Publikasi, Sekali Lagi Tentang Publikasi

Osa Kurniawan Ilham


Cobalah sekali-kali mengunjungi situs resmi kementerian pemerintah kita. Lumayanlah di situ Anda bisa tahu beberapa hal entah agenda, aktivitas maupun peraturan-peraturan yang dibuat kementerian terkait. Anda juga bisa memberi masukan, pertanyaan maupun komentar di sana melalui fasilitas “contact us” yang lazim ada dalam sebuah situs.

Nah, tahun kemarin saya mengunjungi situs Kementerian Budaya dan Pariwisata (kemenbudpar) dan mencoba apakah fasilitas “contact us” itu memang berfungsi sebagaimana harusnya. Setelah mengisi identitas termasuk nama dan alamat email, saya mengusulkan kepada Kemenbudpar untuk membuat TV Tourisme and Culture. Terus terang, tidak ada niatan apa-apa dengan mengajukan usulan itu, tidak pula saya mengajukannya dengan harapan besar untuk dibaca, diterima apalagi akan ditindaklanjuti. Saya hanya ingin menguji sistem kehumasan situs ini. Apakah fasilitas “contact us” itu benar-benar bekerja atau semata-mata untuk gaya-gayaan saja.

Benar saja. Sesaat setelah saya mengirimkan usulan tersebut, di akun pribadi saya sudah terdapat balasan dari situs tersebut. Intinya email otomatis dari situs kemenbudpar tersebut menyatakan terima kasih sudah mengunjungi situs dan memberikan komentar sekaligus janji bahwa mereka akan menjawab komentar saya tidak lebih dalam 2 hari ke depan. Bagaimana kenyataannya ? Sudah hampir setahun ini saya tidak pernah mendapatkan email seperti yang dijanjikan oleh mesin penjawab mereka itu. Nah lho……..itulah kenyataan humas kita he..he…

Bandingkan dengan video porno terbaru yang konon pelakunya mirip artis itu. Hanya dalam hitungan hari, adegan itu sudah tersebar di jutaan akun dan handphone dan susah untuk dihentikan sampai sekarang. Bahkan konon artis-artis internasional nggak jelas ada juga yang sudah menonton adegan tersebut dan menyatakan ketertarikannya untuk “mencoba” sang aktor. Saya hanya bisa mengelus dada, kenapa kehumasan yang bagus di negeri ini kok malah untuk urusan memalukan seperti ini.

Jangan lupa setiap tahun Indonesia juga mendapatkan publikasi gratis dari PERC yang menobatkan Indonesia sebagai langganan juara negara terkorup di dunia dan juga dari GREENPEACE yang menobatkan Indonesia sebagai negeri terparah dalam perusakan hutan. Tidak lepas dari ingatan film Cowboy in Paradise yang trailernya beredar di you tube, kali ini mempublikasikan fenomena gigolo di Bali. Kalau Anda sedang di Singapura dan menonton berita-berita dari TV Indonesia di kamar hotel Anda di sana, Anda kadang akan merasa malu melihat siaran berita kita dipenuhi dengan adegan tawuran maupun demo yang ngaco.

Strategi kehumasan pemerintah kita memang parah sekali. Politik pencitraan yang saat ini dianut oleh pemenang pemilu baru lalu ternyata tidak diamalkan untuk menyukseskan pencitraan pemerintah maupun negara kita di mata internasional kita. Saya mencatat hanya ada 3 hal besar publikasi positif yang menyangkut pencitraan Indonesia di mata internasional yaitu keberhasilan Densus 88 dalam mengatasi aksi terorisme, keberhasilan pasukan Garuda TNI dalam penugasan dalam pasukan perdamaian PBB dan keberhasilan anak-anak Indonesia dalam berbagai olimpiade sains tingkat dunia. Lainnya, saya tidak atau belum melihatnya.

Dalam teknologi yang berkembang cepat dan semakin murah ini sebenarnya strategi kehumasan dalam membuat publikasi tersedia dalam rentang panjang antara yang gratis dengan yang berharga mahal. Tulisan ini mencoba memberikan alternatif publikasi yang bisa dilakukan pemerintah.

Bagian pertama adalah publikasi yang bersifat gratis, pemerintah (khususnya Kementerian Informasi dan Komunikasi) seharusnya tidak punya alasan lagi untuk menolaknya. Nah, untuk publikasi semacam ini saya menyarankan supaya kemenkoinfo memiliki unit-unit kreatif khusus untuk membuat informasi dan publikasi dalam Bahasa Inggris melalui YOUTUBE, atau social blog seperti WordPress dan Blogger.

Cobalah jangan hanya merekrut PNS dengan modal pas-pasan saja, tapi rekrut pegawai yang kreatif, minimal bisa berbahasa Inggris (syukur-syukur bisa berbahasa lain seperti Mandarin, Spanyol, Perancis, Jerman atau Perancis), suka membaca dan memiliki hobi menulis. Bentuklah unit-unit khusus, yang pertama adalah unit kreatif YOUTUBE. Unit ini bertugas setiap saat untuk mengupload video klip berbahasa Inggris tentang segala hal mengenai Indonesia. Bisa mengenai budaya, wisata, band-band Indonesia, prestasi, aneka macam festival, industri, ekonomi, pertahanan keamanan maupun prestasi Indonesia, apapun. Manfaatkanlah YouTube untuk mempromosikan Indonesia secara gratis tanpa harus melanggar aturan-aturan yang ditetapkan oleh pihal YouTube. Pemerintah selalu ketinggalan dalam hal ini. Permainan Sasando-nya Berto Pah di acara Indonesia Mencari Bakat TransTV saja sudah berkeliaran di YouTube.

Unit yang kedua adalah untuk membuat weblog di WordPress ataupun Blogger. Jangan buat weblog dalam Bahasa Indonesia. Selain sudah banyak juga untuk apa, wong kita orang Indonesia sudah tahu kok. Buatlah weblog dalam Bahasa Inggris, Mandarin, Jepang, Spanyol, Jerman dan Perancis yang menceritakan tentang Indonesia. Perbaharuilah muatannya setiap saat, toh PNS-PNS itu memang digaji untuk mengerjakan itu. Semua kan gratis, tinggal kreatif apa enggak. Pemerintah tinggal membayar biaya langganan internet saja, yang harganya nggak mahal-mahal amat itu. Terus terang, saya sebenarnya sudah melaksanakan ide ini dengan membuat blog berbahasa Inggris www.living-indonesiacultural.blogspot.com untuk mempromosikan budaya Indonesia kepada dunia. Sayang, karena kesibukan kerja yang sangat meningkat akhir-akhir ini membuat saya tidak bisa memperbaharui muatannya secara rutin. Kalau saya saja bisa, masak pemerintah tidak mampu ?!

Bagian yang kedua adalah publikasi yang menuntut biaya setengah mahal. Ide yang pertama adalah buatlah unit kreatif khusus untuk Twitter dan Facebook. Buatlah topik-topik diskusi tentang Indonesia di dalam kedua media tersebut. Biaya nggak mahal, hanya perlu Bahasa Inggris, kreatifitas dan kesungguhan. Kalau sampai ada akun sejuta pendukung Bibit Chandra atau Prita Mulyasari kenapa pemerintah tidak bisa membuat hal yang sama ?!

Berikutnya adalah menterjemahkan karya-karya sastra Indonesia ke bahasa asing. Buku-buku Pram saja sudah diterjemahkan ke belasan bahasa asing tanpa dibantu pemerintah sehingga membuatnya menjadi nominator Nobel untuk bidang kasusastraan. Sementara, saya belum melihat pemerintah orde reformasi ini membuat langkah nyata untuk mempromosikan sastra Indonesia ke dunia luar. Kita punya banyak karya sastra yang berkaliber dunia, seperti karya Pram (tetralogi Buru), Romo Mangun (Burung-burung Manyar, Trilogi Roro Mendut), Umar Kayam, Ahmad Tohari (Ronggeng Dukuh Paruk), Sindunata (Anak Bajang Menggiring Angin), Remy Silado (Cau Bau Kan). Yang saya lihat sudah berkeliaran di pasar buku internasional adalah buku-bukunya Pram dan Romo Mangun, seperti saya tampilkan di bawah ini. Tapi kita tidak pernah melihat karya-karya mereka yang lain bisa ditampilkan di toko-toko buku di kota-kota besar dunia dalam bahasa asing. Pemerintah nggak ada dana ?! Ah alasan klasik..wong untuk korupsi saja ada kok he..he…

Ide yang berikutnya adalah jadikan kedutaan besar kita di luar negeri sebagai pusat promosi kebudayaan dan ekonomi kita. Saya kadang tidak mengerti dengan jelas apa ya kerjaan mereka di sana selain menghadiri undangan di negara yang bersangkutan dan mengurus perpanjangan paspor atau visa. Seharusnya setiap kedutaan besar kita wajib membuat publikasi rutin tentang Indonesia dalam bahasa lokal. Hal seperti ini sudah dilakukan di beberapa kedutaan seperti di Turki, moga-moga dilakukan juga oleh kedutaan-kedutaan yang lain. Kalau perlu tempelkan pamflet-pamflet tentang Indonesia di papan-papan resmi yang biasanya bertebaran di kota-kota besar dunia.

Bagian yang ketiga adalah publikasi yang lumayan mahal. Contohnya seperti yang dilakukan negara tetangga kita di utara itu. Cobalah memasang iklan tentang Indonesia di National Geographic Channel, Discovery Channel, CNN, ESPN. Kalau perlu belilah slot tayangan di sana untuk menceritakan tentang Indonesia. Kalau negara lain bernafsu untuk pasang iklan di surat kabar lokal kita, pemerintah juga harus mampu memasang iklan di surat kabar negara lain untuk mempromosikan Indonesia. Supaya ramai, wajibkan setiap maskapai penerbangan Indonesia yang memiliki rute luar negeri untuk mempromosikan Indonesia di badan pesawat mereka atau bahkan di media hiburan atau media baca dalam kabin pesawat mereka. Contohnya seperti yang diusulkan oleh anak-anak muda di kementerian desain indonesia ini.

Yang bisa dilakukan juga adalah membuat TV Tourism and Culture dengan menggunakan tayangan-tayangan yang sudah diproduksi oleh media-media lokal ini. Secara komprehensif saya sudah mengemukan usulan ini dalam postingan yang saya sebut di awal tulisan ini.

Publikasi, sekali lagi publikasi adalah penyakit bawaan kita sejak lama. Kita buang-buang uang untuk perkara yang tidak perlu tapi malah meremehkan bidang yang satu ini. Padahal negeri kita berlimpah dengan sumber daya kreatif yang tidak henti-hentinya mengalirkan ide-ide segar. Kalau Anda berkunjung ke www.menteridesainindonesia.blogspot.com, Anda akan takjub dengan begitu melimpahnya ide-ide kreatif anak-anak muda kita. Coba bandingkan logo Pulau Komodo buatan pemerintah dengan buatan mereka, saya nggak tega untuk berpendapat siapa yang akan malu nantinya he..he… Sayang pemerintah tidak mengakomodasi ide-ide mereka dan malah terkesan mau jalan sendiri dengan proyek-proyek mereka sendiri.

Semoga kita segera sadar untuk mau kembali ke jalan yang benar. Membangun strategi kehumasan yang jitu itu berguna untuk mempromosikan negeri kita yang kreatif dan membanggakan ini. Contohlah Bung Karno, contohlah Pak Harto untuk urusan yang satu ini.

(Balikpapan, 21 Juni 2010)

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.