[Serial Baltyra] Orang-orang Terlupakan Dalam Proklamasi: Sigitprawiro – Purbodiningrat – Surdji

Iwan Satyanegara Kamah – Jakarta


SIGITPRAWIRO – PURBODININGRAT – SURDJI

Menyembunyikan proklamasi

 


Kenang, kenanglah kami

Teruskan, teruskanlah jiwa kami

Menjaga Bung Karno

Menjaga Bung Hatta

Menjaga Bung Sjahrir

 

– “Krawang Bekasi”, sajak Chairil Anwar

 

KEBERADAAN sebuah negara sangat tergantung dengan keberadaan atau keselamatan pemimpinnya. Pernyataan ini berlalu dimana-mana. Perhatikan bila kita main catur. Ketika raja mulai terancam, siap-siap Anda menyerah. Bila raja sudah tidak bisa bergerak lagi untuk diselamatkan, berarti Anda kalah.

Lihatlah bagaimana Amerika Serikat (AS) menjaga keselamatan presidennya dengan sangat berlebihan. Mereka menggunakan berbagai cara dengan peralatan terbaik, termodern, terhebat dan tercanggih untuk melindungi keselamatan presiden dan keluarganya. Sekali keselamatan presiden AS terancam, berarti keberadaan negeri itu setidaknya terancam.

Untuk menyelamatkan keberadaan negara AS, mereka menciptakan sebuah sistem suksesi kepemimpinan yang berjalan dengan baik dan ditaati dengan penuh. Artinya, bila presiden AS mati mendadak, ada sekitar 18 orang berurutan rankingnya di bawah presiden siap menggantikannya dengan cepat.

Misalnya, Presiden Obama tewas dibunuh atau mundur, segera wakilnya Joe Biden dilantik. Bagaimana kalau Biden ikut mati mendadak, maka Ketua DPR Nancy Pelosi jadi presiden. Kalau Pelosi juga mati, ya Presiden pro tempore Senat Daniel Inouye menjadi presiden AS. Lalu Inouye juga berhalangan, maka Menteri Luar Negeri Hillary Clinton akan jadi presiden. Nah, di bawah Clinton ada 14 urutan menteri yang siap menjadi presiden bila terjadi sesuatu hal yang darurat dan kritis.

Bila dalam keadaan darurat, seorang presiden AS mati, dibunuh atau diculik pihak musuh, (ingat film “Air Force One”?), mereka segera putar otak untuk menyelamatkannya dan kalau tak sanggup segera menggantikannya dengan wakilnya tanpa harus pakai pemilu. Tujuannya, agar negara tetap ada dan berjalan seperti biasa dalam keadaan darurat.

Di AS, keberadaan negara itu tidak boleh terputus dan lowong walau hanya sedetik pun. Jangan heran bila ada presiden AS mati, maka wakilnya segera dilantik di manapun dia sedang berada. Ada presiden AS yang dilantik di ruang tamu rumahnya. Ada yang diambil sumpahnya di atas pesawat terbang yang mau terbang. Aneh-aneh memang. Tujuan demi melanjutkan pemerintahan dan keberadaan negara AS.

Di Indonesia pun seperti itu. Sejak proklamasi diumumkan, keberadaan dan keselamatan diri presiden dan wakil presiden menjadi taruhan. Bila presiden Indonesia mati, ditangkap atau diculik pada masa-masa kritis 1945-1949, harus segera ada penggantinya. Kita tahu, sewaktu Presiden Soekarno dan Wakil Presiden Hatta ditangkap Belanda beserta menteri-menterinya pada 19 Desember 1948, maka Belanda dan juga sebagian dunia internasional menganggap Republik Indonesia yang lahir 17 Agustus 1945 sudah mati.

Memang kenyataannya keselamatan dan keberadaan Presiden Soekarno dan Wakil Presiden Mohammad Hatta, menjadi simbol keberadaan negara RI. Mereka harus ditempatkan, dilindungi, dijaga dan dibentengi dengan berbagai cara, agar simbol keberadaan Republik Indonesia tetap ada.

Beberapa kali kekuatan Belanda ingin sekali mencelakakan atau mengganggu keselamatan serta keberadaan diri Presiden dan Wakil Presiden RI. Mereka melakukan banyak operasi militer yang selalu gagal, dengan tujuan menculik atau menangkap Soekarno dan Hatta, agar otomatis penangkapan mereka berarti kematian bagi RI.

Ketika baru saja merdeka pada 17 Agustus 1945, Indonesia tak punya apa-apa. Terpaksa presiden dan wakil presiden berkantor di rumah Soekarno Jalan Pegangsaan Timur no. 56 sebagai “istana presiden” selama 4 bulan (Agustus – Desember 1945). Karena Jakarta tak aman, mereka hijrah ke Jogjakarta dan tinggal di Gedung Agung sebagai istana kepresidenan. Sebelum tinggal di Istana Kepresidenan itu, Soekarno tinggal di Puro Pakualaman beberapa hari lamanya.

Justru di Jogjakarta sebagai ibukota baru RI, banyak sekali gangguan dan ancaman yang membuat keberadaan RI berada di ujung tanduk. Republik Indonesia pernah hampir mati. Keselamatan presiden dan wakil presiden sangat dipertaruhkan, mengingat RI belum memiliki sistem suksesi kepemimpinan yang baik.

Dua kali Belanda menyakiti rakyat Indonesia, dengan agresinya. Pertama pada bulan 21 Juli 1947 dan kedua pada 19 Desember 1948. Dua agresi itu sangat memukul dan menistakan negara yang lahir pada 17 Agustus 1945 ini. Belum lagi operasi-operasi militer kecil yang dilakukan dengan menyakiti dan membunuhi banyak rakyat Indonesia.

Senin pagi Belanda menyerbu ibukota Jogjakarta pada 21 Juli 1947 dan bertujuan akhir ingin sekali menangkap presiden dan wakil presiden, biang kerok bagi Belanda. Namun gagal. Barulah pada serbuannya yang kedua, 19 Desember 1948, Belanda berhasil menangkap Soekarno dan Hatta. Nah, untuk menjaga keselamatan diri presiden sebagai simbol keberadaan Republik Indonesia, dilakukanlah cara-cara darurat.

Presiden Soekarno dan keluarga harus diungsikan ke tempat yang aman, setelah Belanda menyerbu Jogjakarta pada 21 Juli 1947. Dicarikanlah tempat untuk menjadi “istana presiden” Republik Indonesia. Atas jasa Mangil Martowidjojo, pengawal kepresidenan, Soekarno diungsikan ke rumah penduduk di Jogjakarta.

Pertama Presiden Soekarno dan keluarga diungsikan dan tinggal berkantor di rumah keluarga Sigitprawiro untuk beberapa hari. Lalu dipindahkan lagi ke rumah keluarga Purbodiningrat sebagai “istana presiden” darurat. Kemudian dipindahkan lagi, karena takut ada mata-mata yang tahu keberadaan Soekarno. Akhirnya Soekarno berkantor di desa Kandangan, Madiun, di sebuah lereng gunung sebagai “istana presiden” yang baru. Di sebuah rumah milik Surdji.

Perpindahan tempat tinggal Presiden Soekarno adalah untuk keselamatan diri serta keluarganya, juga untuk menjaga simbol keberadaan negara RI. Bila keberadaannya diketahui pada saat-saat kritis, akan menimbulkan konsekuensi yang berat, seperti yang dialami pada Minggu pagi 19 Desemner 1948, ketika presiden dan wakil presiden ditangkap Belanda.

Siapa Sigitprowiro? Siapa Purbodibingrat? Dan siapa Surdji? Tidak ada sumber-sumber data yang baik untuk mengungkapkan siapa mereka bertiga. Jasa mereka sangat besar menyembunyikan semangat proklamasi 17 Agustus 1945, agar tetap menyala dengan cara melindungi dan memberi tempat tinggal kepada Presiden Soekarno serta keluarga. Wakil Presiden Hatta tetap tinggal di Jogjakarta selama presiden RI luntang lantung tinggal di rumah penduduk.

Kesediaan Sigitprawiro, Purbodiningrat dan Surdji memberikan rumah tinggal mereka sebagai “istana presiden” darurat, menambah dinamika sejarah istana kepresidenan RI, serta membuktikan bahwa jasa mereka cukup besar menjaga proklamasi, meski mereka sudah kita lupakan dengan permanen. (*)

 

Daftar tempat yang pernah menjadi Istana Kepresidenan:

1. Rumah Jalan Pegangsaan Timur No. 56, Jakarta

 

2. Puro Pakulaman, Jogjakarta

3. Gedung Agung, Jogjakarta

 

4. Rumah Sigitprawiro, Cemorojajar, Tugu Lor, Jogjakarta

5. Rumah Purbodiningrat, Patangpuluhan, Jogjakarta

6. Rumah Surdjo, Kandangan, Madiun

7. Berbagai tempat di sekitar Bukittinggi

8. Istana Merdeka, Jakarta

9. Rumah Jalan Cendana no 8, Jakarta*

10. Istana Bogor

11. Istana Cipanas.

12. Istana Tampaksiring, Bali

13. Istana Negara, Jakarta

 

*Presiden Soeharto tidak tinggal di Istana Merdeka. Rumahnya sering dijadikan kantor dengan melakukan tugas-tugas kenegaraan.

 

SUMBER:

1. Kesaksian Tentang Bung Karno 1945-1967, H. Mangil Martowidjojo, Grasindo, Jakarta, 1999.

2. Mangil Martowidjojo, “Kepergian Seorang Di Belakang Bung Karno” (Kompas 30 Januari 1993)

3. Serangan Fajar Payakumbuh, Emil Salim, (Kompas, 3 Feb 2003)

35 Comments to "[Serial Baltyra] Orang-orang Terlupakan Dalam Proklamasi: Sigitprawiro – Purbodiningrat – Surdji"

  1. IWAN SATYANEGARA KAMAH  7 January, 2013 at 07:20

    Hahaha… Saya tunggu kabar berikutnya mBak Probo dan Mas Juwandi.

  2. probo  6 January, 2013 at 23:58

    oke mas juwandi…..
    ISK halah mbok ben ta….karang ireng nganggo mbekisik…pepanas terus…lagi golek pmbenaran je…

  3. juwandi ahamd  6 January, 2013 at 23:30

    ha ha ha ha……….tunggu aja kabar berikutnya

  4. IWAN SATYANEGARA KAMAH  6 January, 2013 at 23:14

    Ooooh ta’ kirain mau dijual ke Biro Pusat Statistik dalam rangka masukan data untuk laporan tahun 2012.

  5. juwandi ahamd  6 January, 2013 at 23:12

    ha ha ha ha…..lagi mempromosikan baltyra iki

  6. IWAN SATYANEGARA KAMAH  6 January, 2013 at 23:05

    mBak Probo, Mas Effu dan Mas Juwandi lagi mau bikin triumvate ya?

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.