapan yang marak beredar. Artinya, sudah longgar. Entah itu benar atau hanya sekadar mitos belaka yang bermula dari adanya pendapat tentang ukuran penis pria Arab yang terkenal super.
Sanggupkah di kemudian hari Lilis hidup dengan anggapan demikian? Apalagi andai ternyata dia sampai hamil.
“Minum jamu aja. Gampil eta mah,” lagi-lagi seperti seorang pakar, dengan entengnya Ecih memberi gambaran solusi bagi masalah yang akan timbul . Barangkali itu pula yang telah dilakukan Ecih. Buktinya hingga kini dia bisa terhindar dari kehamilan. Sebenarnya, kalau Ecih mau terus sekolah, dia jauh lebih beruntung ketimbang Lilis. Majikan bapaknya yang konon mantan pejabat di sebuah perusahaan asuransi besar di tanah air, pernah menawarkan budi untuk menyekolahkan Ecih. Konon, beasiswa itu tadinya adalah asuransi pendidikan yang diperuntukkan bagi cucunya. Tetapi, cucunya yang seusia Ecih keburu meninggal karena demam berdarah. Namun Ecih lebih suka meninggalkan bangku sekolahnya. “Capek ah sekolah. Mendingan kerja, dapat uang,” begitu dalihnya.
Tetapi pekerjaan apa yang mampu diperoleh oleh gadis lulusan SMP itu? Tak ada. Maka setelah dua tahun ikut membantu ayahnya mengurus vila Pak Sumantri, Ecih dengan restu ayah ibunya, menerima tawaran kawin kontrak dari Mang Kuta, seseorang yang dikenal sebagai pencari gadis-gadis untuk “dikawinkan” dengan onta, sebutan untuk para pria Arab tersebut. Tak jarang, Mang Kuta yang berperawakan kecil itu, berburu hingga ke Cianjur dan Kota Bogor. Tak sulit baginya mendapatkan perempuan-perempuan muda yang bersedia melakukan kawin kontrak. Umumnya gadis-gadis itu, seperti halnya Ecih dan Lilis, berasal dari keluarga miskin yang ingin mengubah nasib. Termasuk Lilis kini. Nantinya, sebagai imbalan, Kuta akan meminta jatah sepuluh persen dari perolehan gadis-gadis itu. Biasanya, kalau kebetulan bertemu klien Arab yang murah hati, dia juga mendapat bonus.
“Assalamualaikum..!” Ecih menyerukan salam sembari mengetuk daun pintu yang dengan gegas segera dibuka Lilis.
“Sudah siap, Lis?” Ecih memandang Lilis yang gugup dari ujung kepala hingga ujung kaki. “Keren, euy!” pujinya yang semakin memperbesar kegugupan temannya itu. Lilis kemudian masuk ke kamarnya dan keluar lagi dengan menenteng tas tangan dari kulit imitasi berwarna cokelat muda. Di muka pintu kamarnya, ia berdiri ragu.
“Yuk, berangkat. Mang Kuta sudah menunggu di vila. Ontanya sebentar lagi datang,” Ecih menggapai lembut lengan sahabatnya itu. “Kita naik ojek saja.
Di ruang tamu vila kini Lilis duduk dengan gelisah. Keringat dingin mengaliri punggung dan mengembun di keningnya. Berulang kali ia mengelapnya dengan tisu. Jantungnya berdegup gemuruh menanti apa yang segera akan terjadi di bilik tamu ini. Perasaannya tidak karuan. Teh yang disajikan di meja tak juga disentuhnya. Dia tidak ingin minum apalagi makan. Perutnya mulas. Sudah tiga kali ia bolak-balik ke kamar kecil.
Hadirin berjumlah 5 orang, termasuk dirinya dan Ecih. Selebihnya adalah Mang Kuta, tukang ojek yang akan menjadi saksi, dan seorang pria yang kira-kira seumuran bapaknya dalam busana putih-putih layaknya ustad atau kyai. Ketiga pria itu tak henti-hentinya merokok, mengabuti ruangan, membuat Lilis sedikit terbatuk-batuk.
Sudah hampir satu jam mereka menanti Tuan Ismail, sang mempelai pria yang katanya belum bangun tidur lantaran baru pulang jam 3 pagi. Pembantu di vila itu bercerita dengan berbisik-bisik bahwa majikannya pulang dalam keadaan mabuk berat dan ia tidak berani membangunkannya. Mungkin Tuan Ismail lupa ia akan melangsungkan pernikahan pagi ini.
Lilis sibuk menerka-nerka seperti apa rupa calon suami kontraknya itu. Kata Ecih usianya 40-an. Soal fisiknya, Ecih tidak bisa menjelaskan, sebab belum pernah melihatnya juga. Tapi seperti umumnya orang Arab, pasti lebih besar dari para lelaki setempat. Lilis tak berani bertanya-tanya pada Mang Kuta. Selain malu juga karena Mang Kuta sejak bertemu sudah menunjukkan sikap yang kurang ramah padanya. Yang dapat dilakukannya kini hanya menunggu saja. Dalam cemas dan gelisah.
Bruk.Bruk.Bruk. Terdengar langkah kaki yang berat dari arah tangga yang menghadap ruang tamu disusul beberapa detik kemudian dengan munculnya sesosok tubuh tinggi besar milik seorang pria berjubah abu-abu melapisi selembar gamis putih di dalamnya. Ia memakai kafiyah kotak-kotak kecil hitam putih. Wajahnya yang tanpa senyum ditumbuhi sejumlah bulu yang tumbuh mulai dari pelipis, menutupi bidang pipi hingga janggutnya. Bulu-bulu itu campuran warna putih dan hitam, seperti kafiyahnya. Misai yang nyaris sebesar pisang ambon melintang di atas bibirnya.Sepotong hidung mancung agak melengkung, bertengger di atas kumis itu.
Belum sempat mengamati warna matanya, Onta itu tahu-tahu sudah menjatuhkan dirinya di sofa besar berhadap-hadapan dengan Lilis. Seketika itu juga tubuh gadis berkulit madu itu mengejang lalu gemetar. Lilis ingin lari saja, mengurungkan semua niatnya. Namun kakinya terasa lemas tak memiliki kekuatan. Ia cuma sanggup dengan lemah mengeluarkan kata-kata, “Saya takut. Saya tidak mau. Saya takut. Saya tidak mau…” ***
Gunung Mas, April 2009
Dimuat di Tribun Jabar edisi Minggu, 4 Oktober 2009.
August 3rd, 2010 at 08:11
Ternyata perbudakan / penjajahan gk ilang-ilang di bumi Indonesia.
August 3rd, 2010 at 07:54
pakdhe monggo kan udah tau jawabnya.. masak pake nanya pula??
(klo saya berminat juga kawin kontrak… kontraknya sampai maut memisahkan… hohohohohoh)
August 3rd, 2010 at 07:36
Yang ingin sekolah, tidak bisa melanjutkan
Yang bisa sekolah, malah tawuran, kepriye……?
Tapi ormas-ormas yang sering bikin rusuh menggrudug sana-sini itu berani tidak menggrebeg yang kawin kontrak ? Atau sudah dikontrak juga …..
August 3rd, 2010 at 07:10
Sayang ya, gadis2 muda belia, dan (mengutip kata2 Nev) masih segar2 harus jadi korban kemiskinan. Sudah jadi bekas arab, gak bisa ngelanjutin sekolah lagi. Smoga gak terjadi lagi..
August 3rd, 2010 at 05:44
Ini sudah menjadi rahasia umum, banyak yang tau, tapi kok dibiarin saja ya…ahh…namanya juga lihat uang, ada yang memang menginginkan uang, ada yang terpaksa, ada yang karena kebodohannya, ngga mikir apa akibatnya besok..yang penting sekarang punya duit.
August 3rd, 2010 at 05:18
terimakasih kisahnya. semoga tidak terus terjadi ya…
yang pernah saya dengar, kawin kontrak tidak hanya terjadi di jawa barat saja. di jawa timur juga kabarnya ada (di daerah pengeboran minyak)..lalu juga di daerah2 industri (dimana banyak buruh dr kelompok marjinal.. masih muda2 dan segar2…
semoga tidak berlanjut deh kisah semacam ini…
August 3rd, 2010 at 04:30
Begitulah fenomena hidup para Siti Hawa dikampung kampung sana,di desa desa sana…..diseputar gunung gunung teh – kebun sawit & tembakau,duh mirisnyaaaaa Para tetua & pemuka Agama desapun terlibat membenarkannya dan sampai kapannnnnnnnnn
August 3rd, 2010 at 04:28
wah, kawin pakai kontrak…..tp mmg nampaknya praktek ini msh ada ya?
August 3rd, 2010 at 02:28
Fenomena yang sedang marak di daerah puncak saat summer tiba spt saat ini. Uang real berhamburan disana. Prostistusi berselubung agama…nikah mutah.
August 3rd, 2010 at 00:39
Ikut ngontrak ya Ndah…ehem..satu..!