When Things Are Through

Lala Purwono


Suatu malam, seorang lelaki datang ke rumah saya. Membawa dua potong cheese cake stroberi dan blueberry favorit saya serta sepotong hatinya yang terluka. Dia datang ke rumah saya dengan wajah yang muram. Tanpa perlu menjadi paranormal untuk mengetahui kalau dia sedang patah hati, karena dari beberapa SMS dan telepon sebelum malam itu, dia sudah banyak bicara soal hatinya yang sedang meringis kesakitan.

Jadi malam itu, saya menemaninya duduk di teras rumah saya, membiarkan teman saya itu mengisap terus batangan racun nikotin yang selalu tersedia di saku celana jeansnya. Di antara isapan racun nikotin itu, dia tiba-tiba bertanya, “Aku nggak bisa ngelupain dia, La…”

Yang disebut dengan ‘dia’ adalah seorang perempuan berparas manis yang juga teman baik saya. Kami bertiga adalah teman baik; berbagi cerita, berbagi canda, bertukar pikiran, dan hang out sampai tengah malam adalah agenda kami hampir di setiap ujung pekan. Saya mungkin terkadang bisa membaca pikiran orang lain, tapi tanpa perlu menajamkan intuisi pun, saya bisa mengetahui kalau Riza menaruh hati pada Maya, sahabat saya itu.

Dan sayangnya, Maya tidak pernah sedikitpun memandang Riza dengan sudut pandang yang berbeda. He’s just a friend and will always be. Apalagi, Maya sudah memiliki kekasih yang sudah dipacarinya sejak bertahun-tahun yang lalu.

“Siapa yang nyuruh kamu ngelupain dia, Riz? Kamu nggak perlu melupakan dia, you just have to deal with it.”

Deal with what?”

“Perasaan kamu, lah,” kata saya. “Kalau kamu melupakan seseorang padahal kamu masih cinta banget sama orang itu… that’s impossible.”

Dia menghela nafas. Saya melihatnya.

“Gini, Riz. It’s like keeping your favorite clothes in the cupboard. Kamu selipkan di bagian paling bawah dengan harapan, kamu nggak bakal menemukan baju itu lagi. Tapi apa? Kelak, tanpa sengaja, kamu akan menemukan baju itu lagi. Your favorite clothes. Dan kamu tahu, kan, gimana rasanya kalau menemukan sesuatu yang sangat kamu sayangi dan lama nggak kamu lihat? Kenangan-kenangan itu akan balik lagi… Rasa senang itu bikin kamu merasa head over heels!”

Riza terdiam. Saya menduga, dia sedang mencerna kalimat-kalimat saya. Ah, mudah-mudahan saya tidak terdengar sok pintar!

“Itulah kenapa, Riz, aku nggak pernah menyarankan kamu untuk ngelupain Maya. Apalagi ketika kamu sedang sangat jatuh cinta sama dia. Sounds impossible to get over someone when she lives and breaths in your head.

“Iya… It’s killing me even more,” desis Riza. “Semakin lumpuh rasanya, La… Kayak nggak bisa ngapa-ngapain…”

“Karena kamu melawan semua perasaan itu, Riz. Karena kamu pura-pura tangguh dan kuat, padahal sebetulnya kamu nggak mampu melakukannya… Dan ketika energi kamu habis untuk melakukan semua usaha itu, yang tersisa adalah perasaan lelah aja… Di situ akhirnya kamu merasa lumpuh.”

Riza mengisap racun nikotinnya sekali lagi. Asapnya mengepul keluar dari rongga hidung dan mulutnya. Saya bukan pecinta rokok. In fact, saya sebel sekali dengan bau rokok. Hanya saja, untuk kali ini, rasanya mustahil kalau saya menyuruh Riza tidak merokok sementara hatinya sedang gundah luar biasa.

“Kadang, aku menyesal kenapa dulu musti ketemu sama Maya, La,” katanya perlahan, usai membakar ujung rokok-nya yang ketiga.

Saya, Maya, dan Riza memang baru akrab sejak beberapa bulan yang lalu. Reuni sekolah telah mengakrabkan kami bertiga, karena kesamaan minat dan pandangan yang sealiran. Kebetulan juga, kami bertiga memang masih sama-sama jomblo, sekalipun sama dan Maya sudah memiliki kekasih.

“Menyesal?”

“Iya. Seandainya waktu itu aku nggak usah ketemu dia lagi di acara reuni sekolah, aku nggak bakalan seperti ini… Nggak bakal gila kayak gini…”

Saya tersenyum. “Jangan lebay, deh,” kata saya.

“Eh, serius. Aku serius,” katanya. “Okay. Bukan ‘gila’ kayak pesakitan di Rumah Sakit Jiwa, tapi… umm… aku bener-bener udah nggak bisa mikir apa-apa lagi selain Maya, Maya, dan Maya! Edan, La… Aku edan, sekarang…”

“Hmmm….”

“Apalagi sekarang dia mulai ngejauhin aku,” keluhnya. Air muka Riza mendadak semakin keruh. “Dan aku sudah kehabisan alasan untuk bisa ketemu sama dia. Perfect!”

“Riz, Maya punya alasan untuk menjauh dari kamu,” kata saya akhirnya. “Maya pernah bilang sama aku, kalau dia melakukan ini semua supaya kamu nggak makin suka sama dia… Apalagi, dia sudah punya pacar. Dia juga menjaga perasaan Mas Ray…”

“Itu dia, La. Aku menghargai keputusan Maya, dengan cara… um, mencoba sekuat tenaga untuk melupakan dia… when it’s just so impossible and killing me even more each and every day…

See? Kamu sendiri yang bilang kalau ini impossible and killing you, kan?”

Riza mengangguk.

Then, stop.”

“Ha?”

STOP.”

“…”

“Berhenti melawan perasaan itu dan coba untuk kunyah saja semua rasa sakitnya. Seperti mengunyah permen karet, Riz. Semakin lama kamu kunyah, rasa itu akan semakin hilang. Jadi, kunyah saja terus, dan terus. Nikmati saja rasa yang keluar dari hasil kunyahanmu itu sampai akhirnya tidak berasa sama sekali. Saat rasanya sudah hilang, spit it out. Buang. Selesai.”

“Segampang itu?” tanya Riza.

“Siapa yang bilang gampang?” Saya balik bertanya. “When it comes to our heart, tidak akan pernah mudah, Riz. Cuman, it’s worth to try, anyway. Daripada kamu bereaksi melawannya, kenapa kamu tidak get along with the flow? Berenang melawan arus akan lebih melelahkan ketimbang berenang mengikuti arus, kan? Biarkan saja arus membawa kamu kemanapun, sampai kamu kehabisan tenaga untuk berenang dan memutuskan untuk berhenti dan menepi.”

Riza memandang saya seperti mencoba menerjemahkan kata-kata sok pintar saya barusan. Saya sampai ingin ketawa saja karena mengingat betapa banyak metafora-metafora yang saya pakai dalam waktu kurang dari lima menit! Edan, Sarjana lulusan Fakultas Teknologi Pertanian kok ngomongin cinta sampai beribet begini, sih?

“Riz,” kata saya. “Easier said than done, I know. Tapi, aku pernah ada di posisimu. Aku pernah merasa patah hati, sama seperti kamu. Aku pernah jatuh hati dan orang itu nggak peduli, sama seperti kamu. Sama, Riz.”

“Oh ya?”

“Tentu… Tentu. Hidup kita ini seperti sinetron, kok. Inti ceritanya sama aja, tapi pelakonnya yang berbeda-beda. Intriknya pun dibikin bervariasi, biar nggak ngebosenin. Tapi, tetap saja, intinya sama. That’s why I know how you feel at this very moment, because I’ve been there.

“…dan kamu sekarang baik-baik aja, ya, La?”

“Ya!” sahut saya. “I am happy, I am in a relationship with a man who I really love and loves me back.”

“Hmmm…. “

“Kamu tahu, nggak, Riz?”

“Apa?”

“Jonathan pernah bilang sama aku kalau dia beruntung sekali pernah berkali-kali patah hati.”

“Oh ya? Kenapa?”

Saya tersenyum. “Karena dengan berkali-kali patah hati, akhirnya dia bisa ketemu sama aku saat ini… Isn’t it wonderful?”

Riza tertawa. “Gitu, ya?”

“Iyaa… Begitu,” kata saya. “Dan satu hal lagi, Riz. Pelangi cuman muncul setelah hujan, kan? Langit lebih cerah setelah badai menggulung…”

“…”

When things are through, you’re gonna laugh about this moment… Percaya, deh…”

Riza menekan ujung rokoknya di atas asbak sambil menghembuskan asap rokoknya yang terakhir. Dia memandang wajah saya.

“Tapi sampai kapan, ya, La?”

Saya mengedikkan bahu, tak bisa menjawabnya.

Setiap orang memiliki time frame masing-masing. Setiap orang memiliki kapasitas untuk bisa mengukur sejauh mana mereka bisa melangkah. Setiap orang mengetahui seberapa kuat mereka menahan rasa sakit mereka.

Saya tidak tahu kapan Riza akan tersenyum lagi.

Saya tidak tahu kapan Riza akan bercerita pada saya tentang perempuan pujaannya yang lain.

Saya tidak tahu kapan Riza akan menertawakan semua rasa ‘edan’nya saat ini.

Tapi saya tahu persis, seperti saya yang pernah ‘gila’ karena patah hati terlalu dahsyat dua tahun yang lalu…. ummm… atau yang setahun sebelum itu… atau…. ummm… tiga tahun sebelum itu… *gila, banyak banget patah hatinya! haha*… Riza juga akan seperti saya. Bahagia dan selalu tersenyum.

Dan kalau saya akan menangis lagi,
Saya selalu meyakini, kalau saya akan selalu bisa melihat langit secerah vanila setelah badai.

Ya! When things are through, I’m gonna laugh about it…
And maybe, with someone I called… my husband….

***



Ilustrasi: digitalbirmingham.co.uk

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.