[Serial Baltyra] Orang-orang Terlupakan Dalam Proklamasi: Ktut Tantri

Iwan Satyanegara Kamah – Jakarta


KTUT TANTRI

Proklamasi di Nusa Damai


KALAU saja wanita berkebangsaan Amerika Serikat ini tahu dan membaca surat resmi presidennya, yaitu Presiden Harry Truman untuk Presiden Soekarno, pasti dia terheran-heran dan sulit mengerti. “Nggak salah nih?”, begitu mungkin komentarnya.

Untuk pertama kalinya secara resmi terjadi komunikasi antara presiden AS dengan Soekarno, yang saat itu bukan sebagai presiden Republik Indonesia, tetapi sebagai presiden Republik Indonesia Serikat, yang resmi berdiri atau merdeka tanggal 27 Desember 1949. Hari itu Kerajaan Belanda secara resmi mengakui kedaulatan Indonesia, dalam bentuk negara serikat.

“Merupakan kebahagiaan bahwa saya mengucapkan selamat kepada rakyat dari sebuah bangsa baru yang berdaulat, rakyat dari Republik Indonesia Serikat. Selamat untuk Anda semua dan pemimin besar Anda, Presiden Soekarno, atas upayanya dalam rangka kemerdekaan Indonesia”, tulis Presiden Harry Truman dalam sepucuk surat tertanggal 28 Desember 1949, sehari setelah hari penyerahan kedaulatan dari Belanda, kepada Presiden RIS Soekarno.

Janggal kedengarannya surat pertama dari seorang presiden AS kepada pemimpin Indonesia, bila dibaca sekarang. Mungkin saja waktu pemerintah AS tidak mau tahu dengan proklamasi 17 Agustus 1945, yeng dianggapnya cuma “mainan dan bikinan Jepang”. Nah, betul-betul mendapat pengakuan dari majkannyaB elanda, barulah AS mau mengakui Indonesia secara resmi.

Ditambah lagi, Indonesia bentuknya serikat dengan nama dalam bahasa Inggris, UNITED STATES OF INDONESIA. Mirip dengan UNITED STATES OF AMERICA. Astronot John Fabian yang pernah meluncurkan satelit Palapa B-1 tahun 1983, pernah tertawa ketika dia ditanya wartawan saat menghadiri perayaan HUT RI 1983 di Jakarta. “Waktu kecil semasa sekolah di Amerika, saya diajarkan bahwa di dunia ini hanya ada dua negara serikat, yaitu Amerika Serikat dan Republik Indonesia Serikat”, katanya.

Namun bagi wanita berkebangsaan Amerika, yang sudah lama dan berjuang membantu kemerdekaan Indonesia tahun 1945, surat Presiden AS Harry Truman adalah sebuah kekonyolan. Mengapa? Kalau Indonesia merdeka tahun 1949, berarti perjuangan yang dilakukannya selama 1945-49 oleh bangsa Indonesia dan juga olehnya buat apa? Ya sia-sia!

Wanita itu bernama Murial Pearson, kelahiran Skotlandia di Isle of Man tahun 1899. Dia lalu menjadi warga negara AS dan “kesurupan” ketika melihat sebuah poster film tentang Bali di Hollywood Boulevard, “Bali, The Last Paradise”. Sejak itu dia bertekad ingin pergi ke Bali, surga terakhirnya.

Kedatangannya di Batavia, dibarengi dengan keberaniannya seorang diri, bagaikan seorang petualangan. (Dia mempunyai darah Viking yang menyerbu tanah kelahirannya Isle of Man pada abad 13). Dia nekad pergi ke Bali dan akhirnya jatuh cinta kedua setelah melihat keindahan magis secara langsung pulau Bali di pantai Kuta pada awal 1940an.

Di sana dia lahir kembali sebagai manusia baru, setelah diangkat anak oleh bangsawan Bali Anak Agung Gede Agung dan diberi nama baru, Ktut Tantri, sebagai anak keempat. Di dalam tembok istana bangsawan itu, Ktut banyak dijejali cerita tentang kebiadaban Belanda oleh Anak Agung Nura, putra Anak Agung Ged Agung.

Akhirnya di memutuskan keluar dinding rumah para bangsawan dan memilih bergabung membela perjuangan kemerdekaan Indonesia. Dia dituduh oleh Belanda dan Sekutu sebagai provokator yang membela Jepang, karena dia menjadi penyiar dan memanfaatkan posisinya menyuarakan realitas yang sebenarnya tentang kondisi di Indonesia yang dia bela. Ktur menggunakan nickname Sourabaya Soe. Namun di mata Jepang, dia juga disiksa secara kejam dan sistematis selama 2 tahun sampai harus dirawat di Surabaya. Semua dia bayar dengan kepedihan untuk membela kemerdekaan Indonesia 17 Agustus 1945.

Mengapa dia saya sebut dilupakan dalam proklamasi? Namanya kian meluntur dari ingatan kolektif orang Indonesia akan jasa-jasanya pada proklamasi. Adalah sebuah kelebihan dan keunikan, bila ada orang asing, apalagi berkulit putih, yang datang tanpa mengharapkan apa-apapun demi membela dan berjuang untuk negeri yang bukan tanah airnya. Dan dia Ktut Tantri.

Kepergiaannya ke Indonesia meninggalkan masa lalunya yang kurang menggembirakan dalam hal berumahtangga. Dua anaknya meninggal dunia karena sakit paru-paru, sehingga dia mencari kehidupan baru di Indonesia. Ktut sempat menjadi penyiar radio bawah tanah, ‘Radio Pemberontak’ di Surabaya, yang setiap siarannya berisi retorika membela Indonesia.

Tidak mengherankan dia berteman baik dengan Bung Tomo, Perdana Menteri Amir Sjafruddin dan Ali Sastroamidjojo. Bahkan akhirnya dia berkenalan dengan Soekarno. “Dia pria sangat impresif yang pernah saya temui”, katanya kepada wartawan Indonesia di kediamannya di Sydney awal 1993. Soekarno pun sayang dan kagum kepadanya.

“Saudara Ktut ini, adalah orang Amerika kelahiran Inggris. Tetapi dia lebih berjiwa Indonesia dibandingkan berjiwa Inggris atau Amerika. Dia pejuang kemerdekaan Indonesia, dia membela kita, dia melakukan segala-galanya untuk kemerdekaan Indonesia”, teriak Presiden Soekarno di depan ribuan orang dalam sebuah rapat akbar di Malang, Timur.

Ktut Tantri melakukan banyak hal yang sulit dilakukan oleh orang Indonesia saat itu, dalam suasana kritis menegakkan sebuah negara baru yang sangat lemah keadaannya. Dia rela disiksa oleh Belanda, Sekutu dan Jepang sampai diluar batas kemanusiaan, hanya karena posisinya yang dipandang sebagai bagian perjuangan Indonesia. Banyak pidato Presiden Soekaro ditulis olehnya. Dia juga menyuarakan suara melalui corong radio dalam bahasa Inggris, untuk memberikan kenyataan yang pahit bagi rakyat Indonesia.

Pengaruh suaranya melalui corong radio, sedikitnya menambah atmosfir baru bagu dunia untuk lebih obyektif melihat keadaan Indonesia, yang tertatih dan selalu dibantai oleh pihak asing kolonial. Ktut memang tidak punya andil dalam acara detik-detik proklamasi, namun setidaknya dia membuat semangat prokamasi 17 Agustus 1945 didengar dan dipahami oleh pihak asing yang tak mengerti banyak tentang Indonesia.

Ktut menjadi kamera orang asing dalam melihat gempita rakyat Indonesia menuntut hak-hak dasarnya sebagai manusia, yaitu kebebasan.

Dalam buku novelnya yang terkenal, “Revolt in Paradise” (Revolusi di Nusa Damai) dan pernah diterjemahkan oleh Gunung Agung, kemudian Gramedia, dia secara gamblang menceritakan keadaan romantika perjuangan orang Indonesia, dan dia berada di dalamnya dan dia juga merasa begitu pedih ikut membelanya dan merasakannya.

Novel itu pernah ingin difilmkan oleh McElroy and McElroy, produser yang membuat serial TV terkenal di Indonesia, “Return to Eden” yang dibintangi oleh aktris Australia, Rebecca Gilling. Saya pernah membaca sekilas sewaktu masih SMP dan isinya memang indah, tetapi agak menyeramkan bagian penyiksaan. Sayang niat itu terbentur karena banyak campur tangan Ktut yang tak menginginkan novel itu kelak menjadi film bergaya “kisah cinta senonoh”.

Pada awal Februari 1981, saya menolak diajak ibu saya untuk menghantarkan ke peluncuran perdana buku Jadat Wartawan Indonesia karangan Soebagijo I.N. Nah, di sana berkumpul wartawan kawakan seta jandanya, termasuk Wakil Presiden Adam Malik, Mohamad Roem dan Soediro, mantan walikota Jakarta dan Ktut Tantri. Coba saya ikut, bisa ketemu sama dia…

Ktut Tantri hadir untuk mengingatkan orang asing atas penderitaan perjuangan rakyat Indonesia, dan kemudian jasanya itu kita lupakan. (*)

SUMBER:

1. “Freedom fighter Ktut Tanri has become a past memory”, by Melanie Morriso, The Jakarta Post, March 30, 1993.

2. “Perjalanan terakhir Ktut Tantri”, Julius Pour, Kompas 3 Agustus 1997.

3. Berbagai sumber lain.

59 Comments to "[Serial Baltyra] Orang-orang Terlupakan Dalam Proklamasi: Ktut Tantri"

  1. IWAN SATYANEGARA KAMAH  14 February, 2011 at 20:31

    Terima kasih Ridgway…(wah nama panglima terhormat AS!). Memang benar, novel Ktut Tantri pernah ingin difilmkan oleh produser yang membuat serial TV “Return to Eden” yang terkenal di TVRI awal 1986. Entah mengapa kabarnya tidak ada sampai sekarang…

    Saya belum bisa membuat penilaian untuk membandingkan dengan novel EPL yang dimainkan Roberts. Menurut saya film ini kurang laku di Indonesia, hanya menang publikasi saja. Asumsi saya novel Ktur Tantri lebih bergairah untuk difilmkan… Mungkin Mira Lesmana mau melakukannya… Entahlah.

  2. Ridgway Fachrur Riza  14 February, 2011 at 19:40

    sy pernah baca ‘revolusi di nusa damai’ 40 tahun yg lalu tp sampai skrg kesannya tak pernah hilang. hemat sy buku ‘rdnd’ tidak saja bercerita ttg cinta tp lebih dari itu dari seorang ktut tantri. bahwa buku berisi ttg perjuangan rakyat indonesia, keindahan pulau dewata dan petualangan seorang perempuan…luar biasa!!! terpikir oleh saya,knp insan perfilman kita tidak mengapresiasi buku ini utk difilmkan?justru kita terlena dengan ‘eat pray love”nya julia roberts yg mungkin dari alur cerita lebih memukau “revolt in paradise” ini.

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.