[Serial Baltyra] Orang-orang Terlupakan Dalam Proklamasi: Nahdlatul Ulama

Iwan Satyanegara Kamah – Jakarta


NAHDLATUL ULAMA

Grand Final: 17 Agustus 1945


NU (baca: en u) sering diplesetkan ketika saya sering main dan jalan-jalan ke tanah Jawa beberapa tahun silam. Kalau orang yang senangnya minta rokok sama teman, mereka menyebutnya NU atau nunut udhut atau orang yang minta rokok melulu.

Nah, NU yang ini lain dari arti plesetan yang sebutkan. NU adalah kependekan dari Nahdlatul Ulama atau kebangkitan kaum ulama dan menjadi sebuah organisasi kemasyarakatan yang paling besar dan paling berpengaruh dalam perjalanan sejarah Republik Indonesia (RI) jauh sebelum 17 Agustus 1945 hingga detik ini.

Ketika negara RI berdiri pada hari 17 Agustus 1945, banyak pihak yang meragukan kelangsungannya, bahkan ada juga menuduhnya sebagai hasil agresifitas segolongan kaum pemuda militan yang nasionalis. Bagi negara-negara barat, proklamasi 17 Agustus 1945 tak lain hanya “Made in Japan”. Bikinan Jepang!

Tidak heran ada beberapa golongan rakyat Indonesia yang meragukan usia proklamasi yang diumumkan di rumah Soekarno itu. “Belum bisa bikin jarum saja sudah merdeka”, kata yang sinis. Dalam perjalanan waktu di awal-awal setelah kelahiran negara ini, banyak sekali gangguan dan cobaan yang ingin mengubah dan membelokkan cita-cita proklamasi.

Sebagai sebuah organisasi dengan anggotanya jutaan orang, NU mengambil sikap tegas terhadap proklamasi 17 Agustus 1945. Setelah bersidang di Surabaya, Jawa Timur antara 21-22 Oktober 1945, bos NU waktu itu Kyai Haji Hasjim Asjhari, mengeluarkan pernyataan mengejutkan di tengah banyak keraguan dan ketidaktahuan banyak orang tentang proklamasi 17 Agustus 1945.

“Proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia tanggal 17 Agustus 1945 adalah SAH HUKUMNYA. Indonesia telah sah menjadi negara berdaulat sendiri yang terpisah dari Kerajaan Belanda”, bunyi resolusi NU. Bahkan ditambahkan, bahwa kehadiran kembali Belanda melalui NICA di Indonesia TIDAK BISA DIBENARKAN.

Bagi NU, kehadiran Belanda harus dilawan dan hukumnya wajib bagi semua anggota NU untuk melaksanakannya. “Siapapun umat Islam bila berada dalam radius 90 km dimana musuh berada, wajib melawannya dan betdosa meninggalkannya!” Himbauan ini efektif berjalan, ketika Belanda dalam kurun 1945-49 dengan rajin dan sistematis menyakiti rakyat Indonesia dengan kekuatannya yang lebih unggul dari Indonesia.

Bukan itu saja, ketika kaum kiri beraliran komunis yang dikomando Musi Manowar memproklamasikan kemerdekaan REPUBLIK SOVIET INDONESIA di Madiun pada 18 September 1948, banyak warga NU menentangnya. Setelah itu banyak sekali keinginan sebagian golongan masyarakat di Indonesia untuk menistakan proklamasi 17 Agustus 1945. Dengan dukungan pengikutnya yang fanatik, beberapa golongan mengumumkan proklamasi kemerdekaan sendiri-sendiri. Artinya, proklamasi 17 Agustus 1945 adalah non-sense!

Ada yang ingin meninggalkan proklamasi 1945 berdasarkan kepentingan etnis, agama juga kepentingan ekonomi. Misalnya, Christiaan Soumokil memproklamasikan kemedekaan REPUBLIK MALUKU SELATAN di Ambon, pada 25 April 1950. Lalu sebuah negara separatis di Sulawesi dan Sumatera diproklamasikan tanggal 15 Februari 1958. Bahkan 1 Juli 1971 lahir Organisasi Papua Merdeka yang menyatakan wilayah paling timur dari negeri ini menjadi negeri sendiri. Semangat separatis itu ditambah lagi dengan pemisahan wilayah paling barat Indonesia, yaitu Aceh, yang diproklamasikan oleh Gerakan Aceh Merdeka dengan pemimpinnya Hasan Tiro. Belum lagi Negara Islam Indonesia yang diproklamasikan oleh SM Kartosoewirjo di Jawa Barat dan diikuti oleh Kahar Muzakar di Sulawesi Selatan.

Bila proklamasi-proklamasian itu dituruti dan dianggap sebagai motif gerakan hak azasi manusia, habislah negara Republik Indonesia yang lahir 17 Agustus 1945. Pemerintah menjawab pseudo proclamation itu dengan pukulan militer dan didukung penuh oleh NU, yang memiliki banyak anggota sampai ke pelosok jauh, yang miskin dan terkebelakang dalam beberapa segi kehidupan.

Bahkan ada sebuah partai politik terbesar yang beraliran komunis dan didukung penuh oleh Cina komunis, mencoba menggulingkan dan mengubah negara 17 Agustus 1945 menjadi negara yang lahir 1 Oktober 1965. Mereka melakukan gerakannya pada 30 September 1965, agar kelak berhasil mereka memproklamasikan kemerdekaan baru untuk Indonesia tanggal 1 Oktober 1965, supaya barsamaan dengan hari proklamasi Cina 1 Oktober 1949.

NU menentang gerakan itu dan sangat disayangkan, banyak anggota NU melakukan pembersihan anggota partai komunis itu terlalu bersemangat sehingga banyak timbul korban nyawa. Tindakan itu kelak 34 tahun kemudian disesali oleh bos NU yang menjadi orang nomor satu di negeri ini saat itu. Dia menyampaikan permintaan maaf kepada para anggota partai komunis itu yang tak bersalah tapi sudah mati.

Perjalanan RI sebagai sebuah bangsa sejak 17 Agustus 1945, tidak pernah sepi dari keinginan banyak golongan untuk memisahkan diri dan bikin negara sendiri menurut kepentinganya. Nuansa ini sangat terasal pada pertengahan 1980an, ketika ada sebuah semangat untuk mendirikan sebuah negara berdasarkan agama tertentu.

Bagi NU, kalau ingin mendirikan negara sendiri dengan dasar kepetingannya sendiri, silahkan saja, asal jangan di negera RI yang sudah sah merdeka 17 Agustsu 1945. Sikap NU ini diformulasikan dengan kuat saat NU bersidang di Situbondo, Jawa Timur pada 1984. “Negara Republik Indonesia yang berlandaskan Pancasila dan UUD 1945 yang diproklamasikan 17 Agustus 1945 adalah BENTUK FINAL perjuangan umat Islam. Jadi tidak boleh ada bentuk negara apapun, termasuk negara berdasarkan Islam atau syariah, di dalam negeri dan wilayah Indonesia”.

Orang-orang dan tokoh pentolan NU memang unik. Mereka terlihat seperti “orang kampungan”, dengan pakaian sesuai tradisi pedesaan yaitu sarung dan peci. Namun cara berpikir mereka sangat maju dan melampaui cara hidup mereka. Meski mereka kental dengan nuansa Islam, mereka menolak ada negara Islam di Indonesia. Stop! Cukup 17 Agustus 1945 yang diproklamasikan Soekarno dan Hatta!

Saya beruntung bisa berkenalan baik dengan cicit dari pendiri NU, yaitu KH Hasjim Asjhari, yang sering bekerja sama dalam membuat film-film untuk komersial iklan. Sejak berteman dengannya, terasa saya bisa merasakan cara berpikir orang-orang NU yang membumi dan sangat dekat masalah keseharian masyarakat.

KH Hasjim Asjhari adalah satu dari banyak tokoh ulama yang mendirikan organisasi ini tahun 1926. Beliau adalah The Founding Fathers Indnesia, ketika menjadi anggota sebuah badan bikinan Jepang untuk mempersiapkan kemerdekaan Indonesia. Putranya yang bernama Wahid Hasjim, menjadi menteri agama di awal 1950. Mereka berdua ayah-anak, diangkat oleh pemerintah sebagai pahlawan nasional. Bahkan ada wacana untuk mengangkat cucu KH Hasjim Asjhari juga sebagai pahlawan nasional. Kita tunggu saja.

Pada Rabu malam 20 Oktober 1999 menjadi hari paling bersejarah bagi NU. Seorang cucu KH Hasjim Asjhari yang juga menjadi bos NU saat itu, dipercayakan rakyat Indonesia menjaga proklamasi 17 Agustus 1945. Malam itu, sang cucu menjadi presiden RI yang baru. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *