Jogjakarta Yang Klasik Dan Eksotik (Part 1)

Anastasia Yuliantari & Dewi Aichi


Jogjakarta pernah disebut “Republik Jogja” ini dikarenakan kota Jogjakarta pernah menjadi ibu kota RI (4 Januari 1946-27 Desember 1949).

Selain sejarah tentang “Republik Jogja” kita bisa membandingkan suasana Jogjakarta sekarang dengan suasana sebelum merdeka. Juga masa-masa sepanjang pemerintahan Soekarno.

Malioboro merupakan landmark kota Jogjakarta , selain Tugu. Sekarang tempat ini menjadi pusat tujuan wisata , dengan kehadiran para pedagang kaki lima yang menjual segala maçam souvenir sebagai salah satu keunikannya. Di pusat kota Jogja ini pula banyak dijumpai andong, kereta yang ditarik kuda, sebagai alat transportasi bagi wisatawan maupun penduduk setempat.

Andong Jogja bentuknya berbeda dengan alat angkut yang menggunakan kuda di tempat lain. Bentuknya yang lebih panjang dan beroda empat  menyerupai kereta yang banyak dipergunakan orang jaman dahulu baik di benua Eropa mau pun Amerika.

Jam Malioboro terletak di persimpangan antara Pasar Beringharjo, Istana Negara, benteng \Vredeburg, dan Jalan Malioboro. Orang Jogja biasanya menyebutnya Ngejaman. Bila dahulu jam tersebut berada di tengah jalan yang dilalui kendaraan, sekarang lebih banyak dilintasi para pejalan kaki, karena sekitar jam tersebut telah dibangun trotoar dan dipenuhi para pengunjung yang duduk-duduk menyantap makanan khas Jogja de sepanjang trotoar, antara lain: angkringan, dawet ayu, gudhangan, sate gajih, temped an tahu bacem, jajanan pasar, dan last but not least, nasi gudheg!

Tugu ini sekarang merupakan salah satu objek pariwisata Yogya dan sering dikenal dengan istilah “tugu pal putih” (pal juga berarti tugu), karena warna cat yang digunakan sejak dulu adalah warna putih.

Dari kraton Yogyakarta kalau kita melihat ke arah utara, maka kita akan menemukan bahwa Jalan Malioboro, Jl Mangkubumi, Tugu, dan Monument Yogya Kembali membentuk satu garis lurus persis dengan  puncak Gunung Merapi. Sementara bila dirunut ke arah selatan melalui Plengkung Gading, dan Kandang Menjangan, maka akan membentuk garis yang sama ke arah Laut Selatan.

Di ujung Jalan Malioboro, berdirilah Hotel Yogya, yang sekarang dikenal dengan Natour Garuda. Hotel ini berarsitektur gaya Belanda di bagian fasad dan lobbynya. Namun sekarang telah ditambahkan pula bangunan modern karena semakin banyaknya wisatawan yang berkunjung ke Jogja menuntut akomodasi yang lebih memadai.

Keberadaan Hotel ini tak bisa dipisahkan dari Stasiun Tugu yang hanya selemparan batu jauhnya dari tempat itu. Stasiun ini merupakan bagian yang penting dalam sejarah perjuangan bangsa kita karena melalui stasiun ini banyak para tokoh penting dapat meninggalkan dan memasuki kota Jogjakarta. Tak heran muncullah lagu Sepasang Mata Bola yang mengharu biru menggambarkan sepasang mata dari balik jendela kereta yang sedang menuju front terdepan melawan penjajah.

Stasiun Tugu yang hanya selemparan batu jauhnya dari tempat itu. Stasiun ini mulai melayani kebutuhan transportasi sejak 2 Mei 1887, sekitar 15 tahun setelah Stasiun Lempuyangan. Stasiun Tugu merupakan bagian penting dalam sejarah perjuangan bangsa kita karena melalui stasiun inilah para tokoh penting negara ini dapat meninggalkan dan memasuki kota Jogjakarta dari berbagai penjuru Republik. Tak heran muncullah lagu Sepasang Mata Bola yang mengharu biru menggambarkan sepasang mata dari balik jendela kereta yang sedang menuju front terdepan melawan penjajah.

Karena dibangun pada masa kolonial Belanda, maka arsitektur bangunan Stasiun ini pun sangat kental dengan nuansa Eropa. Kolom-kolom yang kokoh tampak menjulang di ujung Jalan Malioboro, memisahkannya dengan Jalan Mangkubumi yang menghubungkan dengan situs penting lainnya yaitu Tugu.

Seturut perkembangan jaman, Stasiun Tugu juga berubah menjadi persinggahan kereta yang lebih modern, bila tak mau dikatakan sangat modern dengan sistem komputerisasi dan jam digital yang dipasang di beberapa bagian stasiun. Bahkan telah tersedia pula box-box telepon umum, layanan informasi, meja pemesanan taxi dan akomodasi, paket wisata, dan segala pernik yang dibutuhkan para pengunjung yang menggunakan transportasi kereta. Pendeknya, bagi orang yang suka transportasi Si Kuda Besi, Jogja merupakan kota yang wajib dikunjungi.

bersambung…


About Dewi Aichi

Berasal dari Sleman Jogjakarta, saya blasteran (antar kelurahan maksudnya), happily married to a Brazilian guy. Dari Jogja merambah dunia. Pernikahan lintas benua adalah pilihannya. Setelah beberapa tahun di Distrik Aichi, Jepang, sekarang tinggal di Brazil bersama keluarga tercintanya. Tingkat sudrunnya setara dengan saudara-saudara sepersudrunannya seperti Nur Mberok, Elnino, Fire dan jelas Lani van Kona. Di sini saya bukan siapa-siapa dan bukan apa-apa, saya hanya sekedar menulis apa yang saya rasakan, apa yang saya alami, dan apa yang menarik buat saya untuk ditulis. Jika ini bermanfaat untuk diri saya sendiri dan juga untuk teman-teman, saya sangat bersyukur

My Facebook Arsip Artikel Website

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *