Tuesday, 10 August 2010
Handoko Widagdo – Solo
Beberapa minggu yang lalu saya baru saja mengunjungi situs Majapahit di Trowulan, Mojokerto. Selain melihat-lihat patung dan barang-barang peninggalan lain yang tersimpan di gedung museum, saya juga sempat bercengkerama di Kolam Segaran. Saysng sekali kola mini kurang terpelihara dengan baik. Dalamnya cukup kotor. Padahal dulunya, konon, kolam ini adalah kolam untuk mandi para putri ningrat Majapahit.
Ada beberapa patung yang tersimpan di museum Majapahit. Setelah saya amati, ternyata beberapa patung memiliki perbedaan dengan patung-patung berbahan batu yang pernah aku saksikan. Beberapa patung tersebut mengenakan BH. Padahal patung batu kuno biasanya bertelanjang dada. Patung-patung di Candi Prambanan, relief Candi Borobudur, bahkan patung-patung di candi-candi yang ada di komplek Angkor Watt di Siem Riep, Cambodia juga bertelanjang dada. Ada apa sebenarnya?
Sebelum kita lanjutkan kajian arkheologi, marilah kita bahas dulu tentang sitilah BH. BH adalah singkatan dari Breast Holder. Tapi mengapa kita tetap memakai istilah ini? Bukankan sebaiknya kita Indonesiakan saja? Misalnya menjadi Penyangga Dada (PD)? Istilah PD akan lebih pas karena yang bagian bawah kita sebut sebagai CD (celana dalam). CD, PD, lebih enak kan?
Kembali kepada fakta patung-patung perempuan yang sudah berkutang. Temuan ini membuat saya mencoba membuat teori tentang revolusi kutang di Jawa. Saya yakin bahwa pada jaman Majapahit inilah perempuan Jawa mulai mengenakan Penyangga Dada (PD) atau lebih keren disebut BRA. Tentulah kutang ini diperkenalkan oleh orang yang sangat berpengaruh, sehingga bisa berkembang digunakan oleh para perempuan kebanyakan. Orang yang berpengaruh tersebut haruslah punya power dan charisma. Tentu orang tersebut adalah seorang Raja.
Keberhasilan sang Raja Majapahit dalam melakukan revolusi kutang tersebut jangan-jangan mempengaruhi pemilihan gelar bagi beliau. Karena berhasil (WIJAYA) memperkenalkan kutang (BRA), maka beliau bergelar BRAWIJAYA? Siapa tahu?
August 26th, 2010 at 20:37
Ha…ha…ha…begitulah ceritanya
August 26th, 2010 at 13:37
Hahahaaa…. Dasar pikiranne ora adoh adoh tekan kuthang lan lakang… hahahahaa….
BTW, aku setuju denganmu kakanda Ohara, PD mungkin lebih pas daripada BH
Cheeers (alumni AIT training ’0
August 14th, 2010 at 12:35
Pak Warno, menelusuri asal-usul kata kutang memang menarik. Nanti akan saya coba cari
August 14th, 2010 at 09:48
Mas Han membahas BH, BRA dan gagasan untuk mengganti yang lebih Indonesia menjadi PD cukup menarik, tetapi kenapa tidak sekalian menggali asal-usul nama “Kutang?”
Kalau asal-usul nama itu dapat ditelusuri siapa tahu dapat membantu Cak Dikin yang kehilangan “Tali Kutang Sak Isine”
August 12th, 2010 at 11:23
Setuju, pak Hand kalau membahas prabu Brawijaya-nya daripada Bra-nya..
JC:, lha memang biasanya isi itu lebih menarik daripada kulitnya