Drongo

Night – Australia


Namaku Drongo, nama yang tidak keren dan tidak mentereng! Meski demikian aku pintar pastinya, masuk peringkat sepuluh besar di sekolah, bahkan ikut OSIS saat SMA.

Kisahku dulu tidaklah hebat, SD dari sekolah negri yang bergubuk reyot, aku tak begitu ingat kisahku yang itu. Masuk SMP agak mentereng di sekolah swasta, saat itu aku masih alim, berteman baik dengan anak bejat bernama Norkie! Masuk SMA sama-sama Norkie, kenal sama Dill yang ngga pernah jelas!

SMA, ahh…. Semua orang bilang masa paling indah, masa iya? Ngga tuh!!

Masa puber jaman SMA, si Norkie uda puber duluan dan Dill sepertinya telat banget… Aku? Cinta-cintaku terhadap para gadis pupus karena modal! Nasib….

Kisah cintaku saat itu tragis…, terkisahlah cinta pertamaku, sebut saja BCL namanya. BCL adalah gadis populer, pintar, manis dan sedap dipandang. Aku hanya sanggup mengaguminya dari jauh, aku tak bermodal untuk mengejarnya, bahkan ke sekolah aja masih naik angkot dan jalan kaki! Bandingin sama Norkie, bedebah itu punya Ninja! Jaman sekarang sih Ninja uda pasaran, tapi jaman aku SMA tuh bisa pake bebek aja uda hebat… Si Dill lebih biadab, punya bebek tapi pilih gratisan naik bus sekolah… Aku sakit hati bus sekolah tak melewati rute rumahku…

Kembali ke kisah cintaku, BCL…. Dia saat itu akhirnya jatuh ke pelukan laki-laki lain! Aku sakit hati…, sakit banget… Tapi dasar lacur, kedua teman baikku tidak menghibur, mereka mentertawakanku! Teman baikku tertawa di atas penderitaanku…, apa mereka hanya terpaksa berteman denganku?!

Dari situlah aku percaya rokok adalah teman baikku! Rokok selalu ada saat aku sedih, selalu ada untukku, tak pernah mengkhianatiku, dan mampu menentramkan perasaanku yang gundah…

SMA, tidak hanya kisah cinta kan? Aku yang pintar, sepuluh besar di sekolah juga masuk dua belas preman! Yup, julukan dari guru-guru untuk dua belas anak paling dicari karena kenakalan di sekolah! Hobiku bolos, pernah ketangkap main judi di sekolah… Dan pernah juga skorsing diri sendiri dengan menfitnah di skorsing kepsek, akhirnya ketahuan dan disuruh masuk kelas…

Aku tak bangga, tak juga sesal akan kisahku itu…

Kuliah, ah itulah masa paling sulit! Aku tau tak pernah mudah masuk dunia orang dewasa…, harus mulai memikirkan masa depan! Norkie dan Dill masih berteman baik denganku…, mereka masih sering numpang makan di rumahku, dasar! Apa ini salah satu alasan orang kaya tetap kaya?!

Norkie yang bedebah sudah beralih profesi dari siswa nakal menjadi mahasiswa playboy, aku heran kenapa gadis-gadis tertarik sama dia.., apa karena kelakuannya yang perlente? Ah…, sudah berapa gadis yang diperawani? Aku tak tau, tak pula mau tau…, biarlah itu bukan urusanku. Dill, akhirnya dia puber juga, bebeknya sudah di upgrade jadi raja jalanan dan punya pacar…., aku pikir dia homo karena tak pernah keliatan tertarik sama wanita saat SMA, kuliah malah dapat model dan gadis populer di kampus.

Aku? Aku harus kuliah sungguh-sungguh…, aku tak mau hidupku terus susah! Aku memang secara materi tak seberuntung dua sahabatku…, tapi tak berarti aku tak bisa meraih impianku!

Kuliah…, hmm…, uda tak banyak aturan macam SMA, aku bebas namun tak lepas….

Pikiranku gundah, aku mulai harus menopang hidupku, aku harus mencari kerja…, aku tak bisa hanya kuliah. Dill bilang lulus kuliah cari kerja pengalaman nol adalah sia-sia, titel sarjana gaji tamatan SMA! Dill…, anak dari keluarga mapan tamat SMA langsung kerja sambil kuliah, masa aku tak bisa! Dia saja menentang ortunya yang larang dia kerja…, masa aku yang diijinin malah ngga bisa! Tapi kenyataannya aku susah cari kerja, aku memilih membantu di warung saja…

Kerja di warung, kerja juga kan? Aku jadi bos… Ayahku sudah tua…, Ibuku sudah pergi menghadapNya…, aku anak bungsu yang masih tinggal disini, saudara-saudaraku sudah pergi dan punya keluarga sendiri. Siapa lagi kalau bukan aku yang melanjutkan usaha… Aku dan kakak perempuanku, berdua kami akhirnya memilih meneruskan usaha warung ini…, memang warung kecil tapi aku sekolah sampai kuliah karena warung ini…

Temanku, Norkie dan Dill…, mereka sering datang ke warung ini…, ke rumahku yang sederhana, tak pantas dibandingkan rumah Norkie yang berporselen, anak perlente…, tapi kok comot makanan yang kujual tak pernah bayar? Aku curiga ini cara orang kaya seperti mereka tetap kaya….

Kuliahku lulus juga…., tak terasa juga, Norkie masih saja bejat dan tak berubah… Dill melanjutkan sekolah dan cita-citanya…, aku?

Aku akhirnya melepaskan warung itu ke kakakku, kakak perempuanku… Aku memilih jalan yang susah, apa tidak cukup susah hidupku dulu? Aku kerja dengan orang lain, masuk kampung, masuk desa demi sesuap nasi dan segenggam berlian…

Akhirnya sedikit-sedikit hasilnya keliatan…, aku mulai kredit rumah…, nyicil tapi aku bangga dan yakin mampu melunasinya, gajiku lebih dari cukup, dapat bonus juga…

Ahh…, roda selalu berputar, hidupku belum berakhir, ke manakah roda ini akan membawaku? Aku terus bertanya dan tentu terus berusaha untuk memberi jalan ke masa depanku….


Ilustrasi: megasavithri wp


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.