Revolusi Kutang di Tanah Jawa

Handoko Widagdo – Solo


Beberapa minggu yang lalu saya baru saja mengunjungi situs Majapahit di Trowulan, Mojokerto. Selain melihat-lihat patung dan barang-barang peninggalan lain yang tersimpan di gedung museum, saya juga sempat bercengkerama di Kolam Segaran. Saysng sekali kola mini kurang terpelihara dengan baik. Dalamnya cukup kotor. Padahal dulunya, konon, kolam ini adalah kolam untuk mandi para putri ningrat Majapahit.

Ada beberapa patung yang tersimpan di museum Majapahit. Setelah saya amati, ternyata beberapa patung memiliki perbedaan dengan patung-patung berbahan batu yang pernah aku saksikan. Beberapa patung tersebut mengenakan BH. Padahal patung batu kuno biasanya bertelanjang dada. Patung-patung di Candi Prambanan, relief Candi Borobudur, bahkan patung-patung di candi-candi yang ada di komplek Angkor Watt di Siem Riep, Cambodia juga bertelanjang dada. Ada apa sebenarnya?

Sebelum kita lanjutkan kajian arkheologi, marilah kita bahas dulu tentang sitilah BH. BH adalah singkatan dari Breast Holder. Tapi mengapa kita tetap memakai istilah ini? Bukankan sebaiknya kita Indonesiakan saja? Misalnya menjadi Penyangga Dada (PD)? Istilah PD akan lebih pas karena yang bagian bawah kita sebut sebagai CD (celana dalam). CD, PD, lebih enak kan?

Kembali kepada fakta patung-patung perempuan yang sudah berkutang. Temuan ini membuat saya mencoba membuat teori tentang revolusi kutang di Jawa. Saya yakin bahwa pada jaman Majapahit inilah perempuan Jawa mulai mengenakan Penyangga Dada (PD) atau lebih keren disebut BRA. Tentulah kutang ini diperkenalkan oleh orang yang sangat berpengaruh, sehingga bisa berkembang digunakan oleh para perempuan kebanyakan. Orang yang berpengaruh tersebut haruslah punya power dan charisma. Tentu orang tersebut adalah seorang Raja.

Keberhasilan sang Raja Majapahit dalam melakukan revolusi kutang tersebut jangan-jangan mempengaruhi pemilihan gelar bagi beliau. Karena berhasil (WIJAYA) memperkenalkan kutang (BRA), maka beliau bergelar BRAWIJAYA? Siapa tahu?

About Handoko Widagdo

Berasal dari Purwodadi, melanglang buana ke berpuluh negara. Dengan passion di bidang pendidikan, sekarang berkarya di lembaga yang sangat memerhatikan pendidikan Indonesia. Berkeluarga dan tinggal di Solo, kebahagiaannya beserta istri bertambah lengkap dengan 3 anak yang semuanya sudah menjelang dewasa.

My Facebook Arsip Artikel

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.