Malam Punya Jawaban

Alfred Tuname


Senja melekat di pekat malam. Ia lenyap bersama ganasnya terik yang didihkan bumi. Sebentar-sebentar juga hujan datang meniupkan debu yang berterbangan. Bukan cuma itu, ia kadang menenangkan mobil yang selau sibuk dalalm genangannya yang cair. Oh ya, itu di Jakarta yang sumpek, bukan di kota ini. Jika di kota ini, mobil menjadi raja pada seliweran hujan. Menyingkiran ribuan tumpukan motor di jalanan. Mobil bukan aksen prestasi selain fungsi di kala hujan.

Malam pun menjadi dingin di alam gurun. Seperti di gurun. Tekanan udara membuat hembusan angin dingin menyertakan wajahmu di kisaran mata. Saraf otak mencoba memvisualisasi coretan wajahmu. Bukan wajahmu yang tampak, tetapi pikiran tentang dirimu. Pikiran tak bisa menipu. Ia muncul begitu saja di saat tenang. Realitas ini tidak sedang dibirokratisasi hingga membuat orang dilarang berpikir. Birokrat biasanya tidak banyak berpikir hanya sedakar melaksanakan juknis, petunjuk teknis. Semacam simulasi. Dan entalah dirinya di mana dan sedang berbuat apa. Samarannya sedang berhadapan.

Kadang suara dan senyumnya tampak. Canda dan tawa terdengung menyeruak cressendo di telinga. Tertawa menciptakan kedekatan dalam keberjarakan. Dekat dalam kejauhan. Sementara kipasan energi yang tercipta oleh rindu menohok. Rindu sesosok manis dari kawanannya yang cantik-cantik. Apa arti rindu kalau bukan hasrat untuk selalu dekat. Dekat selalu. Meski dekat tak selamanya selalu bersama. Dekat pun bisa berarti perasaan akan kebersamaan. Ia selalu lepas dari dimensi ruang dan waktu (beyond time and space). Kerinduan semakin melambung sejauh besarnya energi yang tersimpan dalam hasrat dan ingatan akan kehadiran. Seperti rindu seorang nenek pada keadilan sebab tanah pahlawan diseroboti maling bejat.

Kesunyian pun menenangkan jiwa yang mengamuk  atas kenisah yang selalu lelah mencari bentuk. Mondar-mandir, hulir-mudik di kegalauan masa. Masa pun milik jiwa bukan raga yang surut demi waktu. Masa lalu, sekarang dan nanti mengubur raga demi tambunan jiwa. Semoga si dia tidak menelan formalin demi kerajaan kemolekannya kini. Bukankah kemolekan hanyalah (politik) pencitraan  yang membukus ribuan partikel kepentingan dan kebusukan insani? Tak perlu juga kenyang atas gaduhnya tepuk tangan dan pujian. Tepuk tangan pun dapat menjadi kepalan tinju dan pujian pun cenderung tendensius. Tapi molek pun tak selamanya itu luka. Bisa jadi itu bonus, bila benar.

Kebenarannya, ada rasa yang sudah terinduksi. Belum tahu magnitude-nya. Tapi itu ada. Rasa itu pun mungkin seperti ruang pada jaring laba-laba. Seolah mengecil dan acuh jika berdekatan pada centrum dan membesar jika berjauhan. Sementara itu, rindu terus memintal benang-benangnya untuk merajut kesatuan.

Dan jika dan hanya jika tak yang namanya egoisme dan ekslusivisme arkaik, mengapa kau tidak merapat dan mengatakan: “i would like to come over and visit you, may i?” Astaga-naga, ada yang terlupa. Masa muda memang meciptakan banyak pilihan di antara taburan pilihan. Dan zaman yang serba susah membuat orang mendabakan kenyamanan (comfort zone). Setidaknya tidak berjalan dengan dengkul untuk meminta zakat atau menanti bantuan langsung tunai dan saweran politik kandidat menjelang pemilukada. Rasa pun bukan saja persoalan hati tapi juga ekonomi.

Heeemmm, lalu di manakah makhota rasa itu harus ditahtakan? Mungkin malam punya jawaban. Bulan dan sinar gemintang mempercantik angkasa. Seolang sedang menari bersama putaran orbit planet. Ada yang mencipta dan mengaturnya. Semuanya ada dan teratur bukan karena korban sajian dan bakaran pun pujian tetapi karena kebaikan dan cinta Sang Pencipta. Sinar pagi mulai menyentuh dedaunan gunung. Hari baru datang bukan atas rekaan kalkulasi relatif manusia tetapi karena kebaikan-Nya.

(katabijak wp)


Jogja, 01 Agustus 2010

Alfred Tuname


Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.