Secangkir Teh Manis Hangat & Sepiring Pisang Goreng

Lala Purwono


Ini yang selalu kulakukan setiap hari.

Kunanti dirimu di muka teras, mencoba duduk tenang di atas sebuah kursi rotan yang lama-lama membuat pantatku sakit karena terlalu lama duduk di sana, sambil berkali-kali melirik jam kecil yang melingkar di pergelangan tanganku. Melihat putaran waktu yang terus berputar dan berputar sekalipun kuingin jeda sebentar saja.

Kutajamkan pandanganku, seperti meneliti sebutir beras. Kupicingkan mataku, seperti mengintip lubang kunci. Kuakomodasikan penglihatanku dengan maksimum, supaya aku tak terlewat memandangi sosokmu yang mungkin saja berkelebat di depan rumahku.

Tapi kamu tak ada.

Sudah kusiapkan secangkir teh manis hangat dan sepiring pisang goreng untukmu, untuk menyambutmu pulang.

Tapi ya. Kamu tetap tak pulang.

**

Ini yang kulakukan setiap hari.

Meracik pisang, melumurinya dengan adonan tepung, menggorengnya dalam minyak yang sangat panas, lalu mengangkatnya sebelum gosong. Kutata rapi di atas sebuah piring, dihiasi potongan buah stroberi di tepinya, dan kulumuri dengan sedikit tetes coklat kental.

Juga kusiapkan teh manis hangat untukmu. Kujerang air di dalam teko, kutunggu sampai mulutnya bersiul, lalu kutuang ke dalam sebuah cangkir yang sudah berisi sekantong teh melati. Kusendokkan gula pasir, sedikit saja, lalu kuaduk perlahan sembari menikmati aroma melati yang menguar dengan manis membuat hidungku bersemangat untuk bernafas.

Sepiring pisang goreng dan secangkir teh manis hangat tertata rapi di atas nampan, kubawa ke depan rumah.

Kuletakkan di atas sebuah meja, persis di sebelah kursi rotan yang kududuki sampai pantatku sakit dan punggungku pegal itu.

Lalu seperti biasa, kutunggu dirimu di situ.

Menanti dalam sebuah duduk yang gelisah, menanti dalam sebuah cemas yang luar biasa. Tak hanya tubuhku yang lelah, tapi juga hatiku. Tak hanya mataku yang lelah, tapi juga perasaanku.

Ah, tapi tetap kutunggu dirimu di sini.

Di muka sebuah rumah.

Berteman secangkir teh manis hangat dan sepiring pisang goreng yang kusiapkan untukmu.

Untuk menyambutmu pulang.

Meski, ya.

Kamu tak pulang.

**

“Buat apa kamu menantinya?” seorang Sahabat datang berkunjung. Di sebuah malam yang sangat gelap, lembab, dan dingin. Dia muncul di depan pagar lalu masuk setelah mengetahui kalau pintu pagarku memang tak pernah tertutup.

“Memangnya tak boleh?” Aku balik bertanya.

“Buat apa, sih, kamu buang-buang waktumu untuk dia? Sudah jelas-jelas dia nggak akan pulang!”

Kalimat sahabatku itu segera menusuk hatiku; kalimat-kalimat yang seolah memiliki jari-jemari yang sanggup merobek dadaku, mencabik-cabik ketegaranku, meremas biji mataku sampai berair.

Aku menangis.

“Aku yakin dia akan pulang,” bisikku lirih.

“Kenapa kamu seyakin itu?”

“Aku meyakininya, aku mendengar hatiku yang berbicara dan menyuruhku menunggunya.”

“Ah, jangan-jangan itu bukan isi hatimu, tapi keinginanmu. Bedakan, dong.”

Aku tak ingin berdebat dengan sahabatku. Tak akan pernah aku berhasil memenangkan sebuah diskusi yang dari awal masing-masing sudah merasa benar. Kalau ada yang disebut ‘membuang-buang waktu’, mungkin diskusiku dengan sahabatku inilah yang mampu menjadi contoh yang sangat tepat.

Dia menghela nafas karena aku tak berkomentar.

“Kamu tahu, aku cuman terlalu sayang sama kamu,” katanya perlahan. “Aku cuman nggak ingin kamu terlalu lama menunggu seseorang yang tidak bakal pulang…”

“…”

“Aku cuman nggak ingin kamu terluka…”

“…”

“Aku cuman nggak ingin kamu sakit hati…”

Dan yang sahabatku lakukan itu menyakiti hatiku, membuat aku terluka, membuat air mataku mengalir, hanya karena dia memercayai kamu tak akan pulang.

Ah, memangnya benar kamu tak akan pulang?

Memangnya benar, kamu memang tidak akan pernah mau pulang?

**

Kamu memang tak pernah datang.

Tapi hari demi hari, tetap kunanti dirimu di tempat yang sama. Dengan harapan yang sama, pintu pagar itu terbuka dan sosokmu melangkah masuk bersama cahaya. Tersenyum seceria mentari, memandangku dengan sebongkah rindu di kedua biji matamu, memelukku hangat dan tak pernah melepaskannya lagi.

Dan kamu memang tak pernah datang.

Hari demi hari, kuhabiskan waktuku untuk menunggumu. Bukan tanpa lelah, tapi rasa itu kuenyahkan perlahan dengan menciptakan sebuah mimpi, sebuah angan bahwa suatu saat kelak kamu akan pulang.

Aku tak peduli dengan sahabatku yang melangkah pergi sambil berkata, “Aku hanya ingin yang terbaik buat kamu.”

Karena buatku, yang terbaik untukku adalah seorang kamu.

Jadi, aku akan menantimu.

Di sini.

Dengan secangkir teh manis hangat dan sepiring pisang goreng yang selalu kubuat setiap hari, dengan semangat yang tak pernah pudar, dengan iringan untaian nada yang keluar lewat bibirku.

Secangkir teh manis hangat dan sepiring pisang goreng yang memang tak pernah tersentuh, lalu kubuang di dalam tong sampah, setiap menjelang tidur. Setiap aku memutuskan untuk memimpikanmu saja di dalam setiap tidur malamku…

**

Dan sampai suatu pagi, ketika sedang kusiapkan secangkir teh manis hangat dan sepiring pisang goreng untukmu, kudengar bunyi gerak pintu pagar yang terbuka.

Aku hampir tak bisa bernafas ketika melihatmu berdiri di sana, di depan pintu pagar, memandangku dengan secerah mataharimu, dengan kedua biji matamu yang serupa cahaya, dengan tubuh tinggi tegapmu yang seperti tersirami spotlight di sebuah panggung.

Kamu diam di sana.

Memandangku dalam diammu, dalam senyummu.

Secangkir teh manis hangat itu belum lagi selesai kubuat.

Sepiring pisang goreng itu juga belum lagi kuangkat dari wajan penggorengan.

Aku hanya berdiri mematung tanpa membawa apapun di tanganku.

Tapi aku tahu, bukan pisang goreng itu yang kamu mau, atau teh manis hangat yang ingin kau cumbu.

Kamu pulang karena kamu menginginkan untuk pulang.

Untuk kembali mencumbu mimpi-mimpiku, mencumbu mimpi-mimpimu, mencumbu mimpi-mimpi kita berdua.

Bergerak aku melangkah menujumu dan tenggelam dalam pelukanmu yang hangat. Tenggelam pula dalam emosi dan air mata yang mengalir deras membasahi dadamu.

“Selamat datang, Sayang,” bisikku perlahan.

Kamu hanya memandangku dengan lembut sembari mengecup keningku. Lalu kamu membimbing jemariku menuju ke dapur, menuntaskan membuat pisang goreng dan menjerang air teh.

Kamu membantuku melumuri pisang dengan tetesan coklat kental juga memotong stroberi.

Kamu membantuku membuka kemasan teh celup dan meletakkannya ke dalam cangkir. Dan pula kamu membantuku menyendokkan sesendok kecil gula, melarutkannya dengan beberapa kali adukan perlahan.

Kamu ikut membantuku menata sepiring pisang goreng dan dua cangkir teh manis hangat itu lalu berjalan bersamaku menuju teras.

Pagi itu, kunikmati pergantian hari denganmu.

Dengan dua cangkir teh manis hangat dan sepiring pisang goreng, dan lusinan cerita yang seolah tak akan pernah ada habisnya.

Kali ini, aku tentu tak menantimu.

Kali ini, aku menanti masa depan yang sedang kita pintal dalam setiap sentuhan dan pelukan kita, di sela-sela sesapan teh manis hangat, dan gigitan pisang goreng.

***

Kamar, Rabu, 21 April 2010,  00.43 Pagi

25 Comments to "Secangkir Teh Manis Hangat & Sepiring Pisang Goreng"

  1. keke  28 April, 2011 at 19:01

    Teh juga memiliki manfaat untuk tubuh. Salah satunya, teh bermanfaat untuk kinerja otak……….

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.