Sampai “Maut” Memisahkan Kita…

Peony – Serpong


19.11.2009 – 17.25…..

“Mas Tram.. kita mau ke mana? Kok Mas lurus sih?? Rumah sakitnya khan belok kiri?”

“Iya Lia, kita ke rumah sakit, tapi aku mau coba lewat Pasar Gerendeng aja, lebih cepat..”

“tapi Mas,..” “udah lah Lia, jangan bawel, yang penting kita ke rumah sakit”

Dahlia terdiam, sedikit kaget, kok Mas Trama bicara kasar kali ini…

Sepanjang lima tahun menikah, baru sekali ini suaminya berbicara kasar seperti itu…

—-O00O—–

19.11.2009 – 16.45….

“Hallo, Ibu, ini Lia… mau pamit, langsung ke rumah sakit ya.. Iya Bu, bareng Mas Trama.. kami pulang sekitar jam 8 malam Bu… Iya Bu, kami akan hati-hati di jalan.. Ibu jangan lupa makan malam ya.. Inggih Bu, kami makan di luar sekalian, Ibu makan duluan saja..  Lia bawa kunci rumah kok Bu,… Ya udah Bu, Mas Trama udah sampai nih, pareng Bu, Lia sayang Ibu”

—-O00O—-

19.11.2009 – 20.45….

Teet.. Teet.. Teet…

“Bu, ini Trama..”

“Lho, Tram, bukannya Lia bawa kunci rumah?? Lho, kok kamu sendirian? Mana Lia?” berondong Bu Santo kebingungan..

“Trama gak bareng Lia, Bu. Trama gak ketemu Lia, tadi sore pas Trama sampai di kantor Lia, Lia sudah gak ada, Bu. Mobilnya juga gak ada di parkiran, Bu”

“Jadi, kalian gak jadi ke dokter hari ini?”

“Ya gak jadi Bu, tadi Trama juga sudah nyusul langsung ke rumah sakit, tapi Lia juga gak ada di sana Bu”

“Sudah kamu coba telpon HP nya Lia?” “Sampun Bu, tapi gak diangkat”..

“Bu, saya mandi dulu ya..”  “Ya sana.. eh, kamu belum makan ya Nak?”

“Belum Bu, nanti saja, sekalian nungguin Lia, siapa tau sebentar lagi pulang”..

—-O00O—-

19.11.2009 – 21.45….

“Tram, kok Lia belum datang juga ya?? Ibu kok jadi khawatir nih” Bu Santo mondar-mandir gelisah di teras rumah…

“Saya sudah coba telpon HP Lia, tapi sekarang gak aktif Bu”..

Ah masa sih gak aktif, batin Bu Santo yang tahu benar kebiasaan putri bungsunya… Lia tidak pernah mematikan HP nya, 7/24 ON seperti slogan delivery burger saja…

“…. Nomor yang anda panggil sedang tidak aktif atau sedang di luar service area… cobalah beberapa saat lagi… the number you’re calling…” lho bener gak aktif HP nya Lia, Bu Santo makin resah..

—-O00O—-

19.11.2009 – 23.05….

“Lia… kamu mau kemana lagi Nak?” teriak Bu Santo, terjaga dari lelapnya..

Bu Santo menanti Lia hingga tertidur di kursi teras..

“Ada apa Bu” Trama mencoba menenangkan sang mertua yang nampak seperti orang linglung…

“Itu lho.. tadi Lia datang, tapi dia gak mau masuk, cuma senyum dan pergi lagi. Tapi kenapa dia nampak sedih ya?” Bu Santo menceritakan mimpinya..

“Bu, sebaiknya Ibu masuk dan beristirahat saja ya, Trama yang akan menunggu Dahlia disini”

“Tram, apa gak sebaiknya kamu lapor Polisi saja? Ibu kok rasanya gak enak nih..

“Besok pagi Bu, Trama akan lapor Polisi, khan kalau belum 24 jam belum bisa diproses laporannya”

—-O00O—-

20.11.2009 – 11.00….

“Hallo, Trama? Ini Ibu, kamu sudah lapor Polisi, Nak? Oh begitu ya..” “Ya sudah, Ibu tunggu kabar nya”.

—-O00O—-

21.11.2009 – 13.00….

“Selamat siang, berikut liputan terkini..

Ditemukan sesosok mayat wanita, terapung di Kali Cisadane. Kondisi mayat sudah membusuk, dengan beberapa lebam di sekitar wajah.

Mayat yang diduga korban pembunuhan, ditemukan tersangkut di dekat pintu air oleh penduduk sekitar bantaran Kali Cisadane.

Mayat wanita yang diperkirakan berumur 30 tahun ini, ditemukan menggunakan baju batik merah muda, tanpa identitas.

Sekian liputan terkini. Liputan terkini berikutnya dapat anda saksikan satu jam mendatang”..

—-O00O—-

21.11.2009 – 17.00….

“Tram, sudah ada kabar dari Polisi?” sergah Bu Santo begitu melihat menantunya tiba sepulang kerja.

“Belum Bu”

—-O00O—-

22.11.2009 – 10.15….

Kring…… Bu Santo tergegas meraih gagang telepon di ruang tengah…

“Hallo, iya betul ini rumahnya Bp. Trama Wiryadi. Maaf ini siapa ya? Dari kantor polisi? Oh ini dengan Ibu nya Trama, Trama nya masih di kantor, Pak. Ada pesan? Oh mengenai laporan kehilangan Lia, apa sudah ada kabar baik Pak?…. Baik Pak, segera saya sampaikan pesan nya. Terima kasih Pak”

“Hallo, Trama? Nak, kamu diminta Pak Polisi segera ke rumah sakit , ada kabar tentang Lia. Trama, Ibu ikut ya.. Oh, baiklah, kamu langsung dari kantor ya.”

—-O00O—-

22.11.2009 – 11.30….

…halaman RSUD Tangerang…

“Trama…” teriakan Bu Santo menghentikan langkah Trama yang baru saja tiba di rumah sakit.

“Lho, Ibu kok di sini?” “Iya, Ibu buruan ke sini, naik ojek, Ibu penasaran pengen cepetan ketemu Lia. Apa Lia sakit ya? Kok kita diminta kemari ya Tram?”

“Gak tau Bu”

Mereka bergegas menemui Polisi yang menanti di sekitar ruang pemulasaran jenazah.

“Siang Pak, saya Trama dan ini Ibu saya” “Oh, silakan Bapak dan Ibu ikut saya, mohon tenang dan tabah ya Pak, Bu, semoga saja dugaan kami tidak benar” “Sebaiknya Bapak dan Ibu pakai masker ini” kata Pak Polisi seraya mengangsurkan 2 buah masker dan rupanya beliau juga segera pakai masker.

Jantung Bu Santo berdegup kencang tak beraturan, seiring langkah yang kian berat memasuki ruang putih, menghampiri tubuh terbaring berselimutkan kain tebal.

“Siap Pak? Saya buka selimutnya ya” Trama mengangguk perlahan sembari meragkul Bu Santo.

“Mari Pak, apakah Bapak mengenali korban ini?” Pak Polisi membuka selimut dan beringsut minggir memberi ruang untuk Trama melihat korban untuk identifikasi.

Trama sedikit terhenyak.. dan sebelum dia sempat berbicara.. “Ini Lia, Tram.. Ibu yakin ini Lia..” teriak Bu Santo sebelum akhirnya beliau pingsan di pelukan Trama.

—-O00O—-

22.11.2009 – 15.00….

Rumah Bu Santo ramai dengan tetangga dan saudara yang berdatangan begitu mendengar kabar duka berpulangnya Lia..

Bendera Kuning dipasang di ujung gang arah rumah Bu Santo dan juga di pagar depan rumah.

Bu Santo terbaring lemah di kamarnya.. berulang pingsan.. siuman.. pingsan… siuman… sembari mengigau, memanggil dan meratapi anak bungsunya..

Trama baru tiba beserta jazad Lia yang sudah disucikan, setelah mendapat izin dari pihak kepolisian.

Rupanya pihak kepolisian sudah sempat melakukan otopsi segera setelah jazad Lia diketemukan di Kali Cisadane.

Ya, Dahlia lah si wanita terapung di Kali Cisadane itu..

—-O00O—-

23.11.2009 – 10.00…

Tanah kuburan bertaburan bunga… Para pelayat mulai berangsur meninggalkan areal pemakaman.. tapi Bu Santo masih terpekur mengelus-elus nisan putih bertuliskan Dahlia Inayanti…

“Bu, mari pulang, Ibu harus istirahat” ajak Andi, kakak sulung Lia yang segera datang dari Sukabumi, begitu menerima kabar duka dari sang Ibu.

“Ibu mau di sini saja temenin Lia, kasihan Lia sendirian kedinginan di sini.”

Pandangan Bu Santo kosong… sekosong jiwa sang Ibu, yang nampak sangat renta hari ini… sang jiwa nampak tercabut dari raga beliau dan terbawa raga Lia saat diturunkan ke rumah keabadian….

Andi pun bersimpuh di samping ibunya di depan makam adik tercinta..

Mereka akrab dalam diam, menemani Lia, setidaknya hingga senja menjelang…

Trama harus bergegas pergi karena masih harus mendatangi kantor Polisi untuk menyelesaikan laporan yang ia buat beberapa hari lalu.

—-O00O—-

23.11.2009 – 11.30

…kantor Polisi Tangerang, di salah satu ruangan….

“Begini Pak Trama, dari hasil pemeriksaan otopsi atas jazad istri anda, yang dilakukan oleh dokter forensik kami sesaat setelah jazad dievakuasi dari lokasi penemuannya, diketemukan tanda-tanda kekerasan pada tubuh korban. Namun, korban menemui ajalnya setelah korban ditenggelamkan, hal ini nampak dari paru-paru korban yang penuh dengan air, dan nampaknya korban diberi pemberat di pergelangan kaki kirinya, agar tenggelam.”

Trama terdiam, nanar mendengar penjelasan Pak Polisi.

“nah, apakah anda mengetahui sesuatu mengenai istri anda, misalnya apakah istri anda sedang punya masalah atau mungkin ada pihak-pihak yang sedang berselisih dengan istri anda, yang mungkin memiliki motif mencelakai istri anda?”

Trama menggeleng.. “Tidak Pak, setahu saya, Lia tidak sedang dalam masalah”

“Baiklah Pak, kami akan terus mengembangkan kasus ini. Kami akan menghubungi Bapak kembali segera setelah ada perkembangan. Ohya, kami turut berduka cita Pak”.

“Terima kasih Pak, saya permisi pulang Pak” pamit Trama seraya beranjak menuju pintu keluar ruangan yang biasa digunakan untuk membuat aneka pelaporan masyarakat.

“Silakan Pak Trama”.

—-O00O—-

23.11.2009 – 16.00….

… masih di samping Pusara Lia…

“Ndi, sore itu Lia masih nelpon Ibu, pamit mau ke rumah sakit, konsul rutin ke dokter kandungan. Lia jelas sekali bilang kalau dia dijemput Trama”..

“Lho, Lia sedang hamil tho Bu? Kok Andi gak tau ya?”

“Belum isi Ndi, lha ke dokter itu ya sedang usaha biar bisa hamil. Lia sempet cerita kalau masalah dia yang polikistik ovari itu sudah teratasi, tapi masalah Trama belum beres juga, jadi mereka masih harus kontrol buat sembuhin Trama”.

Andi termenung sejenak.. “Bu, kita pulang sekarang ya, sebentar lagi hari gelap dan Ibu harus istirahat lho”

Kali ini Bu Santo pasrah menurut saat Andi menggandengnya pulang…

“Lia, Ibu pulang dulu ya… besok Ibu ke sini lagi ya”…

—-O00O—-

23.11.2009 – 19.30

… semua berkumpul senyap di meja makan, mencoba menelan makanan yang disiapkan Utari, istri Andi… makanan enak yang serasa onak, bagi Bu Santo dan keluarganya…

“Ibu, makan ya barang sedikit” bujuk Utari melihat sang mertua asyik mengaduk-aduk makanan di piringnya tanpa menelan satu sendok pun.

“Ibu gak lapar.. biasanya Lia yang siapin makanan Ibu… tapi sekarang Lia sendirian kelaparan di sana” rintih sang ibu, sembari mengusap mata tuanya.

Utari hanya menunduk terdiam, ia mengerti benar Bu Santo tidak bermaksud mencela masakannya, karena biasanya Bu Santo sangat menikmati semua yang ia masak.. Utari tahu, sang ibu sudah ‘kenyang’ karena kesedihan yang teramat dalam.

“Ohya Tram, kok aku gak liat mobil Lia di garasi??” tanya Andi sesaat setelah sadar dari kemarin ia tidak melihat Jazz pink kesayangan sang adik.

“Iya Bang, terakhir Lia pergi kerja dengan Jazz itu dan keduanya gak pulang” jawab Trama terkesan dingin.

Andi mulai melihat keanehan di wajah sang ipar. Beginikah ekspresi suami yang kehilangan istrinya???

—-O00O—-

25.11.2009…

Andi sengaja nginap lebih lama di rumah ibu, Utari dan anak-anak sudah pulang diantar sopir, sehari setelah pemakaman Lia.

“Bu, Andi pamit sebentar mau ke kantor Polisi, mau tanya apa Pak Polisi sudah ada kabar mengenai kasus Lia” “Ibu ikut ya Ndi. Ibu juga mau ngomong dengan Pak Polisi”

Andi mengangguk, setuju saja dengan niat sang ibu, karena ia tahu, ini akan sedikit mengurangi beban batin ibunya.

—-O00O—-

….Kantor Polisi Tangerang….

“Siang Pak, saya Andi, kakak Almh. Dahlia, mau tanya apakah sudah ada kabar mengenai kasus Lia?”

“Mari duduk Pak, kebetulan saya juga hendak menanyakan beberapa hal dengan Ibu Santo dan Bapak juga” “Sebenarnya sebentar lagi kami akan menuju rumah Ibu, eh kebetulan Bapak dan Ibu sudah sampai di kantor”

“Begini Pak, kami sudah menemukan beberapa petunjuk, tapi masih kami coba dalami dan kembangkan, agar lebih akurat”

Andi mengangguk, mencermati perkataan Pak Polisi.

“Bu Santo, apa kabar Bu?” “Baik, Pak” jawab Bu Santo lemah.

“Bu, apakah Lia sempat bercerita sesuatu kepada Ibu akhir-akhir ini mengenai apapun yang kiranya mungkin ada kaitannya dengan musibah yang menimpa Lia?”

“Tidak Pak, Lia hanya cerita mengenai pekerjaannya yang sedang over, karena rekan kerjanya ada yang cuti melahirkan.”

“Apakah Ibu sempat berbincang dengan Lia di pagi terakhir Lia pergi kerja?”

“Iya Pak, malah sebelum Lia pulang kerja, dia masih telpon saya, pamit mau ke dokter kandungan bersama suaminya. Lia juga buru-buru menyudahi telponnya begitu melihat suaminya datang”.

“Jadi menurut Lia, dia pergi bersama suaminya ya Bu?” Pak Polisi mencoba memperjelas keterangan Bu Santo sembari menuliskan sesuatu di buku kecil di hadapannya.

“Bu, apakah Lia sedang berselisih dengan seseorang? Atau Lia ada musuh mungkin?” cecar Pak Polisi..

“Gak ada Pak, Lia itu anak yang baik banget, lembut dan sama sekali tidak ada musuh. Kalau teman malah buanyakk banget Pak”

“Ohya, Pak Polisi, apakah ipar saya sudah melaporkan hilangnya mobil Jazz milik Lia, yang raib bersama Lia?” sergah Andi begitu ia tiba-tiba teringat.

“Belum Pak, apa Bapak ingat No. Polisi atau ciri-ciri khusus mobil Lia?”

“No. Polisinya B1812LIA, warnanya Pink, Honda Jazz, dan di kaca belakangnya ada stiker Hello Kitty” kata Andi membeberkan identitas mobil sang adik.

“Baik Pak, akan segera kami cari informasi mengenai mobil ini, siapa tahu bisa memberi petunjuk yang lebih jelas lagi tentang kasus Sdri. Lia”

“OK Pak Polisi, kami permisi dulu. Terima kasih Pak” pamit Andi seraya menyalami tangan Pak Polisi.

Bu Santo bangkit dari kursinya, dengan pandangan yang nampak tengah memikirkan sesuatu.

“Sebentar Pak Polisi, saya ingat sesuatu.. Bulan lalu Lia sempat cerita ke saya, kalau dia memergoki suaminya memiliki hubungan special dengan rekan sekantornya. Namanya Dini. Tapi Lia tidak pernah menemui wanita itu, karena Lia bilang dia sudah menegur suaminya dan suaminya janji tidak akan ada apa-apa lagi dengan si Dini itu.”

“Baik, sudah saya catat Bu, terima kasih untuk informasinya. Jika nanti ada hal lain yang Ibu ingat berkaitan dengan Lia, tolong hubungi kami ya Bu” ujar Pak Polisi mengingatkan.

“Pasti Pak”.

—-O00O—-

29.11.2009 – 08.30

…. Lobby Kantor Trama…

“Pagi Bu, kami dari Kepolisian hendak bertemu dengan Bp. Trama Wiryadi”

“Maaf Pak, apakah Bapak-bapak sudah ada appointment dengan Bp.Trama?” tanya sang Receptionist. “Tidak ada appointment Bu, ini mengenai kasus istri Bp.Trama”

“Oh, baik Pak, segera saya panggilan Pak Trama, dan bapak-bapak silakan tunggu di ruang meeting No. 3, sebelah kiri Pak”. Pak Polisi mengangguk dan segera menuju ruangan yang ditunjukkan.

“Siang Pak, ada apa ya” sapa Trama setelah memasuki ruang meeting no.3, sambil menyalami para Polisi yang sudah menunggunya.

“Pak Trama, silakan ikut kami ke kantor untuk pemeriksaan lebih lanjut” ujar Pak Polisi sambil mengeluarkan surat perintah penangkapan Trama.

Pucat wajah Trama seketika, namun ia segera menguasai keadaan, “apa-apaan ini Pak? Kenapa saya ditangkap? Yang jadi korban itu istri saya lho Pak, itu artinya saya juga korban Pak” suara Trama meninggi namun agak bergetar.

“Pak Trama, semuanya akan dijelaskan di kantor kami. Mari Pak”tegas Pak Polisi seraya memegang tangan Trama, memasangkan “gelang keramat bernama borgol”

Dua Polisi lainnya, berjaga di depan pintu.

Trama lemas, berjalan mengikuti arahan Pak Polisi, tertunduk malu dan takut.

Banyak mata memandang nanar yang mengiringi langkah Trama digelandang masuk mobil polisi.

Tak sedikit pula yang bergumam tak percaya, pria seperti Trama, yang jauh dari tampang kriminal, ditangkap polisi. Ada kasus apa ya? Mereka tak tahu kasus yang sedang dihadapi Trama.

—-O00O—-

29.11.2009 – 10.15….

….Ruang Pemeriksaan Kantor Polisi Tangerang…

Trama digiring menuju ruang pemeriksaan untuk diperiksa lebih lanjut bersamaan dengan tiga tersangka lainnya yang sudah ditangkap lebih dulu.

Trama kaget melihat Andi dan Bu Santo tengah duduk di bangku ruang tunggu kantor polisi.

Andi bergegas berdiri dengan tangan terkepal, menahan amarah yang dalam.. nampak api kemarahan berkilat di sorot matanya.. andai Bu Santo tidak menahannya, pastilah sudah ia daratkan bogem mentah ke ulu hati iparnya…

—-O00O—-

29.11.2009 – 15.00…

“Pak Polisi, bolehkan saya menemui menantu saya sebentar” tanya Bu Santo, melihat Trama yang telah memakai baju berlabelkan Tahanan Kepolisian Tangerang, berjalan beriringan dengan 3 lelaki lainnya hendak menuju ruang Tahanan.

“Silakan Bu.” Jawab Pak Polisi. Ketiga tahanan lainnya langsung dibawa masuk ruang tahanan kepolisian.

Bu Santo duduk berhadapan dengan Trama, menantu yang sudah dianggap anak kandungnya sendiri.. menantu pilihan anak bungsunya sendiri, menantu yang selama ini ia banggakan karena sangat santun terhadap orang tua… duh Lia, kamu memilih algojo mu sendiri, Nak… desah Bu Santo dalam batinnya.

“Trama, lihat mata Ibu, dan tolong jawab jujur pertanyaan Ibu” ucap Bu Santo dengan suara bergetar menahan amarah dan airmatanya..

Trama mengangkat wajahnya, mencoba menatap sang mertua, nampak sinar ketakutan yang dingin di matanya.

“Trama, ada apa dengan Lia, apakah Lia berbuat kesalahan besar sehingga kamu tega melenyapkan nyawa Lia dengan sangat keji?”

Trama tidak mampu menjawab, mulutnya terkunci, lidahnya kelu… ia hanya mampu kembali menunduk seraya mengucapkan “Maafkan saya Bu, saya khilaf”..

Sejurus kemudian Trama bangkit, meninggalkan sang mertua yang masih duduk terpaku, kemudian menghampiri Pak Polisi yang berjaga di sekitar mereka dan berkata “sudah Pak. Saya sudah selesai”.

—-O00O—-

29.11.2009 – 15.20….

“Begini Pak, setelah kami periksa semua tersangka terungkap bahwa, ipar Bapak adalah otak dari semua ini, dan 3 tersangka lainnya hanya menjalankan rencana yang sudah dia susun. Kami menemukan titik terang, saat kami menyelidiki mobil Sdri.Lia, yang kami temukan berada di salah satu showroom di jalan Imam Bonjol.”

“Kebetulan No.Polisi mobilnya belum diganti, Pak.”

“Saat kami tanyakan pada petugas showroom, dia bilang mobil itu dia beli dari tetangganya, yang ternyata adalah salah seorang dari ketiga tersangka itu.”

“Petugas showroom membeli tunai mobil itu dengan harga yang cukup tinggi, karena surat-surat kendaraan itu lengkap. STNK dan BPKB-nya juga orisinil”

“dari sinilah kami segera meluncur menjemput si penjual mobil itu dan setelah kami interogasi, akhirnya dia mengaku mendapatkan mobil itu lengkap dengan surat-suratnya dari ipar Bapak sebagai pembayaran atas usaha mereka melenyapkan nyawa Sdri. Lia.” Pak Polisi mencoba menjelaskan pada Andi apa yang sebenarnya terjadi.

“Lalu bagaimana kronologisnya Pak?” cecar Andi tak sabar ingin tahu.

“Kronologisnya begini.. tanggl 19 November lalu, ipar Bapak yang semestinya pergi ke rumah sakit bersama Sdri.Lia, memacu kendaraannya itu ke arah berlawanan dari arah menuju rumah sakit, dan mendatangi lokasi yang sudah mereka sepakati. Ketiga tersangka sudah menunggu dengan membawa badik, karung, tali dan batu yang lumayan besar.

Di tengah perjalanan, Trama bilang akan buang air kecil, meninggalkan Lia yang masih duduk di dalam mobil, sejurus kemudian muncullah ketiga orang itu, menyergap Lia, menutup kepalanya dengan karung dan menusuk perut Lia serta memukul tengkuk Lia dengan batu. Lia terkapar, pingsan, namun oleh tersangka dikira sudah tidak bernyawa, sehingga langsung saja diceburkan ke Kali Cisadane, setelah sebelumnya diberi pemberat batu yang diikat di pergelangan kaki kirinya, agar tenggelam. Karung dilepaskan dari kepala Lia. Tapi mereka tidak tahu jika Lia masih bernafas. Dan saat Lia sudah tercebur, setiap tarikan nafasnya menghirup air kali yang kemudian memenuhi paru-parunya. Lia kemudian tewas tenggelam, namun jazadnya kemudian mengambang saat tali yang mengikat batu pemberat putus”.

“Ketiga tersangka kemudian pergi membawa mobil Lia dan semua surat-surat yang sudah diserahkan Trama. Dan Trama sendiri pulang menuju kembali ke kantornya, dan kembali ke rumah setelah agak larut”. “Trama tetap bertahan tinggal di rumah Bu Santo untuk menghindari kecurigaan dari bahwa dirinya terlibat dalam kasus ini.”

“Pak, lalu apa motif Trama?” Andi bingung tak percaya…

“Menurut pengakuan Trama, motifnya adalah karena dia ingin pisah dari Lia, dan ingin menikahi kekasih gelapnya. Namun karena sesuai hukum perkawinan agama anda, yakni tidak ada perceraian, hanya maut yang bisa memisahkan pasangan suami istri, menyebabkan Trama gelap mata.”

“Siapa selingkuhan Trama, Pak? Apakah Dini?”

“Bukan Pak, menurut Trama, kekasihnya itu bernama Sari, masih rekan kerjanya juga. Trama ingin menikahi Sari karena ia pikir siapa tahu jika menikah dengan wanita lain ia bisa memiliki keturunan”.

“Saya juga sempat bertanya pada Trama, bukankah masalah ketiadaan anak itu bukan hanya masalah Sdri.Lia tapi juga Sdr.Trama, seperti keterangan Ibu Santo. Tapi Trama berkeyakinan lain, dia tidak percaya dengan hasil pemeriksaan medis itu. Dia tidak mau menerima kenyataan kalau dia juga memiliki kelemahan, Pak” ujar Pak Polisi menjelaskan…

Mata Andi berkunang-kunang, pening kepalanya, tak percaya ia menerima kenyataan pahit ini… tiba-tiba ia teringat, saat Lia dan Trama saling mengucapkan janji suci pernikahan di hadapan Tuhan, disaksikan Pastur dan Umat lainnya, 5 tahun silam… dan teringatlah ia, ekspresi Lia dan Trama, yang saling tersenyum bahagia saat mengucapkan…. “Sampai Maut Memisahkan Kita”….

—-O00O—-


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.