Orang Tertua di Dunia

Anwari Doel Arnowo


Saya akan mencapai umur berapa tahun? Oleh karena semua orang di sekeliling saya, yang pegawai negeri atau yang pengsaha atau rakyat biasa, semuanya sudah pasti tidak bisa menjawabnya, maka biasanya kita ini akan membiarkan pertanyaan di atas tidak terjawab saja.

Lalu apa yang akan didiskusikan di sini?

Pokok pembicaraannya adalah masalah orang yang sudah tua.

Di Indonesia yang mempnyai adat yang seperti biasanya mengenai orang tua pada umumnya seperti halnya juga rata-rata di negara-negara di Asia, akan bertempat tinggal dan hidup bersama dengan anaknya atau salah satu dari anak-anaknya sebagai orang tuanya, sampai masa senja usia.

Bagaimana dengan bangsa dan negara lain yang tidak memiliki anutan atau ikutan adat yang seperti ini? Mereka sudah menerima kebiasaan bahwa yang disebut dengan keluarga itu hanya terdiri dari ayah-ibu dan anak-anak mereka. Anak-anak mereka ini bisa anak kandung atau anak tiri bahkan anak pungut. Hanya itulah pengertian arti kata keluarga yang utuh bagi mereka.

Memang, bagi orang-orang Asia, hal seperti itu adalah praktik yang terasa kurang masuk di akal, bila para kakek dan nenek itu hidup sendiri di tempat tinggal lain, baik berupa rumah pribadi, atau rumah pemeliharaan khusus untuk orang-orang tua yang sudah tidak mampu untuk bertempat tinggal sendiri dengan mandiri.

Biasanya perasaannya akan tidak nyaman melihat yang seperti itu. Maka bagi orang dari kalangan penduduk di negara Indonesia, adalah bukan persoalan seperti halnya sekarang ini yang belum adanya Undang-Undang yang membantu dan melindungi para orang tua yang seperti telah disebutkan di atas. Akan tetapi di negara-negara maju dan modern serta yang sudah sejahtera, praktik memelihara orang tua seperti “semestinya” dilakukan di Asia pada umumnya itu, telah diambil alih oleh Negara melalui pemerintahnya dan dilaksanakan dengan mengacu kepada Undang-Undang khusus mengenai hal itu.

Ada yang mengatur berapa diberikan dalam bentuk uang dan ada yang bisa diberikan dalam bentuk in natura sesuai dengan peraturan yang berlaku. Selain in natura masih banyak kemudahan-kemudahan dalam bentuk lain, yaitu misalnya rabat atas harga barang maupun jasa, seperti harga ongkos angkutan yang diberi rabat sampai lima puluh persen dari harga biasa. Hal-hal seperti ini sudah menjadi kebiasaan sejak berpuluh tahun yang lalu, sehingga bukan barang yang aneh di masyarakat.

Dengan adanya pengambil-alihan oleh pemerintah seperti itu, maka para anggora “keluarga” tidak merasa khawatir lagi terhadap nasib dan kehidupan orang tua mereka, atau memandangnya sebagai persoalan besar. Para orang tuapun juga sudah sejak masih muda, keinginannya adalah agar bisa menempuh kehidupan mereka dengan menyendiri, sesuai dengan gaya hidup dan pola orang yang sudah mencapai tahap tua. Titik.

Sakit?

Ya, diserahkan kepada dokter serta paramedik yang mumpuni dengan keahliannya masing-masing!! Lalu bagaimana dengan masalah pembiayaan?? Ternyata tidak semuanya menjadi masalah seperti di Indonesia. Para orang tua – Lanjut Usia, yang telah merasa membayar pajak dengan teratur, saat ini sama sekali tidak menikmati imbalan yan pantas sebagai Pembayar pajak.

Hal ini sungguh amat berbanding terbalik dengan apa yang dialami oleh para Lanjut Usia di negeri-negeri yang lain yang sudah ada Undang-Undangnya dan ada peraturannya yang mengayomi mereka. Ada sistem yang jelas dengan tata cara asuransi, ada sistim bantuan Pemerintah, tetapi dalam hal misal para orang tua yang sakit itu bisa membiayai sendiri, dengan summber keuangan sendiri, maka hal itu boleh-boleh saja, tiada larangan. Ada banyak pilihan untuk fasilitas yang dikehendaki dan disukai.

Jadi perbedaan yang mencolok adalah dalam penerapan adat dan kebiasaan serta Undang-undang dan peraturan yang berlaku di situ.

Saya tidak tau apakah ada data yang bisa didapat yang mendekati akurasi baik di Indoneia mengenai berapa jumlah manusia usia lanjut yang telah mencapai usia 100 tahun ke atas?

Di Indonesia masih banyak orang tua yang lebih senior dari saya, yang menyebutkan tanggal lahirnya dengan waktu terbitnya uang segobang pada jaman penjajahan belanda dulu, atau dengan Gunung meletus, semua tanpa tanggal yang jelas. Sayapun belum pernah melihat Akta Kelahiran ayah dan ibu saya, bahkan yang milik saya sendiripun. Saya dibuatkan salinan Akta Lahir yang diterbitkan waktu tahun 1951, ketika saya sudah berumur 13 tahun oleh Kotamadya Soerabaia. Sekarang ada di mana disimpannya asli salinan Akta itupun saya sudah lupa.

Sekedar tambahan agar kita bisa mengetaui jawaban terhadap pertanyaan di atas mengenai orang tua usia 100 tahun ke atas, demi untuk dipakai sebagai referensi, yang ada di negara Amerika Serikat, silakan membuka link:

http://online.wsj.com/article/SB10001424052748703467304575383593595643772.html?KEYWORDS=Scientists+Seek+to+Tabulate+Mysteries+of+the+Aged


Ilustrasi: friendsoftheelderly.ie

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.