Aku, Dia dan Mereka – Part 2

Pritha


Aku, Dia dan Mereka – Part 1


The Cirlcle of Us – continued

“Jadi sekarang kalian udah—balikan?” tanyanya, menatap Ferre dan Kinan bergantian.

Ferre mengangkat alis. “Iya.”

“Oh.”

Vadin mengangguk-angguk, mengetuk-ngetuk permukaan meja dengan jemarinya. Kadang ia merasa begitu heran pada dua orang itu; sudah tahu dilarang, masih saja jadian. Ketahuan sekali, putus, dan balikan lagi tiga hari kemudian. Ketahuan dua kali, putus lagi, balikan lagi seminggu kemudian. Kayak tak ada orang lain saja. Tapi dalam hati dia memuji ketabahan Ferre dan ketulusan Kinan.

“Gilak,” seru Satria tiba-tiba, meletakkan gelas kosongnya dengan keras ke atas meja, “…cuma main dua jam aja capek banget gua! Gimana kalau manggung ya?”

Ferre dan Vadin nyengir menatapnya, dan hanya Kinan yang bisa tahu betapa cengiran itu diberikan setengah hati. Satria adalah teman yang menyenangkan kalau kau sedang tak ada kerjaan dan ingin tenang jadi pendengar atau curhat soal ‘cinta’, tapi bukan untuk membahas hal serius dan sebaiknya tidak terlalu diandalkan.

Band mereka—albeit Kinan—sudah berjalan satu tahun dan ganti personel tiga kali, sampai akhirnya tidak ada posisi resmi karena alat musik yang dipegang juga sering pindah tangan, dan Satria, yang diam-diam menganggap diri frontman berjanji akan mendaftarkan mereka tampil di setiap gigs, tapi sampai kini, dengan akal sehat anggota lainnya menolak halus karena penampilan mereka masih memalukan.

Kalaupun Ferre masih tetap latihan, murni sebagai penghargaan pada antusiasme Satria, hitung-hitung belajar main musik. Ia selalu ingin serius menjadi musisi. Tapi pikiran logisnya menyadari tidak ada gunanya menekuni musik kalau ia tidak memiliki pegangan lain untuk hidup mapan. Lagipula, seseorang seperti dia, tanpa kekuatan relasi yang bisa diperhitungkan, tanpa orang-orang sevisi, mau jadi apa?

“Sat, gue nggak bermaksud menyinggung, tapi menurut gue, gue lebih suka dengerin lo main bass daripada drum,” celetuk Kinan.

“Iya sih, Sat, menurut gua juga gitu,” timpal Ferre.

“Masalahnya, kita belum punya drummer,” tukas Satria. “Kalau bisa sih gua juga lebih suka Vadin yang jadi vokalis.”

“Sambil main gitar? Gila aja lu, kayak gua jago aja,” tampik Vadin.

“Alah, lu sih bisa, Din,” ujar Ferre, “lagian suara lu kan bagus.”

“Mending Kinan yang jadi vokalis, ya nggak Nan?” cetus Vadin, dan Kinan terbelalak.

“Gue? Nggak salah? Lo berharap gue bakal nge-scream?”

“Eh, masih lama nggak lu pada mau di sini? Gua mesti balik nih,” ucap Ferre, menanggapi isyarat dari Kinan untuk menghabiskan minuman Kinan, lalu ia menghabiskannya dalam dua tegukan.

“Mau ngapain sih? Besok juga masih Sabtu,” ujar Satria.

“Mau bimbel dia,” jawab Kinan, menarik tasnya ke bahu.

“Ya udah yuk, gua juga mau balik,” Vadin berdiri, membayar minumannya. Akhirnya mereka semua beranjak dan berpisah. Vadin dan Satria berbelok ke parkiran motor—Vadin menebeng, seperti biasa—sementara Ferre dan Kinan terus ke halte bus.

“Daah, ati-ati yaa.”

See youu.”

**

Dua ratus meter dari titik Ferre dan Kinan berdiri bersisian, Ratna, Aldi, dan Gian duduk berhadapan dalam warung soto mi.

-CROT-

“Yah! Sial lu ah, gua kagak mau kecap!” hardik Gian pada Aldi yang langsung menuang sambal plus kecap ke mangkuk pertama yang terhidang.

“Lah, ini punya gua, kan?” jawab Aldi polos.

“Kan gua bilang, punya gua yang nggak ada lemaknya!”

“Yaelah, it’s just the same…”

“Ogah! Bang, yang satu ganti jadi yang nggak pakai lemak, daging semua ya.”

“Ih, enakan juga pakai…”

“Gua tuh lagi jaga makan, kebanyakan makan lemak kagak jadi-jadi sixpacks gua…”

“Hahaha, serius lo? Perasaan gua makan apa aja jadinya sama aja.”

“Iya sih Al, still skinny. Hahahaha…”

“Puas-puasin aja lu ketawa. Gua mau makan. Ratna, makan? Kok kamu nggak makan sih?”

Ratna menggeleng, tertawa setengah canggung. Sepertinya ia salah menerima ajakan Aldi pergi ke sini, dan terlalu percaya diri mengira Gian bakal tersia-sia jadi pelengkap penderita—ternyata dia sendirilah yang jadi obat nyamuk.

“Aku udah makan kok Al, kamu makan aja.”

“Pesenin minum ya? Mau apa?”

“Ngg, es jeruk deh.”

“Es jeruknya satu lagi ya Bang.”

Ratna menatap Aldi yang makan dengan lahap. Kulit putih, wajah serius, kacamata yang sedikit beruap dari panas kuah, rambut hitam kelam yang tumben sedang dibiarkan panjang hingga ke tengkuknya…tanpa sadar Ratna tersenyum. Pikirannya melayang ke hari di mana Aldi mondar-mandir di depan pintu kelasnya, sebelum akhirnya masuk dan memulai percakapan, tujuh meter dari bangkunya, di depan dua anak lain yang menatap mereka heran,

“Na, ehm, ngg…”

“…?” Ratna menatap Aldi penuh tanya.

“Gua, ngg…jadi sebenarnya, gua…”

“…”

“…gua suka sama lu.”

Freeze. Ratna membeku di tempat. Apa-apaan ini? Pikirnya, mengapa harus di saat-saat seperti ini? Kinanti baru saja dikarantina sebagai kontingen DKI untuk Olimpiade Sains Nasional, jadi ia tidak bisa ditanyai. Uggh, gue butuh Kinan, mana Kinan…?

“Ja..di,” Aldi melanjutkan, sedikit gemetar, “…lu mau nggak, jadian sama gua?”

Pandangan Ratna turun ke sepatu Aldi. Putih yang sudah buluk.

“Ratna…?”

Ratna masih tidak menjawab. Keringat dingin mulai membasahi dahinya.

“Kalau lu merasa belum mau jawab sekarang nggak papa, kok…”

Tiba-tiba Ratna menggeleng, tanpa suara. Aldi terbelalak.

Is it meansno?”

Ratna menggeleng lagi.

So it means…,” Aldi terbata, “…yes?

Perlahan, Ratna mengangguk.

Yess!!

Spontan Ratna mengangkat wajah, menemukan wajah Aldi yang merona. Bukan malu. Bersemangat.

Thanks.”

Ratna mengangguk lagi. Aldi menatapnya sesaat, lalu beranjak pergi.

“Kok cengar-cengir gitu, sih, Na?”

Ratna cepat tersadar dan menatap Gian sebal. “Nggaak.”

“Eh, itu bukannya Kinan sama Ferre?” ucap Aldi. Isi mangkuknya sudah tandas.

“Mana??”

“Itu tuuh,” tunjuk Aldi, dua ratus meter dari tenda.

“Oh, iya…,” ucap Ratna, “…always lovey-dovey.”

Lovey-dovey?” wajah Gian berubah bingung.

Means really lovely,” Aldi menumpuk mangkuknya di atas mangkuk Gian.

“Ooh. Kinan tuh kurusan nggak sih menurut lo? Kalau diliat-liat sekarang, cantik juga.”

“Udah lama tahu, kurusannya…sejak dia menang OSN kemarin,” tukas Ratna.

“Masih rada gendut ah,” celetuk Aldi.

Ratna dan Gian sontak terbelalak.

“Aldiii!!! Tega banget sih!”

“Paraah, parah,” Gian terpingkal-pingkal, “…kalau dia denger bisa mampus lu. Gitu-gitu galak, bego.”

“Ya daripada gua?”

“Mana bisa bandingin sama kamu! Ayo dong, aku mau BTA nih,” ucap Ratna, menggeser gelas kosongnya ke tengah-tengah meja. Saat mereka bertiga beranjak, Ferre dan Kinan sudah tak terlihat.

Mereka berjalan menyusuri jalan Bumi sampai akhirnya Gian pamit. Bersisian sepanjang Taman Puring, Aldi menundukkan wajah dengan galau.

“Na, nanti SMA mau nerusin ke mana?”

Ratna terdiam sejenak. “Maunya sih ke 70 Al. Kamu?”

“Aku juga pengennya ke sana. Tapi kayaknya Mama nggak bolehin deh, aku mau dimasukin Labschool.”

“Labschool?” Ratna mendadak cemberut. “Nggak ketemu lagi, dong.”

“Kan kalau jadi. Kemungkinan besar…iya sih.”

“…”

“Masih ada enam bulan ini buat ketemu.”

Not exactly six.”

Can we just not thinking about that yet?” Aldi menarik tangannya dari saku. “Kok aku masih laper, ya?”

Ratna memutar mata ke atas. “Btw thank’s ya, es jeruknya.”

Anytime.”

Mereka terus berjalan hingga sampai ke deretan ruko tempat gedung BTA berdiri, tepat di depan Pasar Mayestik. Ratna menatap Aldi sebentar sebelum masuk ke dalam.

“Daaah.”

“Daah…,” Aldi melambai, sesaat ragu-ragu. “Ratna?”

Ratna menoleh.

Ayolah Aldi, ayolah…katakan sesuatu yang bagus, yang akan terus diingat dan menaikkan nilai jual…lu bisa, pasti bisa…

“…salam buat teman-teman ya.”

Guoblok lu. Aldi memaki diri sendiri.

“Oh…oke.”

“Bye.”

“Bye.”


The Hello-Goodbye’s Project

Aku melangkahkan kaki dengan gontai menuju kelas, menguap lebar-lebar. Pendalaman materi di pagi buta telah mengubah rutinitas harianku dengan sukses, dan sekarang aku mulai punya kantung mata. How great.

-to be continued…

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.