[Serial Baltyra] Orang-orang Terlupakan Dalam Proklamasi: Mendur dan Mendur

Iwan Satyanegara Kamah – Jakarta

 

MENDUR DAN MENDUR

Lensa proklamasi

 

MENDUR dan MENDUR? Kok mirip seperti Johnson&Johnson atau Thompson dan Thomson, tokoh kembar berkumis dalam komik terkenal karangan Herge, Tintin. Mendur dan Mendur di sini adalah dua nama pria kakak beradik, Alex Mendur dan Frans Mendur. Siapa mereka

Generasi sekarang banyak yang tidak tahu nama mereka. Mungkin lupa atau memang sengaja dilupakan. Apalagi untuk mengenang apa yang mereka lakukan pada saat-saat bersejarah hari 17 Agustus 1945, ketika sebuah negara besar lahir di sebuah ruang kecil, beranda rumah Soekarno, di Jalan Pegangsaan Timur 56, Cikini, Jakarta.

Peristiwa pada Jumat pagi itu, akan hanya sekali terjadi dan tidak akan terulang selamanya. Irreversible. Tidak bisa diulang, bagaikan kelahiran manusia. Sekali keluar dari rahim, ya sudah. Tidak mungkin dan tidak dapat dimasukkan kembali ke dalam rahim.

Bila peristiwa maha penting itu berlalu, hanya segelintir manusia yang dapat mengenangnya di kepala masing-masing, dengan kekuatan imajinasi visual yang dimilikinya. Namun sayang, tak semua yang hadir menyaksikan peristiwa 17 Agustus 1945 di rumah Soekarno itu, bisa menuangkannya dalam bentuk sketsa atau lukisan.

Upacara penandatangan kemerdekaan Amerika Serikat pada 4 Juli 1776, hanya bisa diabadikan oleh sebingkai lukisan besar yang dibuat 19 tahun kemudian oleh pelukis neo-klasik Amerika John Trumbull. Dia banyak membuat lukisan-lukisan yang mengabadikan jalannya revolusi Amerika.

Atau upacara pembacaan proklamasi Cina pada 1 Oktober 1949 oleh Mao Zedong di Lapangan Tian An Men, Beijing, yang diabadikan banyak foto untuk mengenang peristiwa penting bagi rakyat negera terbanyak penduduknya sejagat itu. Atau kemerdekaan Malaysia sebagai hadiah dari Inggris, sehingga upacara proklamasi sudah terencana matang dengan banyak kamera foto atau TV yang siap mengabadikannya.

Bagaimana dengan upacara proklamasi kemerdekaan Indonesia? Wooo… jauh dari kesiapan dan seperti sebuah peristiwa yang tak terencanakan meski sudah dijanjikan akan terjadi. Situasi yang genting dan serba cepat pada hari-hari antara 15 hingga 17 Agustus 1945, mem buat semua kejadian berlangsung begitu cepat dan darurat.

Mau diproklamasikan di mana Indonesia ketika terjadi kekosongan kekuasaan? Belanda jelas sudah tidak ada, lha sudah terusir oleh Jepang dengan kenistaan tiga setengah tahun lalu. Lalu Jepang? Lha, Jepang sudah menyerah kepada kekuatan Sekuta karena dua kotanya diratakan dengan bumi oleh bom atom. Nah, ini kesempatan untuk merdeka tanpa perlu minta ijin kepada siapa-siapa, kecuali kepada rakyat Indonesia sendiri.

Frans dan Alex Mendur adalah dua fotografer yang hadir pada saat pembacaan naskah proklamasi di rumah Soekarno. Mereka berdua berhasil mengabadikan peristiwa bersejarah itu dalam berapa frame foto yang kemudian kita kenal sekarang. Saat Soekarno membacakan proklamasi, saat Soekarno berdoa setelah membacakan proklamasi serta bendera ketika bendera Merah Putih pertama kali dikibarkan di bumi Indonesia. Semua hasil karya SOEMARTO FRANS Mendur. Lalu kemana karya Alex, sang kakaknya Frans? Dirampas Jepang!

Frans sendiri menyembunyikan hasil pemotretan upacara prokalamasi beberapa lama di bawah pohon di halaman kantor harian Asia Raja. Kalau tidak, bisa dirampas Jepang dan habislah sudah momen penting itu dari ingatan visual bangsa Indonesia.

Tidak mengherankan, bila foto upacara pembacaan proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia, baru muncul di harian Merdeka pada Rabu 20 Februari 1946! Lalu apa yang didapatkan Alex dan Frans Mendur dari karyanya itu? TIDAK ADA!

Frans dan Alex tidak hanya mengabadikan peristiwa bersejarah 17 Agustus 1945 itu. Jauh sebelum itu dan sesudahnya, banyak peristiwa dan romantika jalannya revolusi kelahiran bangsa Indonesia, berhasil direkam oleh mereka berdua. Mereka mengabadikannya bukan dengan kamera semata, tetapi dengan keberanian, ketulusan, kejujuran dan tanpa pamrih!

“Ini gambar foto perjuangan saya bangsa saya. Silahkan Anda bawa ke negeri Anda. Silahkan Anda siarkan di sana”, kata Frans suatu hari kepada siapapun yang dikenalnya, terutama kepada wartawan asing. Kalau jaman sekarang? Entar dulu….enak aja.. Gue dapat royalty nggak? Emangnya nenek moyang lho yang motret?

Lihatlah karya monumental Alex Mendur, yang mengabadikan Bung Tomo sedang berorasi di Malang, yang kemudian dimanipulasi oleh kita sendiri, seolah-olah Bung Tomo sedang mengobarkan semangat rakyat Surabaya jelang peristiwa heroik 10 Nopember 1945!

Lihat juga karya monumental Frans Mendur yang mengabadikan Soeharto menjemput Panglima Soedirman pulang dari gerilya. Foto itu dicetak kembali dengan hasil yang bersih oleh Soeharto dan diperbesar lalu dipasang di ruang kerjanya di Bina Graha. Dalam gambar itu tampak Sjafruddin Prawiranegara di ujung kiri, namun dicropping oleh Soeharto karena orang itu menentang kekuasaannya.

Apakah Soeharto memberikan sesuatu kepada Frans dan juga Alex Mendur? Rasanya sulit mengatakan iya. Justru pada Soeharto mereka hidup dalam “kesengsaraan” dan dibiarkan mati tanpa jasa yang selayaknya. Bahkan seharusnya Frans dan Alex diberikan predikat Bapak Fotografi Indonesia. Buktinya Hari Musik Nasional dicanangkan Presiden Megawati Soekarnoputri berdasarkan hari lahir WR Soepratman pada 2003.

Banyak sekali negatif film berisikan momen-momen penting perjuangan Indonesia hasil karya Alex dan Frans Mendur, yang dibiarkan rusak dan tidak diperhatikan oleh pemerintah secara serius. Suatu hari nanti, ketika negeri Indonesia beranjak menjadi negara besar, datanglah tawaran dari orang asing, seperti George Soros atau Bill Gates yang mau membeli semua negatif film karya Mendur bersaudara dengan harga berapapun… Waah.. matilah kita semua. Bisa-bisa setiap penayangan foto Proklamasi 17 Agustsu 1945, kita harus membayar royalty kepada orang asing!

Mendur bersaudara adalah sahabat baik kedua orang tua saya. Makanya waktu masih kecil, saya menyesal tidak mau menemani ibu saya yang minta diantarkan berkunjung ke rumah Alex Mendur di Depok. Frans yang pernah menjadi tukang rokok di Surabaya (nama Soemarto adalah nama ayah angkatnya waktu tinggal di Sidoarjo, Jawa Timur), wafat dalam kesengsaraan pada 1971 dan Alex meninggal dunia tanpa dihargai pada 1984.

Sebaiknya mulai sekarang, setiap ada penayangan foto upacara proklamasi 17 Agustus 1945, kita WAJIB MENYANTUMKAN dibawah foto tersebut dengan kata-kata sederhana. “Foto oleh IPPHOS/Frans Mendur. (*)

 

 

 

 

112 Comments to "[Serial Baltyra] Orang-orang Terlupakan Dalam Proklamasi: Mendur dan Mendur"

  1. IWAN SATYANEGARA KAMAH  16 March, 2012 at 12:56

    Hallo Mario,

    Sebenarnya semua bahan dalam tulisan ini saya dapat dari pengetahuan saya sendiri dari berbagai macam bacaan sejak dulu. Kebetulan Om mendur berdua teman ayah saya dulu, ketika saya masih kecil dan belum lahir. Namun bila ada keraguan atau ingin kepastian, saya melihat buku “Jagat Wartawan Indonesia”, tulisan Soebagiyo I.N. Hanya itu yang paling lengkap membahas Mendur.

    Terima kasih.

  2. mario  16 March, 2012 at 12:20

    menarik ni,,,
    kebetulan skripsi saya pembahasannya gk jauh dari tulisan ini…
    kalau boleh tau data yang didapat dari mana saja ya?

  3. IWAN SATYANEGARA KAMAH  13 February, 2012 at 20:16

    Terima kasih banyak Pak Jie untuk komentarnya. Kami senang Bapak singgah dan membaca tulisan di Baltyra.

    Salam kenal.

  4. jie  13 February, 2012 at 19:49

    tidak ada kata yang dapat di katakan kecuali hanya satu .. Mantaaap…

  5. Pierre Mendur  21 August, 2011 at 21:18

    Terima kasih. cukup istimewaartikel pak Iwan

  6. Lani  18 August, 2011 at 13:03

    106 jelasssssss dunk, sama sodara kenthir mosok mo menghianati kkkkkkk

  7. Dewi Aichi  18 August, 2011 at 08:14

    Hennie, pak Iwan bilang ” kammmmmm…………..(uuuuu)……..prettttttttttttttt..(yyyyyyyyy)……!” sama saya tuh…cuma ada beberapa huruf dimutilasi sama pak Iwan, gitu aja ragu ragu mo bilang….iya kan Henn?

    Lani..sippp lah kamu ada di pihak aku wkwkw….sapa dulu ibunya…!

  8. EA.Inakawa  18 August, 2011 at 05:09

    Betul Pak Iwan….tak terhitung berapa banyak Pahlawan tanpa jasa yang dilupakan negeri ini,dan tak terhitung pula banyaknya orang orang yang tak berjasa kemudian muncul sebagai Pahlawan Kesiangan. salam hormat

  9. Lani  18 August, 2011 at 02:56

    ISK : hah? TIWUL INSTANT???? baru tau ada tiwul instant???? bener apa bener neh? jgn2 nanti dimarahin yg duwe PONDOL lo………

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.