[Serial Baltyra] Orang-orang Terlupakan Dalam Proklamasi: Husein Mutahar

Iwan Satyanegara Kamah – Jakarta


HUSEIN MUTAHAR

Manusia Tujuhbelas Agustus


SABTU pagi di Istana Merdeka, ada pemandangan yang unik terjadi pada hari 1 Maret 1969. Tiga orang putra terbaik dilantik oleh Presiden Soeharto menjadi duta besar untuk negara-negara sahabat. Apanya yang unik? Satu dari tiga orang itu, ada satu pria unik yang tak pernah jadi diplomat sebelumnya. Sebaliknya, dia lebih banyak berada di Indonesia dalam karya dan jasa di bidang-bidang lain bagai kutu loncat.

Dia pernah bertempur melawan Belanda di Semarang dalam “Pertempuran Lima Hari”, pernah jadi supir Presiden Soekarno, dinobatkan sebagai pendiri kepanduan Indonesia, jago menciptakan lagu-lagu himne perjuangan yang pilu tetapi membakar, pinter table manner dalam mengelola rumah tangga istana kepresidenan di Jogjakarta, pernah jadi pelaut dan banyak lagi talentanya bagaikan aktor terkenal Peter O’Toole yang suka gonta ganti wajah.

Pria berhidung mancung ini memiliki profesi bermacam-macam, tetapi karir tertingginya, ya jadi duta besar Indonesia untuk Tahta Suci di Vatikan. Dalam masa jabatan sebagai wakil rakyat Indonesia di pusat gereja Katolik sedunia itu, dia mengatur kunjungan pertama kalinya seorang paus datang ke Indonesia, Paus Paului VI, tahun 1970 dan mempersiapkan dengan kedatangan Presiden Soeharto pertama dan terakhir kalinya ke St. Peters (Gereja Santo Petrus) tahun 1971.

Jabatan yang dia emban itu sebelumnya pernah dijabat oleh ayah kandung Chandra Darusman itu (Busono Darusman adalah duta besar Indonesia untuk Vatikan antara 1960-1962) dan tokoh Negara Pasundan terkenal, Djoemhana Wiriatmadja di awal 1950-an. Bahkan tahun 1990, pos ini pernah diisi oleh Presiden Soeharto dengan orang yang paling dipercayainya, yaitu penterjemah presiden yang selalu nguping setiap pembicaraan presiden dengan tokoh-tokoh dunia selama lebih 20 tahun, Widodo Susetyo.

Namun yang paling penting, Mutahar yang menjadi duta besar di Vatikan selama 4 tahun, adalah arsitek pembentukan pasukan pengibar bendera pusaka (paskibraka) yang hadir di setiap perayaan 17an di istana kepresidenan, dan ditiru sampai tingkat yang lebih rendah, dari upacara 17an di gubernuran, kabupatenan, kecamatan, kelurahan, instansi pemerintah dan upacara-upacara wajib di sekolah. Tata cara pengibaran bendera pusaka yang kita kenal hingga sekarang ini adalah karya tata olah gerak Mutahar.

Lalu apa sebenarnya peran dan jasa Kak Mut bagi proklamasi? (panggilan akrab Husein Mutahar dalam tradisi gerakan kepanduan Indonesia atau Pramuka yang dia dirikan) Wuaaaaaaaaaaaahh…lupa tuh! Mana ada yang mau ingat apa yang telah dilakukan secara heroik oleh pria keturunan Arab ini? Apalagi menghargai jasanya pada proklamasi? Waktu dia wafat saja tahun 2004 (dalam usia 88 tahun), pengantarnya naik Kopaja (sejenis Metro Mini) sewaan, bukan bis mewah ber-AC menuju ke pemakaman yang terkenal dengan urban legend pastur kepala buntung, di TPU Jeruk Purut, Jakarta Selatan. Padahal dia berhak dimakamkan di Taman Makam Pahlawan!

“Dengan ini saya mengangkatmu sebagai letnan”, kata Soekarno kepada Mutahar, yang diangkat sebagai ajudan presiden pada masa ibukota di Jogjakarta. Soekarno sangat membutuhkan seorang yang pandai mengatur protokol kepresidenan saat krtitis itu. Pilihan jatuh ke Mutahar. Namun pengangkatan Mutahar “diprotes” oleh orang dalam istana. “Masak ajudan Ratu Juliana dengan 10 juta rakyat pangkatnya kolonel, kok Presiden Soekarno dengan70 juta rakyat cuma letnan?”.

Satu setengah jam setelah Mutahar diangkat sebagai letnan, Soekarno memanggilnya. “Mulai sore ini engkau jadi mayor”, kata Soekarno singkat. Jadilah Mutahar orang tercepat karirnya dalam dunia militer Indonesia.

Mutahar sangat teliti dalam menata hal-hal pernik perintil kecil-kecil. Makanya Soekarno mempercayainya menata protokol pengibaran bendera pusaka Merah Putih untuk dikibarkan pertama kalinya, pada perayaan HUT RI Pertama 1946 di Jogjakarta hingga sekarang. Karena dalam keadaan genting dan kritis, Soekarno tak punya pengalaman bagaimana caranya merayakan pertama kalinya HUT RI. Ya, Mutaharlah arsiteknya hingga tata cara perayaan tujuhbelasan kita lakukan sampai kini.

Bahkan lebih dari itu, ketika negara RI hampir mati di serang Belanda pada 19 Desember 1948 (RI sudah mampus bagi Belanda saat itu), Soekarno mempercayai sepenuh hati kepada Mutahar untuk menjaga bendera pusaka yang pertama kali dikibarkan pada 17 Agustus 1945. “Jaga bendera ini dengan nyawamu”, pesan Soekarno sebelum dibuang ke Bangka dan Prapat oleh Belanda.

Begitu setianya dengan pesan Soekarno untuk menjaga bendara pusaka dengan nyawanya, terpaksa bendera itu pernah terpisah dua untuk segi keamananan. Terobek antara merah dan putih. Takutnya tentara Belanda tahu, pasti akan dimusnahkan, karena kain jelek itu adalah simbol suci negara RI.

Suatu hari di tahun 1949, Mutahar secara misterius dan penuh ketakutan akan kejaran tentara Belanda, menyerahan amanat titipannya itu kepada Dr. Soeharto, dokter pribadi Soekarno, di rumah sang dokter di Jalan Kramat 128, Jakarta Pusat. Dan sang dokter menyimpannya di dua tempat terpisah, agar mengelabui tentara Belanda yang hobinya gledah menggledah rumah siapa saja yang dicurigai.

Mutahar pun pernah mengambil bendera pusaka itu dan menyembunyikan di tempat lain dengan berpindah-pindah, agar tak dirampas Belanda. Sampai akhirnya, ketika Soekarno kembali ke Jakarta pada 29 Desember 1949, setelah minggat 4 tahun ke Jogjakarta, bendera pusaka dibawah kembali bagaikan benda suci. Nah, bendera pusaka itu dijahit kembali oleh Mutahar dengan teliti, persisi pada lubang-lubang jarum yang sama seperti pertama kali dijahit Ibu Fatmawati. Woooh…teliti sekali…!!!!

Peran Mutahar yang dipercayai Soekarno karena piawai dalam soal protokuler resmi kenegaraan, sama dengan peran yang dijalani oleh Joop Ave dalam kepiawaian protokuler dan kehumasan di jaman Presiden Soeharto. Kehebatan Joop Ave dalam hal itu, membuat dia disayangi oleh Soekarno dan Soeharto. Bahkan Ratu Elizabeth II pernah memuji cara kerja Joop Ave, seolah sang ratu iri ingin memilikinya.

Tapi, Mutahar lebih dari Joop Ave. Mutahar bagai seorang “nabi” ketika tahun 1944 dia menciptakan lagu himne “Syukur”, yang dia ciptakan untuk kemerdekaan Indonesia yang sudah dekat menurut penerawangannya. Lebih dari itu, pernah di masa revolusi, Mutahar kebelet ke toilet di Hotel Garuda, Jogjakarta (dia sekamar dengan Hoegeng, kelak jadi kapolri terbersih). Dalam toilet itu, dia tak hanya menuangkan hajatnya, tapi juga menuangkan ide brilyannya: sebuah lagu perjuangan terkenal tercipta dari toilet.

Tujuh belas Agustus tahun empat lima

Itulah hari kemerdekaan kita

Hari merdeka

Nusa dan bangsa

Hari lahirnya bangsa Indonesia…

MERDEKAAAAA….


SUMBER:

1. Saksi Sejarah, DR. Soeharto, PT Gunung Agung, Jakarta, 1982.

2. Kesaksian Tentang Bung Karno 1945-1967, H. Mangil Martowidjojo, Grasindo, Jakarta, 1999

3. Jejak Langkah Pak Harto 28 Maret 1968-23 Maret 1973, Team Dokumentasi Presiden RI,

PT Citra Kharisma Bunda, Jakarta, 2003.

4. Bung Karno: Penyambung Lidah rakyat, Cindy Adams, PT Gunung Agung, Jakarta, 1982

5. Pemakaman Sederhana untuk Orang Luar Biasa, oleh Bondan Winarno, Kompas, 14 Juni 2004

Share This Post

Google1DeliciousDiggGoogleStumbleuponRedditTechnoratiYahooBloggerRSS

56 Comments to "[Serial Baltyra] Orang-orang Terlupakan Dalam Proklamasi: Husein Mutahar"

  1. arifin.  11 August, 2013 at 00:27

    semoga pak mutahar, bung karno masuk sorga dg mudah,kelak.

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *