Ayahku

Taufikul


Orang-orang menganggap hebat ayah mereka. Aku tidak. Ayahku adalah bagian dari kehidupan biasa, yang dijalani dengan luar biasa untuk bertahan jadi orang biasa. Ia bukan orang hebat, ia ayah luar biasa yang belum pernah memukulku, tidak juga saudara-saudaraku, juga tidak pernah kulihat mamukul ibuku. Hanya sekali ayahku marah hebat pada ibuku, waktu masih di Kalimantan, karena ibuku hendak bekerja menjadi babu … Tidak, kata ayahku. Kemarahannya masih terngiang, harga dirinya tersinggung ke ubun-ubun, tapi ia tidak pernah mengangkat tangannya karena hal itu. Kemiskinan tidak pernah mengijinkan manusia menjadi nista, karena sebenarnya ia mengangkat dalam arti yang lain.

Ayahku bukan petualang, tapi ia berpindah-pindah dalam rentang waktu yang beraneka macam panjangnya. Bagaimana ia memutuskan berpindah dari satu tempat ke tempat lain, aku tidak mengerti, barangkali terpaksa atau melihat mimpi dan harapan… Yang aku dengar, dan sebagian aku menyertai, ia pernah tinggal di Kartasura, Bandung, Jakarta, Semarang, Jogja, Kal-Sel, Lampung, Ampel, Karanggede… beberapa tempat lain sepertinya pernah disebut, tapi lokasinya tidak populer dan dusun.

Aku selalu penasaran, kenapa rambut keritingnya yang sangat keriting itu tidak mampir ke kepalaku? dan, kenapa sifat ekstrovert-nya tidak kumiliki. Hanya kakakku yang agak mirip. Aku dan adikku yang tertua, yang kadang dianggap kembar, lebih introvert (ini hanya pemaknaan). Ia guru ngaji yang secara sukarela mengajar tanpa bayaran sepeserpun. Waktu di kalimantan, orang-orang kampung bahkan membuatkan sebuah Langgar di depan rumah kami, langgar yang sirna bersama dengan kepergiannya dari tempat itu (inget “robohnya surau kami”).

Meski tidak dibayar, kadang ada orang mengantar gabah, atau kadang singkong, atau hasil ladang lainnya… semacam upah karena mengajari anak-anak mereka. Murid-muridnya di sana kadang datang ke Jawa, mencari rumah kami, dan berkunjung ke sana … entah, barangkali, tiap kali ada orang yang pergi ke Jawa, mereka dipesan untuk pergi ke tempat kami, padahal kampung halaman mereka sendiri tidak dekat; Tulungagung, Jogja, Jawa barat.

Aku tidak pernah tahu kapan ulang tahunnya, karena dia sendiri juga tidak tahu. Dia bukannya lahir di jaman es, dimana belum ada akte, tapi di jaman ketika tanggal lahir tidak begitu diperlukan. Sekolahnya hanya sebatas MI. Dan, ia telah membesarkan seorang sarjana wekebret ini.

Ada bagian-bagian yang tidak akan pernah hilang dari ingatan fotografisku; waktu dia naik pohon, menebang dahan dan terjatuh dengan sebuah mandau di tangan yang tertancap di tanah karena digunakan untuk menahan tubuhnya, lalu tubuhnya yang tidak sadarkan diri itu digotong orang-orang ke dalam masjid… aku hanya duduk, menatap dari awal… hingga beberapa jam kemudian dia keluar dari masjid, dan membawaku pulang.

Entah apa yang kupikirkan ketika melihat peristiwa di depan mata itu. aku sama sekali tidak beranjak dari dudukku. Aku melihatnya terkapar, dengan resiko sebuah mandau merobek perutnya, dan memikirkan kemungkinan dia tidak panjang umur, dan tetap duduk seperti setan kecil. Kalau kuingat lagi, kenapa ya aku tidak lari ke tempatnya jatuh … padahal aku masih ingat suara tubuhnya waktu membentur tanah. Waktu dia naik ke pohon, aku sudah membayangkan dia akan jatuh. Dan sebuah dahan telah memelantingkan tubuhnya.

Di kemudian hari, aku dengar alasannya kenapa dia mau naik ke atas pohon, karena tidak seorangpun (saat itu kerja bakti di masjid) berani melakukan itu. Sampai sekarang dia kadang masih merasakan sakit di pinggangnya akibat jatuh itu.

Ayahku, … ia hanya seorang buruh, yang pergi dan pulang karena keluarganya.


Ilustrasi: pacamat.com

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.