Sekuntum Kamboja Kuning Luruh di Tanah

Linda Cheang – Bandung


Satu pagi indah datang bersama embun sejuk

dengan kecupan mesra sinar mentari hangat

menyapa dunia yang terbangun dari gelapnya malam

ditemani cericit merdu burung-burung menyanyi menyapa Sang Khalik


seketika mata bulatku tertuju pada suatu yang menyala indah

ditengah warna pekat tanah basah oleh embun

wahai kau Kemboja  kuning nan cantik

kuningmu merona indah bagai gadis muda pemalu


engkau,  sendirian di sana, teronggok sunyi sepi di halaman gereja

luruh entah karena ada hembusan angin senja kemarin yang kuat

ataukah karena tiada daya menahan dirus hujan lebat semalam

hingga engkau terpental dari pangkalmu


mengapa tiada yang peduli padamu?

cantik ronamu menambah indah kesegaran pagi

tetes-tetes lembut yang mengecup kelopakmu

menyegarkan tatapan mataku ketika sayu


wahai Sang Kemboja kuning

karya indah Sang Mahakuasa

teruslah pancarkan rona indahmu

hingga tiba layu merenggut hidupmu

dan angin senja lainnya kan membawamu pergi

hingga  tiada lagi yang ingat

engkau pernah teronggok sendirian di sana…

dari halaman gereja, awal Agustus 2010.


Catatan Penulis :

Wahai semua pembaca Baltyra,

Larik-larik puisi di atas tertuang bukan karena saya punya bakat sastra puisi, tetapi asli karena saya sedang gundah.

Sebab otak dan hati saya sedang tidak sinkron.  Desafinado,  alias slightly out of tune , seperti yang dinyanyikan Si Cantik Gal Costa di tautan yang saya lampirkan ini.

Ada sesuatu  penyebab. Entah mesti bagaimana agar keduanya bisa segera sinkron lagi.

Pembaca yang sempat termangu-mangu karena larik-larik di atas, maafkan saya  sebab dengan catatan ini saya mungkin membuyarkan semuanya.

Harap maklum karena saya ini penulis gila. Sastra pun diobrak-abrik. ..Hehehehe..


Salam desafinado,

Linda Cheang

About Linda Cheang

Seorang perempuan biasa asal Bandung, suka menulis tentang tema apa saja, senang membaca, jalan-jalan, menjelajah dan makan-makan. Berlatar pendidikan sains, berminat pada fotografi, seni, budaya, sastra dan filsafat

My Facebook Arsip Artikel Website

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.