Tangis Tuhan

Jumari HS


Sudah satu bulan ini, Budi yang berumur enam puluh tahun lebih, dia mengalami sesuatu yang aneh dan membuat sedih keluarganya Dia tiba-tiba begitu mudah menangis dan menangis meski masalahnya sekecil apapun. Apalagi kalau ada masalah yang berhubungan dengan masalah yang berkaitan dirinya dengan Tuhan, tangisnya sampai tersengguk-sengguk.

Sampai istrinya kalau melihatnya merasa kasihan dan di dalam hati istrinya yang paling dalam sebenarnya ingin mengetahui apa yang sedang terjadi pada pada diri suaminya. Tapi Dia merada takut dan hanya menyembunyikan keingintahuannya pada diri suaminya. Sedang di hati yang paling Dia ingin mengetahui secara jelas dan sepahit apapun Dia ingin menerimanya. Sudah tiga puluh lima tahun dirinya diperistrinya, jadi lebih tahu dan memahami karakter suaminya, dan baru akhir-akhir ini suaminya mengalami peristiwa aneh seperti yaitu sering menangis. Bahkan kondisi yang demikian itu membuatnya malu kalau dilihat anak-anak dan cucunya.

Airmata itu begitu derasnya mengalir dari kelopak mata Budi disertai lengkingan yang suaranya menyayat-nyanyat setiap orang yang mendengarnya, terutama istri dan anak-anaknya yang saat itu mendengar dan melihatnya merasa tercengang dan terpana penuh iba.

“ kenapa bapak menangis seperti itu, apakah ibu tak berusaha mencegah tangis nya “ Tanya anaknya yang peling kecil berusia 16 tahun yang merasa kasihan pada kondisi bapaknya.

“ aku tak bisa berbuat apa-apa, bapakmu akhir-akhir ini mengurung diri dan selalu diam jika aku menanyakan tentang hal itu “

“ tapi, ibu harus tahu permasalahannya dan berusaha mengingatkan bahwa menangis itu sesuatu yang tidak baik kalau dilakukan tanpa alasan“

“ kita sabar dulu nduk, dan aku paham dan ikut prihatin dengan semua itu dan  pasti ada sesuatu yang tersembunyi di hati bapakmu “ hibur ibunya.


Malam purnama, suasana begitu sunyi dan seharusnya memberi ketentraman bagi setiap keluarga yang sedang merasakannya. Apalagi malam itu desir angin sangat memberi kesejukan dan ketentraman. Tiba-tiba di kesunyian itu dikenjutkan suara yang begitu keras dan seakan merobek indahnya malam itu. “ tak ada yang melebihi tangisku, tak ada yang melebihi tangisku !”. suara itu dibarengin dengan suara tangis yang tersungguk-sungguk. Dan orang tersebut sambil keluar dari rumahnya sambil menadahkan kedua tangannya ke langit.

“ ini malam hari, jangan keluar rumah, pak “ cegeh astri istri budi yang berusaha menentramkan hati sumainya, karena merasa cemas kalau terjadi sesuatu pada suaminya di tengah malam.

“ aku bukan orang sinting, jangan ikut campur dan aku akan mencari Tuhan di tengah malam dengan merenangi airmataku sendiri” jawabnya.

“ jangan pak, berdoalah di kamar, airmatamu pasti tak berubah warna dan Tuhan pasti mengabulkan, asal hati bapak tulus dan ikhlas “

“ tidak mungkin, warna air mata di kamar dan di luar kamar sangat berbeda, aku ingin Tuhan melihatku menangis dan menangis dengan warna airmata yang bening seperti embun mengelupas dari pori-pori malam “


Malam sangat sunyi, dan daun-daun yang rimbun itu berkilauan disinari purnama yang malam itu begitu terang benderang. Semilir angin mengantarkan langkah kaki Budi yang menembus  belukar rahasia hidup. dia terus berjalan dan berjalan dengan menyuarakan tangisnya yang begitu kuat dan tak henti-hentinya, sampai menghentak-hentak sepinya malam. “ Tuhan, di mana Engkau, aku akan mencariMu, sampai airmataku habis!, sampai suaraku habis!, sampai tuntasl segala beban yang menggumpal dalam dadaku ini! “ kalimat itu terus terucap dari mulutnya dengan suara yang begitu keras.

“ suara siapa itu, begitu kuatnya di pertengahan malam seperti ini? “, bisik tetangganya Weni yang mengintip dari jendela rumahnya.

“ itu Budi tentangga kita, apa dia sudah gila ya bu? “ jawab Edo suami Weni yang merasa terganggu.

“ aku kurang tahu “ .

“ gimana enaknya, apa kita keluar dan temui dia“

“ tak apa, kalau bapak berani “


Meski dirasuki rasa ketakutan yang memuncak antara Edo dan Weni, keduanya berusaha memberanikan diri keluar rumah, mereka merasa kasihan pada nasib yang mendera tetangganya yang memprihatinkan itu. Rembulan begitu bulat seindah mata malaikat yang berbinar-binar menghias cakrawala, dan sungai yang bernyanyi dalam arusnya seakan mengaji penuh keteduhan.

“ kenapa kau menatapku seperti itu? “ Budi berusaha menyapa Edo yang mendekatnya sambil diawasi istrinya yang ada dalam rumah.

“ aku menatapmu, karena dirimu sekarang aneh “

“ apanya yang aneh? “

“ tengah malam seperti ini, sempatnya dirimu keluar rumah sambil menangis seperti itu? “

“ apa yang aku lakukan bukan urusanmu”

“ Tapi, yang kamu lakukan itu sangat mengganggu tetangga yang sedang tidur “


Hati Budi terhenyak, dan merasakan ada kesalahan yang lebih besar dari dirinya dengan menangis di tengah malam itu. “ benar kata  Edo tetangganya “ bisiknya.

“ Lebih baik malam ini aku pergi ke suatu tempat yang palung sunyi dan tak mengganggu siapapun. “. Spontan budi berlari meninggalkan rumahnya, berlari dan berlari menembus kegelapan malam yang begitu tebal.

“ Tuhan, aku datang kepadaMu, mari kita bicarakan tentang diriku yang tak layak hidup ini atau bergaul dengan orang lain. Bahkan Tuhan pasti sudah tahu bahwa diriku ini  telah mengkhianatiMu. Dan manusia yang hina! “ Berontak Budi sambil melangkah kaki menuju suatu tempat yang belum diketahui.

Antara suara jengkerik dan hewan-hewan malam lainnya saling bertautan yang membuat malam semakin mencekam. Budi menghentikan langkahnya dan terdiam. Matanya yang bening seperti menemukan sesuatu yang aneh dalam dirinya “ apakah aku sudah gila? “ keluh dalam dirinya sendiri. Meski demikian pikirannya masih merasakan kalut dan ada sesuatu yang belum terselesaikan dan malam itu harus dituntaskan dengan setuntas-tuntasnya. Tiba-tiba airmatanya berlinangan membasahi tubuhnya, ketika dalam pikirannya masa lalunya yang suram kembali merasuki jiwanya.

Memang masa lalu Budi benar-benar suram, .prilaku dan tindakkan waktu dulu yang sering berbuat maksiat yaitu berzina, mencuri dan minum-minuman keras setiap hari sudah menjadi menu dalam hidupnya dan saat ini Dia ingin bertobat dan kembali ke jalan yang benar. Tapi apa yang Dia mau lakukan itu merasa ada hambatan dalam dirinya sendiri, Mungkin Tuhan bisa menerima sedangkan apakah istrinya bisa memaafkan?. Karena selama ini perbuatannya kalau diketahui istrinya pasti akan marah besar, bahkan mungkin akan mengusir atau meminta cerai. Hal itu yang ditakutkannya, makanya selama ini Dia menyembunyikan perbuatannya masa lalu itu.

“ Malam, pertemukan aku dengan Tuhan, aku benar-benar gelisah dan tak mampu menanggung beban ini, aku ingin bicara dan menuntaskan dosa-dosaku ini “


Malam hanya diam yang ada hanya kesunyian yang basah oleh airmatanya. Dan embun yang mulai mengelupas membuat diri Budi semakin gundah gulana. Tiba-tiba dari belukar kesunyian ada sesosok manusia mendekatinya.

“ Malam-malam seperti ini, kamu sendirian di pinggir sungai ada masalah apa Tuan “ Tanya sesosok manusia itu.

“ aku sedang memikirkan diriku sendiri yang sedang mengalami beban berat “

“ beban berat apa itu, kalau aku boleh tahu “

“ aku sedang berusaha mengusir dosa-dosa masa laluku “

“ mengusirnya dengan apa? “

“ dengan air mata dan sunyi malam “

“ airmata dan sunyi malam,? ha..ha..ha “

“ kenapa kamu mentertawakan “

“ lucu! “

“ apanya yang lucu? “

“ lebih baik kamu pulang saja dan menjaga cintai istrimu sepenuh hati sebagaimana kamu lelaki yang bertanggung jawab.”

“ tidak mungkin, karena aku belum siap aibku ketahuan istriku “

“ justru itu, permasalahanmu yang terkatung-katung dan menjadikan beban bagi dirimu sendiri “ jawab orang tua itu, yang tiba-tiba menghilang tanpa sepengetahuan olehnya dan budi merasa kaget dan bertanya-tanya.dalam dirinya sendiri “ siapa orang tersebut, dia datang dan pergi tanpa tahu siapa sosok dia yang sebenarnya. Tapi yang dikatakan tidak ada salahnya. “ tegas budi sambil menyakinkan diri bahwa dirinya selama ini mengalami beban berat dan disalah tafsir.


Purnama hampir saja tenggelam, begitu malam tinggal menyisakan embun yang mulai hangat oleh kesunyian yang tak lagi sempurna. Hati Budi merasa tersayat dengan apa yang dikatakan sosok misteri yang baru saja menemuinya. Airmatanya semakin deras berlinangan dan berlinangan membasahi sepanjang jalan yang dilaluinya. “ istriku maafkan aku,..istriku maafkan aku, isktriku maafkan aku … “ kalimat itu terus terucap dari mulut Budi tak henti-henti, dan gema suaranya terasa memecahkan kegelapan malam bahkan suara itu seperti Tuhan yang mengalun dan mengalun, meski sunyi masih begitu misteri!.

Di rumah, istri Budi masih gelisah dan belum bisa tidur, perasaannya begitu kalut memikirkan nasib suaminya yang tiba-tiba pergi tanpa tahu apa yang dikehendaki. “ Aku menunggu airmatamu, suamiku, dan aku siap menerima apapun warna airmatamu itu. Aku ingin tangis sedihmu menjadi puisi atau senyum yang mengobati lukamu! “ istrinya sambil memandangi foto pernikahannya.

****

Kudus, 2010

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.